test

Cerpen Ketika
Cerpen Ketika

KETIKA
Oleh : Vilian


“Ngeliatin dia lagi?”
Moses melotot ke arah Donny dan pasrah dengan pertanyaannya. Malas berbohong karna bohong seperti apapun , Donny pasti akan mengetahuinya. Kaena mereka telah saling mengenal sifat masing-masing sejak kecil.
“Mos, lu udah ngerasain jatuh cinta rupanya?” kali ini Donny ikut memperhatikan seorang perempuan yang sejak tadi di perhatikan Moses. Perempuan itu bernama Maudy dengan postur tubuh tinggi semapai, berkulit putih, dan terlihat manis dengan kaca mata yang menempel diwajahnya.
Pertama kali Moses berjumpa dengan Maudy adalah saat orientasi SMU, begitu juga dengan Donny. Donny bertabrakan dengan Maudy didepan gerbang sekolah, sedangkan Moses berkenalan dengan Maudy saat mereka dipanggil sebagai siswa yang memiliki nilai tertinggi. Sejak saat itu pula Moses merasa kalau Maudy itu istimewa. Kini mereka telah menjadi teman sebangku, sehingga keakraban mereka teah terlihat jelas.
“woooiiii!” seorang laki-laki tinggi berlari kearah Maudy sambil berteriak lalu merangkul bahu Maudy.
“Jangan teriak kayak gitu dong, Daf.” Kata Maudy dengan menatap sinis kearah seorang yang berteriak kepadanya, yaitu Dafa yang sudah menjadi sahabatnya sejak SMP.
“Kantin yok.”
“Pisang goreng dan teh mains lagi?” jawab Maudy sambil tertawa disusul oleh Dafa.
“Riani, ikut kekantin yuk.” Ajak Maudy ke Riani seorang teman yang baru dikenalnya sejak masuk SMU ini, Riani merupakan siswi yang populer dan juga menjabat sebagai sekretaris OSIS.
Moses masih belum melepas pandangannya dari Maudy ia mengagumi sosok gadis yang pintar juga polos itu. Sedangkan Donny yang tepat berada disebelah Moses memperhatikan kearah yang sama dengan Moses, tetapi orang yang diperhatikannya itu berbeda Donny sedang memandangi wajah oriental yang dimiliki oleh seorang Riani yang selama ini telah memikat hati Donny.
“Mos, kenapa lu ga nembak Maudy aja? Ntar keburu disamber si jangkung loh.” Sebutan si jangkung yang disebut oleh Donny itu adalah Dafa, karena kedekatan yang dimiliki Dafa dengan Maudy terlihat seperti sepasang kekasih.
“Lu dan Riani gimana?” tanya Moses datar.
“Gue bakal nembak dia hari senin depan. Lu ikut nembak Maudy senin depan jga lah.”
Moses mulai berpikir tentang perkataan Donny barusan. Presentase diterima oleh Maudy lima puluh persen presentase ditolak Maudy jga lima puluh persen.
“kalau gue atau lu ditolak, kita lari lapangan basket 10 putaran sambil teriak i love you... Gimana?” tawar Donny
“Ngak deh, Makasih.”
“Jangan jadi penakut, masa nembak cewek aj lu ga berani? Lu itu cowok men”
Moses merasa tertantang dengan perkataan Donny, maka ia menyutujui usul itu dan Moses mulai berpikir segala cara yang harus dia lakukan untuk dapat menyatakan cintanya kepada Maudy. Donny sendiri telah menyiapkan rencana yang matang tentang apa yang harus dilakukannya pada hari senin.
Hari senin adalah hari yang melelahkan bagi seluruh anak sekolah, tetapi Donny dan Moses sangat menunggu-nunggu hari ini.
Riani berangkat kesekolah dengan rasa malas yang biasa dirasakan seorang pelajar,ia berjalan memasuki sekolah dan menghampiri lokernya untuk mengambil beberapa buku yang ia tinggalkan disana. Riani tampak kaget saat membuka lokernya ia melihat ada sebuket bunga mawar merah dengan sebuah kartu berisi kalimat “Hai cantik, setelah kau menerima bunga ini dapatkah kamu melangkah kelapangan basket ?”
Riani sekarang telah berada di tepi lapangan basket, ditengah lapangan terdapat Donny yang sedang memegang sebuah bola basket.
“Riani Khanza, maukah kau menerima ku untuk menjadi pacarmu. Selama ini kau telah memikat hatiku dengan pesonamu. Jika kamu mau menerima ku ambillah bola basket ini jika tidak kembalikan lah bunga mawar itu, Riani ” Riani mematung tanpa tau harus berkata apa, sejumlah siswa yang berada disana telah menatap mereka, bahkan ada diantaranya yang bersorak “terima, terima!!”
Riani mulai berjalan perlahan mendekati Donny, sekarang ia berada tepat didepan Donny tangannya secara pelan menyodorkan bunga mawar itu ke Donny. Donny dengan kecewa menerima bunga itu, tetapi setelah Riani menyodorkan bunga itu ia mengambil bola basket dari tangan Donny. Semua siswa disana bertepuk tangan meriah dan bersorak untuk mereka.
Sedangkan Moses memulai pernyataan cintanya yang sederhana tidak seperti Donny pada saat jam istirahat, dengan memberikan sesuatu yang ia ketahui sangat Maudy sukai.
“Maudy, ini untuk kamu.” Moses memberikan sebuah kotak dihiasi dengan pita yang cantik.
“apa ini aku tidak sedang berulang tahun, ehm coklat kau yang membuatnya sendiri?” Maudy membuka kotak itu.
“iya, gimana rasanya? Kurasa coklat itu sangat berantakan”
“Gimana yaaa?.. Hm.” Maudy masih mengunyah coklat dari Moses.
“Maudy, aku suka sama kamu” Maudy terlihat terkejut dan....
Saat pulang sekolah Moses mengajak Donny untuk lari lapangan bersama. Mereka berlari ditengah terik matahari sambil tertawa lepas. Keduanya sukses dengan pernataan cinta mereka, Donny yang diterima oleh Riani dan Moses ternyata ia jga telah diterima oleh Maudy.”
1 semester telah berlalu.
“Dy, aku ad rapat mendadak sama anak-anak OSIS, mungkin sampai sore.” Kata Moses yang menjadi ketua OSIS di SMU mereka.
“ngak apa-apa, aku tunggu sampai selesai.” Maudy menjawab sambil melirik Dafa yang sedang duduk disampingnya, tentuya Dafa akan menemani Maudy dengan 2 cangkir teh manis dan beberapa pisang goreng.
“oke.” Moses menjawab singkat sambil berbalik menuju ke ruang OSIS.
“Selama berada di dekat Moses lu itu berubah, Dy. Kenapa lu bisa tahan sama cowok yang ngak ad sisi romantisnya sama sekali. Waktu pacaran kalian hanya pulang bareng, mengerjakan PR dan belajar bareng, juga makan siang bareng.”
“Moses itu baik, Daf.” Hanya itu jawaban yang dapat dilontarkan Maudy.
“Bandingkan saja hubungan kalian dengan hubungan Donny dan Riani. Pasangan paling populer disekolah dan semua keromantisan yang Donny berikan ke Riani.”
“Dafa, menurut lu Donny dan Riani bahagia?”
“Bukankah semua orang berpikir begitu?, kenapa tiba-tiba nanya begitu?”
“karena...” Maudy tidak mampu menjawab.
“karna lu ingin kayak mereka.” Strike, apa yang dikatakan oleh Dafa sama persis dengan perasaan Maudy.
Disisi lain tepatnya dilapangan basket Donny sedang asik melemparkan bola basket yang di pegangnya ke arah ring, setelah bola itu masuk kedalam ring Donny berlari menghampiri Riani yang sedang duduk di tepi lapangan.
“lagi ngelukis apa?” tanya Donny
“kamu.”
“ntar malam ke cafe biasa bareng Moses dan Maudy mau?” tanya Donny
“oke, ntar kamu pergi duluan aja aku ada kelas lukis.” Jawab Riani menanggapi ajakan Donny tentang keluar bareng sahabat-sahabat mereka.
Moses pada malam itu masih dalam kelas bimbel, sehingga Donny pergi kerumah Maudy untuk menjemputnya. Mereka yang awalny canggung satu sama lain mulai mengakrabkan diri, ternyata banyak kesamaan diantara mereka dari band kesukaan, gnre musik, sampai cara dalam melihat pandangan hidup.
Sesampai dicafe tujuan mereka, Donny dan Maudy menunggu kedatangan Moses juga Riani untung saja mereka berdua menyusul dengan cepat.
Seminggu kemudian Maudy terlihat semakin lesu menghadapi hubungannya dengan Moses karna belakangan ini Moses semakin sibuk dengan kegiatan OSISnya. Moses dan Riani mengikuti camping anggota OSIS di daerah Bandung.
“Ma...u...dy?” Riani menelpon Maudy ditengah malam dengan suara terisak-isak.
“kenapa, Ri?”
“Maudy, kami baru dapat kabar kalau mamanya Donny barusan kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit.”Moses mengambil telepon dari tangan Riani dan menjelaskan.
“keadaannya bagaimana? Kalian pulang keJakarta sekarang?”
“Mama Donny... telah meninggal. Kami sedang mencoba minjam mobil untuk kembali ke Jakarta. Mungkin kami akan sampai dini hari nanti. Kamu kerumah sakit duluan ya.”
“iya, kalian hati-hati di jalan ya.”
Maudy menyetir ditengah hujan deras, setelah memarkir mobil ia mulai mencari Donny. Dipintu keluar bagian belakang terlihat sosok Donny yang pucat dan basah kuyup. Maudy memberikan jaketnya ke Donny, Donny berusaha tampak baik-baik saja dan menyuruh Maudy untuk pulang.
“lu ngak usah pura-pura, dan mencoba menutupinya, Don”
“gw harus gimana? Nangis meraung-raung meratapi kepergiaannya? Ngehibur anggota keluarga yang bersedih seolah diri ku tidak bersedih? Atau dengan sok kuat ngurusin pemakaman mama gue? Gw harus gimana Maudy?” Donny berbicara agak keras di hadapan Maudy.
Mereka diam sejenak, dan akhirnya Maudy bercerita ia juga kehilangan ibunya enam tahun lalu. Ayah Maudy akhirnya menikah lagi, dan kondisi keuangan keluarga mereka dalam kondisi kritis karna mereka menghabiskan uang untuk biaya perawatan ibu Maudy. Donny merasa kalau Maudy dapat merasakan apa yang dia rasakan sekarang, akhirnya Donny bisa sedikit tenang, dan Maudy memeluk Donny dalam keheningan sepanjang malam.
Semenjak mamanya Donny meninggal sikap Donny mulai berubah terhadap Riani.Riani selalu mengingatkannya dengan sang mama karna sikap Riani yang selalu mencoba mengaturnya, dan sikap seperti itu sama dengan yang mamanya lakukan.
Tetapi pelukan Maudy dimalam itu membuat Donny merasakan ad hal yang beda.Tatapan Maudy saat itu menunjukan kalau Maudy mengerti perasaan Donny dan karena itu juga Donny merasa menemukan orang yang selama ini dia cari.
Selama sikap Donny yang berubah terhadap Riani, Donny selalu mencari Maudy untuk menjadi teman ceritanya. Bahkan hanya untuk sekedar jalan-jalan, Donny mengajak Maudy bukan Riani. Kedekatan mereka ini membuat Donny merasakan hal seperti menemukan seorang yang dapat memahami dirinya. Maudy pun merasa Donny adalah orang yang dapat menemani dirinya yang selama ini kesepian karena kesibukan sang pacar sehingga membuat hubungan Maudy dan Moses menjadi renggang.
“Donny, aku dapat surat cinta lagi.” Kata Riani sambil menduduki salah satu kursi dikantin.
“kenapa ngak kamu balas aj?”
“kamu mau aku balas surat cinta dari cowok lain?”
“mungkin ada cowok yang lebih pantas buat kamu, aku bukan orang yang cocok sama kamu.”
Deg. Hati Riani seperti tersambar petir yang sangat menyakitkan.
“maksud kamu? Kamu masih sayang sama aku Don?”
“ngak tau.” Jawaban itu keluar begitu saja dari mulut Donny.
Riani tersenyum miring dan mencoba berkata dengan tenang “kamu jatuh cinta sama Maudy kan?”
Donny terdiam tak bisa menjawab, Riani berlari keparkiran mengemudikan mobilnya dengan cepat kerumah. Maudy yang berada didekat mereka tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar barusan, dia menghindari Donny dan pergi begitu saja.
Seminggu dari kejadian itu Riani tidak masuk sekolah ia mencoba melakukan hal biasa seperti tidak terjadi apa-apa tpi ia tidak kuat untuk kesekolah dan menatap wajah Donny juga Maudy.
Maudy yang sangat khawatir terhadap Riani, dengan ragu-ragu dia menghampiri Donny yang sedang berjalan gontai menuju parkiran sekolah yang telah sepi.
“Don, Riani gimana?”
“gue ga tau, Dy. Ga ad kabar apapun dari dia.”
“oke, kalau gitu nanti gue bakal kerumah dia.” Maudy berbalik meninggalkan Donny, dengan cepat Donny meraih pergelangan tangan Maudy dan Maudy menjadi terdiam.
“Maudy, gw sayang sama lu walaupun ini klise tapi ini yang gw rasain.” Setelah mendengar itu Maudy membalikan badannya menghadap Donny dan mencoba melepaskan tangan Donny.
“Lupain perasaan itu, Don. Gw ga bisa nyakitin hati sahabat gue. Lu sekarang pergi kerumah Riani dan minta maaf sama dia.”
Suasana diantara mereka berdua menjadi hening seketika.
“lu ikut gue.” Donny menarik tangan Maudy untuk masuk kedalam mobilnya. Didalam mobil keduanya saling terdiam hingga sampai didepan rumah Riani Donny buka suara.
“oke, sekarang gue bakal turun untuk minta maaf sama Riani dan menganggap ini ga pernah terjadi, Tapi gue mohon izinin gue untuk meluk lu terakhir kalinya ya.”
Donny meraih tubuh Maudy yang masih duduk dijok mobilnya. Dengan iringan isak tangis yang keluar dari mulut Maudy mereka berdua saling berpelukan.
Maudy membuka pintu kamar Riani dan melangkah masuk dengan hati-hati
“Ri, Maafin gw yah. Gw salah iya gw emang salah sama lo, Donny memang teman gw, gw jga sadar Donny itu pacar dari sahabat gw. Tpi gw mengakui gw ga tau dari kapan, sejak kapan, atau mulai kapan gw bisa nyaman sama dia. Sekarang gw bukan mau ngerebut dia dari lu, gw sadar Ri dia msh pacar lu dan gw ga mau menyakiti lu walau skrg gw ud nyakitin lu. Maaf Ri, dan gw bakal ngejauh dari kalian selamat tinggal.” Riani berdiri menghadap jendela kamarnya walau ia mendengar semua yang Maudy katakan ia tidak berniat untuk menjawab. Maudy pun berbalik dan meninggalkan kamar Riani sambil menatap Donny yang masih berada didepan pintu kamar Riani. Setelah Maudy pergi Donny melangkah masuk ke kamar Riani lalu memeluknya dari belakang. Hanya isak tangis Riani yang terdengar diantara suasana hening kamar Riani.
Moses melihat adegan pernyataan cinta Donny ke Maudy, dan ia merasa kecewa terhadap kekasih dan sahabat karibnya itu. Moses mencoba melupakan semuanya walau sulit, Moses menahan sakit hatinya sendiri, memendam segalanya. Mencoba melewati setiap harinya bersama Maudy seperti biasa walau didalam hatinya ad sesuatu yang mengganjal.
Hubungan Donny bersama Riani kembali normal mereka kembali bersekolah seperti biasa menjalani semuanya seperti biasa, sampai di hari kelulusan SMA mereka pun msh menjadi sepasang kekasih, hanya satu hal yang berbeda hubungan persahabatan Maudy dan Riani sudah putus dan tidak dapat dipersatukan lagi. Sampai dihari terakhir mrk bertemu saat masa SMA pun tidak ad yang bisa mempersatukan persahabatan mereka lagi.
Donny dan Riani tetap bersama setelah kelulusan mereka di SMA, mereka berdua bersama-sama melanjutkan study mereka di London. Hubungan mereka selama ini tetap terjalin dengan baik, tetapi semuanya terlihat seperti kepura-puraan. Tidak ada tatapan yang murni diantara keduanya, tidak ada kata-kata yang tulus dari mulut mereka. Hingga akhirnya mereka berdua sama-sama muak dengan kisah cinta yang palsu ini, Riani dan jga Donny memutuskan untuk mengakhiri semua ini lalu mencoba untuk mencari jalan masing-masing.
Maudy dan Moses dua-duanya sibuk mempersiapkan kelanjutan sekolah mereka di kampus masing-masing. Mereka jarang bertemu, sehingga dalam beberapa minggu itu Moses mulai lelah dengan semua yang dipendamnya selama ini. Moses berencana mengutarakan semua isi hatinya kepada Maudy, ia menghubungi Maudy. Moses mengajak Maudy bertemu di cafe yang dulu sering Ia, Maudy, Riani, dan Donny datangi. Mereka berdua terdiam cukup lama, sampai Moses memulai bicara.
“Dy, aku udah ga tahan sama semua ini. Aku capek pura-pura ga tau, aku capek pura-pura bodoh, aku jga capek menyakiti diri aku sendiri.”
“Maksud kamu apa Mos?”
“Udahlah Dy, aku udah tau semuanya. Sebenarnya aku tau perasaan Donny ke kamu dan perasaan kamu terhadapnya. Aku tau semua yang terjadi selama ini antara kamu, Donny, dan Riani. Selama ini aku mencoba untuk pura-pura tidak tahu semuanya karna aku takut akan kehilangan dirimu, tapi sekarang aku udah capek dy. Aku sadar sekarang aku tidak memiliki mu lagi, dan aku jga sadar kalau aku tidak berada dalam hatimu lagi.”
“Maafin aku, Mos. Aku yang salah ngak seharusnya begini maaf, maafin aku. Aku udah nyakitin kmu Mos.” Maudy mulai meneteskan air matanya.
”Lupain aj, Dy. Sekarang lebih baik kta akhiri aja. Dari pada aku terus mempertahankan seorang yang tak lagi bisa kumiliki.” Moses memeluk Maudy, menghapus air mata di pipi Maudy. Dan dengan perlahan Moses melepas pelukannya lalu melangkah meninggalkan Maudy sendiri.
Maudy masih terisak, ia terduduk di kursi cafe. Bayang-bayang memori tentang dia, Moses, Riani, dan Donny mulai berputar di otak nya. Maudy tersadar dan meyadari semua ini memang harus diterimanya, karna tidak semua dapat berakhir bahagia dan sebuah kesalahan akan menerima akibatnya.
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top