test

Cerpen Ampunilah Hamba
Cerpen Ampunilah Hamba


Ampunilah Hamba
Karya : Ale Yanda


Malam semakin larut. Jam sebelas malam kereta belum juga tiba. Aku harus sampai rumah Ibu secepatnya untuk meminta maaf atas segala dosa dan kesalahan. Maklum aku baru pulang dari rantau. Akhirnya lima belas menit kemudian dari Bogor kereta terakhir menuju Tanah Abang berangkat dengan muatan sepi.
Saat berada di dalam kereta Commuter Line gerbong ke-4 kupandang semua penumpang berwajah lelah dan payah. Semua terlalap dalam mimpi panjang.
Dari stasiun Universitas Indonesia naik sekumpulan bule yang manis dan seksi. Sayang mereka memilih gerbong ke-5. Rasanya aku ingin mendekat tapi sudah terlambat. Gerbong 5 tiba-tiba penuh.
Aku santai aja. Sambil melirik bule sesekali. Anggap saja sebagai obat penghilang ngantuk. Walau sebutan Jakarta adalah kota yang tak pernah tidur.
Saat di Stasiun selepas UI naik segerombolan waria dengan membawa alat musik karaoke yang digendongnya.
Bahkan hampir di setiap stasiun berikutnya naik lagi sejumlah waria yang membawa alat karaoke. Dan kejutannya semua kompakan memilih gerbong ke-4 tempatku berada. Bahkan ada yang duduk di sebelah. Aroma parfum dan keringatnya menyengat tajam hidung dan pikiran. Kuhitung semua waria berjumlah tujuh. Belahan dada dan pahanya sungguh menggoda. Anggap saja aku sedang dapat hiburan sekalian cobaan. Plak! Mereka semua kan pria. Aku banyak nyebut istighfar.
Suaranya cetar menyapaku. Kenalin eike namanya Udin kalau siang. Dina kalau malam. Lalu sebagian mereka berdandan merapikan penampilan. Membetulkan kutang, menyisir rambut, merias muka, memenorkan bibir dengan lipstik.
Ini kesalahan siapa? Kok mereka (waria) jadi semakin meraja lele, eh, lela. Yang dikuatirkan adalah bila tak diantisipasi sejak dini takutnya anak-anak dimana lingkungan mereka tinggal dapat terpengaruh prilakunya. Bahkan menyebabkan kerusakan moral.
Penyakit lingkungan dan masyarakat bisa timbul. Karena mereka sering bergonta-ganti pasangan. Narkoba bahkan berbuat mesum di tempat kostnya. Astaghfirullah...!
Ayo! Sebelum datangnya azab dan buat lingkungan kita menjadi berkah. Bersih-bersih terhadap penyakit masyarakat. Berikan peyuluhan dan penyadaran kepada para waria. Tak ada kata terlambat kawan.
Kereta berjalan lambat karena muatannya semakin penuh. Saatnya aku turun di Stasiun Karet Permai. Meninggalkan catatan perjalanan ini.
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top