test

Cerpen Bukan Hasilnya Karya Sang Lanna
Cerpen Bukan Hasilnya Karya Sang Lanna


Bukan Hasilnya
Karya : Sang Lanna

Prraakk!
Keras sekali suara tumpukan kertas nilai ujian itu dihempaskan ke meja dengan penuh emosi.
"Apa-apaan ini?!" seruan Papa menggelegar menggetarkan gendang telinga Jessi, bahkan sampai ke dalam hatinya.
Jessi hanya terdiam, menunduk ketakutan. Ditatapnya kertas nilai ujian yang berserakan di atas meja. Nilai E terpampang jelas pada beberapa lembarnya. Duh! Mati aku! keluhnya dalam hati.
"Lagi-lagi dapat nilai E! Bahkan hampir di semua mata pelajaran! Bagaimana bisa begini? Apa kamu gak belajar?! Apa di sekolah cuman main-main aja?!" mulailah omelan Papa meluncur deras tak terbendung. Berbagai ucapan membongkar semua kesalahan Jessi, bagai tiada habisnya. Hingga akhirnya, dengan napas terengah-engah karena gejolak emosi, Papa menghentikan omelannya dengan sebuah tanya, "sekarang, apa maumu?"
Jessi tetap diam menunduk. Matanya kini memerah, basah. Papa mengela napas panjang.
"Kalau sampai akhir semester ini nilaimu tak ada perubahan, lupakan saja tentang keinginanmu memiliki laptop sendiri!" ucap Papa tegas.
Jessi tersentak kaget!
"Tapi, Pa," ia beranikan diri berkata seraya mendongakkan wajah, "Jessi butuh laptop itu ... terutama untuk tugas-tugas sekolah."
"Tidak ada! Kerjakan tugas-tugas sekolahmu bersama teman saja!" tukas Papa.
"Tapi, Pa! Teman-teman Jessi jauh semua rumahnya. Jessi akan repot sekali kalau mesti jauh-jauh ke sana untuk mengerjakan tugas," Jessi coba membantah, "tolong ya, Pa ...."
Papa mengela napas panjang.
"Baiklah. Papa akan membelikanmu laptop, tapi dengan syarat."
Mata Jessi sesaat berbinar, "syaratnya apa, Pa? Jessi akan belajar lebih rajin! Jessi akan memperbaiki nilai-nilai ujian Jessi ini!" ucapnya bersemangat.
"Tidak cukup hanya itu," tukas Papa, "ada syarat, ada hadiah, juga ada sangsinya. Kamu harus patuhi itu semua kalau mau mendapat hadiah laptop idamanmu."
Sesaat Jessi termenung diam. Namun keinginan akan laptop terus menggodanya.
"Baiklah, Pa. Jessi akan patuhi syarat dan sangsi dari Papa, demi hadiah laptop itu," kata Jessi kemudian, "apa syarat dan sangsinya?"
"Untuk mendapatkan laptop keinginanmu, kamu mesti masuk ranking 10 besar di ujian akhir semester ini! Bila tidak, apalagi nilaimu sampai seperti ini lagi, maka sangsinya, kamu akan Papa pindahkan ke sekolah lain!" ucap Papa tegas.
Jessi terbeliak! "Pindah ... sekolah?"
"Ya! Itu sangsinya! Dan kamu sudah menyetujuinya!"
"Ta ... tapi ... bagaimana Jessi bisa?"
"Mulailah belajar dari sekarang!" tukas Papa seraya berlalu pergi.
Jessi masih terbengong bingung. Tanpa menyadari, Mama mendekatinya dari belakang.
"Kamu tahu, kenapa Papa sampai semarah itu dan memberikan sangsi seberat itu?" tanya Mama lembut.
"Karena nilaiku jelek, Ma," jawab Jessi lemas.
"Bukan karena itu. Papa marah karena sedih memikirkan nasibmu, Jess," ucap Mama lagi.
"Maksud Mama?"
"Bila nilaimu seperti ini terus, maka kesuksesan masa depanmu akan sulit untuk berhasil diraih. Hidupmu pun belum tentu akan bahagia. Memang, nilai pelajaran bukan jaminan untuk hidup bahagia. Namun setidaknya, bila bekal kepintaran kita cukup, kemungkinan untuk berhasil sukses dan hidup bahagia akan lebih besar," jawab Mama, "Papa marah, karena sedih memikirkan kemungkinanmu yang mengecil untuk meraih bahagia di masa depan, karena jeleknya nilaimu."
Jessi tercenung.
"Maukah kamu belajar lebih rajin? Bukan untuk membahagiakan atau membanggakan Papa dan Mama. Namun untuk dirimu sendiri, agar kemungkinanmu meraih bahagia di masa depan, lebih besar," ucap Mama, "maukah kamu, Jessi?"
Jessi menatap wajah Mama dengan pandangan haru.
"Baiklah, Ma! Jessi akan belajar lebih rajin! Jessi akan berusaha keras!" katanya penuh keyakinan dan semangat.
Mama tersenyum senang seraya mengusap rambut Jessi.
***
Aku harus berusaha keras! Aku harus belajar giat! Aku harus berhasil mendapat nilai tinggi untuk masuk rangking 10 besar! Bukan hanya demi laptop! Tapi juga agar aku tidak pindah sekolah ... dan agar Papa juga Mama tak sedih memikirkan masa depanku! Aku harus berhasil! seru batin Jessi bertekad.
Mulailah hari-hari Jessi diisi dengan usaha keras, belajar giat. Semangat dipacu sekuat-kuatnya. Beberapa pelajaran yang tak ia pahami, kembali ia baca dan pelajari. Ia rajin menanyakan pada temannya, hal yang tak ia mengerti. Lalu, sepulang sekolah, kembali ia ulangi pelajaran yang didapatnya. Begitu tekun ia belajar di dalam kamar, hingga sering tak terasa bila waktu sampai menjelang tengah malam.
Saat belajar di kamar, beberapa kali Jessi mendadak tertegun! Lalu menengok ke sekelilingnya. Eh? Kok rasanya ada yang tengah memperhatikan aku? batinnya heran. Namun tak ada siapa-siapa. Ah! Hanya perasaanku saja pasti! bisik batinnya berusaha tak mengindahkan. Ia pun kembali menekuni pelajarannya.
Hari demi hari berlalu. Minggu ke minggu, hingga berganti bulan. Akhirnya tibalah saat ujian semester akhir. Jessi menjalaninya dengan penuh optimis. Soal demi soal ia kerjakan dengan teliti. Hingga selesai sudah semua ujian. Dan hari ini adalah pengumuman hasil ujian semester akhir tersebut.
Dengan jantung berdebar tak menentu, ia menelusuri papan pengumuman daftar nilai dan peringkat, hasil ujian semester akhir.
Dari nomor satu, diurutnya daftar nama yang tertera. Namun, sampai nomor sepuluh, tak ada namanya tertera di sana. Tubuh Jessi terasa lemas. Hilang sudah semua harapannya. Ia coba terus menelusuri papan pengumuman itu. Sampai nomor duapuluh, tak juga ada tertera namanya. Baru pada urutan ke dua puluh enam, ia menemukan namanya di sana. Dua puluh enam dari lima puluh dua anak. Jessi berlalu meninggalkan papan pengumuman itu dengan langkah gontai. Hilang sudah laptop impian ... lebih ngeri lagi, ia akan dipindah sekolah, berpisah dari teman-teman akrabnya selama ini ....
***
Jessi melangkah menghampiri Papa yang tengah duduk di teras, menantinya. Dengan lemas, ia menyerahkan nilai hasil ujian akhir semesternya itu. Sesaat Papa membacanya.
"Rangking dua puluh enam?" ucap Papa perlahan, "bagus!"
Jessi tertunduk sedih.
"Maafkan Jessi, Pa ...," ucapnya setengah terisak, "Jessi telah berusaha keras dengan belajar lebih rajin. Namun, itulah hasilnya. Tolong, jangan pindahkan Jessi dari sekolah itu."
Papa tersenyum, "siapa yang akan memindahkan kamu? Kan Papa bilang, bagus!"
Jessi terpana.
"Be ... benarkah, Pa?"
Papa mengangguk, "nilaimu sudah ada peningkatan. Yang tadinya E, kini sudah mendapat C. Itu bagus! Jadi, sangsinya Papa cabut."
Wajah Jessi berseri-seri, "terima kasih, Pa!" ucapnya senang.
"Sudah, sana masuk kamar! Ganti bajumu dulu. Lalu makan siang," kata Papa lagi.
"Iya, Pa," balas Jessi seraya melangkah memasuki kamarnya.
Tak lama, terdengar pekik kaget terheran-heran.
"Aiih ...! Ini, laptop siapa?" seru Jessi dari dalam kamar, "Pa? Ma? Ini kok ada laptop baru di kamar Jessi?"
Jessi berlari menghambur keluar kamar seraya membawa laptop itu.
"Pa! Ma! Ini laptop ...?" serunya bingung.
Papa tersenyum, "itu laptop milikmu, Jessi."
Jessi terpana, "tapi, Pa. Aku gak masuk sepuluh besar. Aku hanya rangking dua puluh enam. Kenapa Papa tetap memberiku laptop ini?"
"Bukan hasilnya yang Papa nilai, Jessi. Namun usaha kamu. Bagaimana kamu berjuang ... belajar lebih rajin hingga tengah malam. Berusaha keras mengejar ketinggalan dan memperbaiki nilaimu itu," sahut Papa, "yang terpenting adalah usaha. Hasilnya, biar Tuhan yang menentukan. Kamu telah berusaha sekuatmu. Dan memang, tidak mesti usaha yang keras membuahkan hasil yang memuaskan. Terkadang masih ada proses panjang untuk meraih hasil memuaskan yang kita inginkan. Namun yang pasti, kita telah berusaha dan terus berusaha. Dengan itu, suatu saat pasti hasil memuaskan yang kita inginkan akan tercapai!"
Jessi tercenung haru.
"Jadi, yang Papa nilai adalah seberapa keras usahaku? Seberapa kuat tekadku?"
"Betul! Itu yang utama! Hasilnya, kita serahkan pada Tuhan. Mungkin memang, teman-teman Jessi lebih pintar dari pada Jessi. Mungkin juga ketertinggalan Jessi di pelajaran memang telah amat jauh. Namun kamu telah berusaha keras memperbaikinya. Buktinya, nilai kamu sekarang rata-rata C."
Jessi tersenyum haru, "terima kasih, Pa," ucapnya seraya memeluk Papa, "terima kasih, Ma."
"Tapi, kamu harus tetap berusaha keras dan belajar rajin agar nilaimu terus meningkat, ya?!" kata Mama mengingatkan, "apalagi sekarang kamu sudah memiliki laptop. Sudah lebih mudah mengerjakan tugas-tugas sekolah. Maka nilaimu juga harus lebih bagus!"
"Tentu, Ma! Pasti!" balas Jessi seraya mengacungkan jempol kanannya, "tapi, kok Papa sudah membelikan laptop ini dulu, sebelum Jessi memberikan hasil ujian akhir semesternya?"
"Karena Papa sudah melihat tekad dan usaha kerasmu," jawab Papa.
"Ooh ... berarti, Papa ya, yang sering malam-malam mengintip aku belajar?!"
Papa dan Mama tertawa.
"Mama juga kok. Ya karena itu, yang Papa nilai adalah tekad dan usahamu. Bukan hasilnya."

-Selesai-
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top