test

Cerpen Monyet Bermata Satu Karya Azizah
Cerpen Monyet Bermata Satu Karya Azizah


Monyet Bermata Satu
Oleh: Azizah


Di suatu hari dihutan dekat kampung Remang, Terdapat dua sepasang kekasih yaitu Ayah monyet dan Ibu monyet yang bernama Raihan dan Riska, mereka telah menikah sejak lama dan sekarang ibu monyet telah mengandung sembilan bulan. Ibu Riska sangat tidak sabar menunggu anak mereka keluar dari perutnya. Sudah jauh-jauh hari ibu Riska juga memilih nama yang bagus untuk sang anak.
"Ayah, aku sudah memilih nama untuk anak ini yaitu Reka Nanda. Artinya itu bagus sekali, Reka adalah mengatur dan nanda adalah kebahagian. Jadi kalau di gabungkan Reka Nanda artinya mengatur kebahagian," jelas Ibu Monyet yang sedang bergembira menyambut anaknya.
"Wah, ibu memang paling pintar memberi nama yang baik untuk anak kita," seru Ayah .
"Jadi, gimana setuju untuk nama Reka Nanda?" tanya Ibu Monyet
"Sangat setuju, ibu," jawab Raihan.
"Aaww, sakit sekali perutku. Sepertinya aku ingin melahirkan, Yah?" teriak Riska dengan muka yang tampak kesakitan.
"Kita harus ke rumah Nadira si Dokter Kelinci, Ayah akan menggendong ibu ke sana!" ujar Ayah.
Setelah sampai di rumah Dokter Nadira yang tak jauh dari rumah mereka. Dokter Nadira dengan cepat menangani Riska di dalam kamar yang terlihat ruangan khusus untuk melahirkan. Proses melahirkan yang cukup lama sekali. Akhirnya Raihan dan Riska sangat bahagia bisa melihat buah hati mereka. Reka saat itu tersenyum dan tertawa melihat Raihan dan Riska sehingga tampak lucu. Namun, kebahagiaan itu hanya sebentar saja, setelah Dokter Nadira berkata, "Selamat! Anak kalian laki-laki, tapi satu mata anak kalian tidak bisa melihat."
Mereka berdua sedikit bersedih mendengar ucapan Dokter.
" Kami akan tetap merawat Reka hingga besar karena Reka anak yang sangat lucu dan buah hati kami," balas Ayah Raihan.
***
Sekian hari ayah Monyet dan ibu Monyet merawat Reka dengan kasih sayang dan mengajari Reka banyak hal. Reka sekarang sudah bertumbuh besar, dia bisa berjalan, bergelantungan dipohon dan bisa memilih buah yang enak dan tidak enak dan juga bisa berbicara.
Saat tau berbicara Reka bertanya ke ibu Riska, "Ibu, Kenapa mata kanan Reka tak bisa melihat sedangkan mata kiri bisa melihat?"
"Anakku Reka, tidak usah memperdulikan matamu itu. Kamu adalah anak yang spesial dikirim Tuhan untuk ayah dan ibu," jawab ibu Riska sembari tersenyum.
"Reka tidak akan memperdulikan mata ini lagi. Reka sayang ibu dan ayah," kata Reka dengan tersenyum dan memeluk ibu Riska.
***
Sekarang Reka sedang belajar untuk mencari makan sendiri dan mencari makanan untuk kedua orang tua ke hutan. Reka meminta izin untuk berangkat ke hutan seorang diri dan mencium pipi ayah Monyet dan ibu Monyet di depan pintu rumah.
"Ayah dan ibu, Reka pamit ingin pergi ke hutan mencari makanan untuk kita," ucap Reka dengan menatap kedua orang tua.
"Iya, Anakku. Berhati-hatilah di hutan. Jangan terlalu percaya ke orang yang baru di kenal di hutan." Ayah Raihan mengizinkan anaknya berangkat.
"Baik, Ayah."
Ibu Riska memberikan Reka tas yang berisi bekal makanan dan minuman untuk perjalanan ke dalam hutan.
Reka sangat senang menerima bekal dari ibu dan ia memilih untuk berjalan kaki agar masih bisa melihat ayah dan ibu dari kejauhan. Meskipun, mata kiri Reka yang hanya bisa melihat.
***
Di hutan sesekali ia bernyanyi bintang kecil dengan riang dan gembira, walaupun saat itu masih pagi hari. Reka tampak kehausan sesudah bernyanyi, sembari ia mengambil minuman di tas bekal yang ibunya berikan.
"Terimakasih, ibu!" ucap Reka dengan melihat pemberian ibu Riska.
Lalu, Reka menaruh minuman itu kembali ke tas bekal. Ia melanjutkan perjalanan lagi dengan bergelantungan di satu pohon ke pohon lainnya.
"Hei, siapa kau yang di atas?" kata Gajah dan Tupai sambil berteriak memanggil.
Reka yang mendengar panggilan dari bawah tiba-tiba berhenti dan melihat ke bawah dengan mata kiri. "Aku Reka," jawab Reka. "Ada apa?" lanjutnya.
"Turunlah sebentar! Kakiku tertimpa batang pohon besar ini. Bantu aku!" rengek Gajah meminta tolong.
"Okey. Aku bantu."
Reka dengan hati-hati turun dari pohon sampai kakinya menginjak tanah. Ia berjalan ke arah Gajah yang tampak kesakitan dan membantu gajah bersama Tupai mendorong batang pohon besar itu dengan sekuat tenaga.
Akhirnya, Gajah terlepas dari batang pohon besar dan Gajah bisa berdiri lagi.
"Terimakasih untuk kalian semua telah membantuku," ucap Gajah.
"Sama-sama."
"Kamu mau ke mana, Reka?" tanya Gajah dengan menatap Reka.
"Aku ingin mencari makanan untuk diriku, ayah dan ibuku," jawab Reka yang juga menatap Gajah.
"Kebetulan sekali! Aku juga ingin mencari makanan. Ayah dan ibuku menyuruhku mengambil buah-buahan gratis di ladang paman Kura-Kura. Kau harus ikut bersama kita," balas Gajah yang begitu senang mendengar Reka juga mencari makanan.
"Okey, aku akan ikut kalian."
"Kenalin namaku Rian, Monyet bermata satu," sapa Tupai dengan menghina.
"Aku lupa berkenalan. Namaku Rendy," kata Gajah menyodorkan tangan ke tangan Reka.
***
Ladang paman Kura-Kura ternyata tidak terlalu jauh dari tempat mereka berkenalan. Reka, Rian dan Rendy senang sekali melihat buah-buah yang segar dan matang. Rendy yang kenal dengan paman Kura-Kura, meminta izin untuk mengambil buahnya untuk di bawak pulang. Paman Kura-Kura mengizinkan Rendy.
Kemudian Rendy mengambil buah semangka, pepaya dan apel . Rian yang tidak melihat batu didepan membuat ia terjatuh dan Reka melihat Rian terjatuh langsung menolong dan mengambil pepaya, melon, dan anggur yang Rian ambil. Dan Reka dengan segera mengambil pisang, anggur dan jeruk yang berada didekatnya. Semuanya sudah mereka masukan ke dalam karung dan berterimakasih ke paman Kura-Kura sekalian berpamitan pulang.
Mereka bertiga sangat puas dan gembira. Di perjalanan pulang mata kiri Reka terkena debu yang membuatnya susah melihat. Rendy tidak tega membiarkan Reka pulang sendirian dan Rian juga mengantarkan pulang ke rumah Reka dengan Reka duduk menaiki Rendy.

**END**
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top