test

Cerpen Jangan Usik Yang Tidak Mengganggumu Karya Sang Lanna
Cerpen Jangan Usik Yang Tidak Mengganggumu


Jangan Usik Yang Tidak Mengganggumu
Karya : Sang Lanna

Senja hari itu, seusai jam kerja. Kusempatkan mampir ke rumah Wanto, teman kerjaku. Membahas beberapa masalah pekerjaan, dilanjut dengan obrolan santai.
Saat tengah asyik mengobrol di teras depan rumahnya, tiba-tiba terlihat melintas sebuah bayangan hitam panjang! Sosok bayangan itu bergerak cepat dari rerimbunan tanaman hias ke arah lubang air kecil di pojok pekarangan.
Aku tertegun melihatnya. Wanto yang melihat ekspresi wajahku, ikut menatap ke arah pandangan mataku. Ia pun sempat melihat sosok bayangan tersebut. Seketika ia berkata,
"Laan! Itu ular yang pernah aku ceritain ke kamu. Ular hitam yang pasti selalu keluar melintas di waktu senja begini! Cepat tangkapin, Lann! Kamu kan udah terbiasa nangkapin ular. Cepat ... tolong tangkapin! Trus bunuh aja, biar gak nakut-nakutin orang lagi!"
Aku masih terdiam menatap bayangan hitam memanjang itu, sampai bayangan tersebut menghilang. Masuk ke lubang pembuangan air.
"Kok malah bengong, Lann? Yaah ... kabur deh tuh ularnya!" ucap Wanto kecewa, "kenapa sih, Lann? Takut?"
Aku tersenyum, menjawab, "Ular itu cuma lewat aja kok. Gak pernah menggigit atau mengganggu orang, kan?"
Wanto terdiam.
"Ya, enggak sih. Cuma kan bikin kaget dan takut yang kebetulan melihat," balasnya, "emang kenapa sih gak langsung kamu tangkap, Lann?"
Aku pun menjawab, "Ular itu kan cuma mau lewat aja. Mungkin mau pulang ke sarangnya yang kebetulan ada di lubang situ. Dia gak pernah mengganggu atau sengaja menakut-nakuti orang, kan?"
Wanto mengangguk pelan.
"Ya udah. Biarin ajalah. Gak apa-apa kok. Dia juga butuh hidup kan? Ngapain juga dibunuh?" kataku lagi sambil tersenyum.
Wanto hanya bisa garuk-garuk kepala seraya menggerutu tak jelas.
***
Sekitar tiga bulan kemudian .... Pagi-pagi, di kantor ...,
"Lann, kamu ingat ular hitam yang suka melintas di pekaranganku?" ucap Wanto tiba-tiba.
Sesaat aku diam mengingat. Lalu mengangguk, "kenapa memangnya?" balasku.
"Hehehe .... Sekarang udah gak ada lagi! Kemarin, Pakdeku yang dari Banten datang. Terus, begitu melihat ular hitam itu, langsung ditangkapnya.Lantas dibacok kepala ular itu sampai putus! Mati dah tuh ular!" tutur Wanto senang.
Dahiku agak mengkerutkan mendengarnya.
"Terus, gimana ular hitam itu? Pakde kamu gak kenapa-kenapa?" tanyaku cemas.
"Ularnya, ya matilah!" sahut Wanto, "kan tadi aku udah cerita. Terus bangkainya dibuang ke sungai kecil di sebelah selatan rumahku. Pakdeku gak apa-apa tuh! Baik-baik aja. Kenapa memangnya?"
Aku mengela napas lega seraya tersenyum, "gak kenapa-kenapa. Syukurlah kalau baik-baik aja. Eh, kapan tuh kejadiannya?" tanyaku lagi.
"Tadi malam. Tepat selewat maghrib," jawabnya.
"Oooh ...," aku hanya manggut-manggut menanggapinya.
***
Hari itu, aku pulang kerja hampir jam delapan malam. Baru saja hendak memasukan motor ke garasi, terdengar suara klakson panjang diikuti suara motor berhenti mendadak di depan pagar rumah.
Wanto nampak turun dengan tergopoh-gopoh. Aku memandangnya dengan rasa heran bercampur bingung.
"Lann ...! Tolongin Pakdeku! Cepat, sekarang juga ikut ke rumahku! Cepat, Lann ... tolong!" serunya dengan panik disertai napas yang memburu.
"Sshhh ... sshh .... Tenang dulu. Ceritain dulu, kenapa Pakdemu? Tolongin bagaimana?" tanyaku mencoba menenangkan.
"Pakdeku tiba-tiba ambruk dan kejang-kejang! Matanya membelalak lebar! Kayak orang kesurupan, gitu. Orang-orang bilang, mungkin ada hubungannya sama ular hitam yang Pakdeku bunuh itu! Kamu pasti tahu ya, Lann?! Ayo cepat, tolongin dong!" kata Wanto.
Aku terdiam sejenak. Menarik napas sesaat seraya berpikir.
"Ayo cepetan, Lann! Tolongin dong!" Wanto berkata tak sabaran.
"Hhmm ... baiklah, ayo! Tapi aku bonceng kamu aja ya" sahutku kemudian.
Tanpa mengucap apa-apa lagi, Wanto langsung saja menarik tanganku.
***
Sesampainya di rumah Wanto, orang-orang sedang ramai berkerumun di halaman. Nampak mereka ramai saling bergunjing satu sama lain, seraya melongokan kepala ke dalam rumah.
Melihat itu, aku berbisik lirih pada Wanto, "Wan, tolong disuruh bubar aja tuh orang-orangnya. Gak enak kalau banyak yang menonton begitu!"
Wanto mengangguk cepat. Lalu, dengan dibantu orang tua dan kakaknya, ia membubarkan kerumunan orang-orang itu. Setelah sepi, aku segera masuk ke kamar tempat di mana Pakde Wanto terbaring.
Astaghfirulloh ...! Seketika aku menyebut nama-Nya, saat terkejut melihat kondisi Pakdenya Wanto. Sekujur tubuh sampai kaki nampak mengejang kaku! Matanya membeliak lebar dengan air mata tak henti keluar. Mulut menganga kaku dan air liur berlelehan keluar. Tangan kanannya teracung ke atas, kaku kejang,dalam posisi seolah sedang mencengkeram sesuatu di udara.
Sejenak aku terdiam memanjatkan doa, mohon ampunan dan perlindungan disertai seluruh jiwa raga kupasrahkan dalam kekuasaan-Nya. Lalu lamat-lamat nampaklah dalam pandanganku sebuah bayangan hitam panjang tengah melilit tangan kanan Pakdenya Wanto. Ular hitam itu! Kepalanya perlahan bergerak menoleh ke arahku. Semakin lama, sosoknya semakin jelas! Nampak sorot matanya mengancam kepadaku. Berulang kali aku menyebut kebesaran nama-Nya untuk menenangkan gejolak dalam batin.
Lalu aku berbisik perlahan pada Wanto, meminta sesuatu. Wanto mengangguk, bergegas melangkah ke luar kamar. Sementara aku segera ke belakang, berwudhu, mensucikan dan mempersiapkan diri.
Saat aku selesai, Wanto telah menunggu dengan segelas air putih di genggaman. Aku menerimanya, lalu membacakan beberapa ayat suci. Setelah itu, aku menghampiri Pakde Wanto yang terbaring tiada daya.
Ular hitam itu tampak gelisah dan marah. Mulutnya kini terbuka lebar, memperlihatkan gigi taring runcing mengancam! Namun, aku tak memperdulikannya. Dengan penuh keyakinan atas kuasa-Nya, aku percikan air dari dalam gelas itu ke ular hitam tersebut. Ular itu tampak menggeliat-geliat. Seakan tubuhnya tersiram air panas. Tak hanya sampai di situ, aku lalu menyiramkan sebagian air ke arahnya. Ular itu kini menggelepar-gelepar kuat kesakitan. Tiba-tiba, ular itu menghilang begitu saja. Hanya meninggalkan bekas garis merah lebar di tangan kanan Pakdenya Wanto.
Alhamdulillah .... Aku memanjatkan puji syukur atas pertolongan-Nya. Lalu sisa air di gelas, aku balurkan ke seluruh tubuh dan wajah Pakdenya Wanto. Perlahan, tubuh itu melemas. Tangannya jatuh terkulai. Matanya telah terpejam dengan mulut terkatup normal. Ia kini nampak bagaikan tertidur dalam kelelahan.
Benar dugaanku. Ular hitam itu, walau mahluk gaib yang terlihat menakutkan, namun ia tetaplah mahluk ciptaan-Nya. Ia tidak mengganggu. Hanya kebetulan kerap terlihat saat melintas. Dan saat tanpa salah ia teraniaya, seperti juga umumnya manusia, maka iapun membalas. Dan saat mahluk Allah yang tanpa salah teraniaya, maka sehebat apapun ilmu yang dibanggakan untuk menganiaya, itu tak akan berarti! Beruntung Allah masih memberi pertolongan dengan mengusirnya pergi, setelah mungkin dirasa cukup ular itu membalas atas apa yang ia alami.
Keluarga Wanto turut mengucap syukur atas pertolongan-Nya. Sampai sekarang, garis merah melingkar itu masih ada di lengan kanan Pakdenya Wanto. Membekas dan tak bisa hilang.

-Selesai-
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top