test

Cerpen Bapak Karya Airi Cha
Cerpen Bapak Karya Airi Cha


Bapak
Karya : Airi Cha

Kalau tidak teringat pada anak-anak dan dosa, mungkin sudah kuhabisi lelaki yang telah menjadi suamiku selama 10 tahun. Ini perselingkuhannya yang ke dua kali, tanpa sepengetahuan dan izinku dia menikah diam-diam. Dengan memalsukan data diri bahwa ia seorang duda. Ntah ia katakan duda cerai hidup atau aku sudah dikatakan mati.
Aku bukan tak mengetahui perselingkuhan lelaki itu, pun aku sudah berusaha mencegah. Tetapi lelaki yang pernah bersumpah sehidup semati denganku itu, seperti sudah hilang ingatan. Melupakan aku dan anak-anak, tak mengubris apa omongan tetangga. Walaupun hati hancur, aku mencoba menguatkan hati anak-anak. Meski aku tau mereka belum sepenuhnya memahami permasalahan yang terjadi.
Tak ada kenangan yang ingin kusimpan dari lelaki itu, foto serta segala sesuatu yang bersangkutan dengannya sudah kubakar habis. Sementara perempuan yang dinikahinya, bukanlah yang lebih seksi dariku. Dia hanya janda tua dengan lima orang anak dan punya predikat sebagai perebut suami orang. Sepeninggalan lelaki itu, aku mengerjakan apa saja demi kelangsungan hidup aku beserta tiga putra. Dengan mengambil upah mencuci dari beberapa keluarga disebuah perumahan menegah, pekerjaan itu kulakukan dari matahari belum terbit hingga menyengat di atas kepala.Terkadang ada juga yang meminta tolong untuk dipijat, dari mulut ke mulut akhirnya aku dikenal orang bisa memijat. Hidup dari jerih payah menjadi kuli di rumah orang tanpa mengemis pada lelaki yang seakan lupa kepada kami kujalani dengan keihklasan demi ke tiga buah hati.
"Bu, kenapa Bapak ga pernah pulang-pulang?" tanya anakku suatu malam sehabis bersantap.
Acapkali si bungsu yang berusia 5 tahun bertanya dan pertanyaan itu terasa sebilah belati menancap tepat di ulu hati. Aku hanya bisa menjawab dengan sebuah kebohongan.
"Bapak jahat ya, Bu?" ucap si sulung. sementara putra ke duaku hanya diam menatap sendu ke arahku. Sekuat hati aku menahan agar embun itu tak mengambang di sudut mata. Aku tak ingin mereka tau tentang rasa sakitku, mereka harus bahagia walau tanpa lelaki itu.
"Jangan pikirkan Bapakmu, sekolah saja yang giat dan harus jadi orang pinter. Ibu masih bisa untuk memberi makan dan menyekolahkan kalian," kataku meyakinkan anak-anak.
"Bu, Ridwan ingin bekerja juga ya sepulang sekolah. Biar tidak selalu merepotkan ibu," pinta sulungku.
"Ealah, Nak! mau bekerja apa? mana ada orang yang menerima anak kelas 4 sd bekerja," kataku sambil tersenyum.
"Pasti ada, Bu. Wawan akan cari," ucapnya mencoba meyakinkanku.
"Wan, Ibu pengenya Wawan sekolah biar pinter. Biar nanti jadi orang berguna, bisa bekerja layak. Tidak seperti ibu. Wawan cukup bantu ibu dengan menjaga adik-adik. Mau kan?" tanyaku. Sulungku mengangguk tanda mengerti. Kurangkul ke tiga buah hati, merekalah sumber kekuatan saat ini. Tak lama berselang, mereka terlelap dalam buaian mimpi. Kuciumi satu persatu putraku, berharap kelak jika dewasa mereka tidak menjadi pecundang seperti bapaknya. Tak terasa air mata menganak di pipi, aku mencoba menahan isak.
"Ibu, Menangis?" 
Pertanyaan Ridho putra ke dua mengagetkanku.

"Akh ... tidak, Nak," ucapku berbohong sambil menghapus sisa air mata.
"Bu, kelak tak boleh ada yang membuat ibu menangis lagi," katanya sambil memelukku.
Hari berganti dan waktupun berlalu, banyak kepedihan yang aku rasakan namun mampu kulalui. Suatu hari saat aku pulang bekerja, kutemui putra bungsuku menangis.
"Ada apa, Wan? kenapa membiarkan adik menangis?" tanyaku mencoba mencari tau sebabnya. Sulungku hanya diam, aku beralih menatap Ridho berharap dia memberi penjelasan, tetapi Ridho hanya menatapku seperti biasanya.
"Bang Ridho marah dan pukul Indra, Bu?" isak si bungsu sambil memeluku.
"Kenapa Ridho pukul adik?" tanyaku tak mengerti. Namun putraku tetap diam dan menunduk.
"Kenapa? dan Wawan mengapa tidak bisa jaga adik-adik agar tidak berkelahi?" tanyaku sedikit emosi. Namun yang ditanya tetap membisu.
"Baiklah kalau tidak menjawab, Ibu akan menghukum Ridho," kataku. Ntah setan apa yang merasuk dalam pikiran. Kuambil sebilah bambu dan langsung memukuli punggung Ridho. Putraku hanya diam bahkan tak menangis.
"Bu, hentikan! Ridho tidak bersalah," pinta Wawan sambil memeluk lututku dan menangis. Aku menghentikan pukulan itu.
"Ada apa sebenarnya, ceritakan pada ibu."
"Tadi sepulang sekolah kami melihat Bapak, di tukang bakso bersama keluarganya," ucap Wawan tertunduk dengan rasa takut. Ada rasa sakit di hatiku saat Wawan berkata Bapak.
"Lalu!"
"Adik berlari menghampiri Bapak dan memeluknya tapi ...."
"Tapi apa?" Bentaku tanpa sadar.
"Bapak tak memperdulikan kami dan adik tidak mau pulang. Ridho memaksa adik pulang, karena adik terus menangis Ridho memukulnya."
Mataku menatap lurus pada si bungsu, tanpa sadar tanganku mensabat bilah bambu ke punggungnya.
"Ampun, Bu!" pinta si bungsu sambil menahan sakit.
"Ingat Ibu kata apa, jangan mengemis ke pada siapa pun. Terutama pada Bapak kalian. Ibu masih bisa menghidupi anak-anak Ibu, dan ingat! jangan pernah sebut tentang lelaki itu dihadapan Ibu. Meskipun lelaki itu Bapak kalian!" seruku meluapkan segala amarah. Ketiga putraku hanya menunduk dalam tanpa berani menantap ke arahku yang seperti orang kesurupan. Tak dapat kulukiskan bagaimana rasa sakit menyelusup di dada, membayangkan anak-anakku seperti mengemis dihadapan Bapaknya dan tak dihiraukan.
Sejak hari itu, tak ada dari putraku yang menyebut kata Bapak. Biasanya sebelum kejadian itu si bungsu sesekali waktu selalu bertanya tentang Bapaknya. Sekarang mulutnya tak pernah mengucapkan kata itu. Hingga tak terasa putra-putraku besar, berpendidikan dan mendapat pekerjaan yang layak. Jerih payahku seakan terbayar sudah, melihat mereka berhasil meraih segala cita-cita. Rasa sakit dan luka sudah tak ada dihatiku.
Suatu senja ada lelaki kurus dan tua tergeletak di bawah pohon depan rumah. Sepertinya ia seorang gelandangan. Perlahan aku menghampirinya, lama aku mematung dihadpan lelaki itu. Sampai ....
"Minta air putihnya, Bu?" ucap lelaki itu menyadarkanku. Aku bergegas mengambil air ke rumah dan memberikan kepadanya.
"Terima kasih, Bu," kata lelaki itu lemah sambil menyodorkan gelas. Sesaat dia mentapku dan tatapkan kami saling bertemu.
"Mas, Irfan," lirih aku berkata. Walau terlihat lebih tua dari usiannya dan dengan penampilannya seperti saat ini. Aku tak pernah mampu untuk melupakan wajah lelaki yang telah memberi penderitaan kepadaku. Namun kali ini bukan rasa benci yang bermain di hati melainkan rasa iba.
"Dara, kau kah itu," ucap Mas Irfan sedikit terkejut. Aku hanya mengangguk.
"Mas, mari ke rumah. Mas pasti lapar," kataku mencoba mengajaknya mampir.
"Tidak, Dara. Aku tidak pantas dan tak ingin mengusik kehidupan kalian. Aku hanya menumpang istirahat setelahnya akan pergi," ucapnya tertunduk seakan menyesali masa lalu.
"Mas ini rumah anak-anakmu, kami sudah melupakan perihal lalu. Ucapku mencoba meyakinkan. Akhirnya Mas Irfan mau juga.
Mas Irfan makan dengan lahapnya walau sesekali aku lihat ia merasa sungkan padaku. Tak lama berselang ke tiga putraku pulang bersamaan dari bekerja. Mereka masuk dan menyalamiku, lalu memandang pada Mas Irfan namun tak mengenalin. Mas Irfan hanya tertunduk tanpa mampu menatap mereka. Ketiga putraku seakan ingin sebuah jawaban tentang lelaki yang berada dihadapan mereka.
"Salami Bapakmu, Nak," pintaku pada akhirnya.
"Bapak!" seru mereka bersamaan lalu menatap lekat pada Mas Irfan dan bergantian menatapku.
"Ya, Bapak kalian," ucapku lagi meyakinkan mereka.
"Bapak sudah lama mati, Bu," ucap Ridho sambil berlalu diikuti si bungsu. Hanya Ridwan tetap bersamaku lalu bersujud dan memeluk bapaknya. Aku berlalu meninggalkan mereka.
"Ridho tak pantas kamu berkata begitu," kataku sedikit keras padanya.
"Bu, Ridho tak akan pernah lupa penderitaan Ibu hingga detik ini. Sekarang saat kita bahagia lelaki itu hadir membawa kesengsaraannya. Di mana dia waktu kami butuh kasih sayang dan perhatian," Ridho seakan mengeluarkan segala unek-unek hatinya yang terpendam selama bertahun.
"Jangan mendendam, Nak. Masa itu telah berlalu. Biar bagaimana pun dia bapakmu. Maafkan Ibu karena dulu Ibu sempat memperlihatkan kebencian itu pada kalian."
"Ridho tidak bisa, Bu. Sejak bertahun lalu Ridho sudah menganggap Bapak mati! terserah dia mau jadi apa saat ini, Ridho tak perduli. Aku terduduk di kursi mendengar perkataan Ridho, tak menyangka bahwa putraku memendam kebencian yang teramat dalam pada Bapaknya. Hening saat Ridwan masuk dan memandang ke arahku.
"Bapak sudah pergi, Bu," ucapnya tertunduk lirih.
"Cari dan temukan Bapakmu lalu bawa kemari," pintaku pada mereka.
"Bu!" seru Ridho tak senang atas ucapanku.
"Bapakmu sedang sakit, Nak. Walau dulu Bapak tak mengakui kalian tapi kalian jangan menjadi durhaka dan tak mengakuiannya."
Ridho dan si bungsu tak bergeming dengan ucapanku. Raut wajah mereka masih menyiratkan kebencian. Seorang tetangga mendadak datang dan mengabarkan bahwa mereka diminta Mas Irfan untuk memanggilku. Mereka menemukan Mas Irfan tergeletak tak berdaya tak jauh dari rumah. Aku memandang ketiga putraku, hanya Ridwan yang ingin ikut bersama menemui Mas Irfan.
"Baiklah jika hati kalian membatu, Ibu akan memohon pengampunan untuk Bapakmu," kataku sambil berlutut.
"Bu!" seru ketiganya berusaha membangkitkanku namun aku tetap berlutut dengan air mata.
"Ampuni Bapak kalian, Nak dan maafkan ibu karena tak memberi contoh yang baik," pintaku dengan isak. Ketiga putraku menangis memelukku, aku menciumi mereka satu persatu. Walau tidak dengan perasaan sepenuh hati, kedua putraku akhirnya mau menemui Bapaknya. Kami bergegas bersama ke tempat di mana Mas Irfan berada.
Keadaan sekitar sudah ramai saat kami tiba. Mas Irfan hanya mampu memandangi kami secara bergantian. Aku tak mampu menahan kesedihan, kenangan lalu silih berganti bermain dalam pikiran. Kudekati Mas Irfan, kuberi isyarat kepada ketiga putraku. Aku perlahan mengenggam jemarinya, kupinta hal yang sama pada ketiga anakku. Air mata membasahi pipi keriput lelaki itu.
"Maafkan aku, Dara. Maafkan Bapak, Nak," ucap Mas Irfan lirih nyaris tak terdengar.
"Aku dan anak-anak sudah memaafkanmu, Mas," ucapku mewakili anak-anak dan tanpa kuminta mereka mengangguk. Mas Irfan tersenyum lalu terkulai.
"Bapaaak!" seru mereka tanpa canggung setelah bertahun melupa pada sebutan itu.
Air mata kesedihanku mengalir untuk kesekian kalinya.
"Selamat jalan Mas. Semoga kamu mendapat tempat terbaik di sisi Nya."
Perlahan lubang itu ditutup tanah, kamboja berguguran. Semilir angin membawa anganku terbang ke masa lalu.

-Selesai-
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top