test

Cerpen Gara-gara Shampo (Serial Uron) Karya Aang Irawan


Gara-gara Shampo (Serial Uron)
Oleh : Aang Irawan

Pagi ini Diman teman Uron marah-marah, hilang mimik polos dari muka. Rambut acak-acakkan, benda tidak bersalah jadi pelampiasan. Uron penasaran , tapi segan pula dia bertanya. Memang orang kalau sedang marah itu aneh, jangankan punya tampang standar, orang rupawan saja kalau lagi marah tetap menawan, eh.
"Shampo setan! Shampo siluman! Sialan!" teriak Diman mengubarak-abrik wadah sabun mandinya.
Uron lamakelamaan tidak tega melihat kawan kerasukan, akhirnya memberanikan bertanya, "Shamponya hilang, Man?"
"Nanya lagi! Bantu nyari, kek!" maklum lagi marah, orang perhatian saja dibentak sampai berjingkat.
"Hehe. Selow ... selow ... memang shampo apa, Man? Perasaan aku tak pernah lihat kau pakai shampo."
"Shampo rambut, lah! Warna hijau merknya Sunlight!"
"Masya Karim!" Uron melongo, teringat sesuatu, "kemarin aku pakai nyuci piring sama kuali. Kirain itu sabun, Man."
Demi mendengar shampo kesayangan digunakan untuk mencuci piring, kemarahan Diman meningkat. Hampir saja Uron dilabrak, untungnya tidak jadi ia keburu menyadari sesuatu.
"Eh, emang itu sabun cuci piring, Kang?"
"Iya, Man. Di warung Bu Nyai juga banyak tuh."
"Ck ... ck ... ck ..! Berarti bapak Neng Swarni, nih yang picek!"
"Lah, memang kenapa nyalahin orang lain?"
"Shampo itu dari beliau. Katanya biar rambut saya lurus dan Neng Swarni suka sama saya, Kang."
"Wah, kau ditipu, tuh!" seru Uron lantang "Anak muda, engkau terlalu terobsesi sama Swarni. Sampai apapun kata orang yang bisa menarik perhatian Swarni, kaulakukan tanpa tabayyun dulu."
"Waduh, berani amat Akang memprovokasi." Memang cinta bikin picek, orang memberi masukan malah dikira mengganggu ketenangan.
Beruntung pagi ini Uron disinggahi cuaca kalem, ia tidak kaget mendapati Diman tersinggung.
"Gini aja, deh, Man. Mari ke mall Haji Duyeh."
"Mau apa, Kang?"
"Ikut saja."
Diman menurut, mereka berjalan kaki ke tempat yang dimaksud. Mall Haji Duyeh terletak seberang gang pesantren, tidak memakan waktu lama untuk sampai di sana.
Toko tersebut mirip tempat perbelanjaan modern. Segala sesuatu tertata di rak sesuai jenis dan kelas masing-masing. Diman sampai bingung ini mau dagang apa pameran. Maklum tidak pernah sekolah pemasaran, makanya tidak paham kalau membingungkan pengunjung katro adalah salah satu teknik memasarkan produk.
"Yuk, kita masuk konter itu." Uron menarik tangan Diman yang plonga-plongo melihat pramuniaga cantik-cantik.
"Toilet, Kang?" Diman tersadar langsung bertanya.
"Iya, segala keperluan toilet ada di sana. "Uron tidak kalah katro ternyata, kendati itu benar, "Coba kau tanyakan shampo sama mbak cantik yang lagi merapikan dagangan itu, kalau kau dia nunjuk tempat sabun cuci piring. Berarti Bapak Swarni benar."
Dengan langkah semangat Diman menghampiri pramuniaga tersebut. Terlihat dilayani dengan ramah, sampai muka pemuda itu seperti kepiting rebus. Diman sulit membedakan antara dilayani sama dirayu. 'Bikin baper' pikirnya salah tingkah.
Tidak lama Diman kembali menghampiri Uron dengan cengir polosnya.
"Akang benar, saya dibodohi Bapak Neng Swarni. Tapi tidak apa, sebab baru saja say mendapat nomer hp si mbak tadi. Hehehe." Gila, ternyata Diman ini malu-malu mematikan juga. Uron sampai terngannga, hampir saja ia pun melakukan hal yang sama untuk mendapatkan nomer telepon si mbak. Namun Diman menariknya, takut tersaingi.
"Ayok pulang, Kang."
"Nanti dulu, aku juga mau kenal sama cewek cantik, Man."
"Ayo pulang, Kang. Nanti kita terlambat ngaji."
Uron mengalah, pasrah ditarik pulang. Meski sedikit menyesal kenapa bukan ia yang menanyakan sendiri. Tentu takkan keduluan Diman.
Sampai di pondok ternyata hari ini ngajinya libur, Guru Sepuh sedang menemani Bu Nyai berobat. Alhasil Diman berteriak girang, karena ia bermaksud menelepon si mbak pramuniaga cantik sekarang.
"Horee! Jangan ngiler, ye ...." Diman membuat Uron mendengus.
Satu ... dua ... ti ....
"Nomer yang anda tuju tidak terdaftar."
"Lah! Coba sekali lagi."
"Nomer yang anda tuju tidak terdaftar."
Berkali-kali Diman menelpon nomer tersebut hasilnya tetap sama. Jelas saja dia kembali gila, marah-marah merasa dipermainkan. Bagaimana tidak, benih harap yang baru tertanam, hilang tidak berbekas ditelan kenyataan.
"Nomer yang anda tuju tidak terdaftar."
"Huahahahaha ...." meledaklah tawa Uron, mengiringi muka kucel Diman.

** Selesai **
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top