test

Cerpen Selalu Teringat Masa Lalu
Cerpen Selalu Teringat Masa Lalu

Selalu Teringat Masa Lalu
Oleh : Etna Rufiati

Kemarin pagi saat saya sedang masak untuk sarapan, HP berdering. Ternyata seorang sahabat lama menelpon dan meminta saran. Sambil mendengarkan curhatnya, segera saya bereskan masakan yang memang hampir selesai.
"Bund tolonglah, aku tak kuat harus begini terus."
"Tenanglah sayang, minum air dulu sambil berdoa. Baru ceritakan apa yang terjadi. Rileks, atur nafas seperti yang ibu latihkan."
Dia masih tergolong muda, namun terkena stroke sehingga tubuhnya lumpuh sebagian. Alhamdulillah sekarang sudah bisa berjalan walau memakai tongkat. Kakinya yang satu harus diseret. Ya Allah, sembuhkanlah sahabat hamba ini. Berikan kekuatan padanya untuk dapat menjalani ujian-Mu.
"Terima kasih bund. Alhamdulillah aku sudah tenang."
"Okay, sekarang jelaskan ada apa dan apa yang dapat ibu lakukan untuk membantu mengatasi masalah yang kau hadapi itu."
"Sepeninggal suami, aku selalu sedih dan sering menangis. Aku makin terasa lemah, kepala dan dadaku sering sakit. Setiap hari aku selalu teringat padanya. Dulu memang kami sering berdebat. Namun sejak aku terkena stroke, dialah yang melayaniku setiap saat. Dia menjadi sabar dan banyak senyum. Semua dilakukan tanpa mengeluh. Dia tak pernah tampak lelah. Ketika kantuk datang pun dia tak pernah merasakannya, tetapi tahu-tahu tertidur dengan nyenyak di sofa atau di tepi tempat tidur sambil duduk. Aku tak bisa melupakannya. Namun semua itu membuatku sedih."
"Sayang, boleh saja kau mengingat masa -masa yang sudah berlalu. Masa lalu memang tidak untuk dilupakan. Namun ternyata hal itu membuatmu menjadi sedih, kepala dan dada sering sakit. Berarti tak baik bagimu terus menerus mengingat masa lalu."
Eh ... dia malah menangis.
"Mengapa bunda berkata begitu? Tak mungkinlah aku melupakan kebaikannya, segala tentang dia. Apalagi aku sekarang hidup sendiri. Putriku satu-satunya harus ikut suaminya ke luar pulau. Aku kesepian bunda. Satu-satunya hiburan adalah mengingat dia."
"Hmm ... ya ... jika mengingatnya merupakan hiburan, mengapa kau menjadi sedih dan sakit?"
"Ya jelaslah bund, aku ini amat sedih ditinggal dalam keadaan seperti ini."
"Apa kau ingin terus bersedih dan sakit?"
"Ya tidak bund. Maka dari itulah aku ingin meminta nasehat bunda. Apa yang harus kulakukan tanpa berusaha melupakannya?"
"Ibu tidak memintamu untuk melupakan masa lalumu itu."
"Berarti bagaimana caranya agar aku terhindar dari kesedihan yang terus menerus ini bund?"
"Ikhlaskan kepergiannya. Doakan agar suamimu nyaman di sisi-Nya."
"Iya bund, aku selalu berdoa untuknya dan aku ikhlas kok."
"Okay, kalau kau ikhlas tentunya jangan bersedih lagi. Jadikan masa lalu itu sebagai suatu pelajaran untuk meningkatkan diri. Hidup di dunia kan hanya sementara. Marilah kita rawat titipan-Nya sebaik mungkin. Ayo berbuat yang terbaik di setiap saat. Mulai detik ini, senyumlah, hindari keluh kesah. Bersyukurlah atas nikmat-Nya."
Tangisnya sudah reda. Terdengar dia menarik nafas panjang. Saya biarkan dia beberapa saat. Mungkin sedang menenangkan diri dan mencerna kata-kata saya. Semoga dia dapat menyadari kesalahannya.
"Ya bunda benar. Alhamdulillah aku paham maksud bunda. Mulai saat ini aku akan berjuang untuk tidak bersedih lagi."
"Alhamdulillah. Lakukanlah sayang, insya Allah kau bisa."
"Ya bund. Tetapi mungkin tak semudah itu."
"Carilah suatu kegiatan lain yang kau senangi. Misal mendengarkan musik, menonton acara TV tentang pendidikan atau sejenisnya."
"Iya bund, aku juga akan menulis seperti yang bunda ajarkan pada suamiku dulu. Catatannya ada. Aku dulu juga turut belajar."
"Bagus sekali. Berlatihlah lagi. Tulis kisahmu itu, namun segalanya harus dengan hati gembira. Kontrol dirimu dengan baik. Apapun yang terjadi pada kita, sesungguhnya tak seorang pun dapat menolong secara tuntas. Kita sendiri yang harus menolong diri sendiri."
"Iya bund. Terima kasih banyak ya. Semoga Allah SWT membalas kebaikan bunda."
"Aamiin ya Rabbal alamin. Okay sama-sama. Sekarang lakukanlah."
Demikian pembicaraan yang kami lakukan kemarin. Semoga dia sanggup bangkit dan bisa berbuat yang terbaik.

**END**
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top