test

Cerpen Gara-gara Cinta Karya Achenk Koesnoisme


Gara-gara Cinta
Oleh: Achenk Koesnoisme


Di malam yang sunyi dan langit gelap berhias kilauan petir. Terlihat di bawah pohon timbul depan rumah Bu Lurah. Etna, sosok lelaki tanpa baju sedang menyanyikan lagu Slank.
"Mencintai kamu jadi enggak doyan sama makan. Badan gue kurus, capek ngelayani kamu. Bal ...."
"Chenk ...." Suara Bu Lurah Etna menghentikan nyanyian Achenk. "Sudah malam, jangan ganggu warga yang sudah tidur!" ucap Bu Lurah.
Tanpa berani membantah, Achenk pun segera meninggalkan tempat tersebut. Di tengah jalan Achenk bertemu dengan Teh Ertina Tapat, artis orgen tunggal dan sekaligus bunga desa.
"Ai loph u, Teh Ertina," ucap Achenk sambil memamerkan gigi tonggosnya.
"I love you too, Achenk. Muuuach ...," sahut Teh Ertina sambil cium jauh, lalu masuk rumah.
Mendapat jawaban dari Teh Ertina, Achenk terlihat begitu gembira sambil berlari dan sesekali melompat-lompat di sepanjang jalanan. Padahal sebenarnya sikap Teh Ertina hanya ingin menyenangkan Achenk yang memiliki kelainan jiwa.
-o{KWE}o-
Sementara di warung kopi Bude Purwanti, terlihat Mbah Sapu yang duduk di pojokan. Sambil memegang bunga kamboja yang baru ia petik dari TPU, lalu mengungkapkan sesuatu.
"Bude, mau teu jadi kabogoh urang?"
"Njenengan naksir aku, Mbah?"
"He em," Mbah Sapu mengangguk.
"Gimana ceritane njenengan suka sama saya, Mbah? Kan njenengan sudah punya istri?"
"Bude teh teu perlu khawatir. Pamajikan urang teh aya di kampung, jadi kita teh aman menjalin cinta di sini," jelas Mbah Sapu mencoba meyakinkan Bude Purwanti.
Bude Purwanti tersenyum sambil menatap nakal bibir seksi Mbah Sapu, lalu menciumnya. Tapi, mencium bunga yang ada di tangan Mbah Sapu.
Sedang asyik mereka berdua memadu kasih layaknya dua sejoli. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara keributan.
"Mbak Shanum jangan merasa paling cantik, jadi bisa seenaknya tebar pesona sama suami saya!"
"Ya Allah ... sumpah, Mbak. Aye kagak ada sama sekali niatan buat ngambil suami Mbak," sahut Mbak Shanum yang meneteskan air mata baper.
"Sudahlah ndak usah pakek sumpah-sumpah. Saya punya banyak saksinya!" ucap Bu Ika penuh amarah. "Awas kalo besok saya dengar sampean masih begitu lagi sama suami saya, saya ndak akan segan-segan membakar hidup-hidup suami saya. Eh, sampean!"
Kemudian Mbak Ika kembali pulang dengan rasa lega, telah berhasil meluapkan semua amarahnya.
"Bang ... abang kok diem aje aye digituin Mbak Ika?"
Tanpa menjawab, Pak Yan pun langsung masuk kamar.
"Abang percaye ye ame omongan Mbak Ika ...? Ihh ... nyebelin banget!"
Karena merasa kecewa akan sikap suaminya yang lebih mempercayai ucapan orang lain. Mbak Shanum yang seperti putus asa, melangka gontai menuju garasi odong-odong dengan obat nyamuk bakar di tangannya.
"Neng jangan bodoh! Emangnye dengan bunuh diri bise nyelesein masaleh?"
Pak Yan yang diam-diam mengikuti Mbak Shanum, langsung mendekap dari belakang dan membuang obat nyamuk tersebut.
"Yee ... siape juga yang mau bunuh diri, Bang? Orang aye mau tidur di mari, karena ntu aye bawa obat nyamuk!"
-o{KWE}o-
Di sisi lain, Mbak Ika langsung menghubungi sahabat terbaiknya untuk menceritakan apa yang baru saja ia lakukan.
"Bagus lo, Ka. Sebagai seorang wanita, lo harus bisa ngejaga harga diri lo. Jangan ampek laki lo pergi kepelukan wanita lain!" ucap Mami Nur Yati, si tukang kompor yang menggebu-gebu bagai orator demo.
"Oh iya, memangnya kamu tau dari siapa sih, Mbak Shanum barbuat gitu sama suamiku, Noey?" tanya Mbak Ika yang menelpon dari kamar mandi.
"Kagak dari siape-siape. Cuma feeling gue aje mengatakan begitu."
"Lah, berarti kamu ndak punya saksi dan bukti dong, Noey?"
"Kagak."
"Hadeuh ...."
-o{KWE}o-
Esok harinya, pagi kembali menyapa Kampung Wong Edan. Terlihat bulir-bulir embun masih membasahi dedaunan, dan langit terlihat sangat cerah pagi itu.
"Kamu mau ke mana, Chenk? Tumben pakai baju?"
"Mau ke rumah pacar saya, Bu."
"Sudah sarapankah?"
"Belum, cuma ngopi doang, Bu."
"Cepat pulang dan jangan keluar rumah sebelum sarapan!"
Amuk Bu Lurah. Etna yang sedang menerapkan progeram wajib sarapan bagi semua warga, kecuali yang sedang berpuasa.
"Loh, Mas Achenk kok balik lagi?"
"Saya dusuruh pulang ame Bu Lurah gara-gara belum sarapan, Mbak RT."
Mendengar itu, Bu RT. Linda yang terbiasa tak pernah sarapan, langsung berlari karena takut bertemu Bu Lurah.
Beberapa menit kemudian, Achenk yang sudah sarapan, kembali melaksanakan niatnya untuk menemui sang pujaan hati. Sesampai di depan rumah berpagar besi warna hijau, matanya terbelalak ketika menyaksikan Teh Ertina memasuki sebuah mobil sport bersama seorang lelaki. Achenk pun merasa tersambar petir di cerahnya hari. Dengan hati yang remuk, ia kembali melepas bajunya sambil kembali menyanyikan lagu Slank di sepanjang jalanan.
"Cinta ...? Setelah melukai masih bilang cinta. Setelah mengkhianati masih bilangin cinta. Kau gak punya otak hanya itu yang bisa, kau ucapkan cinta."
Pletak ....
Sebuah sapu terbang mendarat tepat pada kening Achenk.
"Woy ...! Kambing siapa ini? Pagi-pagi kok sudah dilepas!" ucap Kak Elya, si emak rabun setelah melemparkan sapu.
-o{KWE}o-
Terkadang karena cinta, seseorang bisa melakukan apapun. Sampai ada berani malakukan hal gila yang membahayakan nyawanya. Padahal, sesungguhnya adanya cinta bukan untuk saling menyakiti.
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top