test

 Cerpen Teman Langka Karya Nizam Al-Kahfi
 Cerpen Teman Langka Karya Nizam Al-Kahfi


TEMAN LANGKA
Karya : Nizam Al-Kahfi

Memang sulit untuk ketemu dengan teman yang seorang ini - seolah-olah dia tidak ingin berhadapan denganku.
Mau dikatakan dia sombong, tidak pula, karena ketika berpapasan dia yang menyapaku dahulu dan terus saja mengajak aku minum di warung. Dia punya kebiasaan yang aneh sejak sekolah; dia suka meminjamkan uang kepada teman-teman.
"Hei," katanya, "aku ada uang lebih, kaumau minjam lima puluh ribu?"
Mau dikatakan dia hendak mengambil untung, tidak pula, karena dia tidak pernah menagih utang-utang itu. Jika kami bayar, dia terima; jika tidak, dia tidak ambil kisah. Lucu juga ketika ketemu denganku setelah sepuluh tahun terputus hubungan.
"Hei, Nizam," katanyanya sebelum aku sempat menyapa, "aku ada uang lebih, kaumau minjam lima puluh juta?"
Aku menahan tawa sampai perutku terasa keras. Susah mau mencari teman seperti ini. Kami sama-sama pergi ke warung. Katanya sekarang dia berbisnis sendiri, tidaklah dia menjadi jutawan, tapi bolehlah dia bertahan, kadang kala untung besar, kadang kala cukup-cukup makan, tapi rezekinya tidak pernah terputus. Ketika hendak berpisah dia meletakkan amplop di depanku.
"Nah," katanya. "Ini lima puluh juta aku utangkan kau."
Aku tidak pula berniat hendak berutang karena belum ada kebutuhan yang mendadak, tapi aku ambil juga amplop itu. Aku tidak sempat bertanya di mana dia tinggal dan di mana kantor bisnisnya. Dia meninggalkanku dengan cepat. Di mobil, aku memeriksa amplop itu dan memang ada lima puluh juta tunai di dalamnya. Di amplop ini juga ada logo bisnis dan numbor telepon kantornya. Aku tidak menggunakan uang ini, cuma aku simpan di bawah kasur. Setiap hari aku merasa susah hati pula dengan keberadaan uang ini. Aku mau mengembalikannya. Jadi aku pun menghubungi kantornya, tapi setiap kali pula aku diberitahu bahwa dia tidak ada - yang ada orang lain.
"Dia tidak ada," kata suara perempun di ujung sana. "Yang ada Tuan Ahmad."
"Dia tidak ada. Yang ada Tuan Ali."
"Dia tidak ada. Yang ada Tuan Saiful."
"Dia tidak ada. Yang ada Tuan Abdul."
"Dia tidak ada. Yang ada Tuan Sumaidi."
Begitulah aku diberitahu setiap kali menelepon kantornya. Mau tidak mau, aku harus pergi ke kantornya dengan uang tunai lima puluh juta itu. Aku memberitahu siapa aku dan mau ketemu dengan siapa kepada perempuan penyambut tamu. Suara itulah yang selalu menjawab panggilan telefonku.
"Dia tidak ada," katanya. "Yang ada Tuan Bokhari."
"Gak apa," kataku, "aku jumpa Tuan Bokhari saja."
Ternyata Tuan Bokhari itu tidak lain adalah kawanku itu juga. Melihat Tuan Bokhari itu adalah dia, aku jadi lupa tujuanku datang. Aku pun bertanya mengapa dia mengatakan dia tidak ada, dan suka mengganti ubah namanya.
"Aku takut," katanya. "Aku takut orang mencari aku untuk membayar utang."

*Selesai*
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top