test

Cerpen Kado Terakhir Oleh Duo Sahabat


KADO TERAKHIR
Oleh : Duo Sahabat
- Kurniawati Budiningrum/ Emon

- El Habibah Misykat


Aku dan Nadia adalah sahabat sejak kecil, kami sangat akrab, di mana ada dia seakan di situlah aku berada. Meski sahabatku buta namun ia seakan mampu banyak hal diluar dugaan. Dia adalah salah satu penghafal Al-Qur'an, dan itu juga yang membuatku kagum padanya.
Suatu hari Pak Dheku akan mengadakan syukuran karena anaknya akan menikah. Semua keluarga besar berkumpul di rumah Pak Dhe, begitu juga keluargaku.

"Lis, setelah sholat Maghrib kamu siap-siap ya."
"Jadi kita ke rumah Pak Dhe?"
"Iya, tapi kamu berangkat duluan ya, Bapak dan Ibu ada urusan."
"Lho, kog gitu."
"Kamu gak perlu khawatir, nanti Andri jemput kamu."
"Mas Andri? Kenapa sih Bu kita gak barengan saja?"
"Anak muda tenaganya banyak dibutuhin di sana, bantu-bantu Pak Dhe dan Bu Dhemu nyiapin acara slametan, jadi kamu duluan saja sama Andri."
"Mas Andri itu kalau bermotor sering ugal-ugalan, jantung berasa copot kalo udah tancap gas, apa lagi kalo udah nyalip kendaraan orang, mengerikan. Tiap Lisa protes karena ketakutan, Mas Andri malah kegirangan."
"Ah, kamu ada-ada saja, nanti ibu bilangi biar gak seperti itu, kalo nganterin Ibu dia gak seperti itu."
"Ya mana berani Bu Mas Andri seperti itu sama Ibu, bisa kualat dia nanti."
Setelah usai sholat Maghrib, aku pun bersiap untuk pergi ke rumah Pak Dhe.
"Assalamu'alaikum." terdengar suara Mas Andri di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam." jawabku dan Ibu.
"Lis, ayo kita kemon." ajak Mas Andre.
"Udah sana pergi." suruh Ibuku.
"Tapi Bu Mas Andri kan suka .... "
"Iya ... iya ... ibu ngerti, Ndri, awas ya kalo kamu bawa motornya ngebut."
"Ah, enggaklah Tante, Andri mana ada ceritanya ngebut, kamu juga Lis, pake ngaduin segala, aku kan gak pernah ngebut."
"Udah-udah, berangkat sana keburu malam."
Ibu tak mau mendengar keenggananku pergi bersama Mas Andri. Kami pun bergegas pergi. Mas Andri memang suka cari muka di depan Bapak dan Ibuku. Sebelum berangkat dia sok perhatian ngancingin helmku. Di depan Ibu dia membawa motornya perlahan, begitu sudah agak jauhan, sudah pasti dia akan tancap gas sekencang-kencangnya. Begitu juga kali ini, sudah kuduga dia akan melakukannya lagi.

"Sudah siap Lis?"
"Siap apaan?"
"Pegangan yang erat, Valentino Andri segera melesat."
"Hadeeehhh ... kumatttt .... "
"Hahahahaha .... "
Aku pun ketakutan, aku berpegangan sangat kencang, banyak kendaraan disalibnya, dan akhirnya kecelakaan itu pun terjadi. Kami menabrak sebuah mini bus yang berlawanan arah. Aku terpelanting jauh ke semak belukar, lalu semua perlahan menjadi gelap dan aku tak lagi ingat setelahnya. 
Sa'at perlahan ku buka mata, Nadia telah ada di depan mata. Berhari-hari aku ditemani oleh lantunan hafalan Qur'annya, begitu teduh, dan menenangkan. Napasku kian sesak, aku merasa ajalku kian dekat, ku panggil suster jaga, ku bisikkan padanya keinginanku mendonorkan kornea mata untuk seseorang.

*****
Senja yang teduh, kutinggalkan pusara Lisa. Kini aku bisa melihat dunia, semua karena operasi mata yang didonorkannya. Ya Allah, sungguh kado terakhir yang membuatku berlinang air mata. Terima kasih Lisa atas kado terakhir dan teristimewa ini. Semoga jariyah amalmu jadi lentera makammu. Akan kujelmakan cita-cita kita membuat perpustakaan keliling dan bimbingan tahfiz Qur'an untuk kaum dhuafa dan anak-anak tuna netra.

**TAMAT**
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top