test

Cerpen Di Usia Petang Karya Yan Hendra
Cerpen Di Usia Petang Karya Yan Hendra

Di Usia Petang
Karya : Yan Hendra

Belakangan ini Mak Mur sering bertandang ke rumah. Kalau ada jeda waktu kami ajak ngobrol, tetapi kalau sedang repot beliau hanya duduk saja sambil memegang tongkat bambu hitam sebesar jempol tangan. Beberapa hari lalu saya ajak bercanda.
“Emak sedang belajar silat jurus Tongkat Bambu Sakti?”
Si Emak terkekeh. “Emak sedang ngerasain sakit pinggang, Jang,” katanya dengan muka menahan sakit. Lalu tanpa diminta beliau bercerita kalau masa mudanya dihabiskan dengan bekerja berat. Dari mengurus beberapa petak sawah, mengangon bebek dan kambing, hingga mencari kayu bakar. Beliau tak cerita apakah punya saudara lelaki atau tidak, dan lalainya saya tidak menanyakannya.
Sejak kecil beliau sudah punya naluri bisnis, seperti bantu menjual dagangan kue tetangga. Bila ada yang menyuruh bantu-bantu di rumah tetangga seperti mencuci pakaian, mengepel rumah, sampai menjaga anak; dengan sigap beliau kerjakan sebab ada upahnya. Intinya beliau rajin mengumpulkan uang.
“Emang punya rencana apa dengan uang itu, Mak?” tanya saya penasaran.
“Ah, enggak. Senang aja,” katanya. Padahal saya kira beliau ingin sekolah untuk menjadi bidan, guru, atau profesi yang mampu meningkatkan derajat mereka; atau ingin membeli properti guna mengembangkan usaha.
Itu sebab beliau marah dan ingin berontak saat orangtua hendak menikahkannya dengan seseorang. “Emak teh lagi senang-senangnya cari duit, eh disuruh kawin. Padahal waktu itu belum kepikiran. Masih kecil banget. S**u aja belum numbuh,” katanya masih membiaskan wajah kesal. Beliau tak menjelaskan lika-liku perkawinannya, tapi katanya tak berumur panjang. Belakangan beliau cerita bahwa menikah sampai lima kali. Wow!
Saat ini Mak Mur tinggal bersama Haji Khasan, putra semata wayang hasil perkawinannya dengan suami terakhir. Anak-anak dari suami-suami yang lain tinggal agak berjauhan. Sebelum merasakan sakit pinggangnya semakin parah, beliau masih berjualan keliling menawarkan gorengan, getuk, ketan, opak, dan semacamnya. Padahal jauh-jauh hari Haji Khasan sudah melarang, tapi karena sudah mendarah daging, hobi satu itu sulit ditinggalkan. Menariknya, puluhan tahun berjualan, hanya sedikit yang terlihat hasilnya. Beberapa anaknya tidak sekolah tinggi. Bahkan Haji Khasan cuma tamatan SMP.
Kesempatannya untuk berhaji bermula dari ikut teman belajar menjahit, kemudian setelah magang setahun, ada kesempatan untuk ikut proyek di Malaysia. Pulang mmbawa uang banyak digunakan untuk membangun rumah gubuk mereka. Setelah menikah setahun, tawaran datang lagi. Kali ini ke Saudi Arabia selama beberapa tahun. Kesempatan itu yang digunakan untuk berhaji.
Haji Khasan suka malu kepada tetangga melihat sikap hidup emaknya. Ia mendidik istri dan anak-anaknya dengan ajaran agama, tetapi emaknya sulit sekali dibujuk untuk sekadar salat. Cara berpakaian emaknya pun sering kali beliau protes, tapi Mak Mur ‘cuek bebek’. Beliau tetap memakai kebaya lusuh tak terkancing dengan penutup dada cukup vulgar. Saat kebayanya tertutup, bagian leher yang kelewat ‘rendah’. Saat azan maghrib berkumandang, beliau masih ‘kelayaban’ di rumah tetangga.
Suatu hari saya pernah bertanya. “Mak, makan bareng-bareng?”
“Ah, enggak. Emak mah makan sendiri. Kalau enggak ditawarin, emak enggak berani ambil,” jawab si Emak. Duh, saya jadi membayangkan bagaimana kalau Haji Khasan atau istrinya lupa menawarkan makan?
“Si Haji suka kasi duit?”
“Kadang suka kasi sepuluh ribu. Tapi cucu emak yang di sana, anak dari kakak tirinya si Khasan, sebulan sekali datang kasi seratus ribu.”
Saya manggut-manggut. Bagaimana pun seorang ibu secara naluriah tetaplah sayang kepada anak-anaknya. Meski beliau menceritakan sisi kurang baik dari Haji Khasan, tetapi sisi baiknya selalu lebih banyak.
Si Emak berdiri dengan susah payah. “Kemarin waktu di rumah Mbak Puji ada tokek. Emak tanya, ‘tokek, tolong saya atuh. Apa obat sakit pinggang?’ Eh, malamnya emak ngimpi bawa asam. Besok paginya emak borehi ke puser,” katanya sebelum pulang.
“Sembuh?” tanya saya sambil senyum.
“Belum atuuuh! Besok mungkin rada kurang.”
Tapi esok, lusa, dan beberapa hari berikutnya, si Emak tetap saja mengeluh sakit pinggang sambil berjalan ke sana-kemari membawa sebatang tongkat bambu kecil.

-Selesai-
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top