test

Cerpen Harta Berharga Karya Sang Lanna
Cerpen Harta Berharga


Harta Berharga
Karya : Sang Lanna

Pada suatu masa, hiduplah seorang lelaki muda bernama Jaka. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana, bersama ibunya yang telah tua. Jaka seorang lelaki gagah berbadan sehat. Hanya sayang, ia memiliki sifat pemalas. Tak suka bekerja. Ibunyalah selama ini yang bekerja, berjualan di pasar untuk menghidupi mereka berdua.
Penghasilan yang tak seberapa, membuat kehidupan mereka sangat miskin. Berulangkali Jaka mengeluh seraya berkhayal memiliki harta banyak, agar hidupnya terasa nikmat.
"Kalau kau tak mau miskin, bekerjalah! Agar penghasilan kita bertambah dan hidup kita menjadi lebih layak!" ucap Ibunya berkali-kali. Namun tak pernah Jaka perdulikan. Ia lebih suka bermalas-malasan seraya mengkhayal memiliki harta berlimpah.
Suatu hari, tanpa disengaja, ia mendengar kabar adanya sebuah goa ajaib yang dapat mengabulkan semua permintaan. Goa itu terletak pada sebuah lereng gunung di seberang negeri. Hatinya sangat tertarik. Wah, ini kesempatan untuk memiliki harta berlimpah agar hidupku terasa nikmat! batinnya bersorak gembira. Maka, diputuskannya untuk pergi ke goa itu.
***
Jaka berjalan penuh semangat. Pikirannya dipenuhi bayangan harta yang berlimpah serta kehidupan nikmat yang akan diperolehnya. Tanpa terasa, sampailah ia di kaki gunung itu.
Saat ia sedang melepas lelah, tiba-tiba datanglah seorang lelaki separuh baya yang memakai jubah emas. Jaka tergiur menatap jubah emas itu. Si lelaki menghampirinya.
"Kau nampak tergiur akan jubah emas milikku ini. Aku akan memberikannya kepadamu asal kau mau menukarkannya dengan sesuatu yang kuinginkan darimu," ucap lelaki itu.
"Aku mau!" jawab Jaka dengan bersemangat, "apa yang kau inginkan?"
"Punggungku sakit, selalu kumat encoknya. Kulihat kau masih muda. Sehat dan kuat. Maukah bila punggungmu ditukar dengan punggungku? Jubah emas ini sebagai imbalannya," pinta si lelaki.
Jaka berpikir. Gemerlap jubah emas menggodanya. Ah, hanya punggung yang sakit saja, batinnya bergumam penuh nafsu. Jauh lebih bernilai jubah emas itu. Ia pun bersedia.
Mereka bertukar punggung. Jubah emas menjadi milik Jaka. Lelaki itu berlalu pergi dengan badan tegap dan wajah berseri senang. Sementara Jaka melanjutkan perjalanan dengan mengenakan jubah emas di badan yang membungkuk, menahan sakit di punggungnya.
Belum jauh berjalan, Jaka bertemu dengan seorang Ibu yang memakai kalung berlian. Jaka terbelalak melihatnya. Si ibu berjalan tertatih menghampiri.
"Hai anak muda," ucapnya, "apakah kau tertarik dengan kalung berlian yang kupakai ini?"
Jaka mengangguk.
"Bila kau mau, aku akan memberikannya padamu. Namun dengan imbalan, sesuatu yang kau punya."
"Apakah itu?" tanya Jaka.
"Mataku terasa sakit dan selalu berair. Maukah kau mengganti matamu dengan mataku? Sebagai imbalannya, akan kuberikan kalung berlian ini."
Sesaat Jaka berpikir. Ah, hanya mata yang berair. Bukan sesuatu yang berarti, batinnya mulai tamak. Ia pun setuju. Maka, mereka pun bertukar mata. Si ibu berlalu dengan suka cita. Sementara Jaka melanjutkan perjalanan dengan berjubah emas serta berkalung berlian, namun menahan sakit di punggung, dan berjalan tersendat-sendat karena matanya yang selalu berair memburamkan pandangan.
Tak berapa lama, Jaka bertemu dengan seorang kakek. Kakek itu memakai mahkota emas bertahtakan mutiara. Jaka kembali tergiur menatapnya. Kakek itu pun menghampiri.
"Hai, anak muda. Kulihat kau inginkan mahkota yang kupakai ini. Maukah kau memilikinya?" tanya si kakek.
Jaka mengangguk penuh nafsu.
"Mahkota ini akan kuberikan untukmu. Namun, aku minta imbalan darimu," kata si kakek.
"Apa yang kau minta sebagai imbalannya?"
"Kaki dan tanganku terasa lemah dan gemetar. Maukah kau menukar kaki dan tanganmu dengan imbalan mahkota emas bertahtakan mutiara ini?" pinta si kakek.
Jaka sesaat terdiam. Namun nafsu tamak telah menguasainya. Ia pun setuju. Mereka pun bertukar tangan dan kaki. Si kakek berlalu dengan langkah tegap. Sedangkan Jaka melanjutkan perjalanan dengan mengenakan jubah emas, kalung berlian serta mahkota permata, namun dengan punggung terbungkuk sakit, pandangan buram dan kaki gemetar melangkah.
***
Akhirnya sampailah Jaka di goa ajaib itu. Di mulut goa, sebuah suara menyambutnya.
"Hai anak muda. Kau telah menempuh perjalanan jauh ke goa ini. Apa yang kau inginkan?"
Jaka menjawab, "aku ingin harta yang berlimpah. Agar hidupku terasa nikmat. Tak pernah kekurangan."
"Baiklah. Aku kabulkan permintaanmu," jawab suara dari dalam goa, "ambillah harta yang kau inginkan dalam peti yang berada pada pucuk pohon di atas goa ini."
Jaka pun senang mendengarnya. Ia lalu memanjat goa itu dengan susah payah. Setelah sampai di pohon tersebut, Jaka mencoba memanjatnya. Namun punggungnya yang sakit, pandangannya yang buram dan kaki tangannya yang gemetar, membuatnya tak mampu memanjat pohon itu. Berulang kali ia coba, namun selalu jatuh. Hingga jubah emasnya robek, kalung berliannya putus dan mahkotanya jatuh pecah berantakan.
Jaka pun mengeluh. Pohon ini tak terlalu tinggi. Andai punggungku tak sakit, pandanganku tak buram dan kaki tanganku tak gemetar, tentu aku bisa memanjatnya, pikir Jaka. Ia menatap jubah emasnya yang telah sobek-sobek. Kalung berliannya yang putus bercerai, dan mahkota yang pecah berantakan. Semuanya kini tak lagi berharga. Ia pun menyesal. Ternyata tubuh sehat lebih berarti dari pada semua harta mati yang didapatnya itu.
Jaka turun kembali ke goa ajaib.
"Wahai goa ajaib. Aku ingin mengubah permintaanku," ucapnya.
"Apa yang kau ingini sekarang?" tanya suara dari dalam goa.
"Aku ingin punggungku. mataku dan tangan serta kakiku kembali sehat seperti dulu. Aku sadar, kesehatan lebih berarti dari pada segala harta yang dapat dicari," ucapnya.
Goa ajaib berkata, "akhirnya kau sadar. kau telah memiliki harta berlimpah yang membuat hidupmu nikmat. Yaitu tubuh yang sehat. Dengan itu, kau bisa meraih harta duniawi yang kau mau agar hidupmu tak kekurangan melalui bekerja. Baiklah, akan kukabulkan permintaanmu."
Maka, Jaka pun pulang dengan wajah berseri. Ia tak mendapat harta berlimpah. Namun ia mendapatkan kembali hartanya yang membuat hidupnya nikmat. Yaitu tubuh yang sehat. Ia tersadar dan berjanji dalam hati, akan bekerja giat untuk meraih harta agar hidupnya tak kekurangan lagi.

-Selesai-
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top