test

Cerpen Horror Tolong ... Aku Jenuh Di Sini
Cerpen Horror Tolong ... Aku Jenuh Di Sini

Tolong ... Aku Jenuh Di Sini
Karya : Sang LannaLinda Puspita Sari dan Wahyu Agustin.

Haaaah!
Adi terbangun dengan sekujur tubuh gemetar dan bermandi keringat! Untuk kesekian kali, mimpi itu kembali menghantuinya. Begitu terasa nyata terekam dalam pikiran.
Tidak mungkin! Tidak mungkin itu Ida! Ida telah meninggal! batin Adi coba membantah. Kembali terpampang jelas di matanya mimpi yang baru saja menghantui. Adi melihat Ida terperangkap dalam sebuah kotak kayu. Tangan, kaki, leher dan badannya terikat kuat pada kotak kayu itu. Dan tali temali yang mengikat anggota tubuhnya itu, adalah ular-ular mengerikan beraneka jenis! Ida merintih dalam tangisan sedih. Beberapa kali mencoba membebaskan diri. Namun sia-sia. Gaun putih yang ia kenakan, nampak compang-camping serta kotor bernoda tanah bercampur darah!
"Adiii ... tolong akuu .... Aku ingin keluuaar! Bebaskan akuu, Adiii! Aku jenuh di siniii!" isak Ida merintih.
Tangannya yang terlilit seekor ular phyton, mencoba menggapai ke arah Adi. Meminta bantuan. Namun dengan cepat ular itu mematuk punggung tangannya. Menggigitnya dalam-dalam. Hingga darah mengalir. Membuat jemari Ida menjadi merah. Ida menjerit nyaring! Namun tangannya yang kini berlumuran darah, tetap coba menggapai ke arah Adi.
"Toloong, Adiii! Bebaskan akuuu! Tolooong!" jeritnya tertahan.
Adi terpana, tak tahu mesti berbuat apa.
"A ... apa? Ba ... bagaimana ... aku bisa ... menolongmu ...?" ucapnya bingung.
"Darah, Adiii! Darah akan mengusir ular-ular iniii! Darah akan membebaskankuuu!" seru Ida keras.
"Da ... darah? Darah ... apa? Siapa ...?"
"Siapa sajaaa! Kalau perlu ... darahmuuu!" sahut Ida.
Adi tercekat!
"Da ... darah ... ku? Ta ... tapi ...?"
"Kau masih cinta aku, kaan? Adiii .... Katakan ... bahwa kau masih mencintaikuuu!" suara Ida terdengar menuntut.
"I ... iya. Aku ... masih mencintaimu ..."
"Berkorbanlah untukku, Adiii! Bebaskan aku dengan darahmuuu! Toloong ... aku jenuh di siniii!" Ida mengerang parau.
"Ta ... tapi ...."
"Tak ada tapiii, Adiii! Bebaskan akuuu! Bila kau memang cintaaa! Kasihani kekasihmu ini, Adiii!"
"A ... aku ... aku ...." Adi tergagap kebingungan.
"Tolong akuuu, Adiii! Tolooong!" seruan Ida semakin keras dan parau. Tangannya terus berusaha menggapai Adi. Tangan yang merah berdarah itu, semakin lama semakin memanjang. terus memanjang ... hingga menjangkau wajah Adi!
Haaaaaah!
Dan Adi pun terbangun dengan napas memburu! Mimpi yang ketujuh kalinya pada tujuh hari ini setelah tujuh hari jasad Ida disemayamkan.
Apa artinya? pikiran Adi kacau. Apa benar, Ida meminta tolong padaku? Membebaskannya? Membebaskan dari apa? Di mana? Adi semakin bingung. Dengan darahku? Aah, apa maksudnya!
Sesaat Adi terdiam. Pikirannya ia pusatkan, mencoba mengingat dan merangkai semua mimpi yang menghantuinya selama tujuh hari ini.
Ida telah meninggal. Ia nekad mengakhiri hidupnya dengan terjun ke sungai, karena tak mau dipaksa menikah dengan saudagar tua renta itu! Ia masih tetap mencintaiku, batin Adi berpikir. Kotak kayu dalam mimpi itu ... pasti adalah peti matinya. Lalu gaun putih compang camping serta kotor bernoda tanah, pasti itu kain kafannya. Lalu ular-ular yang melilitnya, apa itu? pikirnya bingung. Ida terperangkap di dalam kuburnya. Ia tersiksa di sana. Ya! Ular-ular itu adalah perlambang siksaannya di sana. Dan ia meminta tolong aku untuk membebaskannya dari siksaan itu!
Sesaat ditatapnya foto Ida dalam bingkai kayu yang tertata rapi di atas meja. Foto itu tersenyum pada Adi .... Rintihan Ida kembali mengiang di kepalanya, "toloong akuuu, Adiii ...!"
Ya! Ida tersiksa di sana. Di dalam kuburnya! Idaku tercinta yang malang. Dan, karena aku satu-satunya lelaki yang ia cintai, maka ia meminta tolong padaku ... melalui mimpi! pikiran Adi menyimpulkan.
Aku harusnya menolongnya! Ia rela mati, demi cinta kami berdua. Ia amat mencintaiku. Ia tak rela jiwa dan raganya termiliki orang lain selain aku! Adi membatin. Aku juga amat mencintainya. Dan aku belum berkorban apapun untuknya. Kini ia meminta pertolonganku. Aku harus menolongnya! Demi cinta kita! tekadnya bulat!
Adi seketika beranjak bangkit. Ia bergegas mengendap-endap, ke luar dari rumah dengan membawa cangkul dan sekop di tangan. Setelah berada jauh dari rumah, langkah diayunkan secepatnya ... berjalan menuju sebuah komplek pemakaman di luar kampung tempat tinggalnya.
***
Kegelapan malam tiada sanggup tersapu oleh sinar sang rembulan yang tak berdaya dalam rengkuhan awan gelap. Kesunyian mencekam alam. Tak terdengar suara serangga malam berkumandang. Bahkan sepertinya semua mahluk enggan menampakkan batang hidungnya. Terlebih di area pemakaman tua itu.
Gundukan-gundukan tanah tertutup semak belukar. Beberapa pohon kamboja nampak gersang, seakan enggan tumbuh di atas tanah pekuburan. Angin berhembus lirih, seakan takut membangunkan para penghuni kubur dari tidur abadinya.
Namun sia-sia. Nampak ada sesuatu yang lain pada sebuah gundukan kuburan bernisan batu berlumut tebal. Seakan ada getaran yang mengisyaratkan ... bahwa penghuninya tengah terjaga. Dan memang! Sang penghuni sedang terjaga di dalamnya. Namun hanya diam, tak bergerak. Menunggu ....
Dan suara langkah kaki datang mendekat. Sang penghuni tersenyum. Yang ditunggu telah datang. Cepatlah! seru batinnya. Aku telah lama menunggu! Tak tahukah kau? Betapa jenuhnya aku disini? Terperangkap diam membeku berpuluh-puluh tahun. Jangankan beranjak, bahkan menggerakan satu jari pun kutak bisa! Cepatlah, bebaskan aku!
Langkah kaki itu semakin mendekat. Lalu berhenti di atasnya.
Ya, benar! Aku di sini! Di bawah tanah ini! Ayo, cepat bebaskan aku! serunya bersorak.
Adi sesaat menatap gundukan tanah yang tertutup semak belukar itu. Sebuah kuburan tua yang hampir tak nampak lagi wujudnya. Namun, dalam pandangan Adi, kuburan itu nampak masih baru. Tanahnya masih memerah, dengan taburan bunga-bunga yang mulai mengering. Batu nisan berlumut tebal itu terlihat sebagai sebuah kayu nisan baru bertuliskan nama Ida Mawarni, kekasihnya.
Ayoo! Cepat hujamkan cangkulmu! Gunakan sekopmu! Bebaskan aku, hai orang muda! Seruan sang penghuni nyaring dari dalam tanah tak terdengar oleh Adi. Namun seakan ada magnet yang menarik tubuh dan semangatnya seketika! Seakan terasa belaian sayang dan pinta mesra dari sang kekasih, "Ayo, Adiii! Tolonglah akuuu segeraaa!"
Seraya mengambil napas dalam-dalam, Adi mulai mengayunkan cangkulnya. Berkali-kali cangkul menghantam gundukan tanah itu. Diselingi hujaman sekop, meraup tanah kuburan. Semakin lama, semakin dalam.
Hewan malam merungkut dalam persembunyiannya. Rembulan yang tertutup awan hitam, kini menghilang pergi. Tak berani menyaksikan apa yang tengah berlangsung di kuburan tua itu. Cangkul semakin kuat menhantam. Sekop semakin dalam menghujam. Lobang semakin lebar menganga. Hingga akhirnya terdengar sebuah suara benturan.
Drraaak!
Adi menghentikan ayunan cangkulnya. Lalu dengan hati-hati menyekop tanah yang tersisa. Nampak sebuah peti mati tua yang lapuk di bawah kakinya. Namun terlihat bagai peti mati yang baru.
Sabarlah, Ida sayangku! Sebentar lagi kau akan bebas, bersamaku! seru batin Adi seraya membersihkan sisa-sisa tanah yang masih menempel. Tangannya mengusap kuat-kuat permukaan peti mati itu, agar terlihat bersih dari tanah yang menutupinya. Tanpa sadar ....
Sreeet!
"Aaah!"
***
Adi terpekik! Sebuah cukilan kayu yang tajam merobek telapak tangannya. Darah mengucur deras. Namun tak ia perdulikan. Adi meraih kembali sekop dan mulai mencungkil tutup peti mati itu. tutup peti mati tua yang telah lapuk itu dengan mudah terbuka. Adi mengangkat, lalu melemparkannya keluar.
Kini di bawah kakinya nampak sesosok mayat terbungkus kain kafan yang telah lapuk. Adi terpana. Tanpa sadar, darah yang terus mengucur dari telapak tangannya yang sobek, membasahi mayat itu hingga ke bagian kepala.
"Kok .. kok mayatnya ... sudah rusak begini?" gumamnya heran dan bingung, "kain kafannya juga sudah lapuk? Dan peti kayu ini juga. Kenapa?"
Semua yang dilihatnya tadi sirna. Berganti ke keadaan sebenarnya. Tidak ada peti mati dengan kayu yang masih baru. Tidak ada tanah yang masih memerah. Tidak ada tebaran bunga yang mulai mengering. Dan tidak ada kayu nisan baru berukir nama kekkasihnya. Adi kini tersadar, ia berada di depan sebuah kuburan tua. Dan darah masih terus memancar, membasahi mayat itu.
Perlahan, asap mengepul dari tubuh mayat. Semakin lama, semakin banyak. Menebarkan aroma sangit memualkan. Dan perlahan, tubuh mayat itu bergetar. semakin keras. Lalu terdiam kembali.
Adi hanya mampu menganga menyaksikan itu semua. Perlahan, sepasang kelopak mata terbuka! Bersinar merah! Menatap wajah Adi lekat-lekat. Bibir berkulit hitam keriput di bawahnya, perlahan tersenyum! Kemudian tubuh itu bergerak. Mayat itu bangkit! Sebuah suara sayup-sayup memasuki telinga Adi.
"Terima kasih ... telah membebaskanku ...."
Adi tercekat!
"Ta ... tapi ... kenapa? Mengapa ... aku?" ucapnya terbata-bata.
"Kau telah mengencingi kuburanku ... sewaktu kau memakamkan kekasihmu itu .... Kau menghinaku .... Dan tanpa sadar, kau telah membangunkanku dari tidur abadi .... Aku merasa sakit .... Namun tak mampu bergerak .... Aku pun mendatangimu ... dalam mimpi ... sebagai kekasihmu .... Dan kau harus membebaskanku ... sebagai tebusan ... telah menghina ... mengencingi kuburanku ...."
Adi terkesiap!
"A ... aku ... tidak tahu ....! Tidak sengaja ....!"
Mayat itu terkekeh.
"Hehehe .... Aku tak perduli! Mestinya kau tahu, di mana kau sedang berada. Mestinya kau hormati jenazah-jenazah yang bersemayam di sini! Kini ... semua telah terlambat! Kau gantikanlah tempatku disini!" serunya parau.
Perlahan mayat itu melayang naik. Keluar dari liang kuburnya. Mengambang di udara, di atas kepala Adi. Tiba-tiba, sebuah hentakan keras menghantam tubuh Adi! Melemparkannya ke dalam lubang kubur itu.
"Aaaaaah!"
Adi hanya mampu berteriak ngeri, saat tubuhnya terhempas ke dalam liang kubur. Lalu, suara gemuruh terdengar keras. Tanah kubur itu kini bergerak sendiri, bagai ditumpahkan ke dalam lubang itu seketika. Suara Adi hilang bersama dengan hilang tubuhnya tertimbun tanah. Dengan cepat, gundukan kuburan itu kembali seperti semula. Seolah tak pernah dibongkar.
Sosok mayat itu mengela napas.
"Aah! Akhirnya aku bisa melepas jenuh, setelah puluhan tahun mesti terpendam di liang itu," ucapnya lirih, "mmm ... adakah yang merasa jenuh juga? Akan aku bebaskan kalian .... Tunggulah, aku akan mencari kalian ...."
Perlahan tubuhnya melayang ... semakin menjauh ... hilang ditelan kegelapan malam yang mencekam ....
***
Hanya beberapa meter dari tempat peristiwa itu terjadi, sayup-sayup terdengar isak tangis sedih dari sebuah kuburan yang masih baru. Tangis penyesalan ... dari Kuburan berkayu nisan dengan ukiran nama Ida Mawarni ....

-Selesai-
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top