test

Cerpen Kesempatan Kedua Karya Yan Hendra
Cerpen Kesempatan Kedua Karya Yan Hendra


Kesempatan Kedua
Karya : Yan Hendra

     Suatu hari ada tawaran untuk membuat penutup piano dari sebuah sekolah musik plus. Plus ini artinya: juga menjual alat-alat musik. Bahan terbuat dari kain beledu dengan kualitas baik. Harga yang ditawarkan cukup bagus, sedang pengerjaannya pun tak sulit. Saya mungkin bisa mencarinya di Tanah Abang, Jatinegara, Cipulir, atau Mangga Dua. Rencananya mereka akan lihat dulu hasilnya, kemudian baru menentukan apakah akan berlanjut atau tidak.
Hal terakhir itu yang membuat semangat berkurang. Pesanan hanya sepuluh buah, dan saya mesti repot ke sana-kemari mencari bahan dan menjahit dengan mengorbankan waktu serta rutinitas sehari-hari yang hasilnya sudah pasti. Bila mereka tak berkenan, pesanan akan berlanjut, atau bisa jadi gagal. Kerugian sudah pasti di pihak saya. Akhirnya pesanan itu ditolak.
Orderan itu ‘disikat’ orang lain, dan ia meraup untung tiap bulan sebab pesanan terus berlanjut dan jumlahnya bertambah. Menurut cerita orang dalam, kualitas jahitannya justru tidak terlalu bagus.
Di lain kesempatan, seorang saudara jauh yang mukim di Sulawesi ingin agar saya menyuplai onderdil kendaraan bermotor roda dua. Alasannya sederhana, karena saya tinggal di Ibukota, sedangkan Jakarta masih menjadi pusat dari sentra-sentra perdagangan.
Saya menolak dengan halus. Alasan sebenarnya adalah karena hal itu secara logika tak menguntungkan. Betapa tidak, dia baru hendak membuka bengkel kecil di sebuah kelurahan yang mayoritas penduduknya hidup dari bercocok tanam. Jumlah pesanan sedikit dengan ongkos kirim mahal, tentu bukan bisnis menguntungkan.
Lagi-lagi saya tak jeli menangkap peluang, dan kurang pandai dalam memahami situasi. Kenyataannya gaya hidup anak muda di sana cukup konsumtif bila panen tiba, bahkan dalam hal kendaraan bermotor mereka pun ingin ‘kekinian’. Tak pelak lagi. Bengkel itu maju pesat dalam waktu singkat. Orang lain yang menangkap peluang itu hanya untung sedikit dalam beberapa kali pengiriman awal, tetapi selanjutnya … ruarrrr biasa! Dia memasok hampir semua komponen dan onderdil kendaraan bermotor roda dua, sebab bengkel itu kini menjadi tempat favorit anak-anak muda di sana dan tak memiliki saingan dalam satu kelurahan.
Hmm, peluang … kesempatan … banyak sekali yang dilewatkan. Saya rasa kita semua pernah disinggahinya, tetapi dengan beberapa alasan menganggapnya remeh. Akibatnya kesempatan yang mestinya jadi milik kita disambar orang lain.
Satu perumpamaan tentang kesempatan secara visual digambarkan sebagai sosok jin gundul dengan kuncir di belakang, dan kedua kaki bersayap kecil. “Bila dia datang, cepat jenggut kuncirnya, atau dia akan terbang secepat kilat dan tak kembali,” kata seseorang.
Saya mungkin setuju dengan visualisasi itu, tapi tak sepakat kalau dia tak datang lagi. Kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya selalu datang bertamu. Kesempatan sekecil apapun akan menjadi peluang menguntungkan bila kita mampu membaca situasi dengan baik, dan mengerjakannya tanpa pertimbangan bertele-tele yang melemahkan semangat.

-Selesai-
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top