test

Cerpen Anak TK Karya Airi Cha



ANAK TK
Karya : Airi Cha

Setiap pagi saat jam menunjukkan pukul tujuh, aku mulai memacu motor butut kesayangan untuk antar para keponakan ke sekolah mereka. Gerimis mengiringi perjalananku hingga sampai ke tujuan.
Seperti biasa, aku menunggui dua keponakan yang masih tk hingga bel berbunyi. Aku mengawasi mereka dan mengecek kembali pekerjaan rumah serta tabungan yang hendak diserahkan kepada Ummy pengajar. Setelahnya baru pr itu mereka kumpulkan di meja guru.
Seorang anak bernama Farhan terlihat memeriksa kembali pekerjaan rumahnya. Bocah itu duduk dua bangku dibelakang keponakkan. Tubuhnya sedikit lebih besar dari murid tk lainnya, dan dia terlihat pintar. Tiba-tiba bocah itu menghampiriku dan bertanya.
"Bu, pr Aan udah benar?" tanyanya tanpa malu sambil menatapku.
"Kenapa?" tanyaku sambil mengambil buku tulis yang ia sodorkan.
"Di sini ada titik satu, Bu! harus di isi tidak?" tanyanya sambil menunjukkan tanda titik.
Aku memeriksa pr berhitungnya dari hitungan ke 41 sampai 50. kebetulan bocah ini sudah bisa menulis dibuku bergaris tidak buku kotak-kotak seperti teman lainnya. Sang Ummy pengajar memberi pr 41 . . . . 46 . . . 50, dan ternyata ia tersilap pada hitungan ke-49. Dari hitungan ke-48 loncat ke-50, ia lupa menulis angka 59. Aku memintanya untuk memperbaiki angka tersebut, setelahnya ia mengumpulkan soal itu. Lalu aku bergabung dengan beberapa ibu sekedar silaturahmi dipagi hari. Tak lama salah seorang bocah menangis, nenek bocah tersebut menghampiri. Setelah ditanya ternyata yang membuat menangis adalah Farhan. Sang Nenek lebih memilih membawa cucunya ke luar dan berusaha mendiamkannya.
Obrolan pun meluncur tentang bocah bernama Farhan. Aku hanya menjadi pendengar yang baik, karena aku hanya sesekali saja ngobrol dan bergabung dengan para ibu yang menunggui anak-anak mereka. Sambil berkumpul bersama mereka, aku tetap mengawasi dua ponakanku dari depan pintu kelas. Mataku tertuju pada Farhan yang kulihat sedang menganggu dua temannya yang bertubuh agak kecil, seorang ibu menegur Farhan dan coba memberi pengertian kepadanya. Tapi tu bocah seperti tak mengubris tetap bertahan dan terus menganggu. Ibu tersebut meminta Farhan untuk kembali ke tempat duduknya dengan mengandeng Farhan. Namun bocah itu membangkang dan bertahan. Ibu itu meninggalkanya dan geleng kepala.
Dua teman Farhan menertawai, karena ia mendapat teguran. Seakan tidak terima dengan tertawaan teman Farhan terlihat mengepalkan tangan dan menantang temannya. Sang teman juga balas menantangnya.
"Eittt ... eitt ... eitttss," kataku dari depan pintu mencoba melerai mereka.
Demi mendengar ucapanku, Farhan berpaling dan menatap seakan marah atas laranganku. Dia terlihat memendam amarah, aku cukup kaget dengan reaksinya yang menatap tajam. Maklum karena aku dijalanan, emosiku juga naik karena ditatap sedemikian rupa. Aku membalas tatapan tu bocah tanpa berkedip sedikit pun. Beberapa waktu kami saling menatap, aku seakan jadi ikut-ikutan seperti bocah karena tak mau mengalah darinya.
Aku melangkah mendekati Farhan dan duduk dibangku yang berada di depannya, dengan mata tak sedikitpun berkedip. Perlahan Farhan menundukkan wajahnya, lalu berpaling dari tatapanku. Aku masih terus menatapnya, sesekali ia melirik lalu memalingkan kembali wajahnya karena masih melihatku menatap tajam padanya. Perlahan Farhan bangkit dan beringsut pindah ke tempat duduknya dan berpura-pura mengeluarkan buku pelajaran. Aku masih terus menatapnya hingga Ummy pengajar datang.
"Kenapa, Bu?" tanya Ummy pengajar yang mungkin melihat aksiku tadi.
"Tidak mengapa, Ummy," jawabku sambil tersenyum.
"Farhan nakal lagi dan menganggu keponakan, Ibu?" tanya sang Ummy mencari tau.
"Tidak, Ummy," jawabku tersenyum sambil pamit buat ngojek.
Aku berjalan perlahan dan menatap Farhan lalu memberinya senyum. Bocah itu menatapku, tetapi tatap matanya tak lagi mengandung amarah seperti di awal tadi. Aku pun berlalu sambil menertawakan diriku sendiri dalam hati. Karena sepagi ini terpancing amarah pada seorang bocah! ya seorang bocah yang sepertinya ingin dipahami dan dimengerti dengan segala sikap dan tingkah lakunya.

**Selesai**
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top