Selasa, Oktober 25, 2016

Textual description of firstImageUrl

Download Film Koala Kumal Terbaru 400 MB+

100 out of 100 based on 100 user ratings

Sinopsis Film Kuala Kumal Terbaru 400 MB+


Sinopsis:
Koala Kumal menceritakan tentang pernikahan yang berakhir batal karena Dika mengetahui pacarnya Andrea selingkuh dengan pria yang bernama James. Karena itu, Dika menjadi patah hati dan mengakibatkan Dika sulit untuk fokus menulis bab terakhir dari buku karyanya. Suatu hari Dika bertemu dengan seorang cewek yang unik bernama Trisna. Trisna membuat Dika tahu sudut pandang dirinya terhadap dunia yang berbeda.


Dika dan Trisna sering jalan bersama, lama kelamaan mereka menjadi akrab. Trisna awalnya berniat membantu Dika untuk menyelesaikan penulisan bab terakhir bukunya, namun dia kemudian menemukan apa sebab mengapa Dika belum juga bisa menyelesaikan projeknya tersebut. Karena Dika masih merasa dikhianati dan patah hati, Trisna ingin membantu Dika untuk tidak patah hati lagi.....


ScreenShot

Minggu, Oktober 23, 2016

Textual description of firstImageUrl

Download Config HI Axis 0p0k/Sawer Terbaru

100 out of 100 based on 100 user ratings

Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Terbaru 23 Oktober 2016

HTTP Injector adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.


Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Terbaru 23 Oktober 2016

Download Http Injector Terbaru



Axis Unlimited Unlock SSH 23 Oktober 2016


Status : 200 OK

Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

** Link rusak lapor di komentar / di contact **

Rabu, Oktober 19, 2016

Textual description of firstImageUrl

Download Config HI Indosat Terbaru

100 out of 100 based on 100 user ratings

Download Config Http Injector Indosat Terbaru 19 Oktober 2016

HTTP Injector adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.

Download Config Http Injector Indosat Terbaru 19 Oktober 2016

Download Http Injector Terbaru

Indosat 19 Oktober 2016


Status : 200 Connected

Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

Link rusak lapor di komentar 

Senin, Oktober 17, 2016

Textual description of firstImageUrl

Download Config Http Injector Axis Opok/Sawer Unlock SSH Terbaru 17 Oktober 2016

100 out of 100 based on 100 user ratings

Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Terbaru 17 Oktober 2016

HTTP Injector adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.


Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Terbaru 17 Oktober 2016

Download Http Injector Terbaru



Axis Unlimited Unlock SSH 17 Oktober 2016


Status : 200 OK

Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

** Link rusak lapor di komentar / di contact **

Jumat, Oktober 14, 2016

Textual description of firstImageUrl

Download Config HI Axis Unlimited Unlock SSH 14 Oktober 2016

100 out of 100 based on 100 user ratings

Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Tebaru 14 Oktober 2016

HTTP Injector adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.


Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Tebaru 14 Oktober 2016

Download Http Injector Terbaru



Axis Unlimited Unlock SSH 14 Oktober 2016


Status : 200 OK

Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

** Link rusak lapor di komentar / di contact **

Rabu, Oktober 12, 2016

Textual description of firstImageUrl

Download Config HI Axis Unlimited Unlock SSH 12 Oktober 2016

100 out of 100 based on 100 user ratings

Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Tebaru 12 Oktober 2016

HTTP Injector adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.


Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSH Tebaru 12 Oktober 2016

Download Http Injector Terbaru



Axis Unlimited Unlock SSH 12 Oktober 2016


Status : 200 OK

Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

** Link rusak lapor di komentar / di contact **

Minggu, Oktober 09, 2016

Textual description of firstImageUrl

Download Config HI Axis Unlimited Unlock SSH 9 Oktober 2016

100 out of 100 based on 100 user ratings

Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSHTebaru 9 Oktober 2016

HTTP Injector adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.

Download Config Http Injector Axis Unlimited Unlock SSHTebaru 9 Oktober 2016

Download Http Injector Terbaru

Axis Unlimited Unlock SSH 9 Oktober 2016


Status : 200 OK

Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

** Link rusak lapor di komentar **

Jumat, Oktober 07, 2016

Textual description of firstImageUrl

Download Config Http Injector Indosat Terbaru 7 Oktober 2016

100 out of 100 based on 100 user ratings

Download Config Http Injector Indosat Terbaru 7 Oktober 2016

HTTP Injector adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.

Download Config Http Injector Indosat Terbaru 7 Oktober 2016

Download Http Injector Terbaru

Indosat 7 Oktober 2016


Status : 200 Connected

Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

Link rusak lapor di komentar

Textual description of firstImageUrl

Download Config HI Axis Unlimited 7 Oktober 2016

100 out of 100 based on 100 user ratings

Download Config Http Injector Axis Terbaru 7 Oktober 2016

HTTP Injector adalah alat profesional untuk mengatur HTTP header kustom. Ini digunakan untuk menghubungkan SSH Anda / Proxy dengan header dan juga dapat mengakses situs diblokir di belakang firewall dengan dukungan SSH tunneling & server proxy.

Download Config Http Injector Axis Terbaru 7 Oktober 2016

Download Http Injector Terbaru

Axis 7 Oktober 2016


Status : 200 OK

Jangan Lupa Share
#Berbagi_Itu_Indah

Link rusak lapor di komentar

Selasa, Oktober 04, 2016

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Selamat Tinggal... Karya Claudia Wirawan

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Selamat Tinggal...
Cerpen Selamat Tinggal...


SELAMAT TINGGAL.....
Oleh: Claudia Wirawan

Pagi ini, aku bangun gak seperti hari biasanya. Mataku terbuka tanpa aku mendengar suara alarm handphoneku yang sebelumnya tak pernah nihil untuk membangunkanku tiap pagi dan kulihat handphone mungilku masih tergeletak di samping bantal. Namun kupikir itu gak jadi masalah, soalnya aku masih bisa bangun tepat waktu. Cepat-cepat kusingkapkan selimutku dan segera melipatnya dengan rapi dan akupun segera beranjak ke kamar mandi. Selesai mandi, aku segera mengenakan seragam putih abu-abu’ku dan setelah itu aku beranjak ke rak sepatu dan segera memakai sepatu hitam bertali lengkap dengan kaos kaki putih.


Setelah persiapanku selesai, akupun keluar dari kamar. Kuturuni anak-anak tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai bawah. “Aneh!!!”, pikirku dalam hati. Mulai kapan suasana rumahku jadi sunyi seperti saat ini???
“maaa….”, panggilku memecah kesunyian rumahku. Namun tak ada jawaban sama sekali. “Mungkin mama sedang pergi ke pasar.”, gumamku. Kucoba untuk memanggil papaku,mungkin papa belum berangkat ke kantor pikirku.
“paaa…papa…”,tak ada jawaban yang kudengar. “Apakah semuanya sedang tidak ada di rumah?”,gumamku lagi.

Lalu aku pun duduk di kursi meja makan dan kulihat tak ada satupun lembaran roti tawar dan selai coklat kesukaanku terletak di meja makan, tak seperti hari-hari biasanya. “ Apa mama terlalu sibuk hari ini sampe ‘ nggak nyiapin sarapan buat aku?”, gumamku yang masih heran dengan keadaan pagi ini. Namun sulit juga dipertanyakan, karena tak ada seorangpun yang bisa kucerca dengan berbagai pertanyaan dariku. Segera kuambil tas dan map plastik bergambar micky mouse yang sudah kusiapkan dan kuletakkan di atas ranjangku. Kemudian aku siap untuk berangkat sekolah seperti biasanya, meski tanpa aku berpamitan kepada papa dan mama. Segera aku menuju ke garasi dan kilihat mobil jazz putihku tak ada di tempat. Aku pun jadi bingung. “Kemana mobilku? Apa dipinjem papa? Tapi kok gak bilang ya?”, batinku dalam hati.Aaah, ya udah’lah, naek angkot juga bisa..

“Sopir angkot tu pada buta kali ya? Ada penumpang kok malah ngeloyor aja!! Udah panas-panas gini.”, gerutuku sambil mengusap keringat yang mulai membasahi keningku. ( Maklum gak pernah naek angkot,jeeng..!! hahaha..:-D). Namun tak berapa lama datang Tante Rina, tetanggaku, dan kusapa beliau, “ Tante”, sambil kubuka bibirku untuk menampilkan senyum manisku (Gula aja kalah manis...:-D). Namun tak kusangka, Tante Rina yang biasanya ramah sama aku, justru berbalik 180°. Tak ada jawaban satu kata pun darinya, senyum pun tak ada. Justru ia sibuk dengan handphonenya. Sepertinya handphonenya masih baru, mungkin karena itu Tante Rina jadi super cuek sama aku. Tapi ya sudahlah, kumaklumi.


Dan aku konsentrasi lagi untuk menyegat angkot dan mulai melambai-lambaikan tanganku dengan gemulai. Setelah tiga angkot yang lewat tanpa mempedulikanku, akupun mulai menyerah. “Sulit banget sih nyegat angkot?!?!..”, gumamku dengan dongkol sambil mengusap dahi yang sudah berkeringat sebesar jagung. Kemudian kulihat Tante Rina melambaikan tangan untuk menyegat angkot dan angkot pun berhenti. Sesaat kupikir, “kenapa ya? Apa sopir-sopir angkot ne pilih-pilih kalo cari penumpang? Giliran Tante Rina aja yang nyegat,langsung berenti. Boro-boro aku, malah gak ada yang mau berenti”. Tapi ya sudahlah, kalu begini aku juga dapet untungnya. Akupun naik ke dalam angkot yang berwana biru itu. Aku sengaja duduk di sisi dekat pintu, karena aku suka mabok darat kalau naik angkot. Hehehe. Kulihat Tante Rina duduk di sisi pojok angkot dengan masih asyik sama handphone barunya dan sekali-sekali juga telepon. Jadinya kutahan mulut ini untuk menyapanya hingga mengganggu aktivitasnya dengan handphone baru tersebut. Hingga akhirnya sampailah di depan sekolahku dan akupun turun.

Kelas sepi banget, hampir semua teman-teman satu kelas tidak masuk dan yang ada hanya Sella, Risa, Dian, dan Oza serta aku yang duduk sendiri di baris ketiga dari depan dan berjarak agak jauh dari yang lainnya. Sengaja aku duduk berjauhan dari mereka, soalnya aku memang gak terlalu suka dengan mereka yang sok kaya dan hobbynya yang cuma shopping..shopping…dan shopping.. Tapi ya udah deh, biarin aja... Bel awal pelajaran pun berbunyi dan kulihat dari jendela terlihat Pak Danu menuju ke kelas. Dan sesampainya di kelas..
“ Assalamualaikum, anak- anak. Pagi ini suasana kelas sangat sepi ya. Mungkin lagi berduka semua akan kepergian teman kalian.”, sapa Pak Danu sambil meletakkan map serta buku-buku yang dibawanya ke atas meja.
“ Berduka karna siapa, Pak?”, tanyaku penasaran. Namun tak ada jawaban. Pak Danu justru mengajak berdoa untuk mengawali pelajaran.
“ Sialan!! Kok gak ada yang bilang sih kalo sekarang ini ada mbolos massal?!?!?”, celotehku kesal sambil menyalin tulisan Pak Danu di papan tulis. Di lain sisi, akupun juga memperhatikan Sella yang tak tahu kenapa hari ini terlihat murung ataupun sedih, begitupun dengan tiga sahabatnya. Akupun bertanya-tanya dalam hati, “kenapa tu anak-anak shopaholic mukanya pada sedih gitu ya?”, lalu “ mau nanya, males aahhh..biarin deh, emang aku pikirin.” . Kembali aku konsen untuk menulis catatanku lagi.

Pulang sekolah akupun berniat untuk mampir ke rumah Rizal, pacarku yang sudah mendampingi aku kurang lebih 3 tahun. Usianya memang cukup tua dibandingkan aku, kita terpaut usia 6 tahun. Namun bagiku itu tak jadi masalah, yang terpenting adalah ketulusan cintanya ke aku dan papa serta mama pun mendukung hubungan kami. Justru papa dan mama menyarankan agar Rizal segera menikahiku saat usiaku sudah 21 tahun, kira-kira masih 3 tahun lagi. Alasan yang sering dikemukakan adalah takut Rizalnya jadi tambah tua.Hahahaha…:-D

Akupun naik angkot lagi menuju rumah Rizal. Rasanya panas banget di dalam angkot meskipun hanya aku saja penumpang yang tertinggal satu-satunya di dalam angkot. Segera kuambil satu buah buku tulis yang lumayan tipis dan mulai kukipas-kipaskan ke wajahku untuk mengatasi suhu panas yang ada di dalam angkot ini. “ Gara-gara mobilku pake ng’ilang segala sih, jadi panas-panasan gini deh”, omelku.

Di perjalanan, ada satu hal yang menarik perhatianku. Setelah angkot yang kutumpangi melewati kantor polisi yang tidak jauh dari rumah Rizal, terlihat ada mobil yang kondisinya rusak banget plus peyok, “kayak’nya mobil ini baru kecelakaan deh, parah banget tuh sampai rusak berat gitu”, pikirku. Namun setelah kuterawang lebih jelas, mobil itu hampir sama dengan mobil yang biasa kukendarai kemanapun aku pergi. Mobil itu berwarna dasar putih, sama seperti kepunyaanku. Hanya saja mobil itu memiliki bercak-bercak coklat bekas cipratan lumpur dan ada sedikit bercak-bercak berwarna merah gelap hampir serupa dengan bekas darah yang telah mengering. Namun segera ku hilangkan pikiran itu karena aku sudah sampai di tempat tujuan.

Aku pun melompat dari angkot gila itu. “ Emang sopir angkot edaaan, gak lulus ujian SIM kali ya”, celotehku sambil membersihkan rok abu-abuku yang sedikit kotor gara-gara aku terjatuh pada saat turun dari angkot. Habisnya aku sudah bilang buat berhenti, tapi sopirnya tetep aja kenceng, akhirnya aku lompat deh. Tapi ada untungnya juga, aku jadi gak usah bayar.Hehehehehe….:-)
Gerbang putih yang sudah kusam itu terkunci dengan gembok berukuran sedang. “Tumben-tumbennya ne pager digembok. Apa Rizal lagi pergi kali ya?!?! Tapi kok gak sms aku sih?”, bisikku dalam hati. Aah ya sudah, lebih baik aku pulang ke rumah. “Mungkin jalan kaki lebih baik”, pikirku sambil bebalik meninggalkan rumah Rizal yang terlihat sepi.

Langkah menuju rumah pun udah gak seberapa jauh, kira-kira delapan rumah lagilah aku bisa sampai di depan rumah. Kupercepat langkahku karena aku sudah tak sabar untuk sampai di rumah. Tubuh yang sudah penuh dengan keringat serta tenggorokan yang mulai membutuhkan cairan pun semakin tak sabar untuk segera melepas semua kostum pelajarku dan mengisi mulutku dengan air putih yang segar. Namun kecepatan langkahku semakin berkurang. Kulihat banyak mobil dan sepeda motor yang terpakir tidak beraturan di pinggir jalan depan rumah.” Ada apa ya?”, tanyaku heran.
Entah kenapa hatiku serasa dag..dig..dug..saat aku melihat bendera putih berpalang hitam berkibar di atas pagar rumahku. Namun langkahku pun semakin cepat hingga kakiku telah melangkah masuk ke dalam pagar dan melihat banyak orang berkumpul di rumahku. “ Ada apa ini?”, tanyaku dengan perasaan yang tak karuan sambil melihat sekelilingku. Semua wajah hanya kaku tanpa ekspresi yang menunjukkan senyum yang berarti. Justru ekspresi sedih yang hanya ditampakkan. Kulihat Rani dan hampir semua temanku ada di sisi samping halaman rumahku. Kuhampiri mereka. “ Ran, ada apa ini? Siapa yang meninggal?”, tak ada jawaban sepatah katapun dari bibirnya yang tertutup rapat dengan wajah yang ditundukkan ke bawah.” Raaann..Kamu jawab dong..”,pintaku dengan mata yang mulai panas, entah karena apa.

Kupejamkan mataku sesaat untuk menetralkan keadaan mataku. Saat ku buka mataku kembali, kulihat Rizal duduk di sudut belakang halaman rumahku. Terlihat dari jauh bahwa ia sangat sedih. Kuhampiri Rizal dan semakin jelas di mataku bagaimana keadaan Rizal saat ini. Mata yang memiliki bulu mata yang lentik itupun mengeluarkan air matanya dengan deras hingga pipinya yang menggemaskan itu basah. Akupun merasa mataku kembali merasa panas karena melihat Rizal dengan keadaan seperti ini. Segera kuletakkan tas dan mapku disamping pot bunga bougenvil dan aku segera duduk disampingnya. “ Sayang, kenapa kamu nangis?”, tanyaku dengan suara yang agak sedikit bergetar. Tak ada jawaban sedikitpun dari bibirnya justru tangisnya yang semakin menderu.”Sayang..ada apa ini? Jawab dong, jangan bikin aku penasaran.”, tanyaku lagi dengan mata yang udah meneteskan air mata tanpa bias kubendung lagi dan ku sentuh tangan Rizal. Tapiii..

“ Tuhan, kenapa aku? Di mana ragaku? Kenapa aku gak bias menyetuhnya.”, rintihku sambil berdiri, kutinggalkan Rizal sendiri dan berjalan ke dalam rumah. Terlihat Papa sedang memeluk mama yang ternyata sejak tadi sudah menangis dan sesekali kulihat juga jatuh pingsan. Kulihat disisi kiri ruang tamu dan ternyata ada sesosok tubuh kaku berselimutkan kain putih, gadis yang malang. Tak lain itu adalah tubuhku. Ragaku telah mati dan jiwaku tak dapat lagi menghidupkannya. Kuhampiri ragaku dan tersungkur aku disisinya. “ Kini, aku tak lagi bisa membahagiakan papa sama mama. Aku tak lagi bisa mewujudkan mimpiku untuk menikah dan mendampingi Rizal serta menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Tuhan mengapa ini terjadi?”, tangisku membahana seluruh alam yang tak tahu harus kunamakan alam apa.

Teringat kejadian tadi pagi. Pagi-pagi benar sekitar pukul 04.00, aku bangun dan segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu, segera ku berganti pakaian dengan t-shirt bergambar Donal Bebek, tokoh kartun kesayanganku dan celana selutut berwarna hitam. Tak lupa kukenakan sepatu olahragaku yang berwarna putih bervariasi dengan warna biru laut.
Tepat pukul 04.30, aku segera menuju garasi dan segera menghidupkan mobil jazz putihku dan pergi ke rumah Rizal. Pagi ini, aku memang punya janji untuk berolahraga pagi ke alun-alun kota, seperti hari-hari biasanya. Tak tahu kenapa ada sesuatu yang aneh terjadi pada mobil yang kukendarai ini. Dan setelah kusadari ternyata rem mobil’lu blong. Akupun panik, aku tak tahu harus bertindak apa?
“ Tuhan, tolong aku!!!!”, jeritku dalam kekalutanku di dalm mobil.

Namun dari arah berlawanan, kulihat sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi, akupun tak bisa menghindarinya. Akupun tertabrak. Entah bagaimana keadaanku selanjutnya. Yang kutahu, kini aku telah pergi untuk selama-lamanya. Meski aku telah tiada di dunia, tapi aku percaya. Aku akan tetap hidup di hati keluargaku dan di hati Rizal.

SELAMAT TINGGAL…

**END**

Senin, Oktober 03, 2016

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Bahagiaku Karya Ita O'Riny Habeahan

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Bahagiaku
Cerpen Bahagiaku

BAHAGIAKU
Oleh : Ita O'Riny Habeahan


Aku duduk di sudut kamar. Menatap sayu sebuah photo di dalam bingkai kotor. Meresapi keindahan dan kebahagiaan yang tersimpan di memori itu. Sepasang anak manusia berbalutkan pakaian pengantin, membubuhkan senyum di acara sakral. Lima tahun mereka berpacaran, suka duka terlewati dan akhirnya menikah. Ku tutup mataku yang sudah sembab karena menangis. Lenganku memar, tapi tidak sakit seperti hatiku. Pipiku merah disapa telapak tanganmu, tapi tidak sakit seperti hatiku. Sudut kiri bibirku mengeluarkan sebercak darah karena tamparanmu, tapi tidak sakit seperti hatiku.

"Suamiku, apa salahku? Lupakah kau akan rasa bahagia kita dulu? Atau aku sudah tidak cantik lagi?" bisikku lirih, sambil membuka mata.
Tiga bulan lalu, aku divonis mengidap AIDS. Aku seorang ibu rumah tangga yang setia. Yang mengabdikan hidupku untuk seorang suami dan anak perempuanku Eci, yang berumur 5 tahun.

Saat Eci berumur 3 tahun, suamiku mulai bertingkah aneh. Pulang kerja langsung ke diskotik bersama teman barunya di kantor. Setiba di rumah, dia selalu dalam keadaan mabuk. Sejak saat itu, keindahan rumah tanggaku sirna. Kerap kali aku mendapatkan pukulan, tamparan, tendangan bahkan jambakan, jika dia ki tegur soal kebiasaannya. Ah ... suamiku sebenarnya orang baik, dia hanya salah pergaulan.

Setahun belakangan ini, aku seringkali sakit. Setiap sakitku merujuk kepada tanda-tanda penderita AIDS. Dengan tekad kuat dan hati hancur, aku memaksakan diri periksa kondisiku.
"Aku tidak ingin mati," gumamku lirih di bangku rumah sakit, sambil menatap lembaran kertas itu.
Penyakit itu merampas senyumku. Aku memikirkan anakku yang tidak pernah lagi mendapatkan belaian dari tangan suamiku. Hanya pukulan dan bentakan yang selalu didapatnya.

Suamiku doyan "jajan". Dia selalu berkata bosan melihatku.
"Yem .... kau sudah tua, bau apek dan tidak cantik lagi. Aku muak melihatmu," suamiku berkata sambil meludah lalu pergi meninggalkanku begitu saja. Meninggalkanku di ranjang tempat kita biasa berpacu menuntaskan nafsu. Pernah ... ah, seringkali dia pulang ke rumah bersama wanita-wanita pinggir jalan. Aku marah, tapi justru aku yang mendapatkan pukulan dan tamparan. Lama-lama aku bosan marah. Aku sudah pernah mengajukan cerai, tapi suamiku memohon dan berkata akan memperbaiki keadaan. Dan aku percaya.
Tubuhku makin kurus, aku mulai tidak bisa mengurus anakku. Hingga ku putuskan untuk menitipkan anakku di rumah adikku, Shanum. Dia sudah menikah, tapi belum mempunyai anak. Walau berat, tapi ini keputusan yang tepat yang harus ku lakukan untuk menyelamatkannya dari badai rumah tangga. Anakku selalu menangis memeluk tubuhku, setiap aku habis dipukul suamiku

Aku harus bangkit dan mengakhiri derita ini. Aku bangun dari sudut kamar, meletakkan bingkai foto di tempatnya semula. Aku bergegas mandi, mengganti pakaianku dengan lingerie yang dulu suamiku belikan untukku. Aku pakai parfum kesukaanku. Aroma anggrek memenuhi ruangan kamar. Lama ku tunggu suamiku pulang dari acara dugemnya. Suamiku pergi setelah bertengkar denganku. Dia meminta uang, tapi aku tidak punya uang. Lalu, suamiku marah. Memukul tanganku dan menamparku.

Ting tong ...
Bel rumah berbunyi. Terburu-buru aku buka pintu. Suamiku masuk dengan langkah terhuyung karena mabuk. Dia menatap ku sekilas.
"Wanita tua busuk," makinya padaku sambil berjalan.
Aku tersenyum lirih.
"Sudahlah, ayo kita tidur," ajakku lembut.
Sesampainya di kamar, aku membantunya berganti baju yang penuh muntahan akibat mabuk. Lalu aku membantunya tidur di tempat tidur. Dia langsung tertidur lelap.
"Suamiku ..., aku mencintaimu," ucapku lirih. Senyumku mengambang di udara. Dan ...
"Aaaa ..."
Teriakan itu membuatku tertawa. Dengan cepat, aku keluar rumah, meninggalkan semua kenangan itu.

Kini, aku tersenyum bebas di balik jeruji. Tertawa bersama teman baruku. Aku tidak memberi tahu siapapun perihal penyakitku. Aku memilih mati dengan damai di penjara.

"Suamiku, apa yang akan kau lakukan tanpa "senjatamu" itu?" ucapku pelan saat aku mulai lelap dilantai penjara.

**END**

Minggu, Oktober 02, 2016

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Cermin Kehidupan karya Sang Lanna

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Cermin Kehidupan
Cerpen Cermin Kehidupan

Cermin Kehidupan
oleh : Sang Lanna

Suatu hari, malam minggu, setelah pulang dari kumpul-kumpul dengan teman-teman ... baru memasuki kamar, perut berbunyi meminta diisi. Apesnya lagi, di rumah, telah tak ada makanan yang tersisa. Terpaksa, demi sang perut, akupun keluar malam itu, mencari makanan pengisi perut. Beruntung, malam itu malam minggu. Hingga masih banyak warung tenda di pinggiran jalan yang buka, menjajakan makanan. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.

Aku memasuki salah satunya yang menarik minatku. Suasana di dalam tampak ramai. Beberapa orang, bergerombol dan berpasangan, terlihat sedang menikmati hidangan sembari bercakap, bercanda.. Hampir semua tempat telah terisi. Sesaat aku menengok kesana kemari, mencari meja yang masih kosong. Akhirnya, aku mendapat bagian tempat di pojokan, dekat rak piring dan gelas.
Seorang ibu paruh baya, pemilik warung tenda itu, menghampiriku seraya ramah menyapa, 
Monggo, Mas... Mau makan?" tanyanya lembut.
"Iya, Bu. Tolong nasi ramesnya satu, sama teh manis hangat, ya," jawabku sambil tersenyyum.
"Inggih, Mas. Sebentar, saya siapkan," Si Ibu mengangguk sambil balas tersenyum. Lalu berlalu, kembali sibuk menyiapkan makanan.


Sambil menunggu hidangan datang, aku mengedarkan pandangan di sekelilingku. Saat menatap rak piring di dekatku, sesaat aku tertegun. Nampak olehku, dua pasang kaki kecil di balik rak piring itu. Karena penasaran, kujulurkan sedikit leherku agar bisa melihat lebih jelas. Ternyata, pemilik dua pasang kaki kecil itu adalah seorang anak perempuan dan seorang anak lelaki yang tengah tertidur pulas. Perkiraanku, si anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun, lebih tua dua tahun dari si anak lelaki. Dan sepertinya mereka adalah kakak beradik. Mereka tidur dengan nyenyak, hanya beralaskan selembar tikar plastik, dan berselimut selendang lusuh... 
Aku terenyuh menatapnya... Tanpa kusadari, si Ibu pemilik warung itu, memperhatikan gerak gerikku. Saat kemudian mataku beradu pandang dengan tatapan Ibu itu, sambil tersenyum menghilangkan rasa 'tak enak', aku bertanya,
"Anaknya, Bu?"
"Inggih, Mas," jawabnya sambil balas tersenyum.
"Koq tidur di sini? Dingin kan?"
"Enggak papa, Mas. Sudah terbiasa. Karena di rumah kosong, gak ada yang nungguin. Jadi terbiasa ikut saya jualan, dan tidur di sini," jawab si Ibu.
Aku termenung sesaat... "Mmm ... maaf, Bapaknya di mana?" tanyaku lagi.
"Bapaknya, suami saya, kerja di luar pulau Jawa. Setahun sekali pulangnya," jawabnya dengan suara datar.
"Ooh..." Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum memaklumi. Dalam hati aku bergumam, 'kasihan ... masih sekecil-kecil ini...'
Tak berapa lama, makanan pesananku pun tersajikan.
"Monggo, silahkan, Mas."
"Inggih, Bu ... terima kasih." balasku. Lalu mulai menyantap hidangan itu.


Beberapa saat kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan warung itu. Pintupun terbuka. Dua orang pria dan dua orang wanita berpenampilan 'wah', turun dari mobil. Sambil tertawa, bercanda mesra dengan pasangannya masing-masing, mereka berjalan, memasuki warung. Sesaat, seperti aku tadi, mereka mencari-cari tempat. Dan karena hanya mejaku yang masih longgar, merekapun memilih duduk di situ.

Salah seorang dari mereka, wanita berbaju sexy, kuning ketat plus rok mini, dengan dandanan khas kupu-kupu malam, menatapku ... lalu melempar sebuah senyuman nakal menggoda, saat tanpa sengaja saling beradu pandang. Aku hanya membalas dengan senyum tipis sekedarnya. Pria di sampingnya yang sempat melihat kejadian itu, nampak tak suka. Dengan gaya dibuat semesra mungkin, sambil melotot kepadaku, ia memeluk pundak si wanita, seolah-olah menunjukkan padaku, 'Ini cewek gue! Gak usah coba macem-macem ya!' 
Aku hanya mendengus lirih seraya mengumpat dalam hati, 'Huh! Gak doyan aku!"
Dan, sama seperti yang kulakukan tadi ... sambil menunggu hidangan tersajikan, keempat orang itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Merekapun sesaat terpaku ketika menatap kedua bocah kecil yang tengah lelap di samping rak piring itu. Mereka lalu saling berbisik. Si wanita menatap dengan pandangan kasihan dan simpati. Namun si pria malah tertawa, dengan nada mencemooh.


Karena ramainya pengunjung yang memesan makanan, si Ibu pemilik warung, tampak kerepotan melayani. Berkali-kali mondar mandir memenuhi panggilan pengunjung, sembari menyiapkan makanan. Beberapa kali terdengar benturan keras dari wajan saat ia menggoreng dengan terburu-buru.

Mungkin, karena berisiknya suara itu, tiba-tiba, salah seorang dari kedua bocah tadi terbangun. Si anak perempuan sesaat mengucek-ucek mata, sambil menatap Ibunya yang tengah kerepotan. Sang Ibu sempat melihat putrinya yang terbangun. Sambil menyiapkan hidangan, ia berkata,
"Nak, tidur aja lagi. Selimutin adikmu itu, biar gak kedinginan."
Si anak perempuan sesaat terdiam. Lalu menyelimuti adiknya itu dengan rapat. Kemudian, ia malah beranjak bangkit, menghampiri Ibunya...
"Cape ya, Bu? Sinih aku bantuin, Bu," katanya lirih.
"Udah, gak usah .. Ibu gakpapa. Dingin, masih malam, jam dua lebih. Kamu tidur aja lagi," ujar Ibunya.
"Kasihan Ibu, kerepotan. Aku bantuin ya, Bu?" katanya dengan polos memaksa.
Si Ibu tersenyum haru... "Ya udah. Tolong kamu cuciin piring-piring dan gelas yang kotor itu ya, Nak...," katanya perlahan.
Si anak perempuan itu mengangguk sambil tersenyum. Lalu dengan sigap, berlari kecil ke tempat cucian, di mana piring dan gelas kotor nampak menumpuk di situ. Setelah membasuh mukanya dengan air di ember, iapun mulai mencucinya dengan cekatan.


Aku yang menyaksikan semua perbuatan anak perempuan umur tujuh tahun itu, terenyuh haru. Betapa terasa sayang dan baktinya kepada Sang Ibu. Sambil menahan kantuk dan dinginnya malam, Ia mencuci semua piring dan gelas kotor itu.

Rupanya, si wanita seksi berbaju kuning tadi, ikut memperhatikan perbuatan anak perempuan itu. Nampak ia tertegun dengan mata berkaca-kaca... Tubuhnya perlahan bergetar... Lalu butiran air mata, tak tertahankan, jatuh berlinang di pipinya. Akhirnya, ia menelungkupkan wajahnya ke meja, sambil menangis terisak-isak.

Si pria di sampingnya kaget dan bingung. Lalu mencoba membujuknya. Namun, si wanita tetap menangis... Si pria terus membujuk, bahkan memaksa, agar si wanita diam. sambil merangkulnya erat. Tangis si wanita malah semakin menjadi! Tiba-tiba, ia mendorong si pria dengan keras! Lalu menjerit histeris, 
"Iibuuu...! Ampuni akuu, Buu...!" teriaknya dalam ledakan tangis! "Aku berdosa padamuuu...! Aku anak durhakaa...! Ampunii akuuu...!"
Seketika seluruh orang yang berada di situ, terperanjat kaget! Warungpun menjadi geger! Si pria dan kedua temannya masih mencoba menghentikan tangis dan menenangkan wanita itu. Namun sia-sia... Jerit tangis si wanita semakin bertambah! Akhirnya, dengan suara gusar, si pria membentak keras,
"Udah, seret aja dia! Bawa masuk ke mobil! Kita balikin pelacur ini ke kandangnya!"
Kedua temannya itupun lalu menarik paksa si wanita, setengah menyeretnya, masuk ke dalam mobil! Si priapun bergegas menyusul. Melihat itu, aku spontan berseru, 
"Hey, Mas! Bayar dulu makanannya! Jangan asal nyelonong aja!"
Si pria melotot marah padaku ... aku balas dengan tatapan tak kalah tajam, sedikit mengancam. Si pria terdiam sesaat ... lalu merogoh dompetnya, dan mengeluarkan selembar uang lima puluhan, yang ia lemparkan begitu saja ke meja. Kemudian, iapun bergegas memasuki mobil, memacunya meninggalkan warung ... diiringi tatapan bingung dan heran dari orang-orang di sekitarnya...
Si Ibu pemilik warung, yang masih bingung dan heran, menghampiriku...
"Ada apa sih, Mas?" tanyanya tak mengerti.
"Gak tahu, Bu," jawabku sambil tersenyum. "Mungkin, secara gak sengaja, putri ibu tadi telah memberikan pelajaran yang berharga untuk wanita itu."
Si Ibu semakin bengong tak mengerti....

Sebuah cermin kehidupan, bisa terpampang di mana saja, untuk menyadarkan kita dari kesalahan... Semoga kita masih peka untuk menyadarinya...

**END**

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Ketika Harus Melepasmu Karya Airi Cha

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Ketika Harus Melepasmu
Cerpen Ketika Harus Melepasmu

KETIKA HARUS MELEPASMU
Oleh : Airi Cha

Kupandangi ilalang bergoyang tertiup sang bayu. Tak terihat lagi keindahan, betapa biasa aku begitu menikmati setiap gerak daunnya. Aku merasakan sesuatu, tepat di dada. Tak mampu melukiskan sesakit apa rasa ini.

"Ra, sadarlah! jangan melakukan sesuatu yang mampu kau analisa," kata itu terngiang kembali di telinga.
"Tapi, Kak ...," kalimatku mengantung saat berserobot pandang dengan mata teduh itu.
"Jangan egois, Ra. Memaksakan sesuatu yang akan terasa lebih sakit lagi. Akhirilah sekarang, sebelum terlalu dalam dan kau tak sangup untuk melepaskannya."

Aku hanya mampu tertunduk, saat kakak mengucapkan kalimat terakhir. Apa yang disampaikan jujur kuakui dalam hati, benar adanya. Aku terlalu memaksakan keinginan, dan benar aku egois. Langit itu terlalu tinggi, sayapku akan patah sebelum mampu menembus awan. Tanpa tersadar, bulir bening menetes di pipi. Aku menangis, ntah untuk apa, ntah untuk siapa. Kebahagiaan yang kurasa beberapa waktu lalu seakan menjadi sembilu berbisa dalam hati.

Aku ingin berlari menemuinya dan menangis dalam pelukan. Mengatakkan padanya tentang segala rasa dan asa, namun tak mampu. Menghindari untuk bertemu adalah jalan yang terpilih. Hati berkecamuk, antara ingin mengatakan dan takut kehilangan. Namun jika ini terus kubiarkan yang ada kami akan sama-sama terluka.

"Ra ....,"sebuah suara menyapa lembut. Perlahan kupalingkan wajah pada suara yang sangat kukenal. Lama dia menatap dengan sendu, bulir bening yang menetes pada pipi memaksanya melangkah dan merengkuhku dalam pelukan. Aku menangis terisak, seperti seorang bocah kehilangan mainan kesayangan.

"Sesakit ini kah perasaan yang kau rasa, Ram! saat ibu tak merestui perempuan pilihanmu?" tanyaku pada sahabat terbaik, yang beberapa waktu lalu terjadi perselisihan dan berakhir dengan saling bungkam antara kami. Namun Rama hadir saat terdengar tangisku pecah pagi tadi dihujung telpon.
"Jangan menangis, Ra! aku tak pernah mampu melihatmu menangis, tapi aku dapat merasakan apa yang kau rasakan," ucapnya mencoba menenangkan.
"Aku harus bagaimana, Ram?" tanyaku dalam sisa isak.
"Aku tau kau mencintainya, Ra! karena aku tak pernah melihat kau serapuh ini. Tapi jangan menghindar darinya, katakan kebenaran. Itu bisa melegakan perasaanmu."
"Tapi, Ram ...!" kataku terhenti demi melihat tatapanmu.
"Tapi apa, Ra? kau takut kehilangan dan ia membencimu?" tanya Rama hati-hati.
Aku mengangguk pelan sekali, menarik napas dalam. Memandang ke langit pada awan yang berarak. Betapa aku takut awan itu meninggalkan birunya langit.

"Tanya dirimu, Ra. Apa yang terbaik menurut kata hati karena aku percaya kau bisa mengambil keputusan dengan baik," ucap Rama meyakinkanku. Senja itu kami lebih banyak saling diam, diantara perhiasan langit dan bumi yang sedang menunggu peralihan dari siang ke malam.

Akhirnya aku berani menyapa dirimu, dengan rasa takut. Dalam segenap kepedihan, sembilu tepat menusuk relung hati. Aku menangis dalam setiap kata terucap. Betapa aku tak mampu berhadapan denganmu, pada sosok yang selalu membuatku nyaman disetiap waktu. Lalu ... lagi-lagi aku merasa damai, saat kau mampu dengan ketulusan hati menerima apa yang aku katakan. Betapa aku akan selalu merindu sapa dan perhatian darimu. Mungkin memang lebih baik saat ini aku melepas dirimu, sebelum rasa itu kuat dan mengakar dalam sanubari. Sebelum aku atau pun kamu benar-benar merasakan perpisahan yang sangat menyakitkan.

Kupadangi rintik hujan menghujam bumi, seakan itu nyanyian hati. Derainya mewakili setiap tetes air mata. Aku mencoba ihklas, menerima ini sebagai bahagian dari babak perjalanan hidup. Tak ada sesal, menjadikan ini satu pelajaran. Walau harus jujur aku masih terseok-seok dalam melupakanmu.

Tanganku terangkat ke arah langit, berharap mampu mengapai biru dan putihnya. Namun aku tersadar, aku tak pernah punya sayap untuk mengangkasa. Akhirnya menunduk dan menatap jejak kaki yang menyentuh bumi.

**END**