test

Cerpen Perang Karya Setia Rahmawati Numbone
Cerpen Perang


Perang
Karya : Setia Rahmawati Numbone

Air mata, darah, bahkan nyawa selalu menjadi persembahan mutlak saat perang terjadi. Pada saat itu, manusia hanya kuda tunggangan Sang Hawa Nafsu. Mereka melakukan berbagai cara agar keinginannya dapat terpenuhi. Dimulai dari membuat kontrak dengan iblis sampai menaiki menara kekuasaan hingga membuat piramida yang terbuat dari mayat-mayat manusia tak berdosa lainnya. 
Cinta dan kebahagiaan hanya menjadi asa. Kebencian demi kebencian ditanam dimana-mana, setelah tumbuh tunas Sang Hawa Nafsu menginjak mereka; begitu seterusnya.
Di suatu tempat, seorang bocah laki-laki dengan napas terengah-engah terus berlari, ia berusaha menghindari serangan dari ratusan amunisi tentara yang dikirimkan Sang Hawa Nafsu. Hingga tiba di sebuah tebing, ia tertegun melihat pemandangan merah menyala di bawah kakinya.
“Inikah dunia kelam yang mereka inginkan? Apakah dengan terlahir kembali dunia dapat berubah lebih baik?” lirih bocah laki-laki tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Chilhood adalah sebuah kerajaan yang kaya nan damai. Semua rakyatnya hidup dengan penuh cinta, kebahagiaan dan sejahtera. hingga akhirnya, Sang Hawa Nafsu datang mempengaruhi manusia-manusia yang haus kekuasaan dan kehormatan.
“Pada dasarnya manusia memang egois. Tapi mengapa kau mau jadi pesuruh rajamu yang sekarang? Raja sekarang tidak berkompeten, dia tidak layak. Kau lebih layak menjadi raja,” rayu Sang Nafsu. Kemudian dia melanjutkan,”Aku akan membantumu mengkudetanya atau apapun yang ingin kau lakukan padanya. Di jaman sekarang sagala macam cara dihalalkan untuk mendapat kekuasaan,”
Jay dan para manusia yang mengikutinya tergiur bujuk rayu Sang Nafsu. Mereka merencanakan kudeta bersar-besaran. Tak tanggung-tanggung mereka akan menyingkirkan semua hal yang akan menghalangi langkahnya .
Hari itu tiba, kudeta itu benar-benar terjadi. Korban berjatuhan dan Jay berkuasa, ia menjadi raja baru Chilhood. Raja Alfa sendiri lenyap tanpa jejak, sedangkan sisa pengikutnya berhasil lolos dan bersembunyi di tempat yang aman.
“Sial! Cari Alfa bagaimanapun caranya! Bila perlu bunuh mereka semua yang melawanku!” perintah Jay. 
Semenjak saat itu, rejim kekuasaan Jay dimulai. Kerajaanpun menjadi kelam dan penuh penderitaan. Pemukiman warga berubah menjadi tumpukan mayat dengan bau amis di setiap penujurunya. Sementara itu, di suatu tempat seseorang telah sadar.

Raja Jay—dia ikut serta bertujuan untuk mengawasi—dan pasukannya selalu berpatroli dari pemukiman satu ke pemukiman yang lainnya. Di tengah perjalanan, mereka melihat seorang bocah laki-laki sedang bermain seorang diri. Jay turun dari kudanya dan menghampiri bocah tersebut dengan pengawalan ketat.
“Sedang apa kau, bocah kecil?” tanya Jay penasaran. Sedangkan si bocah hanya diam, ia kebingungan.
Pengawal bertubuh kurus berkumis tebal menimpali,“Hai bocah, Paduka Raja bertanya padamu kau harus menjawabnya!”
“Ber-ma-in ... saya sedang bermain Bentengan Paduka,” dengan takut-takut bocah laki-laki itu menjawab.
Semua pasukan dan Jay tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban bocah laki-laki itu, kemudian ia berkata disela-sela tawanya, “Bentengan? Mana mungkin kau bisa memainkannya sendirian, Bocah.”
“Semua temanku terbunuh, apakah Paduka dan yang lainnya mau bermain denganku?” timpal bocah laki-laki itu dengan mata berbinar.
“Baiklah tak ada salahnya bermain denganmu, Bocah.”
Setelah membagi menjadi dua kelompok, permainanpun dimulai. Pada akhirnya Raja Jay dan bocah laki-laki itu berhadapan satu lawan satu untuk mempertahankan benteng mereka. Dengan mengandalkan kecerdikan, kesabaran dan konsentrasi akhirnya bocah laki-laki itu memenangkan permainan. Raja Jay sangat kesal.
“Yey! Paduka, aku menang, kini keadaan Chilhood akan kembali pada keadaan semula dan Paduka beserta pasukanmu akan menerima ganjaran atas perbuatan kalian,” 
“Sebenarnya kau siapa, bocah nakal?” Raja Jay geram mendengar perkataan bocah itu. Kemudian dia memerintahkan pasukannya, “Bunuh dia!”
Baru beberapa langkah, tiba-tiba raja Jay dan pasukannya terjerembab dan terhisap ke dalam tanah. Sang Hawa Nafsu ikut bersama Jay untuk menerima hukumannya. Dengan menghilangnya mereka, Chilhood kembali menjadi kerajaan yang damai dan sejahtera. Bocah laki-laki itupun tersenyum penuh kebahagiaan.

Di suatu tempat dengan latar putih, Raja Alfa tersadar dan seseorang tengah menungguinya.
Raja Alfa bertanya,“Siapa kau? dimana aku?”
“Aku utusan Sang Para Kebenaran, tugasku adalah menyelamatkanmu dan menuntunmu pada jalan yang harus ditempuh,” timpal orang itu.
“Sang Para Kebenaran? Mengapa?”
“Karena kau manusia yang memiliki sifat Sang Para Kebenaran—kejujuran, keberaniaan, pantang penyerah, bersyukur, kebaikan, kesabaran dan sebagainya—dan kau satu-satunya yang bisa mengalahkan para pendosa itu, kini kau harus melewati jalan ini,” jelas utusan Kebenaran menunjukan jalan itu pada Raja Alfa. 


Raja Alfa menurutinya, ia menelusuri lorong-lorong hingga tiba pada sebuah sungai dekat pemukiman warga yang sedang diserang pasukan Raja Jay. Begitu terkejutnya Raja Alfa melihat sosok dirinya yang berubah menajdi anak kecil. 
“Terkejut? Dengan sosok itu kekuatan Sang Hawa Nafsu tak akan terpengaruh—kelicikan hanya bisa kalah dengan ketulusan dan kepolosan—bergegaslah Alfa! Kau hanya perlu memenangkan satu permainan dari Jay dan semuanya akan kembali seperti semula,” timpal utusan Kebenaran kemudian dia menghilang.

Raja Alfa beranjak dari situ, dia harus berlari menghindari serangan amunisi pasukan Raja jay hingga ia tiba di sebuah tebing dan melihat pemandangan yang tak ingin dia lihat;kumpulan mayat dengan darah yang berceceran.

-Selesai-
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top