Wednesday, November 30, 2016

Download HTTP Injector 4.1.0_58 Apk Terbaru

Download HTTP Injector 4.1.0_58 Apk Terbaru

HTTP Injector adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.




Download HTTP Injector 4.1.0_58 Apk Terbaru




Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

** Link rusak lapor di komentar / di contact **

Download HTTP Injector 4.1.0_57 Apk Terbaru

Download HTTP Injector 4.1.0_57 Apk Terbaru

HTTP Injector adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.




Download HTTP Injector 4.1.0_57 Apk Terbaru



Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

** Link rusak lapor di komentar / di contact **

Thursday, November 24, 2016

Download Config Http Injector Axis Sawer Unlimited Unlock SSH Terbaru

Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Terbaru 24 November 2016

HTTP Injector adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.




Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Terbaru 24 November 2016

Download Http Injector Terbaru



Axis Unlimited Unlock SSH 24 November 2016


Status : 200 OK

*Harus Sawer

Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

** Link rusak lapor di komentar / di contact **

Wednesday, November 23, 2016

Cerpen Gara-gara Cinta Karya Achenk Koesnoisme

Cerpen Gara-gara Cinta Karya Achenk Koesnoisme


Gara-gara Cinta
Oleh: Achenk Koesnoisme


Di malam yang sunyi dan langit gelap berhias kilauan petir. Terlihat di bawah pohon timbul depan rumah Bu Lurah. Etna, sosok lelaki tanpa baju sedang menyanyikan lagu Slank.
"Mencintai kamu jadi enggak doyan sama makan. Badan gue kurus, capek ngelayani kamu. Bal ...."
"Chenk ...." Suara Bu Lurah Etna menghentikan nyanyian Achenk. "Sudah malam, jangan ganggu warga yang sudah tidur!" ucap Bu Lurah.
Tanpa berani membantah, Achenk pun segera meninggalkan tempat tersebut. Di tengah jalan Achenk bertemu dengan Teh Ertina Tapat, artis orgen tunggal dan sekaligus bunga desa.
"Ai loph u, Teh Ertina," ucap Achenk sambil memamerkan gigi tonggosnya.
"I love you too, Achenk. Muuuach ...," sahut Teh Ertina sambil cium jauh, lalu masuk rumah.
Mendapat jawaban dari Teh Ertina, Achenk terlihat begitu gembira sambil berlari dan sesekali melompat-lompat di sepanjang jalanan. Padahal sebenarnya sikap Teh Ertina hanya ingin menyenangkan Achenk yang memiliki kelainan jiwa.
-o{KWE}o-
Sementara di warung kopi Bude Purwanti, terlihat Mbah Sapu yang duduk di pojokan. Sambil memegang bunga kamboja yang baru ia petik dari TPU, lalu mengungkapkan sesuatu.
"Bude, mau teu jadi kabogoh urang?"
"Njenengan naksir aku, Mbah?"
"He em," Mbah Sapu mengangguk.
"Gimana ceritane njenengan suka sama saya, Mbah? Kan njenengan sudah punya istri?"
"Bude teh teu perlu khawatir. Pamajikan urang teh aya di kampung, jadi kita teh aman menjalin cinta di sini," jelas Mbah Sapu mencoba meyakinkan Bude Purwanti.
Bude Purwanti tersenyum sambil menatap nakal bibir seksi Mbah Sapu, lalu menciumnya. Tapi, mencium bunga yang ada di tangan Mbah Sapu.
Sedang asyik mereka berdua memadu kasih layaknya dua sejoli. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara keributan.
"Mbak Shanum jangan merasa paling cantik, jadi bisa seenaknya tebar pesona sama suami saya!"
"Ya Allah ... sumpah, Mbak. Aye kagak ada sama sekali niatan buat ngambil suami Mbak," sahut Mbak Shanum yang meneteskan air mata baper.
"Sudahlah ndak usah pakek sumpah-sumpah. Saya punya banyak saksinya!" ucap Bu Ika penuh amarah. "Awas kalo besok saya dengar sampean masih begitu lagi sama suami saya, saya ndak akan segan-segan membakar hidup-hidup suami saya. Eh, sampean!"
Kemudian Mbak Ika kembali pulang dengan rasa lega, telah berhasil meluapkan semua amarahnya.
"Bang ... abang kok diem aje aye digituin Mbak Ika?"
Tanpa menjawab, Pak Yan pun langsung masuk kamar.
"Abang percaye ye ame omongan Mbak Ika ...? Ihh ... nyebelin banget!"
Karena merasa kecewa akan sikap suaminya yang lebih mempercayai ucapan orang lain. Mbak Shanum yang seperti putus asa, melangka gontai menuju garasi odong-odong dengan obat nyamuk bakar di tangannya.
"Neng jangan bodoh! Emangnye dengan bunuh diri bise nyelesein masaleh?"
Pak Yan yang diam-diam mengikuti Mbak Shanum, langsung mendekap dari belakang dan membuang obat nyamuk tersebut.
"Yee ... siape juga yang mau bunuh diri, Bang? Orang aye mau tidur di mari, karena ntu aye bawa obat nyamuk!"
-o{KWE}o-
Di sisi lain, Mbak Ika langsung menghubungi sahabat terbaiknya untuk menceritakan apa yang baru saja ia lakukan.
"Bagus lo, Ka. Sebagai seorang wanita, lo harus bisa ngejaga harga diri lo. Jangan ampek laki lo pergi kepelukan wanita lain!" ucap Mami Nur Yati, si tukang kompor yang menggebu-gebu bagai orator demo.
"Oh iya, memangnya kamu tau dari siapa sih, Mbak Shanum barbuat gitu sama suamiku, Noey?" tanya Mbak Ika yang menelpon dari kamar mandi.
"Kagak dari siape-siape. Cuma feeling gue aje mengatakan begitu."
"Lah, berarti kamu ndak punya saksi dan bukti dong, Noey?"
"Kagak."
"Hadeuh ...."
-o{KWE}o-
Esok harinya, pagi kembali menyapa Kampung Wong Edan. Terlihat bulir-bulir embun masih membasahi dedaunan, dan langit terlihat sangat cerah pagi itu.
"Kamu mau ke mana, Chenk? Tumben pakai baju?"
"Mau ke rumah pacar saya, Bu."
"Sudah sarapankah?"
"Belum, cuma ngopi doang, Bu."
"Cepat pulang dan jangan keluar rumah sebelum sarapan!"
Amuk Bu Lurah. Etna yang sedang menerapkan progeram wajib sarapan bagi semua warga, kecuali yang sedang berpuasa.
"Loh, Mas Achenk kok balik lagi?"
"Saya dusuruh pulang ame Bu Lurah gara-gara belum sarapan, Mbak RT."
Mendengar itu, Bu RT. Linda yang terbiasa tak pernah sarapan, langsung berlari karena takut bertemu Bu Lurah.
Beberapa menit kemudian, Achenk yang sudah sarapan, kembali melaksanakan niatnya untuk menemui sang pujaan hati. Sesampai di depan rumah berpagar besi warna hijau, matanya terbelalak ketika menyaksikan Teh Ertina memasuki sebuah mobil sport bersama seorang lelaki. Achenk pun merasa tersambar petir di cerahnya hari. Dengan hati yang remuk, ia kembali melepas bajunya sambil kembali menyanyikan lagu Slank di sepanjang jalanan.
"Cinta ...? Setelah melukai masih bilang cinta. Setelah mengkhianati masih bilangin cinta. Kau gak punya otak hanya itu yang bisa, kau ucapkan cinta."
Pletak ....
Sebuah sapu terbang mendarat tepat pada kening Achenk.
"Woy ...! Kambing siapa ini? Pagi-pagi kok sudah dilepas!" ucap Kak Elya, si emak rabun setelah melemparkan sapu.
-o{KWE}o-
Terkadang karena cinta, seseorang bisa melakukan apapun. Sampai ada berani malakukan hal gila yang membahayakan nyawanya. Padahal, sesungguhnya adanya cinta bukan untuk saling menyakiti.

Cerpen Kisah Indah Di Ujung Senja Karya Achenk Koesnoisme

Cerpen Kisah Indah Di Ujung Senja Karya Achenk Koesnoisme


Kisah Indah Di Ujung Senja
Oleh : Achenk Koesnoisme


Senja di deretan lapak kaki lima. Tampak goresan cemas terlukis tajam pada wajah pedagang bubur, yang sedari pagi hanya menjual seporsi bubur kacang ijo.
"Njenengan itu kenapa toh, Cak? Lagi galaukah?"
"Saya ndak pa-apa, Mbak?"
"Ndak apa-apa kok wajahnya dijelek-jelekin gitu?" tanya Mbak Endasari. "Baru putus sama pacarnya, yo? Apa, ditinggal nikah? Atau jangan-jangan orang tua pacarnya ndak mau ngasih restu?"
Bukan Mbak Endasari namanya, kalau tidak memberikan pertanyaan bertubi-tubi. Pantas saja dia mendapat julukan, Mis Kepo.
Tanpa menjawab pertanyaan tadi, Cak Alif membereskan dagangannya sambil berkata, "Saya mau pulang duluan, Mbak. Tambah sore, tambah sepi."
"Pacarnya lagi hamil yo, Cak?"
"Sembarangan sampean, Mbak. Saya itu bingung karena dagangan saya ndak ku-laku dari pagi, ta'iye," ucap Cak Alif sambil beres-beres.
"Njenengan masih enak, Cak. Ndak laku masih bisa dimakan sendiri, atau ditukar pahala dengan membagikannya ke tetangga sing butuh. Lah saya jual es, biar ndak laku yo tetep entek. Duit entek, dagangan entek."
Cak Alif hanya 'nyengir' sambil siap-siap mendorong gerobaknya.
"Ntop ...! Au e ana, lo?"
"Mau pulang, Mbak. Dari tadi sepi, ta'iye."
"Nak aja, lo. Ayal ulu uang apak!"
Terlihat Le Bintang Pagi, preman kampung yang sudah langganan keluar masuk bui, meminta upeti.
"Saya bayar bubur saja ya, Mbak? Soalnya hari ini sepi
sekali, ta'iye."

"Ue gak utuh ubur, ue utuh uit uat abok!"
Karena takut, Cak Alif pun memberikan uang lima ribu yang cuma satu-satunya hasil jualan hari ini.
Anehnya, Mbak Endasari yang biasanya hoby bertanya, saat ada Preman Le kebiasaanya itu seketika menghilang.
-o{KWE}o-
Di tengah jalan, Cak Alif bertemu dengan Hansip Airi yang selalu terlihat gagah dengan seragam ijo lumut dan pentungan menyentel pada sabuknya.
"Sore, Mbak Hansip," sapa Cak Alif sambil mendorong gerobaknya.
"So-so ... re, Cak. Cem-cem ... mana da-da ... gang i-i ... ni hari?" tanya Hansip Airi.
"Sepi sekali, ta'iye."
"Se-se ... be-be ... narnya a-a ... wak pe-pe ... ngen kali ma-ma ... kan bu-bu ... bur ko. Ta-ta ... pi a-a ... wak be-be ... lum gajian, Ca-ca ... Cak."
Tanpa banyak bicara, Cak Alif yang paham maksud dan tujuan Hansip Airi, segera memberikan sebungkus bubur ketan item.
"Ma-ma ... kasih, Cak. Ka-ka ... lo a-a ... da yang gang-gang ... gu lapak ko, bi-bi ... lang sa-sa ... sama awak," ucap Hansip Airi setelah mendapat bubur gratis.
Mendengar itu Cak Alif langsung 'curhat' tentang perlakuan Preman Le padanya.
"Bah! Be-be ... rani ka-ka ... li ku-ku ... ti-ti ... lang itu, di-di wilayah awak!"
Akhirnya sambil membawa sebungkus bubur ketan item, Hansip Airi langsung berniat mencari Preman Le.
Sepeninggal Hansip Airi, Cak Alif yang hendak kembali mendorong gerobaknya. Tiba-tiba dihentikan oleh Pak Yan, tukang odong-odong.
"Lip, bungkusin gue bubur kacang ijo lima porsi, dong."
"Buat leh-oleh keluarga di rumah ya, Pak?"
"Iye nih, Lip. Sebenernye sih bini gue yang pingin banget ame bubur lo. Tapi, rasenye kagak adil kalo gue kagak beliin anak-anak juga," ucap Pak Yan yang turun dari odong-odongnya.
"Sungguh bapak yang baik."
Sambil membungkus pesanan Pak Yan, Cak Alif menceritakan apa yang ia alami hari ini.
"Sabar, Lip. Ntu ujiannye orang usahe. Lagian lo udeh dapet gantinye dari gue," jelas Pak Yan menasehati.
"Ma kasih, Pak," ucap Cak Alif sambil memberikan bubur.
"Loh, kok ada enam bungkus, Lip?"
"Iya, Pak. Satunya buat yang di dalam perut, ta'iye."
"Kok lo tau bini gue hamil lagi, Lip?"
"He he he ..., isri Pak Yan kan kalo yang-siang suka pon-telponan sama saya, ta'iye. Opss ... keceplosan."
-o{KWE}o-
"Ku-ku ... tilang, cem-cem ... mana pu-pu ... la ko be-be ... rani me-me ... ngaco di-di wilayah a-a ... wak?"
"Mong apa cih, lo? Ue ucing engelna."
"A-a ... wak pu-pu ... pun pu-pu ... sing kali, de-de ... ngar ko ca-ca ... kap!"
"Gak sah anyak omong lo, ayo ita atem aja di ini!"
"Tu-tung ... gu lah be-ben ... tar, a-a ... wak ma-ma ... kan bu-bu ... bur du-du ... dululah," Hansip Airi mengeluarkan sebungkus bubur dari saku celananya.
"Agi dong, Ai. Ikit aja."
"Ya su-su ... dah, si-si ... ni lah. Ki-ki ... ta ma-ma ... kan be-ber ... dua, bi-bi ... ar ka-ka ... kalo na-na ... nanti berantem sa-sa ... ma kuatnya."
TAMAT ....
-o{KWE}o-
Senja sering dinantikan untuk mengetahui hasil pencapaian. Senja juga sering dijadikan tempat memadu kasih. Apapun itu, semoga kita selalu dapat bertemu senja dalam keadaan sehat jiwa dan raga. Aamiin ....

Sunday, November 20, 2016

Cerpen Kuikuti Jejakmu Guru Oleh Etna Rufiati

Cerpen Kuikuti Jejakmu Guru Oleh Etna Rufiati


Kuikuti Jejakmu Guru
Oleh : Etna Rufiati

Guru, hari ini aku sengaja menulis sesuatu untukmu. Aku ingin mengingatmu ... saat-saat bersamamu. Ya Allah, mengapa airmata ini menetes membasahi pipi? Sedang hamba masih menulis 2 baris kalimat. Hamba ingin tulisan ini dapat dibaca oleh siapa saja, sebelum Peringatan Hari Guru pada 25 Nopember 2016. Aku tak sanggup membendung airmata bahagia ini. Ya ... aku bahagia, karena "Telah Kuikuti Jejakmu, Guruku Sayang."
Tulisan ini kutujukan untuk Guru tercinta, Almarhumah Ibu Mardiyah. Ibu, wajahmu tampak begitu jelas, senyum kepuasan, kebanggaan, keikhlasan, dan rasa syukurmu tak mungkin kulupakan. Masih terngiang ditelinga saranmu Ibu:
"Anakku, jadilah seorang guru kimia, sebagai penggantiku kelak."
"Insya Allah, Bu. Saya memang sudah menjadi guru cilik sejak SMP. Saya menyukai pekerjaan ini."
"Ya, aku dengar seperti itu. Pulang sekolah hingga jam 10 malam engkau memberi les privat dari rumah ke rumah. Namun kau tak pernah kelihatan mengeluh atau capek. Mungkin yang terbaik untukmu adalah terus menjadi guru. Guru itu kaya nak, kau dapat amalkan kekayaan ilmu titipan Allah terus menerus setiap hari. Jangan pernah berhenti selama masih hidup. Ilmu itu tak pernah mati; walau suatu saat kita dipanggil oleh-Nya, ilmu itu tetap hidup dan terus berkembang."
"Terima kasih Bu atas saran, motivasi, dan doanya. Insya Allah saya dapat melaksanakan saran Ibu. Ibu bagaikan ibu keduaku dalam hidup ini."
"Ya nak, kau tahu aku tak punya anak. Kau bagaikan anakku sendiri. Ku dapat membaca apa yang sedang kau pikirkan. Sekarang pulanglah, engkau masih harus membantu ibumu."
"Ya Bu, terima kasih. Saya masih mau ke rumah murid, mau memberi les. He he he, maaf ya Bu."
Sewaktu duduk di bangku SMA, sejak kelas 1 aku memang menyukai kimia. Tiga tahun aku diajar oleh Bu Mardiyah. Hari ini banyak sekali kejadian bersama beliau terus bermunculan di kepalaku. Oh ... banyak sekali yang ku ingat. Saat di kelas 1, suatu hari pada jam istirahat aku bersama teman-teman lari ke kantin membeli tempe dan tahu goreng yang dimakan dengan sambal petis. Antrian panjang sekali; namun karena badanku kecil, aku suka mencari kesempatan untuk menyusup masuk dan tahu-tahu sudah sampai di depan murid kelas 3 yang suka menggoda. Hi hi hi lumayan, dia mengalah. Eh ... setelah dapat gorengannya terus makan dan waduh ... bel tanda masuk kelas berbunyi. Kami lari ... oh Bu Mar sudah di dalam kelas. Teman-teman meloncat jendela belakang dan duduk di bangku terdekat yang kosong. Ya sudah, aku meloncat juga. Namun aku kan kecil, eh jendelanya agak tinggi. Selagi aku berhasil duduk di atas jendela dan akan turun, eh ... telingaku ada yang memegang.
"Ayo ... ketahuan ya, loncat jendela."
"Maaf Bu, ampun ... sakit."
"Sini berdiri di depan ... angkat kakimu yang satu, ayo angkat. Ya ... angkat kedua tanganmu, pegang telingamu."
"Bu ... saya malu, saya tidak akan melakukannya lagi."
Hanya sekali aku dihukum oleh Bu Mar, setelah itu aku tak berani lagi melakukannya. Selain malu, aku tak tega. Beliau baik sekali, tak pernah marah. Hanya kadang-kadang jengkel. Waktu itu sebenarnya bukan pelajaran kimia, namun beliau menggantikan guru yang tidak masuk. Beliau menggeleng-gelengkan kepala. Wah ... aku benar-benar malu. Bayangkan, aku suka kimia, nilai selalu 90 - 100. Tak pernah di bawahnya.
Naik ke kelas 2 nilai kimiaku makin baik, hampir setiap ulangan mendapat 100. Pernah kertas ulangan ditarik dan diambil oleh teman-teman, eh sudah 10 menit belum juga dikembalikan. Yah ... segera aku menulis lagi. Lima menit sebelum bel, selesailah sudah. Kertas ulanganku ternyata dikembalikan 2 menit sebelum bel. Oh ... kertas itu kumal dan ujungnya tersobek. Untung aku sudah menulis lagi.
Di kelas 3 bangkunya panjang, untuk 4 orang. Aku duduk di deretan bangku pertama di sisi kiri. Aku masih ingat; berturut-turut dari kiri ke kanan: Nur Hidayati, Etna, Syafi'i, dan Pungky. Selama di kelas 3 Bu Mar makin perhatian dan aku makin menyukai cara mengajarnya, humor dan disiplinnya. Beliau terus berpesan agar aku menjadi guru kimia.
Setelah lulus SMA tahun 1969, aku masuk ke FKIE IKIPN Surabaya jurusan kimia. Karena aku dan kakakku sibuk bekerja membantu ibu, maka nilaiku di IKIP tak sebagus waktu SMA. Namun, lumayanlah aku tak pernah ujian ulang. Aku tiap hari naik sepeda engkol, berangkat pagi dan pulang sekitar jam 10 malam. HR-ku sebagai guru privat lumayan dapat membantu ibu. Semenjak Bapak wafat, aku sekolah sambil bekerja.
Tahun 1973 bulan Februari aku praktik mengajar di SMAN 3, Gentengkali Surabaya, ya ... sekolah tempat aku mengajar hingga purna tugas. Awalnya tak terasa bahwa dalam mengajar, aku selalu menggunakan cara-cara yang digunakan oleh bu Mardiyah. Disiplin, humor, cara-cara praktis untuk menalar konsep, trik-trik nalar untuk menghindari trik hafalan, ternyata mirip sekali dengan Bu Mar. Terima kasih Ya Allah, Engkau kirimkan kepadaku seorang guru handal seperti almarhumah Ibu Mardiyah, ternyata hamba mengidolakannya. Setiap hamba akan melakukan sesuatu yang berbeda, hamba selalu ingat pada beliau. Terimalah Ibu Mardiyah di sisimu Ya Allah beserta amal ibadahnya. Atas ijin-Nya aku ingin terus mengamalkan kimia dan pendidikan karakter yang telah beliau ajarkan, sampai akhir hayat, seperti yang beliau pesankan kepadaku.
Setelah aku menjadi guru di SMAN 3 Surabaya yang kemudian berubah menjadi SMPPN dan berubah lagi menjadi SMAN 16, aku sering berkunjung ke Bu Mar di sekolahku dahulu. Beliau tetap mengajar kimia di SMAN 5 Surabaya. Beliau selalu menciumku, bangga sekali melihatku. SMAN 5 sebenarnya memintaku untuk mendampingi Bu Mar mengajar, namun kepala sekolahku tak mengijinkan. Kuceritakan kepada beliau bahwa cara mengajarku ternyata mirip beliau, eh ... lha kok beliau menangis dan aku diciuminya. Di tahun 1980 aku menjadi asisten instruktur PKG IPA Jatim, beliau sangat bangga dan puas. Sekitar tahun 1983 aku menjadi guru inti, beliau rajin hadir dan malahan banyak bertanya kepadaku tentang perkembangan kimia.
Suatu hari di tahun 1986 aku berada di BPG Surabaya menjadi instruktur sedang melatih guru kimia se Jatim. Pada hari pertama pelatihan ternyata aku diminta untuk mengambil asisten instruktur sebanyak 2 (dua) orang, karena pesertanya banyak. Aku segera menghubungi Ibu Kustiari dari SMAN 4 Surabaya dan Ibu Mardiyah dari SMAN 5 Surabaya, guruku sendiri. Ternyata beliau berdua langsung hadir sekitar jam 11 siang. Beliau berdua sangat gembira kulibatkan dalam penataran ini, Bu Mar berkelakar:
"He he he ... Kebo nyusu gudel. Memang sudah jamannya, kita yang tua harus belajar dari anaknya."
Komentarku: "Eh Bu tidak begitu, saya membutuhkan Ibu berdua untuk membimbingku."
Beliau berdua tertawa: "Hua ha ha ha. Ya ya ya kami siap membantu, namun sebenarnya kamu bisa sendirian."
Begitulah kami bertiga bekerjasama. Senang rasanya. Banyak humor, namun tetap disiplin. Lelah dan bosan tak pernah kami rasakan.
Pada tahun 1988 aku di kirim ke London, beliau makin bangga. Namun sebelum aku berangkat beliau menitip pesan untuk terus berbuat yang terbaik, meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsa, membuat Indonesia menjadi lebih baik. Ternyata itulah pesan terakhir dari beliau sebelum wafat. Saat aku berada di Inggris, aku ditelpun bahwa 2 (dua) hari yang lalu beliau telah wafat dan sebelumnya memanggil namaku dan menanyakan aku. Innalillahi wa innaillaihi roji'un. Terimalah Ibu Mardiyah di sisimu Ya Allah beserta amal ibadahnya dan ampuni dosa-dosanya. Oh ibu, maafkan aku tak berada di sampingmu pada saat-saat terakhir. Ya Allah benar-benar Ibu Mardiyah ini ibu keduaku dan Guru Idolaku.
Ibu tanggal 25 Nopember 2016 adalah hari Guru. Harimu Ibu, juga hariku. Insya Allah aku terus dapat berbuat yang terbaik seperti yang ibu pesankan, menjadi guru hingga akhir hayat.

**Selesai**

Tuesday, November 15, 2016

Download Config HI Axis 0p0k/Sawer Terbaru

Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Terbaru 15 November 2016

HTTP Injector adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.


Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Terbaru 15 November 2016

Download Http Injector Terbaru



Axis Unlimited Unlock SSH 15 November 2016


Status : 200 OK

Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

** Link rusak lapor di komentar / di contact **

Saturday, November 12, 2016

Puisi Menanti Karya Anugrah Putri Filmas

Puisi Menanti Karya Anugrah Putri Filmas


MENANTI
Karya : Anugrah Putri Filmas

Menari di tengah derasnya hujan.
Membuatku lupa segalanya.
Ya aku memang mencintai hujan.
Maka dari itu setiap hujan tiba, aku pasti bahagia.
Kubiarkan rinai hujan membasahi tubuhku.
Membasahi seluruh alam.
Dan membasahi hatiku yang tlah lama kering.
Menanti, menanti dan terus menanti.
Sampai kapankah penantian ini berakhir
Entahlah, mungkin akan sampai pada akhir waktu
Sungguh hatiku tiada berdusta
Mencintaimu sampai pada waktunya
Ketika cintamu harus kau bagi dengannya
Malang nian nasibku
Ditinggal kekasih yang pergi tiada kembali
Namun, rasaku tiada pernah berubah
Aku akan tetap mencintaimu
Sampai akhir masa

Monday, November 07, 2016

Cerpen Gara-gara Shampo (Serial Uron) Karya Aang Irawan

Cerpen Gara-gara Shampo (Serial Uron) Karya Aang Irawan


Gara-gara Shampo (Serial Uron)
Oleh : Aang Irawan

Pagi ini Diman teman Uron marah-marah, hilang mimik polos dari muka. Rambut acak-acakkan, benda tidak bersalah jadi pelampiasan. Uron penasaran , tapi segan pula dia bertanya. Memang orang kalau sedang marah itu aneh, jangankan punya tampang standar, orang rupawan saja kalau lagi marah tetap menawan, eh.
"Shampo setan! Shampo siluman! Sialan!" teriak Diman mengubarak-abrik wadah sabun mandinya.
Uron lamakelamaan tidak tega melihat kawan kerasukan, akhirnya memberanikan bertanya, "Shamponya hilang, Man?"
"Nanya lagi! Bantu nyari, kek!" maklum lagi marah, orang perhatian saja dibentak sampai berjingkat.
"Hehe. Selow ... selow ... memang shampo apa, Man? Perasaan aku tak pernah lihat kau pakai shampo."
"Shampo rambut, lah! Warna hijau merknya Sunlight!"
"Masya Karim!" Uron melongo, teringat sesuatu, "kemarin aku pakai nyuci piring sama kuali. Kirain itu sabun, Man."
Demi mendengar shampo kesayangan digunakan untuk mencuci piring, kemarahan Diman meningkat. Hampir saja Uron dilabrak, untungnya tidak jadi ia keburu menyadari sesuatu.
"Eh, emang itu sabun cuci piring, Kang?"
"Iya, Man. Di warung Bu Nyai juga banyak tuh."
"Ck ... ck ... ck ..! Berarti bapak Neng Swarni, nih yang picek!"
"Lah, memang kenapa nyalahin orang lain?"
"Shampo itu dari beliau. Katanya biar rambut saya lurus dan Neng Swarni suka sama saya, Kang."
"Wah, kau ditipu, tuh!" seru Uron lantang "Anak muda, engkau terlalu terobsesi sama Swarni. Sampai apapun kata orang yang bisa menarik perhatian Swarni, kaulakukan tanpa tabayyun dulu."
"Waduh, berani amat Akang memprovokasi." Memang cinta bikin picek, orang memberi masukan malah dikira mengganggu ketenangan.
Beruntung pagi ini Uron disinggahi cuaca kalem, ia tidak kaget mendapati Diman tersinggung.
"Gini aja, deh, Man. Mari ke mall Haji Duyeh."
"Mau apa, Kang?"
"Ikut saja."
Diman menurut, mereka berjalan kaki ke tempat yang dimaksud. Mall Haji Duyeh terletak seberang gang pesantren, tidak memakan waktu lama untuk sampai di sana.
Toko tersebut mirip tempat perbelanjaan modern. Segala sesuatu tertata di rak sesuai jenis dan kelas masing-masing. Diman sampai bingung ini mau dagang apa pameran. Maklum tidak pernah sekolah pemasaran, makanya tidak paham kalau membingungkan pengunjung katro adalah salah satu teknik memasarkan produk.
"Yuk, kita masuk konter itu." Uron menarik tangan Diman yang plonga-plongo melihat pramuniaga cantik-cantik.
"Toilet, Kang?" Diman tersadar langsung bertanya.
"Iya, segala keperluan toilet ada di sana. "Uron tidak kalah katro ternyata, kendati itu benar, "Coba kau tanyakan shampo sama mbak cantik yang lagi merapikan dagangan itu, kalau kau dia nunjuk tempat sabun cuci piring. Berarti Bapak Swarni benar."
Dengan langkah semangat Diman menghampiri pramuniaga tersebut. Terlihat dilayani dengan ramah, sampai muka pemuda itu seperti kepiting rebus. Diman sulit membedakan antara dilayani sama dirayu. 'Bikin baper' pikirnya salah tingkah.
Tidak lama Diman kembali menghampiri Uron dengan cengir polosnya.
"Akang benar, saya dibodohi Bapak Neng Swarni. Tapi tidak apa, sebab baru saja say mendapat nomer hp si mbak tadi. Hehehe." Gila, ternyata Diman ini malu-malu mematikan juga. Uron sampai terngannga, hampir saja ia pun melakukan hal yang sama untuk mendapatkan nomer telepon si mbak. Namun Diman menariknya, takut tersaingi.
"Ayok pulang, Kang."
"Nanti dulu, aku juga mau kenal sama cewek cantik, Man."
"Ayo pulang, Kang. Nanti kita terlambat ngaji."
Uron mengalah, pasrah ditarik pulang. Meski sedikit menyesal kenapa bukan ia yang menanyakan sendiri. Tentu takkan keduluan Diman.
Sampai di pondok ternyata hari ini ngajinya libur, Guru Sepuh sedang menemani Bu Nyai berobat. Alhasil Diman berteriak girang, karena ia bermaksud menelepon si mbak pramuniaga cantik sekarang.
"Horee! Jangan ngiler, ye ...." Diman membuat Uron mendengus.
Satu ... dua ... ti ....
"Nomer yang anda tuju tidak terdaftar."
"Lah! Coba sekali lagi."
"Nomer yang anda tuju tidak terdaftar."
Berkali-kali Diman menelpon nomer tersebut hasilnya tetap sama. Jelas saja dia kembali gila, marah-marah merasa dipermainkan. Bagaimana tidak, benih harap yang baru tertanam, hilang tidak berbekas ditelan kenyataan.
"Nomer yang anda tuju tidak terdaftar."
"Huahahahaha ...." meledaklah tawa Uron, mengiringi muka kucel Diman.

** Selesai **

Mahkamah Agung Umumkan 1.607 Peserta Lolos Seleksi Calon Hakim

Mahkamah Agung Umumkan 1.607 Peserta Lolos Seleksi Calon Hakim - Mahkamah Agung mengumumkan 1.607 peserta lolos seleksi sebagai calon...