test

Cerpen Menantu Karya Airi Cha
Cerpen Menantu Karya Airi Cha


Menantu
Karya : Airi Cha

Arman anak semata wayangku, ia lahir setelah sepuluh tahun pernikahan. Betapa bahagianya almarhum suami dahulu. Kelahiran Arman bagai oase bagi kehidupan rumah tangga kami. Suamiku mempersiapkan Arman semenjak dini agar kelak menjadi seorang lelaki sejati. Walau suami sangat menyayanginya, namun ia tak sedikit pun memanjakan Arman. Saat Arman duduk di kelas satu SMP, suamiku meninggal tanpa sebab sakit. Hanya malam sebelum kematiannya, ia menitipkanku pada anak kami.
Semenjak Ayah tiada, Arman mengambil alih segala tanggung jawab. Membantuku mengarap sawah dan kebun peninggalan suami. Kami hidup dari hasil bertani dan berkebun, hingga akhirnya Arman lulus SMA. Aku ingin Arman melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, namun ia menolak dengan halus.
"Lanjutkan pendidikanmu, Nak. Omak masih mampu membiayai sekolahmu," kataku mencoba membujuknya suatu malam.
"Sudahlah, Omak jangan bahas itu lagi. Arman ingin bekerja saja. Agar Omak bisa hidup nyaman tanpa membanting tulang."
"Tapi, Nak! ini pesan almarhum Ayahmu pada Omak. Agar kamu bersekolah yang tinggi, tidak seperti kami."
"Omak sudah melaksanakannya pesan Ayah, dan sekarang waktunya Arman yang memikul tanggung jawab itu," ucapnya padaku sambil tersenyum.
"Kamu mau kerja apa dengan pendidikan yang kau punya saat ini, Nak?"
"Kerja apa saja, Mak. Asal halal dan menghasilkan uang. Rencananya Arman akan ke ibu kota propinsi," katanya sambil menatapku. Aku menarik napas berat.
"Jauh sekali, Nak kau akan meninggalkan Omak. Lebih baik di sini saja mengurus pusaka peninggalan Ayahmu," pintaku dengan sendu.
"Omak jangan khawatir, Arman hanya sementara meninggalkan Omak. Nanti kalau perkerjaan Arman sudah menetap, Omak akan Arman bawa serta," anak itu coba meyakinkan, aku hanya diam.
Aku tak mampu membayangkan hidup berjauhan dari putra semata wayang. Namun lagi-lagi, aku ingat pesan almarhum suami. Bahwa sebagai anak lelaki, Arman harus melihat dunia luar, dan mampu hidup membaur di mana pun. 'Suatu hari jangan pernah khawatir saat melepasnya pergi jauh, karena segala nilai-nilai yang baik telah kita ajar dan tanamkan pada dirinya'. ucapan suamiku itu seakan terngiang di telinga.
Lewat koneksi seorang kerabat di kota, Arman mendapatkan pekerjaan sebagai satpam di sebuah perusahaan besar. Tubuhnya yang tegap berisi serta kemampuan bela diri yang ia kuasai, faktor utama ia diterima pada perusahaan. Aku berusaha tegar saat melepas kepergiannya. Enam bulan masa training dilalui, Arman pun akhirnya menjadi karyawan tetap diperusahaan. Ia berkirim surat memberitahukan kabar gembira. Aku cukup bersyukur mendengar kabar itu, dan jika ia mengirim sebahagian penghasilanya aku tak pernah mempergunakanya. Kusimpan dalam bentuk tabungan berupa emas. Agar kelak suatu hari saat dia ingin beristri, ia sudah memiliki segalanya.
"Omak tinggal bersama Arman, ya," pintanya suatu malam saat dia kembali ke kampung untuk berlebaran bersama.
"Jika Omak ikut kamu, bagaimana dengan sawah dan kebun kita? siapa yang akan merawat?"
"Kita upah saudara untuk mengarap dan merawatnya."
"Sudahlah jangan khawatirkan Omak, yang penting pekerjaanmu lancar. Di sini banyak kok saudara yang menjaga Omak," kataku mencoba meyakinkannya.
Waktu pun berlalu, tak terasa sepuluh tahun anakku hidup di perantauan. Usia yang beranjak tak jua membuatnya resah, ia hanya terus bekerja dan bekerja. Aku pernah beberapa kali bertanya padanya soal calon istri, namun ia hanya tersenyum. Berkata padaku 'bahwa ia masih ingin sendiri dan membahagiakanku'. Beberapa gadis di kampung, baik anak saudara atau pun jiran pernah kutawarkan ke padanya. Namun dengan halus putraku menolak.
"Omak jangan mengkhawatirkan soal jodoh Arman. Nanti jika ada pasti Arman bawa ke hadapan Omak," kata itu yang ia ucapkan untuk meyakinkanku. Aku tak ingin memaksakan kehendak kepadanya. Aku tak putus berdoa agar Tuhan segera mendatangkan jodoh anakku.
Setahun setelahnya, Arman membawa seorang gadis berkulit hitam manis. Lani nama gadis itu, usianya lebih tua 8 tahun dari anakku. Seorang PNS intansi pemerintahan di kotanya. Ntah mengapa aku kurang begitu menyukai Lani, walau begitu sebagai tuan rumah aku tetap menyambutnya dengan baik.
"Kamu berniat menikahinya, Nak?" tanyaku ragu. Putraku hanya mengangguk. Tetapi firasatku sebagai seorang ibu, berkata bahwa tak pernah ada cinta dalam hati anakku pada gadis yang kuanggap kurang memiliki sopan santun itu.
"Apa Omak tidak setuju karena usianya?" tanya Arman seakan membaca jalan pikiranku.
"Omak tidak mempermasalahkan usianya, tapi perkerjaanmu hanya seorang satpam. Apa dia bisa menghargaimu nantinya?" pertanyaan itu terlontar jua pada akhirnya. Putraku hanya diam, dan akhirnya mereka menikah. Mungkin perempuan itu memang jodoh yang dipilih Tuhan untuk putraku.
Aku memilih tinggal di kampung, walaupun Arman selalu meminta agar aku ikut bersamanya. Aku merasa tidak nyaman karena Arman hidup dan tinggal di rumah yang dibeli Lani. Ada ketakutan tersendiri dalam hati, bahwa putraku akan dipandang rendah oleh keluarga istrinya.
Hampir setahun pernikahan, Lani menunjukkan gejala kehamilan. Mendengar kabar itu, aku langsung ke kota diantar seorang kerabat untuk menginap beberapa hari. Namun sesampai di sana, Arman ingin aku tinggal untuk menemani Lani yang sedang mengandung cucuku diusia yang tak muda lagi. Namun sepertinya niat baikku tak tersambut. Aku melihat ketidaksukaan pada raut wajah Lani. Mencoba menepis bahwa itu hanya prasangka semata. Atau bawaan bayi sehingga sikap Lani demikian.
Hari pertama aku di sana, Arman mendapat ship pagi. 12 jam kerja, dari jam 07:00 sampai 19:00 wib. Aku hanya berdua dengan Lani yang kebetulan cuti. Karena faktor usia, aku hanya semampunya membantu Lani, sekedar bersih-bersih namun tidak memasak. Lani seharian hanya tiduran saja, aku yang terbiasa makan tepat waktu merasa lapar, namun tak berani meminta padanya. Akhirnya aku hanya minum teh manis beserta roti yang kubawa saat di perjalanan kemarin. Hingga sore menjelang Lani baru terbangun.
"Mak tolong masakan air, Aku mau mandi," pintanya tanpa basa basi. Aku melakukan apa permintaanya tanpa berkata apa pun. Sesudah mandi Lani ke luar rumah, dari balik kain jendela aku mengintipnya bercengkrama bersama tetangga. Saat Azan berkumandang Lani baru kembali dengan membawa sebuah bungkusan yang aku rasa nasi. Aku mengira dia membelikannya untukku, ternyata nasi itu disantapnya sendiri. Selesai solat aku liat bungkus nasi itu tegeletak begitu saja di atas meja beserta piring. Aku membawanya ke dapur lalu mencuci piring, sendok beserta gelas yang terpakai. Tak lama putraku pulang, aku membukakan pintu untuknya. Arman langsung menyalamiku lalu masuk.
"Lani mana, Mak?"
"Di kamar, Nak."
"Omak sudah makan?" tanya Arman memandangku aku tersenyum sebagai jawaban.
"Kamu sudah makan, Nak?" aku bertanya balik.
"Sudah, Mak. Arman dapat jatah setiap harinya. Ya udah Arman mandi dulu ya, Mak," ucapnya berlalu menuju kamar. Aku hanya menarik napas sambil menahan rasa lapar hingga keesok harinya.
Begitu seterusnya, tak jarang aku kelaparan. Terkadang Lani hanya memasak nasi saja tanpa menyediakan lauk sebelum pergi bekerja. Aku tak pernah memberitahukan perihal itu. Jika anakku ship pagi, aku hanya makan saat sarapan di pagi hari saja, tetapi jika ia ship malam aku bisa makan sehari tiga kali. Hal itu berulang seminggu sekali. Kalau Arman mendapat ship malam, aku tidur menemani Lani, karena ia takut jika tidur sendirian. Namun saat kandungan Lani semakin besar, aku harus tidur di lantai beralaskan tikar. Aku tak pernah tau alasannya apa. Terkadang dikala bangun dari tidur, tubuhku yang sudah renta serasa sakit serta masuk angin. Semantara untuk mengangkat tilam ke lantai aku tak sanggup. Tak pernah kukatakan hal ini pada Arman. Aku tak ingin terjadi keributan antara mereka.
Suatu pagi aku tertidur pulas karena semalaman tak enak badan dan Lani juga demikian. Kami tak menyadari Arman pulang, ntah bagaimana ia masuk aku tak sempat memikirkanya. Tau-tau ia sudah membangunkan aku.
"Omak, kenapa tidur di lantai. Badan Omak panas, Omak sakit?" aku hanya menggeleng tanpa berkata apa pun. Lalu Arman membawaku ke kamar sebelah. Setelah memberi obat demam ia meninggalkanku. Awalnya aku tak mendengar suara apa pun, sampai akhirnya keributan itu terjadi.
"Omakku sudah tua, Lan! masa kau membiarkannya tidur di lantai hingga dia sakit begitu," ucap Arman.
"Biasanya juga tidak apa-apa!"
"Biasa! maksudmu? setiap aku bekerja malam Omak tidur di lantai?"
"Iya!"
"Apa alasanmu memperlakukan Omak begitu?"
"Aku takut Omak tidurnya lasak dan menendang perutku."
"Ya ampuuun, Lan! Omak tak segitunya. Pun jika iya, kau bisa katakan padaku agar aku bisa menurunkan tilam buat tidur Omak!"
Lalu hening, aku tak mendengar suara apa pun. Sampai saat aku terjaga, kudapati Arman tertidur di sisiku. Aku memandangi wajahnya, tak terasa air mata menetes. Cepat kuhapus agar Arman tak melihat bulir bening menghiasi pipi keriput ini. Sejak hari itu Arman selalu mempersiapkan tempat tidur sebelum bekerja. Sementara Lani seakan semakin tak menyukaiku.
Aku merasa tidak kerasan tinggal di rumah itu lagi, tetapi Arman ingin aku tinggal sampai cucuku lahir. Demi Arman aku bertahan dari segala intimidasi Lani.
"Lan, kalau masak nasi Omak dibubur saja ya. Omak gak bisa makan nasi kekerasan," pintaku pagi ini sebelum Lani pergi bekerja sementara Arman belum pulang. Biasanya ia sudah pulang dari bertugas ship malam.
"Mak! makan aja apa yang sudah dimasak. Jangan banyak permintaan ini dan itu. Sudah syukur Omak dan anak Omak yang satpam itu bisa tinggal nyaman di rumah ini tanpa dipungut bayaran. Aku hanya mampu menatap Lani dengan sesak menghimpit dada.
"Jangan minta macam-macam yang ada dimakan. Nanti trus Omak ngadu, seneng liat kami bertengkar setiap harinya? kalau memang Omak ingin pulang, pulang saja gak usah nunggu sampai aku lahiran," ucap Lani mengusirku. Sebisa mungkin aku menahan agar tak menangis dihadapannya. Selama ini aku tak pernah meminta apa pun darinya. Terkadang ia hanya memberiku makan hanya dengan sayur tanpa lauk apa pun. Kalau pun lauk itu hanya tempe atau tahu, tanpa sayur. Jika tempe lauknya aku lebih memilih makan dengan garam atau bekas minyak goreng, karena aku hanya punya beberapa gigi dan tidak bisa buat mengunyah yang keras. Lani berangkat kerja meninggalkan aku begitu saja. Seperginya Lani aku menangis tanpa mampu kuhentikan.
"Omak kenapa?" tanya Arman yang telah pulang. Aku terus menangis.
"Omak sakit?" aku menggeleng masih dengan tangis.
"Omak bertengkar dengam Lani?" tanyanya lagi.
"Antarkan Omak pulang," pintaku akhirnya.
"Akan Arman antarkan, tapi jelaskan dulu Omak kenapa?" tanyanya masih dengan nada penasaran.
"Antarkan Omak pulang, antarkan Omak pulang," hanya kata itu yang kuucap berulang-ulang.
"Baiklah Arman akan antar Omak pulang." Lalu Arman mengemasi barang-barangku, pamit sebentar dan saat kembali kami langsung berangkat ke terminal bus lalu membeli tiket jurusan kampung halaman.
Seminggu sudah Arman dikampung, setiap kutanya kapan kembali ia hanya diam.
"Kenapa tak kembali ke kota, Nak? sudah hampir sebulan kamu di sini?" tanyaku suatu malam. Arman tetap diam.
"Nanti kamu bisa dipecat jika tak masuk-masuk bekerja."
"Arman sudah mengundurkan diri, Mak,"
"Apa kata istrimu nanti kalau dia tau kamu sudah tak bekerja! Pulanglah ke kota Nak, pasti istrimu sudah menanti. Apa lagi dua bulan lagi istrimu akan melahirkan," pintaku.
"Arman tak akan kembali sampai Omak mengatakan apa yang terjadi."
"Tak terjadi apa-apa, Nak! Omak hanya ingin pulang kampung saja."
"Omak bohong! Arman tak pernah melihat Omak menangis. Yang Arman tau Omak menangis saat Ayah meninggal. Jadi jika Omak sampai menangis ada suatu hal yang membuat hati Omak sakit," ucapnya menatapku. Aku tetap membisu, tak ingin berkata apa pun yang dapat melukai perasaan putraku. Keputusan Arman sendiri sudah bulat tak ingin kembali ke kota.
Suatu senja, Lani berdiri berkacak pinggang diperkarangan rumahku. Aku yang baru pulang berkebun bersama Arman sedikit terkejut dengan kehadirannya. Segala umpat serapah ia lontarkan padaku dan Arman. Aku dan Arman hanya diam kala para jiran melihat segala aksi Lani. Seorang yang menemani Lani mencoba menenangkannya, namun sikap egois dan sombong Lani semakin menjadi.
"Ceraikan aku! aku bisa hidup tanpa biaya darimu, Dan ingat jangan coba-coba menemui dan menafkahi anak ini, jika kelak dia lahir, dasar laki-laki miskin ga tau diri. Ibu dan anak sama cuma numpang hidup!" ucap Lani dengan lantang. Aku mengenggam erat jemari Arman, mencoba menenangkannya.
"Cukup! kau boleh hina aku, tapi jangan Omak. Aku memang menumpang di rumahmu, namun aku telah tawarkan berkali-kali padamu untuk mengontrak rumah. Tapi kau menolaknya dengan berbagi alasan. Baik aku ceraikan kamu hari ini talak tiga di hadapan semua orang," ucap anakku tak kalah sengit.
"Arman!" teriaku, namun telat kata sudah terucap. Kesabaran Arman sudah sampai pada batasnya.
Sesudahnya Lani pulang ke kota, aku mendapat kabar bahwa ia melahirkan seorang anak perempuan. Wajahnya sangat mirip Arman. Berkali aku bujuk Arman untuk melihat putrinya, namun hati anakku tak bergeming sedikitpun. Luka itu terlalu dalam dirasakannya. Dari seorang saudara yang berkunjung ke kampung, aku tau satu hal bahwa dulu anakku diluar kesadaran saat menikahi Lani. Karena sangat tergila-gila pada putraku, Lani mendatangi orang pintar untuk memelet Arman yang tak pernah mencintainya. Aku sudah putus asa membujuk Arman, tetapi Arman tetap pada pendiriannya.
"Omak jangan khawatirkan apapun, Arman tetap bertanggung jawab pada anak itu bagaimanpun caranya kelak. Namun Arman tak akan datang menemui Lani sebelum ia bersujud dan memohon ampun pada Omak. Arman bisa menemukan dan menikah dengan perempuan manapun, Mak. Tapi Arman cuma punya satu Omak dan tak kan pernah menemukan lagi dibelahan dunia mana pun," ucap Arman sembari memelukku.
Aku menangis dan berdoa dalam hati agar Tuhan menunjukkan jalan kebaikan bagi kehidupan putraku juga cucuku yang hidup tanpa pigur seorang Ayah.

-Selesai-
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top