test

Cerpen Kuikuti Jejakmu Guru Oleh Etna Rufiati


Kuikuti Jejakmu Guru
Oleh : Etna Rufiati

Guru, hari ini aku sengaja menulis sesuatu untukmu. Aku ingin mengingatmu ... saat-saat bersamamu. Ya Allah, mengapa airmata ini menetes membasahi pipi? Sedang hamba masih menulis 2 baris kalimat. Hamba ingin tulisan ini dapat dibaca oleh siapa saja, sebelum Peringatan Hari Guru pada 25 Nopember 2016. Aku tak sanggup membendung airmata bahagia ini. Ya ... aku bahagia, karena "Telah Kuikuti Jejakmu, Guruku Sayang."
Tulisan ini kutujukan untuk Guru tercinta, Almarhumah Ibu Mardiyah. Ibu, wajahmu tampak begitu jelas, senyum kepuasan, kebanggaan, keikhlasan, dan rasa syukurmu tak mungkin kulupakan. Masih terngiang ditelinga saranmu Ibu:
"Anakku, jadilah seorang guru kimia, sebagai penggantiku kelak."
"Insya Allah, Bu. Saya memang sudah menjadi guru cilik sejak SMP. Saya menyukai pekerjaan ini."
"Ya, aku dengar seperti itu. Pulang sekolah hingga jam 10 malam engkau memberi les privat dari rumah ke rumah. Namun kau tak pernah kelihatan mengeluh atau capek. Mungkin yang terbaik untukmu adalah terus menjadi guru. Guru itu kaya nak, kau dapat amalkan kekayaan ilmu titipan Allah terus menerus setiap hari. Jangan pernah berhenti selama masih hidup. Ilmu itu tak pernah mati; walau suatu saat kita dipanggil oleh-Nya, ilmu itu tetap hidup dan terus berkembang."
"Terima kasih Bu atas saran, motivasi, dan doanya. Insya Allah saya dapat melaksanakan saran Ibu. Ibu bagaikan ibu keduaku dalam hidup ini."
"Ya nak, kau tahu aku tak punya anak. Kau bagaikan anakku sendiri. Ku dapat membaca apa yang sedang kau pikirkan. Sekarang pulanglah, engkau masih harus membantu ibumu."
"Ya Bu, terima kasih. Saya masih mau ke rumah murid, mau memberi les. He he he, maaf ya Bu."
Sewaktu duduk di bangku SMA, sejak kelas 1 aku memang menyukai kimia. Tiga tahun aku diajar oleh Bu Mardiyah. Hari ini banyak sekali kejadian bersama beliau terus bermunculan di kepalaku. Oh ... banyak sekali yang ku ingat. Saat di kelas 1, suatu hari pada jam istirahat aku bersama teman-teman lari ke kantin membeli tempe dan tahu goreng yang dimakan dengan sambal petis. Antrian panjang sekali; namun karena badanku kecil, aku suka mencari kesempatan untuk menyusup masuk dan tahu-tahu sudah sampai di depan murid kelas 3 yang suka menggoda. Hi hi hi lumayan, dia mengalah. Eh ... setelah dapat gorengannya terus makan dan waduh ... bel tanda masuk kelas berbunyi. Kami lari ... oh Bu Mar sudah di dalam kelas. Teman-teman meloncat jendela belakang dan duduk di bangku terdekat yang kosong. Ya sudah, aku meloncat juga. Namun aku kan kecil, eh jendelanya agak tinggi. Selagi aku berhasil duduk di atas jendela dan akan turun, eh ... telingaku ada yang memegang.
"Ayo ... ketahuan ya, loncat jendela."
"Maaf Bu, ampun ... sakit."
"Sini berdiri di depan ... angkat kakimu yang satu, ayo angkat. Ya ... angkat kedua tanganmu, pegang telingamu."
"Bu ... saya malu, saya tidak akan melakukannya lagi."
Hanya sekali aku dihukum oleh Bu Mar, setelah itu aku tak berani lagi melakukannya. Selain malu, aku tak tega. Beliau baik sekali, tak pernah marah. Hanya kadang-kadang jengkel. Waktu itu sebenarnya bukan pelajaran kimia, namun beliau menggantikan guru yang tidak masuk. Beliau menggeleng-gelengkan kepala. Wah ... aku benar-benar malu. Bayangkan, aku suka kimia, nilai selalu 90 - 100. Tak pernah di bawahnya.
Naik ke kelas 2 nilai kimiaku makin baik, hampir setiap ulangan mendapat 100. Pernah kertas ulangan ditarik dan diambil oleh teman-teman, eh sudah 10 menit belum juga dikembalikan. Yah ... segera aku menulis lagi. Lima menit sebelum bel, selesailah sudah. Kertas ulanganku ternyata dikembalikan 2 menit sebelum bel. Oh ... kertas itu kumal dan ujungnya tersobek. Untung aku sudah menulis lagi.
Di kelas 3 bangkunya panjang, untuk 4 orang. Aku duduk di deretan bangku pertama di sisi kiri. Aku masih ingat; berturut-turut dari kiri ke kanan: Nur Hidayati, Etna, Syafi'i, dan Pungky. Selama di kelas 3 Bu Mar makin perhatian dan aku makin menyukai cara mengajarnya, humor dan disiplinnya. Beliau terus berpesan agar aku menjadi guru kimia.
Setelah lulus SMA tahun 1969, aku masuk ke FKIE IKIPN Surabaya jurusan kimia. Karena aku dan kakakku sibuk bekerja membantu ibu, maka nilaiku di IKIP tak sebagus waktu SMA. Namun, lumayanlah aku tak pernah ujian ulang. Aku tiap hari naik sepeda engkol, berangkat pagi dan pulang sekitar jam 10 malam. HR-ku sebagai guru privat lumayan dapat membantu ibu. Semenjak Bapak wafat, aku sekolah sambil bekerja.
Tahun 1973 bulan Februari aku praktik mengajar di SMAN 3, Gentengkali Surabaya, ya ... sekolah tempat aku mengajar hingga purna tugas. Awalnya tak terasa bahwa dalam mengajar, aku selalu menggunakan cara-cara yang digunakan oleh bu Mardiyah. Disiplin, humor, cara-cara praktis untuk menalar konsep, trik-trik nalar untuk menghindari trik hafalan, ternyata mirip sekali dengan Bu Mar. Terima kasih Ya Allah, Engkau kirimkan kepadaku seorang guru handal seperti almarhumah Ibu Mardiyah, ternyata hamba mengidolakannya. Setiap hamba akan melakukan sesuatu yang berbeda, hamba selalu ingat pada beliau. Terimalah Ibu Mardiyah di sisimu Ya Allah beserta amal ibadahnya. Atas ijin-Nya aku ingin terus mengamalkan kimia dan pendidikan karakter yang telah beliau ajarkan, sampai akhir hayat, seperti yang beliau pesankan kepadaku.
Setelah aku menjadi guru di SMAN 3 Surabaya yang kemudian berubah menjadi SMPPN dan berubah lagi menjadi SMAN 16, aku sering berkunjung ke Bu Mar di sekolahku dahulu. Beliau tetap mengajar kimia di SMAN 5 Surabaya. Beliau selalu menciumku, bangga sekali melihatku. SMAN 5 sebenarnya memintaku untuk mendampingi Bu Mar mengajar, namun kepala sekolahku tak mengijinkan. Kuceritakan kepada beliau bahwa cara mengajarku ternyata mirip beliau, eh ... lha kok beliau menangis dan aku diciuminya. Di tahun 1980 aku menjadi asisten instruktur PKG IPA Jatim, beliau sangat bangga dan puas. Sekitar tahun 1983 aku menjadi guru inti, beliau rajin hadir dan malahan banyak bertanya kepadaku tentang perkembangan kimia.
Suatu hari di tahun 1986 aku berada di BPG Surabaya menjadi instruktur sedang melatih guru kimia se Jatim. Pada hari pertama pelatihan ternyata aku diminta untuk mengambil asisten instruktur sebanyak 2 (dua) orang, karena pesertanya banyak. Aku segera menghubungi Ibu Kustiari dari SMAN 4 Surabaya dan Ibu Mardiyah dari SMAN 5 Surabaya, guruku sendiri. Ternyata beliau berdua langsung hadir sekitar jam 11 siang. Beliau berdua sangat gembira kulibatkan dalam penataran ini, Bu Mar berkelakar:
"He he he ... Kebo nyusu gudel. Memang sudah jamannya, kita yang tua harus belajar dari anaknya."
Komentarku: "Eh Bu tidak begitu, saya membutuhkan Ibu berdua untuk membimbingku."
Beliau berdua tertawa: "Hua ha ha ha. Ya ya ya kami siap membantu, namun sebenarnya kamu bisa sendirian."
Begitulah kami bertiga bekerjasama. Senang rasanya. Banyak humor, namun tetap disiplin. Lelah dan bosan tak pernah kami rasakan.
Pada tahun 1988 aku di kirim ke London, beliau makin bangga. Namun sebelum aku berangkat beliau menitip pesan untuk terus berbuat yang terbaik, meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsa, membuat Indonesia menjadi lebih baik. Ternyata itulah pesan terakhir dari beliau sebelum wafat. Saat aku berada di Inggris, aku ditelpun bahwa 2 (dua) hari yang lalu beliau telah wafat dan sebelumnya memanggil namaku dan menanyakan aku. Innalillahi wa innaillaihi roji'un. Terimalah Ibu Mardiyah di sisimu Ya Allah beserta amal ibadahnya dan ampuni dosa-dosanya. Oh ibu, maafkan aku tak berada di sampingmu pada saat-saat terakhir. Ya Allah benar-benar Ibu Mardiyah ini ibu keduaku dan Guru Idolaku.
Ibu tanggal 25 Nopember 2016 adalah hari Guru. Harimu Ibu, juga hariku. Insya Allah aku terus dapat berbuat yang terbaik seperti yang ibu pesankan, menjadi guru hingga akhir hayat.

**Selesai**
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top