Senin, Januari 30, 2017

Textual description of firstImageUrl

Download Game Juragan Ojek apk

100 out of 100 based on 100 user ratings

Download Game Juragan Ojek apk



Jadilah juragan ojek !! Ojeknya Gamer Indonesia


Juragan ojek adalah game buatan Indonesia dimana kamu menjadi Bos Perusahaan Ojek Online.
Layanan yang disediakan KEREN BANGET dan beragam mulai dari mengantar penumpang, mengatarkan makanan, apotik, laundry, sampai dengan membersihkan rumah - rumah. 
Juragan ojek ini bisa kamu mainkan secara GRATIS!!

♫♪ OM TELOLET OM ♫♪

Kok om telolet om, bukan suara klakson motor ?? karena didalam juragan ojek ada Bis OM TELOLET OM yang fenomenal lohh !!

FITUR 
- Gameplay yang mudah dan menarik
- Membuka cabang di seluruh kota di INDONESIA
- Buka berbagai layanan = Penumpang, Restoran, Apotik, Laundry, dll
- Latih Manager yang ahli untuk membangun kerajaan Ojek!
- Kolektor yang handal, selain cepat dan gesit dia juga teliti dalam menghitung hasil
- Bonus Bis yang fenomenal bersama klakson "Om TELOLET Om"
- Sistem save / load yang menjamin semua bisnis kamu aman

BAHASA
- Indonesia

Mainkan JURAGAN OJEK! Game buatan anak bangsa yang sebelumnya telah sukses. Ayo maju Terus Game Indonesia

Buatlah bisnis ojekmu sendiri dan jadilah juragan paling kaya seindonesia. 
Juragan Ojek gratis untuk dimainkan tetapi beberapa in-app purchase dapat dibeli dengan menggunakan mata uang asli.


Link Download

>>>       Openload       <<<

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Di Usia Petang Karya Yan Hendra

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Di Usia Petang Karya Yan Hendra
Cerpen Di Usia Petang Karya Yan Hendra

Di Usia Petang
Karya : Yan Hendra

Belakangan ini Mak Mur sering bertandang ke rumah. Kalau ada jeda waktu kami ajak ngobrol, tetapi kalau sedang repot beliau hanya duduk saja sambil memegang tongkat bambu hitam sebesar jempol tangan. Beberapa hari lalu saya ajak bercanda.
“Emak sedang belajar silat jurus Tongkat Bambu Sakti?”
Si Emak terkekeh. “Emak sedang ngerasain sakit pinggang, Jang,” katanya dengan muka menahan sakit. Lalu tanpa diminta beliau bercerita kalau masa mudanya dihabiskan dengan bekerja berat. Dari mengurus beberapa petak sawah, mengangon bebek dan kambing, hingga mencari kayu bakar. Beliau tak cerita apakah punya saudara lelaki atau tidak, dan lalainya saya tidak menanyakannya.
Sejak kecil beliau sudah punya naluri bisnis, seperti bantu menjual dagangan kue tetangga. Bila ada yang menyuruh bantu-bantu di rumah tetangga seperti mencuci pakaian, mengepel rumah, sampai menjaga anak; dengan sigap beliau kerjakan sebab ada upahnya. Intinya beliau rajin mengumpulkan uang.
“Emang punya rencana apa dengan uang itu, Mak?” tanya saya penasaran.
“Ah, enggak. Senang aja,” katanya. Padahal saya kira beliau ingin sekolah untuk menjadi bidan, guru, atau profesi yang mampu meningkatkan derajat mereka; atau ingin membeli properti guna mengembangkan usaha.
Itu sebab beliau marah dan ingin berontak saat orangtua hendak menikahkannya dengan seseorang. “Emak teh lagi senang-senangnya cari duit, eh disuruh kawin. Padahal waktu itu belum kepikiran. Masih kecil banget. S**u aja belum numbuh,” katanya masih membiaskan wajah kesal. Beliau tak menjelaskan lika-liku perkawinannya, tapi katanya tak berumur panjang. Belakangan beliau cerita bahwa menikah sampai lima kali. Wow!
Saat ini Mak Mur tinggal bersama Haji Khasan, putra semata wayang hasil perkawinannya dengan suami terakhir. Anak-anak dari suami-suami yang lain tinggal agak berjauhan. Sebelum merasakan sakit pinggangnya semakin parah, beliau masih berjualan keliling menawarkan gorengan, getuk, ketan, opak, dan semacamnya. Padahal jauh-jauh hari Haji Khasan sudah melarang, tapi karena sudah mendarah daging, hobi satu itu sulit ditinggalkan. Menariknya, puluhan tahun berjualan, hanya sedikit yang terlihat hasilnya. Beberapa anaknya tidak sekolah tinggi. Bahkan Haji Khasan cuma tamatan SMP.
Kesempatannya untuk berhaji bermula dari ikut teman belajar menjahit, kemudian setelah magang setahun, ada kesempatan untuk ikut proyek di Malaysia. Pulang mmbawa uang banyak digunakan untuk membangun rumah gubuk mereka. Setelah menikah setahun, tawaran datang lagi. Kali ini ke Saudi Arabia selama beberapa tahun. Kesempatan itu yang digunakan untuk berhaji.
Haji Khasan suka malu kepada tetangga melihat sikap hidup emaknya. Ia mendidik istri dan anak-anaknya dengan ajaran agama, tetapi emaknya sulit sekali dibujuk untuk sekadar salat. Cara berpakaian emaknya pun sering kali beliau protes, tapi Mak Mur ‘cuek bebek’. Beliau tetap memakai kebaya lusuh tak terkancing dengan penutup dada cukup vulgar. Saat kebayanya tertutup, bagian leher yang kelewat ‘rendah’. Saat azan maghrib berkumandang, beliau masih ‘kelayaban’ di rumah tetangga.
Suatu hari saya pernah bertanya. “Mak, makan bareng-bareng?”
“Ah, enggak. Emak mah makan sendiri. Kalau enggak ditawarin, emak enggak berani ambil,” jawab si Emak. Duh, saya jadi membayangkan bagaimana kalau Haji Khasan atau istrinya lupa menawarkan makan?
“Si Haji suka kasi duit?”
“Kadang suka kasi sepuluh ribu. Tapi cucu emak yang di sana, anak dari kakak tirinya si Khasan, sebulan sekali datang kasi seratus ribu.”
Saya manggut-manggut. Bagaimana pun seorang ibu secara naluriah tetaplah sayang kepada anak-anaknya. Meski beliau menceritakan sisi kurang baik dari Haji Khasan, tetapi sisi baiknya selalu lebih banyak.
Si Emak berdiri dengan susah payah. “Kemarin waktu di rumah Mbak Puji ada tokek. Emak tanya, ‘tokek, tolong saya atuh. Apa obat sakit pinggang?’ Eh, malamnya emak ngimpi bawa asam. Besok paginya emak borehi ke puser,” katanya sebelum pulang.
“Sembuh?” tanya saya sambil senyum.
“Belum atuuuh! Besok mungkin rada kurang.”
Tapi esok, lusa, dan beberapa hari berikutnya, si Emak tetap saja mengeluh sakit pinggang sambil berjalan ke sana-kemari membawa sebatang tongkat bambu kecil.

-Selesai-

Rabu, Januari 25, 2017

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Bukan Hasilnya Karya Sang Lanna

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Bukan Hasilnya Karya Sang Lanna
Cerpen Bukan Hasilnya Karya Sang Lanna


Bukan Hasilnya
Karya : Sang Lanna

Prraakk!
Keras sekali suara tumpukan kertas nilai ujian itu dihempaskan ke meja dengan penuh emosi.
"Apa-apaan ini?!" seruan Papa menggelegar menggetarkan gendang telinga Jessi, bahkan sampai ke dalam hatinya.
Jessi hanya terdiam, menunduk ketakutan. Ditatapnya kertas nilai ujian yang berserakan di atas meja. Nilai E terpampang jelas pada beberapa lembarnya. Duh! Mati aku! keluhnya dalam hati.
"Lagi-lagi dapat nilai E! Bahkan hampir di semua mata pelajaran! Bagaimana bisa begini? Apa kamu gak belajar?! Apa di sekolah cuman main-main aja?!" mulailah omelan Papa meluncur deras tak terbendung. Berbagai ucapan membongkar semua kesalahan Jessi, bagai tiada habisnya. Hingga akhirnya, dengan napas terengah-engah karena gejolak emosi, Papa menghentikan omelannya dengan sebuah tanya, "sekarang, apa maumu?"
Jessi tetap diam menunduk. Matanya kini memerah, basah. Papa mengela napas panjang.
"Kalau sampai akhir semester ini nilaimu tak ada perubahan, lupakan saja tentang keinginanmu memiliki laptop sendiri!" ucap Papa tegas.
Jessi tersentak kaget!
"Tapi, Pa," ia beranikan diri berkata seraya mendongakkan wajah, "Jessi butuh laptop itu ... terutama untuk tugas-tugas sekolah."
"Tidak ada! Kerjakan tugas-tugas sekolahmu bersama teman saja!" tukas Papa.
"Tapi, Pa! Teman-teman Jessi jauh semua rumahnya. Jessi akan repot sekali kalau mesti jauh-jauh ke sana untuk mengerjakan tugas," Jessi coba membantah, "tolong ya, Pa ...."
Papa mengela napas panjang.
"Baiklah. Papa akan membelikanmu laptop, tapi dengan syarat."
Mata Jessi sesaat berbinar, "syaratnya apa, Pa? Jessi akan belajar lebih rajin! Jessi akan memperbaiki nilai-nilai ujian Jessi ini!" ucapnya bersemangat.
"Tidak cukup hanya itu," tukas Papa, "ada syarat, ada hadiah, juga ada sangsinya. Kamu harus patuhi itu semua kalau mau mendapat hadiah laptop idamanmu."
Sesaat Jessi termenung diam. Namun keinginan akan laptop terus menggodanya.
"Baiklah, Pa. Jessi akan patuhi syarat dan sangsi dari Papa, demi hadiah laptop itu," kata Jessi kemudian, "apa syarat dan sangsinya?"
"Untuk mendapatkan laptop keinginanmu, kamu mesti masuk ranking 10 besar di ujian akhir semester ini! Bila tidak, apalagi nilaimu sampai seperti ini lagi, maka sangsinya, kamu akan Papa pindahkan ke sekolah lain!" ucap Papa tegas.
Jessi terbeliak! "Pindah ... sekolah?"
"Ya! Itu sangsinya! Dan kamu sudah menyetujuinya!"
"Ta ... tapi ... bagaimana Jessi bisa?"
"Mulailah belajar dari sekarang!" tukas Papa seraya berlalu pergi.
Jessi masih terbengong bingung. Tanpa menyadari, Mama mendekatinya dari belakang.
"Kamu tahu, kenapa Papa sampai semarah itu dan memberikan sangsi seberat itu?" tanya Mama lembut.
"Karena nilaiku jelek, Ma," jawab Jessi lemas.
"Bukan karena itu. Papa marah karena sedih memikirkan nasibmu, Jess," ucap Mama lagi.
"Maksud Mama?"
"Bila nilaimu seperti ini terus, maka kesuksesan masa depanmu akan sulit untuk berhasil diraih. Hidupmu pun belum tentu akan bahagia. Memang, nilai pelajaran bukan jaminan untuk hidup bahagia. Namun setidaknya, bila bekal kepintaran kita cukup, kemungkinan untuk berhasil sukses dan hidup bahagia akan lebih besar," jawab Mama, "Papa marah, karena sedih memikirkan kemungkinanmu yang mengecil untuk meraih bahagia di masa depan, karena jeleknya nilaimu."
Jessi tercenung.
"Maukah kamu belajar lebih rajin? Bukan untuk membahagiakan atau membanggakan Papa dan Mama. Namun untuk dirimu sendiri, agar kemungkinanmu meraih bahagia di masa depan, lebih besar," ucap Mama, "maukah kamu, Jessi?"
Jessi menatap wajah Mama dengan pandangan haru.
"Baiklah, Ma! Jessi akan belajar lebih rajin! Jessi akan berusaha keras!" katanya penuh keyakinan dan semangat.
Mama tersenyum senang seraya mengusap rambut Jessi.
***
Aku harus berusaha keras! Aku harus belajar giat! Aku harus berhasil mendapat nilai tinggi untuk masuk rangking 10 besar! Bukan hanya demi laptop! Tapi juga agar aku tidak pindah sekolah ... dan agar Papa juga Mama tak sedih memikirkan masa depanku! Aku harus berhasil! seru batin Jessi bertekad.
Mulailah hari-hari Jessi diisi dengan usaha keras, belajar giat. Semangat dipacu sekuat-kuatnya. Beberapa pelajaran yang tak ia pahami, kembali ia baca dan pelajari. Ia rajin menanyakan pada temannya, hal yang tak ia mengerti. Lalu, sepulang sekolah, kembali ia ulangi pelajaran yang didapatnya. Begitu tekun ia belajar di dalam kamar, hingga sering tak terasa bila waktu sampai menjelang tengah malam.
Saat belajar di kamar, beberapa kali Jessi mendadak tertegun! Lalu menengok ke sekelilingnya. Eh? Kok rasanya ada yang tengah memperhatikan aku? batinnya heran. Namun tak ada siapa-siapa. Ah! Hanya perasaanku saja pasti! bisik batinnya berusaha tak mengindahkan. Ia pun kembali menekuni pelajarannya.
Hari demi hari berlalu. Minggu ke minggu, hingga berganti bulan. Akhirnya tibalah saat ujian semester akhir. Jessi menjalaninya dengan penuh optimis. Soal demi soal ia kerjakan dengan teliti. Hingga selesai sudah semua ujian. Dan hari ini adalah pengumuman hasil ujian semester akhir tersebut.
Dengan jantung berdebar tak menentu, ia menelusuri papan pengumuman daftar nilai dan peringkat, hasil ujian semester akhir.
Dari nomor satu, diurutnya daftar nama yang tertera. Namun, sampai nomor sepuluh, tak ada namanya tertera di sana. Tubuh Jessi terasa lemas. Hilang sudah semua harapannya. Ia coba terus menelusuri papan pengumuman itu. Sampai nomor duapuluh, tak juga ada tertera namanya. Baru pada urutan ke dua puluh enam, ia menemukan namanya di sana. Dua puluh enam dari lima puluh dua anak. Jessi berlalu meninggalkan papan pengumuman itu dengan langkah gontai. Hilang sudah laptop impian ... lebih ngeri lagi, ia akan dipindah sekolah, berpisah dari teman-teman akrabnya selama ini ....
***
Jessi melangkah menghampiri Papa yang tengah duduk di teras, menantinya. Dengan lemas, ia menyerahkan nilai hasil ujian akhir semesternya itu. Sesaat Papa membacanya.
"Rangking dua puluh enam?" ucap Papa perlahan, "bagus!"
Jessi tertunduk sedih.
"Maafkan Jessi, Pa ...," ucapnya setengah terisak, "Jessi telah berusaha keras dengan belajar lebih rajin. Namun, itulah hasilnya. Tolong, jangan pindahkan Jessi dari sekolah itu."
Papa tersenyum, "siapa yang akan memindahkan kamu? Kan Papa bilang, bagus!"
Jessi terpana.
"Be ... benarkah, Pa?"
Papa mengangguk, "nilaimu sudah ada peningkatan. Yang tadinya E, kini sudah mendapat C. Itu bagus! Jadi, sangsinya Papa cabut."
Wajah Jessi berseri-seri, "terima kasih, Pa!" ucapnya senang.
"Sudah, sana masuk kamar! Ganti bajumu dulu. Lalu makan siang," kata Papa lagi.
"Iya, Pa," balas Jessi seraya melangkah memasuki kamarnya.
Tak lama, terdengar pekik kaget terheran-heran.
"Aiih ...! Ini, laptop siapa?" seru Jessi dari dalam kamar, "Pa? Ma? Ini kok ada laptop baru di kamar Jessi?"
Jessi berlari menghambur keluar kamar seraya membawa laptop itu.
"Pa! Ma! Ini laptop ...?" serunya bingung.
Papa tersenyum, "itu laptop milikmu, Jessi."
Jessi terpana, "tapi, Pa. Aku gak masuk sepuluh besar. Aku hanya rangking dua puluh enam. Kenapa Papa tetap memberiku laptop ini?"
"Bukan hasilnya yang Papa nilai, Jessi. Namun usaha kamu. Bagaimana kamu berjuang ... belajar lebih rajin hingga tengah malam. Berusaha keras mengejar ketinggalan dan memperbaiki nilaimu itu," sahut Papa, "yang terpenting adalah usaha. Hasilnya, biar Tuhan yang menentukan. Kamu telah berusaha sekuatmu. Dan memang, tidak mesti usaha yang keras membuahkan hasil yang memuaskan. Terkadang masih ada proses panjang untuk meraih hasil memuaskan yang kita inginkan. Namun yang pasti, kita telah berusaha dan terus berusaha. Dengan itu, suatu saat pasti hasil memuaskan yang kita inginkan akan tercapai!"
Jessi tercenung haru.
"Jadi, yang Papa nilai adalah seberapa keras usahaku? Seberapa kuat tekadku?"
"Betul! Itu yang utama! Hasilnya, kita serahkan pada Tuhan. Mungkin memang, teman-teman Jessi lebih pintar dari pada Jessi. Mungkin juga ketertinggalan Jessi di pelajaran memang telah amat jauh. Namun kamu telah berusaha keras memperbaikinya. Buktinya, nilai kamu sekarang rata-rata C."
Jessi tersenyum haru, "terima kasih, Pa," ucapnya seraya memeluk Papa, "terima kasih, Ma."
"Tapi, kamu harus tetap berusaha keras dan belajar rajin agar nilaimu terus meningkat, ya?!" kata Mama mengingatkan, "apalagi sekarang kamu sudah memiliki laptop. Sudah lebih mudah mengerjakan tugas-tugas sekolah. Maka nilaimu juga harus lebih bagus!"
"Tentu, Ma! Pasti!" balas Jessi seraya mengacungkan jempol kanannya, "tapi, kok Papa sudah membelikan laptop ini dulu, sebelum Jessi memberikan hasil ujian akhir semesternya?"
"Karena Papa sudah melihat tekad dan usaha kerasmu," jawab Papa.
"Ooh ... berarti, Papa ya, yang sering malam-malam mengintip aku belajar?!"
Papa dan Mama tertawa.
"Mama juga kok. Ya karena itu, yang Papa nilai adalah tekad dan usahamu. Bukan hasilnya."

-Selesai-

Senin, Januari 23, 2017

Textual description of firstImageUrl

Download Axis 0p0k/Sawer Unlimited Terbaru

100 out of 100 based on 100 user ratings

Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Terbaru
Download Axis 0p0k/Sawer Unlimited Terbaru

HTTP Injector
 adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.


Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Terbaru

Download Http Injector Terbaru



Axis 0p0k/Sawer Unlimited Terbaru


Status : 200 OK

Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

** Link rusak lapor di komentar / di contact **

Tags:
http injector axis, config http injector, http injector terbaru, http injector 2017, http injector axis, http injektor, http injector pc, http injector 60, http injector globe, payload http injector axis, download http injector pro, evozi ssh, cara menggunakan http injector axis, cara sniff http injector

Sabtu, Januari 21, 2017

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Menantu Karya Airi Cha

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Menantu Karya Airi Cha
Cerpen Menantu Karya Airi Cha


Menantu
Karya : Airi Cha

Arman anak semata wayangku, ia lahir setelah sepuluh tahun pernikahan. Betapa bahagianya almarhum suami dahulu. Kelahiran Arman bagai oase bagi kehidupan rumah tangga kami. Suamiku mempersiapkan Arman semenjak dini agar kelak menjadi seorang lelaki sejati. Walau suami sangat menyayanginya, namun ia tak sedikit pun memanjakan Arman. Saat Arman duduk di kelas satu SMP, suamiku meninggal tanpa sebab sakit. Hanya malam sebelum kematiannya, ia menitipkanku pada anak kami.
Semenjak Ayah tiada, Arman mengambil alih segala tanggung jawab. Membantuku mengarap sawah dan kebun peninggalan suami. Kami hidup dari hasil bertani dan berkebun, hingga akhirnya Arman lulus SMA. Aku ingin Arman melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, namun ia menolak dengan halus.
"Lanjutkan pendidikanmu, Nak. Omak masih mampu membiayai sekolahmu," kataku mencoba membujuknya suatu malam.
"Sudahlah, Omak jangan bahas itu lagi. Arman ingin bekerja saja. Agar Omak bisa hidup nyaman tanpa membanting tulang."
"Tapi, Nak! ini pesan almarhum Ayahmu pada Omak. Agar kamu bersekolah yang tinggi, tidak seperti kami."
"Omak sudah melaksanakannya pesan Ayah, dan sekarang waktunya Arman yang memikul tanggung jawab itu," ucapnya padaku sambil tersenyum.
"Kamu mau kerja apa dengan pendidikan yang kau punya saat ini, Nak?"
"Kerja apa saja, Mak. Asal halal dan menghasilkan uang. Rencananya Arman akan ke ibu kota propinsi," katanya sambil menatapku. Aku menarik napas berat.
"Jauh sekali, Nak kau akan meninggalkan Omak. Lebih baik di sini saja mengurus pusaka peninggalan Ayahmu," pintaku dengan sendu.
"Omak jangan khawatir, Arman hanya sementara meninggalkan Omak. Nanti kalau perkerjaan Arman sudah menetap, Omak akan Arman bawa serta," anak itu coba meyakinkan, aku hanya diam.
Aku tak mampu membayangkan hidup berjauhan dari putra semata wayang. Namun lagi-lagi, aku ingat pesan almarhum suami. Bahwa sebagai anak lelaki, Arman harus melihat dunia luar, dan mampu hidup membaur di mana pun. 'Suatu hari jangan pernah khawatir saat melepasnya pergi jauh, karena segala nilai-nilai yang baik telah kita ajar dan tanamkan pada dirinya'. ucapan suamiku itu seakan terngiang di telinga.
Lewat koneksi seorang kerabat di kota, Arman mendapatkan pekerjaan sebagai satpam di sebuah perusahaan besar. Tubuhnya yang tegap berisi serta kemampuan bela diri yang ia kuasai, faktor utama ia diterima pada perusahaan. Aku berusaha tegar saat melepas kepergiannya. Enam bulan masa training dilalui, Arman pun akhirnya menjadi karyawan tetap diperusahaan. Ia berkirim surat memberitahukan kabar gembira. Aku cukup bersyukur mendengar kabar itu, dan jika ia mengirim sebahagian penghasilanya aku tak pernah mempergunakanya. Kusimpan dalam bentuk tabungan berupa emas. Agar kelak suatu hari saat dia ingin beristri, ia sudah memiliki segalanya.
"Omak tinggal bersama Arman, ya," pintanya suatu malam saat dia kembali ke kampung untuk berlebaran bersama.
"Jika Omak ikut kamu, bagaimana dengan sawah dan kebun kita? siapa yang akan merawat?"
"Kita upah saudara untuk mengarap dan merawatnya."
"Sudahlah jangan khawatirkan Omak, yang penting pekerjaanmu lancar. Di sini banyak kok saudara yang menjaga Omak," kataku mencoba meyakinkannya.
Waktu pun berlalu, tak terasa sepuluh tahun anakku hidup di perantauan. Usia yang beranjak tak jua membuatnya resah, ia hanya terus bekerja dan bekerja. Aku pernah beberapa kali bertanya padanya soal calon istri, namun ia hanya tersenyum. Berkata padaku 'bahwa ia masih ingin sendiri dan membahagiakanku'. Beberapa gadis di kampung, baik anak saudara atau pun jiran pernah kutawarkan ke padanya. Namun dengan halus putraku menolak.
"Omak jangan mengkhawatirkan soal jodoh Arman. Nanti jika ada pasti Arman bawa ke hadapan Omak," kata itu yang ia ucapkan untuk meyakinkanku. Aku tak ingin memaksakan kehendak kepadanya. Aku tak putus berdoa agar Tuhan segera mendatangkan jodoh anakku.
Setahun setelahnya, Arman membawa seorang gadis berkulit hitam manis. Lani nama gadis itu, usianya lebih tua 8 tahun dari anakku. Seorang PNS intansi pemerintahan di kotanya. Ntah mengapa aku kurang begitu menyukai Lani, walau begitu sebagai tuan rumah aku tetap menyambutnya dengan baik.
"Kamu berniat menikahinya, Nak?" tanyaku ragu. Putraku hanya mengangguk. Tetapi firasatku sebagai seorang ibu, berkata bahwa tak pernah ada cinta dalam hati anakku pada gadis yang kuanggap kurang memiliki sopan santun itu.
"Apa Omak tidak setuju karena usianya?" tanya Arman seakan membaca jalan pikiranku.
"Omak tidak mempermasalahkan usianya, tapi perkerjaanmu hanya seorang satpam. Apa dia bisa menghargaimu nantinya?" pertanyaan itu terlontar jua pada akhirnya. Putraku hanya diam, dan akhirnya mereka menikah. Mungkin perempuan itu memang jodoh yang dipilih Tuhan untuk putraku.
Aku memilih tinggal di kampung, walaupun Arman selalu meminta agar aku ikut bersamanya. Aku merasa tidak nyaman karena Arman hidup dan tinggal di rumah yang dibeli Lani. Ada ketakutan tersendiri dalam hati, bahwa putraku akan dipandang rendah oleh keluarga istrinya.
Hampir setahun pernikahan, Lani menunjukkan gejala kehamilan. Mendengar kabar itu, aku langsung ke kota diantar seorang kerabat untuk menginap beberapa hari. Namun sesampai di sana, Arman ingin aku tinggal untuk menemani Lani yang sedang mengandung cucuku diusia yang tak muda lagi. Namun sepertinya niat baikku tak tersambut. Aku melihat ketidaksukaan pada raut wajah Lani. Mencoba menepis bahwa itu hanya prasangka semata. Atau bawaan bayi sehingga sikap Lani demikian.
Hari pertama aku di sana, Arman mendapat ship pagi. 12 jam kerja, dari jam 07:00 sampai 19:00 wib. Aku hanya berdua dengan Lani yang kebetulan cuti. Karena faktor usia, aku hanya semampunya membantu Lani, sekedar bersih-bersih namun tidak memasak. Lani seharian hanya tiduran saja, aku yang terbiasa makan tepat waktu merasa lapar, namun tak berani meminta padanya. Akhirnya aku hanya minum teh manis beserta roti yang kubawa saat di perjalanan kemarin. Hingga sore menjelang Lani baru terbangun.
"Mak tolong masakan air, Aku mau mandi," pintanya tanpa basa basi. Aku melakukan apa permintaanya tanpa berkata apa pun. Sesudah mandi Lani ke luar rumah, dari balik kain jendela aku mengintipnya bercengkrama bersama tetangga. Saat Azan berkumandang Lani baru kembali dengan membawa sebuah bungkusan yang aku rasa nasi. Aku mengira dia membelikannya untukku, ternyata nasi itu disantapnya sendiri. Selesai solat aku liat bungkus nasi itu tegeletak begitu saja di atas meja beserta piring. Aku membawanya ke dapur lalu mencuci piring, sendok beserta gelas yang terpakai. Tak lama putraku pulang, aku membukakan pintu untuknya. Arman langsung menyalamiku lalu masuk.
"Lani mana, Mak?"
"Di kamar, Nak."
"Omak sudah makan?" tanya Arman memandangku aku tersenyum sebagai jawaban.
"Kamu sudah makan, Nak?" aku bertanya balik.
"Sudah, Mak. Arman dapat jatah setiap harinya. Ya udah Arman mandi dulu ya, Mak," ucapnya berlalu menuju kamar. Aku hanya menarik napas sambil menahan rasa lapar hingga keesok harinya.
Begitu seterusnya, tak jarang aku kelaparan. Terkadang Lani hanya memasak nasi saja tanpa menyediakan lauk sebelum pergi bekerja. Aku tak pernah memberitahukan perihal itu. Jika anakku ship pagi, aku hanya makan saat sarapan di pagi hari saja, tetapi jika ia ship malam aku bisa makan sehari tiga kali. Hal itu berulang seminggu sekali. Kalau Arman mendapat ship malam, aku tidur menemani Lani, karena ia takut jika tidur sendirian. Namun saat kandungan Lani semakin besar, aku harus tidur di lantai beralaskan tikar. Aku tak pernah tau alasannya apa. Terkadang dikala bangun dari tidur, tubuhku yang sudah renta serasa sakit serta masuk angin. Semantara untuk mengangkat tilam ke lantai aku tak sanggup. Tak pernah kukatakan hal ini pada Arman. Aku tak ingin terjadi keributan antara mereka.
Suatu pagi aku tertidur pulas karena semalaman tak enak badan dan Lani juga demikian. Kami tak menyadari Arman pulang, ntah bagaimana ia masuk aku tak sempat memikirkanya. Tau-tau ia sudah membangunkan aku.
"Omak, kenapa tidur di lantai. Badan Omak panas, Omak sakit?" aku hanya menggeleng tanpa berkata apa pun. Lalu Arman membawaku ke kamar sebelah. Setelah memberi obat demam ia meninggalkanku. Awalnya aku tak mendengar suara apa pun, sampai akhirnya keributan itu terjadi.
"Omakku sudah tua, Lan! masa kau membiarkannya tidur di lantai hingga dia sakit begitu," ucap Arman.
"Biasanya juga tidak apa-apa!"
"Biasa! maksudmu? setiap aku bekerja malam Omak tidur di lantai?"
"Iya!"
"Apa alasanmu memperlakukan Omak begitu?"
"Aku takut Omak tidurnya lasak dan menendang perutku."
"Ya ampuuun, Lan! Omak tak segitunya. Pun jika iya, kau bisa katakan padaku agar aku bisa menurunkan tilam buat tidur Omak!"
Lalu hening, aku tak mendengar suara apa pun. Sampai saat aku terjaga, kudapati Arman tertidur di sisiku. Aku memandangi wajahnya, tak terasa air mata menetes. Cepat kuhapus agar Arman tak melihat bulir bening menghiasi pipi keriput ini. Sejak hari itu Arman selalu mempersiapkan tempat tidur sebelum bekerja. Sementara Lani seakan semakin tak menyukaiku.
Aku merasa tidak kerasan tinggal di rumah itu lagi, tetapi Arman ingin aku tinggal sampai cucuku lahir. Demi Arman aku bertahan dari segala intimidasi Lani.
"Lan, kalau masak nasi Omak dibubur saja ya. Omak gak bisa makan nasi kekerasan," pintaku pagi ini sebelum Lani pergi bekerja sementara Arman belum pulang. Biasanya ia sudah pulang dari bertugas ship malam.
"Mak! makan aja apa yang sudah dimasak. Jangan banyak permintaan ini dan itu. Sudah syukur Omak dan anak Omak yang satpam itu bisa tinggal nyaman di rumah ini tanpa dipungut bayaran. Aku hanya mampu menatap Lani dengan sesak menghimpit dada.
"Jangan minta macam-macam yang ada dimakan. Nanti trus Omak ngadu, seneng liat kami bertengkar setiap harinya? kalau memang Omak ingin pulang, pulang saja gak usah nunggu sampai aku lahiran," ucap Lani mengusirku. Sebisa mungkin aku menahan agar tak menangis dihadapannya. Selama ini aku tak pernah meminta apa pun darinya. Terkadang ia hanya memberiku makan hanya dengan sayur tanpa lauk apa pun. Kalau pun lauk itu hanya tempe atau tahu, tanpa sayur. Jika tempe lauknya aku lebih memilih makan dengan garam atau bekas minyak goreng, karena aku hanya punya beberapa gigi dan tidak bisa buat mengunyah yang keras. Lani berangkat kerja meninggalkan aku begitu saja. Seperginya Lani aku menangis tanpa mampu kuhentikan.
"Omak kenapa?" tanya Arman yang telah pulang. Aku terus menangis.
"Omak sakit?" aku menggeleng masih dengan tangis.
"Omak bertengkar dengam Lani?" tanyanya lagi.
"Antarkan Omak pulang," pintaku akhirnya.
"Akan Arman antarkan, tapi jelaskan dulu Omak kenapa?" tanyanya masih dengan nada penasaran.
"Antarkan Omak pulang, antarkan Omak pulang," hanya kata itu yang kuucap berulang-ulang.
"Baiklah Arman akan antar Omak pulang." Lalu Arman mengemasi barang-barangku, pamit sebentar dan saat kembali kami langsung berangkat ke terminal bus lalu membeli tiket jurusan kampung halaman.
Seminggu sudah Arman dikampung, setiap kutanya kapan kembali ia hanya diam.
"Kenapa tak kembali ke kota, Nak? sudah hampir sebulan kamu di sini?" tanyaku suatu malam. Arman tetap diam.
"Nanti kamu bisa dipecat jika tak masuk-masuk bekerja."
"Arman sudah mengundurkan diri, Mak,"
"Apa kata istrimu nanti kalau dia tau kamu sudah tak bekerja! Pulanglah ke kota Nak, pasti istrimu sudah menanti. Apa lagi dua bulan lagi istrimu akan melahirkan," pintaku.
"Arman tak akan kembali sampai Omak mengatakan apa yang terjadi."
"Tak terjadi apa-apa, Nak! Omak hanya ingin pulang kampung saja."
"Omak bohong! Arman tak pernah melihat Omak menangis. Yang Arman tau Omak menangis saat Ayah meninggal. Jadi jika Omak sampai menangis ada suatu hal yang membuat hati Omak sakit," ucapnya menatapku. Aku tetap membisu, tak ingin berkata apa pun yang dapat melukai perasaan putraku. Keputusan Arman sendiri sudah bulat tak ingin kembali ke kota.
Suatu senja, Lani berdiri berkacak pinggang diperkarangan rumahku. Aku yang baru pulang berkebun bersama Arman sedikit terkejut dengan kehadirannya. Segala umpat serapah ia lontarkan padaku dan Arman. Aku dan Arman hanya diam kala para jiran melihat segala aksi Lani. Seorang yang menemani Lani mencoba menenangkannya, namun sikap egois dan sombong Lani semakin menjadi.
"Ceraikan aku! aku bisa hidup tanpa biaya darimu, Dan ingat jangan coba-coba menemui dan menafkahi anak ini, jika kelak dia lahir, dasar laki-laki miskin ga tau diri. Ibu dan anak sama cuma numpang hidup!" ucap Lani dengan lantang. Aku mengenggam erat jemari Arman, mencoba menenangkannya.
"Cukup! kau boleh hina aku, tapi jangan Omak. Aku memang menumpang di rumahmu, namun aku telah tawarkan berkali-kali padamu untuk mengontrak rumah. Tapi kau menolaknya dengan berbagi alasan. Baik aku ceraikan kamu hari ini talak tiga di hadapan semua orang," ucap anakku tak kalah sengit.
"Arman!" teriaku, namun telat kata sudah terucap. Kesabaran Arman sudah sampai pada batasnya.
Sesudahnya Lani pulang ke kota, aku mendapat kabar bahwa ia melahirkan seorang anak perempuan. Wajahnya sangat mirip Arman. Berkali aku bujuk Arman untuk melihat putrinya, namun hati anakku tak bergeming sedikitpun. Luka itu terlalu dalam dirasakannya. Dari seorang saudara yang berkunjung ke kampung, aku tau satu hal bahwa dulu anakku diluar kesadaran saat menikahi Lani. Karena sangat tergila-gila pada putraku, Lani mendatangi orang pintar untuk memelet Arman yang tak pernah mencintainya. Aku sudah putus asa membujuk Arman, tetapi Arman tetap pada pendiriannya.
"Omak jangan khawatirkan apapun, Arman tetap bertanggung jawab pada anak itu bagaimanpun caranya kelak. Namun Arman tak akan datang menemui Lani sebelum ia bersujud dan memohon ampun pada Omak. Arman bisa menemukan dan menikah dengan perempuan manapun, Mak. Tapi Arman cuma punya satu Omak dan tak kan pernah menemukan lagi dibelahan dunia mana pun," ucap Arman sembari memelukku.
Aku menangis dan berdoa dalam hati agar Tuhan menunjukkan jalan kebaikan bagi kehidupan putraku juga cucuku yang hidup tanpa pigur seorang Ayah.

-Selesai-

Jumat, Januari 20, 2017

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Jangan Usik Yang Tidak Mengganggumu Karya Sang Lanna

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Jangan Usik Yang Tidak Mengganggumu Karya Sang Lanna
Cerpen Jangan Usik Yang Tidak Mengganggumu


Jangan Usik Yang Tidak Mengganggumu
Karya : Sang Lanna

Senja hari itu, seusai jam kerja. Kusempatkan mampir ke rumah Wanto, teman kerjaku. Membahas beberapa masalah pekerjaan, dilanjut dengan obrolan santai.
Saat tengah asyik mengobrol di teras depan rumahnya, tiba-tiba terlihat melintas sebuah bayangan hitam panjang! Sosok bayangan itu bergerak cepat dari rerimbunan tanaman hias ke arah lubang air kecil di pojok pekarangan.
Aku tertegun melihatnya. Wanto yang melihat ekspresi wajahku, ikut menatap ke arah pandangan mataku. Ia pun sempat melihat sosok bayangan tersebut. Seketika ia berkata,
"Laan! Itu ular yang pernah aku ceritain ke kamu. Ular hitam yang pasti selalu keluar melintas di waktu senja begini! Cepat tangkapin, Lann! Kamu kan udah terbiasa nangkapin ular. Cepat ... tolong tangkapin! Trus bunuh aja, biar gak nakut-nakutin orang lagi!"
Aku masih terdiam menatap bayangan hitam memanjang itu, sampai bayangan tersebut menghilang. Masuk ke lubang pembuangan air.
"Kok malah bengong, Lann? Yaah ... kabur deh tuh ularnya!" ucap Wanto kecewa, "kenapa sih, Lann? Takut?"
Aku tersenyum, menjawab, "Ular itu cuma lewat aja kok. Gak pernah menggigit atau mengganggu orang, kan?"
Wanto terdiam.
"Ya, enggak sih. Cuma kan bikin kaget dan takut yang kebetulan melihat," balasnya, "emang kenapa sih gak langsung kamu tangkap, Lann?"
Aku pun menjawab, "Ular itu kan cuma mau lewat aja. Mungkin mau pulang ke sarangnya yang kebetulan ada di lubang situ. Dia gak pernah mengganggu atau sengaja menakut-nakuti orang, kan?"
Wanto mengangguk pelan.
"Ya udah. Biarin ajalah. Gak apa-apa kok. Dia juga butuh hidup kan? Ngapain juga dibunuh?" kataku lagi sambil tersenyum.
Wanto hanya bisa garuk-garuk kepala seraya menggerutu tak jelas.
***
Sekitar tiga bulan kemudian .... Pagi-pagi, di kantor ...,
"Lann, kamu ingat ular hitam yang suka melintas di pekaranganku?" ucap Wanto tiba-tiba.
Sesaat aku diam mengingat. Lalu mengangguk, "kenapa memangnya?" balasku.
"Hehehe .... Sekarang udah gak ada lagi! Kemarin, Pakdeku yang dari Banten datang. Terus, begitu melihat ular hitam itu, langsung ditangkapnya.Lantas dibacok kepala ular itu sampai putus! Mati dah tuh ular!" tutur Wanto senang.
Dahiku agak mengkerutkan mendengarnya.
"Terus, gimana ular hitam itu? Pakde kamu gak kenapa-kenapa?" tanyaku cemas.
"Ularnya, ya matilah!" sahut Wanto, "kan tadi aku udah cerita. Terus bangkainya dibuang ke sungai kecil di sebelah selatan rumahku. Pakdeku gak apa-apa tuh! Baik-baik aja. Kenapa memangnya?"
Aku mengela napas lega seraya tersenyum, "gak kenapa-kenapa. Syukurlah kalau baik-baik aja. Eh, kapan tuh kejadiannya?" tanyaku lagi.
"Tadi malam. Tepat selewat maghrib," jawabnya.
"Oooh ...," aku hanya manggut-manggut menanggapinya.
***
Hari itu, aku pulang kerja hampir jam delapan malam. Baru saja hendak memasukan motor ke garasi, terdengar suara klakson panjang diikuti suara motor berhenti mendadak di depan pagar rumah.
Wanto nampak turun dengan tergopoh-gopoh. Aku memandangnya dengan rasa heran bercampur bingung.
"Lann ...! Tolongin Pakdeku! Cepat, sekarang juga ikut ke rumahku! Cepat, Lann ... tolong!" serunya dengan panik disertai napas yang memburu.
"Sshhh ... sshh .... Tenang dulu. Ceritain dulu, kenapa Pakdemu? Tolongin bagaimana?" tanyaku mencoba menenangkan.
"Pakdeku tiba-tiba ambruk dan kejang-kejang! Matanya membelalak lebar! Kayak orang kesurupan, gitu. Orang-orang bilang, mungkin ada hubungannya sama ular hitam yang Pakdeku bunuh itu! Kamu pasti tahu ya, Lann?! Ayo cepat, tolongin dong!" kata Wanto.
Aku terdiam sejenak. Menarik napas sesaat seraya berpikir.
"Ayo cepetan, Lann! Tolongin dong!" Wanto berkata tak sabaran.
"Hhmm ... baiklah, ayo! Tapi aku bonceng kamu aja ya" sahutku kemudian.
Tanpa mengucap apa-apa lagi, Wanto langsung saja menarik tanganku.
***
Sesampainya di rumah Wanto, orang-orang sedang ramai berkerumun di halaman. Nampak mereka ramai saling bergunjing satu sama lain, seraya melongokan kepala ke dalam rumah.
Melihat itu, aku berbisik lirih pada Wanto, "Wan, tolong disuruh bubar aja tuh orang-orangnya. Gak enak kalau banyak yang menonton begitu!"
Wanto mengangguk cepat. Lalu, dengan dibantu orang tua dan kakaknya, ia membubarkan kerumunan orang-orang itu. Setelah sepi, aku segera masuk ke kamar tempat di mana Pakde Wanto terbaring.
Astaghfirulloh ...! Seketika aku menyebut nama-Nya, saat terkejut melihat kondisi Pakdenya Wanto. Sekujur tubuh sampai kaki nampak mengejang kaku! Matanya membeliak lebar dengan air mata tak henti keluar. Mulut menganga kaku dan air liur berlelehan keluar. Tangan kanannya teracung ke atas, kaku kejang,dalam posisi seolah sedang mencengkeram sesuatu di udara.
Sejenak aku terdiam memanjatkan doa, mohon ampunan dan perlindungan disertai seluruh jiwa raga kupasrahkan dalam kekuasaan-Nya. Lalu lamat-lamat nampaklah dalam pandanganku sebuah bayangan hitam panjang tengah melilit tangan kanan Pakdenya Wanto. Ular hitam itu! Kepalanya perlahan bergerak menoleh ke arahku. Semakin lama, sosoknya semakin jelas! Nampak sorot matanya mengancam kepadaku. Berulang kali aku menyebut kebesaran nama-Nya untuk menenangkan gejolak dalam batin.
Lalu aku berbisik perlahan pada Wanto, meminta sesuatu. Wanto mengangguk, bergegas melangkah ke luar kamar. Sementara aku segera ke belakang, berwudhu, mensucikan dan mempersiapkan diri.
Saat aku selesai, Wanto telah menunggu dengan segelas air putih di genggaman. Aku menerimanya, lalu membacakan beberapa ayat suci. Setelah itu, aku menghampiri Pakde Wanto yang terbaring tiada daya.
Ular hitam itu tampak gelisah dan marah. Mulutnya kini terbuka lebar, memperlihatkan gigi taring runcing mengancam! Namun, aku tak memperdulikannya. Dengan penuh keyakinan atas kuasa-Nya, aku percikan air dari dalam gelas itu ke ular hitam tersebut. Ular itu tampak menggeliat-geliat. Seakan tubuhnya tersiram air panas. Tak hanya sampai di situ, aku lalu menyiramkan sebagian air ke arahnya. Ular itu kini menggelepar-gelepar kuat kesakitan. Tiba-tiba, ular itu menghilang begitu saja. Hanya meninggalkan bekas garis merah lebar di tangan kanan Pakdenya Wanto.
Alhamdulillah .... Aku memanjatkan puji syukur atas pertolongan-Nya. Lalu sisa air di gelas, aku balurkan ke seluruh tubuh dan wajah Pakdenya Wanto. Perlahan, tubuh itu melemas. Tangannya jatuh terkulai. Matanya telah terpejam dengan mulut terkatup normal. Ia kini nampak bagaikan tertidur dalam kelelahan.
Benar dugaanku. Ular hitam itu, walau mahluk gaib yang terlihat menakutkan, namun ia tetaplah mahluk ciptaan-Nya. Ia tidak mengganggu. Hanya kebetulan kerap terlihat saat melintas. Dan saat tanpa salah ia teraniaya, seperti juga umumnya manusia, maka iapun membalas. Dan saat mahluk Allah yang tanpa salah teraniaya, maka sehebat apapun ilmu yang dibanggakan untuk menganiaya, itu tak akan berarti! Beruntung Allah masih memberi pertolongan dengan mengusirnya pergi, setelah mungkin dirasa cukup ular itu membalas atas apa yang ia alami.
Keluarga Wanto turut mengucap syukur atas pertolongan-Nya. Sampai sekarang, garis merah melingkar itu masih ada di lengan kanan Pakdenya Wanto. Membekas dan tak bisa hilang.

-Selesai-

Minggu, Januari 15, 2017

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Bapak Karya Airi Cha

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Bapak Karya Airi Cha
Cerpen Bapak Karya Airi Cha


Bapak
Karya : Airi Cha

Kalau tidak teringat pada anak-anak dan dosa, mungkin sudah kuhabisi lelaki yang telah menjadi suamiku selama 10 tahun. Ini perselingkuhannya yang ke dua kali, tanpa sepengetahuan dan izinku dia menikah diam-diam. Dengan memalsukan data diri bahwa ia seorang duda. Ntah ia katakan duda cerai hidup atau aku sudah dikatakan mati.
Aku bukan tak mengetahui perselingkuhan lelaki itu, pun aku sudah berusaha mencegah. Tetapi lelaki yang pernah bersumpah sehidup semati denganku itu, seperti sudah hilang ingatan. Melupakan aku dan anak-anak, tak mengubris apa omongan tetangga. Walaupun hati hancur, aku mencoba menguatkan hati anak-anak. Meski aku tau mereka belum sepenuhnya memahami permasalahan yang terjadi.
Tak ada kenangan yang ingin kusimpan dari lelaki itu, foto serta segala sesuatu yang bersangkutan dengannya sudah kubakar habis. Sementara perempuan yang dinikahinya, bukanlah yang lebih seksi dariku. Dia hanya janda tua dengan lima orang anak dan punya predikat sebagai perebut suami orang. Sepeninggalan lelaki itu, aku mengerjakan apa saja demi kelangsungan hidup aku beserta tiga putra. Dengan mengambil upah mencuci dari beberapa keluarga disebuah perumahan menegah, pekerjaan itu kulakukan dari matahari belum terbit hingga menyengat di atas kepala.Terkadang ada juga yang meminta tolong untuk dipijat, dari mulut ke mulut akhirnya aku dikenal orang bisa memijat. Hidup dari jerih payah menjadi kuli di rumah orang tanpa mengemis pada lelaki yang seakan lupa kepada kami kujalani dengan keihklasan demi ke tiga buah hati.
"Bu, kenapa Bapak ga pernah pulang-pulang?" tanya anakku suatu malam sehabis bersantap.
Acapkali si bungsu yang berusia 5 tahun bertanya dan pertanyaan itu terasa sebilah belati menancap tepat di ulu hati. Aku hanya bisa menjawab dengan sebuah kebohongan.
"Bapak jahat ya, Bu?" ucap si sulung. sementara putra ke duaku hanya diam menatap sendu ke arahku. Sekuat hati aku menahan agar embun itu tak mengambang di sudut mata. Aku tak ingin mereka tau tentang rasa sakitku, mereka harus bahagia walau tanpa lelaki itu.
"Jangan pikirkan Bapakmu, sekolah saja yang giat dan harus jadi orang pinter. Ibu masih bisa untuk memberi makan dan menyekolahkan kalian," kataku meyakinkan anak-anak.
"Bu, Ridwan ingin bekerja juga ya sepulang sekolah. Biar tidak selalu merepotkan ibu," pinta sulungku.
"Ealah, Nak! mau bekerja apa? mana ada orang yang menerima anak kelas 4 sd bekerja," kataku sambil tersenyum.
"Pasti ada, Bu. Wawan akan cari," ucapnya mencoba meyakinkanku.
"Wan, Ibu pengenya Wawan sekolah biar pinter. Biar nanti jadi orang berguna, bisa bekerja layak. Tidak seperti ibu. Wawan cukup bantu ibu dengan menjaga adik-adik. Mau kan?" tanyaku. Sulungku mengangguk tanda mengerti. Kurangkul ke tiga buah hati, merekalah sumber kekuatan saat ini. Tak lama berselang, mereka terlelap dalam buaian mimpi. Kuciumi satu persatu putraku, berharap kelak jika dewasa mereka tidak menjadi pecundang seperti bapaknya. Tak terasa air mata menganak di pipi, aku mencoba menahan isak.
"Ibu, Menangis?" 
Pertanyaan Ridho putra ke dua mengagetkanku.

"Akh ... tidak, Nak," ucapku berbohong sambil menghapus sisa air mata.
"Bu, kelak tak boleh ada yang membuat ibu menangis lagi," katanya sambil memelukku.
Hari berganti dan waktupun berlalu, banyak kepedihan yang aku rasakan namun mampu kulalui. Suatu hari saat aku pulang bekerja, kutemui putra bungsuku menangis.
"Ada apa, Wan? kenapa membiarkan adik menangis?" tanyaku mencoba mencari tau sebabnya. Sulungku hanya diam, aku beralih menatap Ridho berharap dia memberi penjelasan, tetapi Ridho hanya menatapku seperti biasanya.
"Bang Ridho marah dan pukul Indra, Bu?" isak si bungsu sambil memeluku.
"Kenapa Ridho pukul adik?" tanyaku tak mengerti. Namun putraku tetap diam dan menunduk.
"Kenapa? dan Wawan mengapa tidak bisa jaga adik-adik agar tidak berkelahi?" tanyaku sedikit emosi. Namun yang ditanya tetap membisu.
"Baiklah kalau tidak menjawab, Ibu akan menghukum Ridho," kataku. Ntah setan apa yang merasuk dalam pikiran. Kuambil sebilah bambu dan langsung memukuli punggung Ridho. Putraku hanya diam bahkan tak menangis.
"Bu, hentikan! Ridho tidak bersalah," pinta Wawan sambil memeluk lututku dan menangis. Aku menghentikan pukulan itu.
"Ada apa sebenarnya, ceritakan pada ibu."
"Tadi sepulang sekolah kami melihat Bapak, di tukang bakso bersama keluarganya," ucap Wawan tertunduk dengan rasa takut. Ada rasa sakit di hatiku saat Wawan berkata Bapak.
"Lalu!"
"Adik berlari menghampiri Bapak dan memeluknya tapi ...."
"Tapi apa?" Bentaku tanpa sadar.
"Bapak tak memperdulikan kami dan adik tidak mau pulang. Ridho memaksa adik pulang, karena adik terus menangis Ridho memukulnya."
Mataku menatap lurus pada si bungsu, tanpa sadar tanganku mensabat bilah bambu ke punggungnya.
"Ampun, Bu!" pinta si bungsu sambil menahan sakit.
"Ingat Ibu kata apa, jangan mengemis ke pada siapa pun. Terutama pada Bapak kalian. Ibu masih bisa menghidupi anak-anak Ibu, dan ingat! jangan pernah sebut tentang lelaki itu dihadapan Ibu. Meskipun lelaki itu Bapak kalian!" seruku meluapkan segala amarah. Ketiga putraku hanya menunduk dalam tanpa berani menantap ke arahku yang seperti orang kesurupan. Tak dapat kulukiskan bagaimana rasa sakit menyelusup di dada, membayangkan anak-anakku seperti mengemis dihadapan Bapaknya dan tak dihiraukan.
Sejak hari itu, tak ada dari putraku yang menyebut kata Bapak. Biasanya sebelum kejadian itu si bungsu sesekali waktu selalu bertanya tentang Bapaknya. Sekarang mulutnya tak pernah mengucapkan kata itu. Hingga tak terasa putra-putraku besar, berpendidikan dan mendapat pekerjaan yang layak. Jerih payahku seakan terbayar sudah, melihat mereka berhasil meraih segala cita-cita. Rasa sakit dan luka sudah tak ada dihatiku.
Suatu senja ada lelaki kurus dan tua tergeletak di bawah pohon depan rumah. Sepertinya ia seorang gelandangan. Perlahan aku menghampirinya, lama aku mematung dihadpan lelaki itu. Sampai ....
"Minta air putihnya, Bu?" ucap lelaki itu menyadarkanku. Aku bergegas mengambil air ke rumah dan memberikan kepadanya.
"Terima kasih, Bu," kata lelaki itu lemah sambil menyodorkan gelas. Sesaat dia mentapku dan tatapkan kami saling bertemu.
"Mas, Irfan," lirih aku berkata. Walau terlihat lebih tua dari usiannya dan dengan penampilannya seperti saat ini. Aku tak pernah mampu untuk melupakan wajah lelaki yang telah memberi penderitaan kepadaku. Namun kali ini bukan rasa benci yang bermain di hati melainkan rasa iba.
"Dara, kau kah itu," ucap Mas Irfan sedikit terkejut. Aku hanya mengangguk.
"Mas, mari ke rumah. Mas pasti lapar," kataku mencoba mengajaknya mampir.
"Tidak, Dara. Aku tidak pantas dan tak ingin mengusik kehidupan kalian. Aku hanya menumpang istirahat setelahnya akan pergi," ucapnya tertunduk seakan menyesali masa lalu.
"Mas ini rumah anak-anakmu, kami sudah melupakan perihal lalu. Ucapku mencoba meyakinkan. Akhirnya Mas Irfan mau juga.
Mas Irfan makan dengan lahapnya walau sesekali aku lihat ia merasa sungkan padaku. Tak lama berselang ke tiga putraku pulang bersamaan dari bekerja. Mereka masuk dan menyalamiku, lalu memandang pada Mas Irfan namun tak mengenalin. Mas Irfan hanya tertunduk tanpa mampu menatap mereka. Ketiga putraku seakan ingin sebuah jawaban tentang lelaki yang berada dihadapan mereka.
"Salami Bapakmu, Nak," pintaku pada akhirnya.
"Bapak!" seru mereka bersamaan lalu menatap lekat pada Mas Irfan dan bergantian menatapku.
"Ya, Bapak kalian," ucapku lagi meyakinkan mereka.
"Bapak sudah lama mati, Bu," ucap Ridho sambil berlalu diikuti si bungsu. Hanya Ridwan tetap bersamaku lalu bersujud dan memeluk bapaknya. Aku berlalu meninggalkan mereka.
"Ridho tak pantas kamu berkata begitu," kataku sedikit keras padanya.
"Bu, Ridho tak akan pernah lupa penderitaan Ibu hingga detik ini. Sekarang saat kita bahagia lelaki itu hadir membawa kesengsaraannya. Di mana dia waktu kami butuh kasih sayang dan perhatian," Ridho seakan mengeluarkan segala unek-unek hatinya yang terpendam selama bertahun.
"Jangan mendendam, Nak. Masa itu telah berlalu. Biar bagaimana pun dia bapakmu. Maafkan Ibu karena dulu Ibu sempat memperlihatkan kebencian itu pada kalian."
"Ridho tidak bisa, Bu. Sejak bertahun lalu Ridho sudah menganggap Bapak mati! terserah dia mau jadi apa saat ini, Ridho tak perduli. Aku terduduk di kursi mendengar perkataan Ridho, tak menyangka bahwa putraku memendam kebencian yang teramat dalam pada Bapaknya. Hening saat Ridwan masuk dan memandang ke arahku.
"Bapak sudah pergi, Bu," ucapnya tertunduk lirih.
"Cari dan temukan Bapakmu lalu bawa kemari," pintaku pada mereka.
"Bu!" seru Ridho tak senang atas ucapanku.
"Bapakmu sedang sakit, Nak. Walau dulu Bapak tak mengakui kalian tapi kalian jangan menjadi durhaka dan tak mengakuiannya."
Ridho dan si bungsu tak bergeming dengan ucapanku. Raut wajah mereka masih menyiratkan kebencian. Seorang tetangga mendadak datang dan mengabarkan bahwa mereka diminta Mas Irfan untuk memanggilku. Mereka menemukan Mas Irfan tergeletak tak berdaya tak jauh dari rumah. Aku memandang ketiga putraku, hanya Ridwan yang ingin ikut bersama menemui Mas Irfan.
"Baiklah jika hati kalian membatu, Ibu akan memohon pengampunan untuk Bapakmu," kataku sambil berlutut.
"Bu!" seru ketiganya berusaha membangkitkanku namun aku tetap berlutut dengan air mata.
"Ampuni Bapak kalian, Nak dan maafkan ibu karena tak memberi contoh yang baik," pintaku dengan isak. Ketiga putraku menangis memelukku, aku menciumi mereka satu persatu. Walau tidak dengan perasaan sepenuh hati, kedua putraku akhirnya mau menemui Bapaknya. Kami bergegas bersama ke tempat di mana Mas Irfan berada.
Keadaan sekitar sudah ramai saat kami tiba. Mas Irfan hanya mampu memandangi kami secara bergantian. Aku tak mampu menahan kesedihan, kenangan lalu silih berganti bermain dalam pikiran. Kudekati Mas Irfan, kuberi isyarat kepada ketiga putraku. Aku perlahan mengenggam jemarinya, kupinta hal yang sama pada ketiga anakku. Air mata membasahi pipi keriput lelaki itu.
"Maafkan aku, Dara. Maafkan Bapak, Nak," ucap Mas Irfan lirih nyaris tak terdengar.
"Aku dan anak-anak sudah memaafkanmu, Mas," ucapku mewakili anak-anak dan tanpa kuminta mereka mengangguk. Mas Irfan tersenyum lalu terkulai.
"Bapaaak!" seru mereka tanpa canggung setelah bertahun melupa pada sebutan itu.
Air mata kesedihanku mengalir untuk kesekian kalinya.
"Selamat jalan Mas. Semoga kamu mendapat tempat terbaik di sisi Nya."
Perlahan lubang itu ditutup tanah, kamboja berguguran. Semilir angin membawa anganku terbang ke masa lalu.

-Selesai-