test

Cerpen Cerita Lucu Melihat Hantu
Cerpen Cerita Lucu Melihat Hantu

Cerita Lucu Melihat Hantu
Oleh : Iday

Satu malam suara air dalam aquarium mendadak hidup. Ikan-ikan didalamnya mulai menyadari, ekornya santai bergoyang-goyang supaya mereka tidak tengelam terbawa arus. Bersamaan dengan riak yang memiliki nuansa tersendiri, mataku memperhatikan aneh.
.
Merasa penasaran, ku dekati aquarium kecil itu meninggalkan komputer teman beberapa saat. Meningalkan naskah yang baru ku tulis setengah halaman.
.
Namun tak lama, bau amis, dan busuk bangkai sesak memenuhi hidung. Lampu aquarium sebagai sumber cahaya satu-satunya didalam kamar kelap-kelip, mati hidup. Otak yang sudah terlatih oleh tontonan bereaksi, "Sepertinya, akan ada sesuatu," pikirku melayang dengan beberapa bayangan menakutkan dalam imaji. Wajah mendadak panas.
.
Lampu benar-benar tak mau diam. Aku kemudian kembali ke meja tempat asalku. Mata mendadak tajam mengelilingi sekitar, pun telinga, dipasang baik-baik. Kalau-kalau ada aktifitas di sekeliling rumah aku hanya tinggal lari yang kebetulan di rumah sedang tidak ada orang. Bapak di rumah tetangga sebelah sedang ngobrol, sedang aku, seorang penakut.
.
Keadaan dalam kamar yang gelap aku memberanikan diri. Sementara lampu aquarium sudah benar-benar mati. Wajah hanya tersinari cahaya komputer, dengan keberanian seadanya aku melanjutkan mengetik naskah. Tapi bau busuk seperti bangkai manusia semakin kuat, seolah mengelilingi tubuh basah mandi keringat. Suasana menjadi hening, denting suara jantung jelas terdengar.
.
Aku membalikan badan, rasanya seperti ada yang menatapiku dari belakang. Namun pekatnya gelap membuat mata tak bisa melihat sekeliling. Dengan rasa takut yang teramat sangat, kemudian aku keluar rumah.
.
"Tadi, Dia ada apa kerumah?" tanya bapak tiba-tiba saat ia menerima kunci rumah dariku.
"Dia? Dia siapa? Tadi tidak ada Dia kerumah?" jawabku heran begitu sangat. Sementara waktu, aku hanya melotot dengan perasaan takut saat bapak bercerita.
"Tadi bapak lihat Dia masuk kerumah. Bapak kira mau meminta pertanggung jawaban dari kamu. Sebab, kalau mau ngajak kamu kencan pasti bajunya rapih. Tapi Dia hanya mengenakan baju tidur putih! Dia tidak masuk?!"
.
Aku tidak menjawab. Mata teralihkan ke arah rumah putih, rumahku, berdampingan dengan pohon mangga berdaun lebat, lama ku tatapi. Lalu ingatan terbawa pada waktu sebelum terjadiannya kejadian aneh itu.
.
Inspirasasi buntu membuatku tak bisa melanjutkan naskah bergendre horor yang sedang ku tulis. Pikirku, kalau suasananya gelap itu akan sedikit mempermudah mengarang cerita. Tapi salah, pada akhirnya ku dapati sumpah serapah sendiri, "gelap lembab, benci dan luka tolong beri saya inspirasi!" Saat itu raungku keras. Setelahnya aku tak menanggapi bapak, kebetulan hubungan kami sedang tidak baik.
.
Kemudian aku jadi benar-benar takut, dan mengimani kalau ternyata bicara dan mengambil keputusan sembarang itu memang tidak boleh, seperti yang dilakukan bapak dan aku. Namun dibalik itu, datang inspirasi lain yang membuatku bisa menuliskan cerita singkat ini, juga naskah hororku berlanjut kembali lebih berpariasi.
.
Aku meninggalkan bapak, bersamaan dengan 'Dia' dari celotehnya. Sampai saat ini ucapan bapak, "Tadi, ada apa Dia kerumah?" terngiang-ngiang memberi kesan tersendiri, berikut beberapa tusukan syahdu yang ku nikmati kala itu. Aku berterima kasih untuk inspirasi dan ide yang ia beri, juga untuk beberapa orang sebelum dia di bawah pohon mangga.
Bukankah bapakku terlihat lucu kala melihat hantu? Sedangkan dia orang satu-satunya yang bisa melihat hantu.


**END**
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top