test

Cerpen Lebur
Cerpen Lebur


Lebur
Karya : Nurmasari


Mata itu menatapku dengan binar yang
berbeda, tangan itu menggenggam erat
tanganku. 'Apa ini? Kenapa begini?'
.
"Iyeu teu sarua ku nu katempo."
.
Melakukan kadang tak semudah
mengungkapkan kata, seperti menanam dan
menumbuhkan--amat berbeda. Mataku
mulai tak tahu apa yang kulihat. 'Apa ini
sebuah mimpi?' Ah, tidak ... genggamannya
terasa sedikit sakit.
.
"Dangukeun abdi heula."
.
Bahkan aku tak dapat berkata-kata, hanya
melihat jelas dengan kedua mata.
Mengenalmu sejak lama ternyata tak cukup
membuatku mengerti isi hatimu. Terasa
amat bodoh diri ini! Tapi tak terlihat
sedikitpun rasa bersalah di wajah
perempuan itu, bahkan ada senyum
kemenangan di balik rautnya.
.
"Abdi ... abdi ...." Matanya pontang-panting
. Dari gerak tubuh dan bicaranya yang
terbata, aku tahu dia mencari alasan.
'Kenapa? Apakah cinta alasannya?'
.
Aku mencoba melepaskan kedua tanganku,
mengangkat terlapak tangan sebagai isyarat
agar dia berhenti berkata-kata,
mengangguk pelan dan membuatnya
tersenyum.
Aku mengingat kembali perkataan teman-
temanku, seperti ada air yang merangsek
keluar dari mataku, tapi kutahan.
.
"Abdi bogoh ka anjen, anjen geh kitu kan
ka abdi?" bisik perempuan itu di telinganya.
Dia terlihat bingung.
.
Kejadian 24 maret 1946 seakan terjadi
dalam jiwa, kota kembang ini terbakar oleh
kekecawaanku, amarah yang membakar
hatiku tanpa bisa kuungkapkan sedikitpun.
Damar, orang yang dulu mencintaiku
dengan tulus dan apa adanya tanpa
mempedulikan kekuranganku kini bersama
Laras, adik temanku yang sudah kuanggap
seperti adikku sendiri. Mungkin orang-orang benar bahwa ketulusan kadang hanyalah omong kosong. 'Siapa yang akan benar-benar jatuh cinta dengan tulus pada si bisu?' Barangkali hanya dongeng,
kemungkinannya hanya 0,0000001 persen. 'Ah, pikiranku tak karuan!' Padahal aku tak pernah mencari orang yang punya banyak kelebihan, aku hanya menginginkan seseorang yang tak meninggalkanku karena semua kekuranganku.
.
"Muhun, Ras. Tapi ...," ucap Damar
setengah berbisik pada Laras.
.
Aku tahu semua yang telah terjadi,
semuanya seperti sebuah dinamit yang
menghancurkanku hingga porak tak tersisa.
Untuk sesaat, kota ini menjadi begitu asing
bagiku seperti 4 tahun lalu. Aku menarik
napas panjang mencoba melapangkan dada
dan membesarkan hati. Tangan kananku
meraih tangan Damar, sementara tangan
kiriku meraih tangan Laras, menyatukan
tangan keduanya. Kupaksakan sebuah
senyum terlengkung di wajahku, mereka
menatap bingung, aku mengangguk
memantapkan apa yang kulakukan.
.
"Hatur nuhun, Teh." Sebuah kalimat yang
terlontar dari mulut Laras itu terasa lebih
menentramkan daripada yang selama ini
disembunyikannya dariku berbulan-bulan.
.
"Hampura, Ratih. Hampura, abdi teu tiasa
...." Belum selesai Damar mengucapkan
perkataannya, aku mengisyaratkan untuk
berhenti.
.
Kugerakkan kedua tanganku ke kiri dan ke
kanan, lalu kuletakkan kepalan tangan kanan
di paras dada dan memutarnya searah
jarum jam. 'Nggak usah minta maaf'.
.
Aku melenggang pergi meninggalkan
mereka, meninggalkan kota ini dengan
segala luka yang meleburkanku di
dalamnya. Mungkin setelah semua ini, aku
takkan percaya lagi pada satu kata; CINTA.
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top