test

Cerpen Balada Cinta Paijo Karya Yan Hendra
Cerpen Balada Cinta Paijo


Balada Cinta Paijo
Karya : Yan Hendra

Sebenarnya saat kelas 2 SD dia sudah pernah merasa ‘degdeg serr’ sama cewek, tetapi tidak mendalam. Baru saat menginjak SMP rasa itu berkecambah, namun tak tumbuh subur. Paijo penakut, itu sebab ia tak menyiraminya dengan pupuk. Jelang kelas tiga seorang cewek cantik mendekat dan memberi perhatian. Paijo ‘kegeeran’ dan mendadak menjadi cowok ganteng yang disukai cewek-cewek. Aneh, ya? Kenapa juga dia tak berpikir, “Terima kasih, Tuhan. Sudah Kau kirim ‘wanita rabun’ untuk menyukaiku?” Well, kata orang: cinta mampu membutakan apapun. Baiklah, it’s okay!
Entah karena kebanyakan baca roman picisan yang happy ending, atau nonton film genre cinta yang ujungnya membahagiakan, Paijo jadi idealis. Saat ia mesti pergi merantau ke Ibukota, janji setia dia ucapkan. Cinta Mas Paijo buatmu seorang, tunggulah beberapa tahun lagi karena Mas akan pulang meminangmu, our love is never die, berjanjilah setia seperti Mas berjanji setia untukmu, luph u polepel … muach muach muaaaaaaach …!
Sang cewek cuma senyum, dan manggut beberapa kali. Entah setuju atau sekadar membuat Paijo senang. Paijo memang senang malah pakai ‘bingitz’. Dia berusaha mewujudkan janji secepatnya. Tak heran, sambil sekolah dia kerja paruh waktu mengumpulkan uang. Tekad jadi orang sukses mesti tercapai, sehingga melupakan kehidupan sosialnya sebagai manusia. Itu membuat teman-teman sering menyebutnya ‘katro’. Dalam skala kecil yang umum, Paijo tak mengerti apa itu facebook, twitter, instagram, wa, bbm, dan yang lain. Dia menghubungi pujaan hati lewat telepon dan sms, yang belakangan malah jarang diangkat atau dibalas.
“Gaje, lu! Jaman sekarang ngarepin cinta sejati? Haddeeeuuh …! Di depan mata aja bisa selingkuh, apalagi jauh!” kata seorang teman ketika suatu hari Paijo merasa hatinya resah karena pujaan hati tak kunjung mengangkat telepon dan membalas sms.
“Terus gimana bagusnya, ya? Gue masih cinta banget sama dia?” tanya Paijo bingung dengan dialek medok waktu menyebut ‘gue’.
“Cinta? Maksud lu cinta yang pegimane? Hubungan lu ame die udeh jauh banget? Maksudnye lu udeh kayak suami istri?”
“Yo ndaklah, Mas! Wong pegangan tangan aja belum.”
Sang teman terpingkal membuat Paijo heran. “Sini!” kata sang teman sambil membuka laptop. “Lihat, cewek ini bernama Karin. Status facebooknya bilang dia pacaran sama Nugroho. Kenyataan dalam komen dia sering mesra sama cowok lain. Katanya bercanda. Lu tau? Bercanda itu bisa jadi beneran. Perhatiin! Dari sepuluh statusnya, dia sering berbalas komen dengan Arjuna. Pake say segala.”
Paijo melongo. Kok bisa, pikirnya. Lalu sang teman buat akun baru atas nama cewek. Pasang foto artis ‘antah-berantah’. Pokoknya cakep, dan kalau bisa agak seksi. Pekerjaan: pramugari. “Taraaaaaaaaa …! Lu liat yang minta pertemanan? Baru sepuluh menit sudah dua ratus. Gila, kan? Coba kalo lu bikin akun terus pajang muke katro begitu, gue rasa yang udeh betemen pun akan remove.”
Paijo melongo lagi. Kali ini tambah bingung. Entah kenapa mendadak ingat pujaan hati dan minta sang teman mencarinya. Dari sekian nama yang sama, Paijo menunjuk satu foto profil. Mereka membuka berandanya, melihat-lihat foto yang ada di dalam. Cewek cantik yang kerap foto berdua dengan beberapa cowok. Ada status bertuliskan: my boyfriend! Paijo ‘nelongso’. Itu adalah foto sang pujaan hati. Pantas telepon tak diangkat dan sms tak dijawab.
“Kalem, Mas Bro! Cinta lu belum komplit sebab selama ini cuma pake hati. Lain kali akal pun kudu dipake. Cinta tanpa disertai akal seperti berjalan di malam hari tanpa penerangan. Udeh, tenang. Damai ame hati lu. Kalo deal, buru-buru move on. Cewek cantik dan bae masih banyak. Tenang. Ga perlu kecewa lama-lama,” bujuk sang teman.
Paijo menghela napas panjang. Agak sesak, tapi ia masih hidup, dan itu perlu disyukuri. Hidup adalah menerima segala warna-warni yang ada di dalamnya.

-Selesai-
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top