Rabu, September 28, 2016

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Mengagumi Karya Tuhan Karya Nana

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Mengagumi Karya Tuhan
Cerpen Mengagumi Karya Tuhan

Mengagumi Karya Tuhan
Oleh : Nana

Kagum ?
Adalah kata yang selalu ada dalam kehidupanku. Namaku Nensi. Aku mengagumi seseorang yang termasuk adik kelasku di Sekolah Menengah Kejuruan tempatku belajar. Namanya Adi, dia 2 tahun lebih muda dariku. Aku mulai menyukainya saat pertama kelas XII. Entah apa yang membuat aku begitu tergila-gila padanya. Aku dan dia cukup dekat, walaupun banyak teman yang sewot melihatnya. Kita sering bercanda, dia juga suka memanggilku adek karena memang dia lebih tinggi dariku. Kita juga pernah minum pop ice satu untuk berdua. Itu adalah momen yang sangat berharga bagiku. Aku menganggap dia seperti adikku sendiri walaupun rasa sayang ini lebih dari itu. Semua kebersamaan itu akan menjadi kenangan, karena kelulusanku tiba. Di saat acara pelepasan, dia bersama temannya yang lain bertugas disekolah. Aku tak berhenti memandangnya dari jauh, dia adalah orang yang mampu membuat jantungku berdetak tak seperti biasanya. Dia juga yang menjadi alasan aku bersemangat ke sekolah. Dia seorang adik kelas yang membuat aku jatuh cinta. "Mulai besok dan seterusnya, kita tak lagi berada di tempat yang sama. Tak lagi memakai seragam yang sama, dan tak lagi saling pandang" Pikirku, dan tiba-tiba air mata banyak yang jatuh membasahi pipiku. Aku semakin tidak kuat untuk menahan tangis, tapi aku berusaha untuk menangan suara isak tangisku. "Nen kamu gak apa-apa?" tanya salah satu temanku. Aku hanya menggelengkan kepala.


Setelah beberapa jam acara selesai teman-temanku sibuk foto bersama, aku hanya ikut foto sekali. Kemudian aku bergegas mencari Adi. Kesana kemari aku mencarinya tapi dia tidak ada. Ku tanyakan ke salah satu temannya ternyata dia sudah pulang. Betapa kecewanya hatiku, padahal aku ingin sekali berbicara dengannya.

Beberapa bulan kemudian.
Aku rasa sangat merindukan Adi dan canda tawa nya. Aku ingin sekali melihat wajahnya. Ku tekatkan datang kesekolah saat jam pulang.

Aku melihat dia dari kejauhan. Dia berjalan bersama teman-temanya dan tertawa bersama. "sepertinya dia bahagia" pikirku .
Tak lama kemudian dia melihatku, tapi dia sok cuek dan seperti tak perduli. Aku yang sebenarnya sudah tak sabar untuk menatapnya dari dekat merasa semua harapanku sia sia. Sepertinya dia sudah tak mengenalku. Aku berbalik dan berjalan pulang, tiba-tiba terdengar suara memanggilku "mbak" teriaknya jelas di belakangku. Aku berbalik lagi dan ternyata kudapati sosok Adi berdiri di belakangku dengan tersenyum. Rasa hatiku yang semakin tak karuan membuatku ingin jatuh pingsan. Dia mendekat dan mengajakku bersalaman, "gimana kabarnya? Udah lama ya gak ketemu. Gak kangen sama aku?" katanya. Aku meraih tanyannya dan bersalaman "Kangen?" kataku dengan nada tanya. "oooo gak kangen sama adikmu ini yaudah pergi sana" katanya dengan ekspresi ngambek. Aku pun tertawa dan dia juga ikut tertawa. "andaikan aku bisa memelukmu, pasti sedari tadi tak kan ku lepas" kataku dalam hati. Aku berharap dia tidak pernah melupakanku dan tetap mau bercanda tawa seperti ini saat berjumpa kelak :'D

**END**

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Angka Kebahagiaan Dan Kematian karya Sandra kirana

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Angka Kebahagiaan Dan Kematian
Cerpen Angka Kebahagiaan Dan Kematian


ANGKA KEBAHAGIAAN DAN KEMATIAN
Oleh : Sandra Kirana


Aku Tasya Febrianti, seorang siswi SMA kelas 2 yang berkumis tipis, cukup tinggi dan berambut ikal sepinggang.

Disebuah caffe, sore hari saat cuacanya sedang turun hujan. Saat itu aku pergi kesana ingin memesan sesuatu yang bisa aku makan. Saat aku masuk dan membuka pintu caffe itu, nyaring terdengar suara bel. Lalu aku langsung duduk di meja bernomor 12. Tak lama setelah itu, pelayan muncul. "Selamat sore dan selamat datang di Donuts Dunkings, silahkan mau pesan apa?" katanya sambil memberikan buku daftar menu. Aku menerima dan membukanya, "Saya pesan Donat Forest Glam dan Ice Blend Coffee" jawabku. Dan pelayan itupun mencatat pesananku dan berlalu meninggalkanku.


Aku menunggu pesanan itu datang, sambil aku menatap luar dari balik layar kaca dan mataku tertuju kearah pinggiran jalan yang ramai oleh pemuda-pemudi yang berlalu lalang nongkrong disana. Namun suara lain mengejutkanku.
"Hey" katanya. Aku langsung menengok kearah sumber suara. Ternyata seorang pria sebaya denganku yang berjas hitam dengan pakaian rapih dengan style rambut menyamping dan putih tinggi.
"Eh, yaa?" Jawabku.
"Boleh saya duduk disini?" Tanyanya.
"Oh, silahkan" kataku dengan seulas senyum ramah. Saat dia mendengar ucapanku, dia langsung duduk didepanku. Aku hanya diam, sambil kuperhatikan wajahnya. Yaah, lumayan tampan.
"Sedang menunggu siapa?" Tanyanya.
"Gak nunggu siapa-siapa"
"Oh, cuma pesan makan ya?"
"Iya" tak lama dari itu, pelayan tadi datang kembali dengan membawa sajian sesuai pesananku. "Terimakasih" ucapku pada pelayan itu. Saat pelayan itu ingin pergi, namun dengan cepat pria itu berkata pada pelayan "Mbak, saya pesan minuman Hot Dark Chocolate" pelayan itupun mencatat lalu pergi. Dan kembali lagi menyajikan yang dia pesan.
"Kamu suka Donat Forest Glam?" Tanyanya.
"Ya ga juga sih, semua donat saya suka. Tapi saya hanya menyukai satu minuman, yaitu Ice Blend" Ujarku.
"Oh, kamu ga seneng minuman ini?" Tanyanya sambil menunjukan secangkir hot chocolatenya itu.
Aku menggeleng, "tidak"
"Mengapa?"
"Terlalu manis" kataku sambil menyeruput ice blended
"Benarkah?"
"Yaa"
"Oh ya, boleh kita berkenalan?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Tasya, kamu?" jawabku sambil menjabat tangannya.
"Saya Ridho"
"Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" tanyanya
"Sepertinya tidak, baru hari ini bertemu"
"Oh, mungkin saja ya? Oh iya, kamu sekolah mana?"
"SMA N 8 Bandung"
"Loh, kita 1 sekolah ya ternyata? Kelas berapa?"
"Benarkah? Saya kelas 2 IPS I, kamu?"
"Iyaa, saya kelas 3 IPA II"
"Kakak kelas dong ya? Tapi saya baru melihatmu hari ini. Disekolah saya tak pernah melihat kamu" Ujarku.
"Saya memang pindahan, saya pindahan dari Jakarta. Baru juga 2 minggu disini. Jadi wajar kamu tak kenal dengan saya"
"Mm.. Begitu. Sudah banyak temankah kamu disekolah baru ini?"
"Yaa begitulah"
"Merasa nyaman?"
"Tentu" jawabnya. "Kalau boleh, kamu mau berteman denganku juga?" tawarnya.
"Yaa, tentu saja"
"Oh iya, hari mulai gelap. Kamu ga pulang? Ujannya juga udah reda nih. Atau mau pulang bareng saya aja biar aman?" ujarnya.
"Mmm.. Boleh"
Setelah aku menghabiskan donat dan minumanku, aku beranjak pergi menuju kasir. Saat aku ingin membayar, ia langsung mencegahku. "Sudah, biar saya saja yang bayar" aku heran, mengapa dia sebaik ini. Tapi aku merasa tidak enak, aku takut kalau aku dianggap wanita matrealistis olehnya. "Mm.. Gak usah, biar saya aja" jawabku menolak. "Udah, biar sekalian. Saya aja yang bayarin. Gapapa kan sekali-kali berbuat baik kepada orang?" akupun tak protes lagi. Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih padanya.

Setelah itu kami keluar dan pergi meninggalkan caffe. Aku menunjukan jalan menuju rumahku. Setelah sampai, aku mengucapkan terimakasih padanya. "Makasih yaa udah mau nganterin saya pulang sampe rumah. Makasih banyak, maaf ya kalo saya udah ngrepotin kamu. Jadi gak enak nih" kataku.
"Iyaa gapapa kok, kan sebagai teman harus saling tolong menolong" Jawabnya sambil menyunggingkan senyum. Setelah itu, dia langsung tancap gas meninggalkan rumahku. Saat aku sudah berada dalam rumah, ibuku ternyata melihatnya tadi mengantarkan aku pulang.
"Itu siapa Sya?"
"Itu teman Tasya bu, Ridho"
"Teman apa teman?" tanya ibuku sambil cengir kuda.
"Teman bu, baru juga kenal"
"Keliatannya dia baik ya Sya?"
"Iya bu, sepertinya begitu. Baik, ramah juga orangnya"
Hari terus berganti hari, aku semakin dekat dengannya. Aku menjadi teman akrabnya. Kami saling mengutarakan masalah, curhat dan kadang candaan pun bisa menjadi makanan kami sehari-hari. Rasanya senang sekali bisa dapat berkomunikasi langsung dengannya daripada melalui sosial media. Sudah hampir 3 bulan kami saling mengenal. Tapi pertemanan ini aku khianati. Aku malah mencintainya tanpa kusadari. Aku menyayanginya tanpa sengaja. Aku mulai mengaguminya dalam diam. Salahkah aku telah berani mencintainya? Bahkan sampai aku seperti tak mau jauh darinya. Akupun ingin bercerita tentangnya pada sahabatku Laila. Namun, kurasa dia pasti sudah mengenal Ridho juga. Jadi rasanya tak mungkin aku ceritakan kembali.

Suatu hari, saat dalam kelas, aku tengah duduk di bangkuku. Tak lama, bel berbunyi tanda masuk. Setelah itu, kami berdoa dan mulai belajar. Saat sedang dalam keadaan belajar, tak sengaja aku melamun. Aku seperti memikirkan Ridho. Tak tau kenapa, senyuman dan keramahannya membuatku senang oleh sifatnya. Lamanya jam belajar usai hingga pulang, akhirnya bel berbunyi.
Setelah semua keluar dari kelas ingin pulang, aku pergi ketoilet untuk buang air kecil karena sudah tak tahan. Tak disangka, aku menabrak Ridho.
"Maaf Do ga sengaja" ucapku, tanpa jawabannya aku langsung berlari ke toilet wanita. Dia hanya tertawa kecil. Setelah keluar dari toilet, ternyata dia menunggu.
"Nungguin siapa Do?"
"Nungguin kamulah"
"Oh ya?"
"Iya, ga ada temen soalnya. Bareng saya ya?" jawabnya. Aku hanya mengangguk. Dan mengikutinya dari belakang. Ridho mengambil motornya diparkiran, setelah itu aku naik. Saat diperjalanan, dia menawarkanku untuk pergi ke caffe itu lagi. Akupun mengiyakannya. Sesampainya disana, suasana telah ramai. Namun masih terdapat beberapa meja kosong disana, Ridho pun menunjuk kearah meja bernomor 12 sama seperti awal kami bertemu. Yaa, dimeja bernomor 12. Kami pun duduk, tak lama datang pelalayan. "Selamat datang dan selamat siang di Donuts Dunkings, silahkan mau pesan apa?"
Kali ini aku hanya ingin minum, dan Ridho pun sama.
"2 cangkir Hot Dark Chocolate" kata Ridho menjawab dan pelayan itu langsung mencatat lalu pergi. Seketika itu aku langsung menengok kearahnya. "Do, kamu tau kan aku gak suka minuman Hot Chocolate?"
"Sesekali kamu harus mencobanya"
"Do.. Kamu" kata-kataku terpotong olehnya.
"Iyaa aku tau kamu ga suka, tapi ga ada salahnya kan kamu sekedar mencicipnya sedikit demi aku?" ujarnya. Aku hanya mengangguk pelan dan diam. Aku tak mau membuatnya marah, walaupun kutahu itu bukan kebiasaannya. Namun aku tak mau membuat wajah cerianya hilang kalau aku berkata tidak.
Saat 2 cangkir berisi sama itu sedia didepan mata. Dia yang terlebih dahulu mengambil dan menikmati minumannya. Aku hanya terpaku pada gelas kecil yang indah berisi Hot Dark Chocolat itu. Lalu dia menyuruhku untuk mencicipinya.

Aku pun menurut, kutegak minuman itu sampai kedalam kerongkonganku sedikit demi sedikit.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Enak" jawabku.
"Apa yang kamu rasakan saat meminumnya?"
"Yaa berbeda dari yang aku kira"
"Sudah mulai merasa suka pada minuman itu?"
"Yaa, aku mulai sedikit menyukainya"
"Kamu pasti akan lebih sangat menyukainya jika kamu sering meminumnya"
Aku hanya mengangguk dan menikmati minuman itu lagi. Ternyata aku salah, minuman ini lebih enak dari Ice Blend kesukaanku. "Akupun sangat menyukai minuman itu sama seperti perasaanku padamu" ujarnya yang sontak menbuatku kaget dan menghentikan minuman yang tengah menari dalam lidahku. Seketika aku menengok kearahnya kemudian aku langsung menaruh minumanku dimeja. Dia memandangku, dan menggenggam tanganku, kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah yang berisi kalung indah dari dalam saku celananya.
"Sya, aku ga mau basa-basi lagi. Yang penting kamu harus tau, kalo aku ini mendam perasaan kekamu selama 2 bulan. Aku sebenarnya telah lama ingin mengutarakannya padamu, tapi hatiku masih ragu. Aku takut kamu menolaknya. Dan sekarang, tepat pada tanggal 12 Desember, di Caffe ini, dan disebuah meja yang bernomor 12 ini perkenalan kita yang sudah genap 3 bulan. Kamu mau kan Sya jadi pacar aku?" Ujarnya serius.
"Do, perasaanku juga sama seperti kamu. Makasih ya Do, dalam waktu 3 bulan ini kamu mau jadi teman aku. Mau mendampingiku kemanapun, selalu ada untuk aku. Makasih banyak Do. Dan aku nerima kamu Do" Kataku menerimanya. Wajah Ridho yang tadinya terlohat tegang, sekarang menjadi amat bahagia. Kotak yang berisi kalung itu iya pakaikan keleherku. Dan dia berkata "Nanti, kalo aku sudah lulus sekolah, lalu kuliah di Semarang dan telah sarjana, aku akan melamarmu. Aku akan menikahimu" ujarnya.
"Benarkah itu Do? Kamu janji sama aku?" tanyaku.
"Iya Sya, aku janji. Tapi aku mohon kamu bersabar. Sebentar lagikan aku akan lulus, aku harus pergi ke Semarang untuk melanjutkan kuliahku. Aku harap kamu sabar Sya, aku harap kamu bisa menungguku" Aku yang mendengarnya terharu.
"Iya Do, aku ga akan ngkhianatin cinta kamu. Aku akan tunggu kamu Do, asal kamu gak ngecewain aku. Aku percaya sama kamu" aku tak sengaja menitikan air mata. Namun dengan sigap Ridho mengusapnya dan memelukku.

Sampai saat ini hubungan kami baik-baik saja. Ridho pun telah lulus dari SMA nya. Bahkan hingga aku pun ikut lulus menyusulnya. 4 tahun sudah kami LDR. Komunikasi kamipun tetap lancar. Yaa walaupun tak setiap jam ia membalas. Terkadang 1 hari ia tak memberiku kabar. Karena aku tau dan mengerti, ia tak akan main-main dalam kuliahnya. Akupun percaya padanya. Lagipula, aku juga sudah bekerja. Tak harus aku memegang alat komunikasi setiap hari.

Sampai pada suatu pagi, Ridho menelfonku. Ia berkata bahwa hari ini ia akan pulang. Ia akan menemuiku untuk melamarku. Aku senang sekali. Mungkin nanti malam ia akan sampai. Saat malam hari, aku mempersiapkan diri. Lalu aku menunggunya dirumah. Lama sekali Ridho tak juga datang. Telfon dariku pun tak juga diangkanya. Aku mulai khawatir. Batinku tidak enak, aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tapi aku tepis jauh-jauh pikiran itu. Aku tetap menunggu Ridho sampai akhirnya pun aku tertidur. Ke esokan harinya, aku tersadar. Aku mengingat Ridho kembali. Aku mengambil hp dan ternyata tidak ada apapun. Tidak pesan, tidak ada panggilan keluar darinya. Hanya ada pesan melalui bbm. Aku berharap itu dari Ridho. Ternyata itu adalah kakak Ridho. Ia menyuruhku untuk secepatnya datang kerumah bersama ibuku. Aku membereskan kamar, dan mengerjakan semua tugasku lalu aku mandi dan setelah semua selesai aku pergi kerumah Ridho bersama ibu.
Sesampainya disana, aku heran mengapa bisa ada bendera kuning yang terikat didepan rumah Ridho. Namun setelah aku masuk, betapa kagetnya aku. Bagai disambar petir disiang bolong. Hatiku melemah saat itu, inginku menangis. Ingin aku bertetiak histeris. Kekasihku Ridho telah meninggalkan aku. Aku berusaha membangunkannya. Aku menangis, begitu banyak yang aku ucapkan padanya walaupun ia tak akan bisa mendengarnya. Aku berontak saat itu, namun ibu menenangkan aku. Aku menangis histeris, semua keluarganya pun seperti itu.

Saat pemakaman, aku berusaha untuk tidak menangis. Ibu berusaha membuatku tenang dan selalu berada disampingku. Aku memeluk ibu. Saat 1 papan lagi ingin menutupi wajahnya, rasanya aku tak kuat. Aku belum ikhlas, aku masih ingin melihat wajahnya lagi.

Kakaknya Ridho berkata bahwa ia seperti ini karena musibah menimpanya kemarin sore, Bus Express yang ia naiki itu menabrak mobil Truck karena sopir mobil truck itu dalam keadaan mabuk. Aku syok, hampir aku jatuh pingsan. Ridho, orang yang amat aku cintai, yang menyayangiku dengan setulus hati telah pergi meninggalkan aku.

Ridho, akankah kamu lupa pada janjimu ingin melamarku? Ingin menjadikan aku sebagai calon istrimu Ridho? Apakah kamu lupa saat dimana kita sering bersama sewaktu kita duduk dibangku SMA? Apakah kamu tak ingat, pada angka 12 Do? Ingatkah kamu pada tempat dimana kita pertama kali kenal dan tempat kamu mengungkapkan isi hatimu padaku? Apakah kamu ingat semua itu Do? Dan sekarang kamu pun pergi meninggalkanku. Di angka yang sama, angka 12.

**END**

Minggu, September 25, 2016

Textual description of firstImageUrl

Cara Mendaftar Dan Mendapatkan Uang Dari Blog Kita

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cara Mendaftar Dan Mendapatkan Uang Dari Blog Kita
Cara Mendaftar Dan Mendapatkan Uang Dari Blog Kita


wap4dollar adalah website penyedia layanan PPC (Pay Per Clik) yang mana Anda akan mendapatkan bayaran setiap kali ada pengunjung yang mengklik link atau iklan yang telah anda pasang/sebarkan di blog kita. Bayarannya cukup tinggi yaitu 150 klik dapat 1 USD / Dollar, dan pembayarannya visa melalui Paypal atau yg lainnya.



Kelebihan Dari wap4dollar
  • Pendaftaran mudah
  • 150 klik mendapat $ 1,
  • Pembayaran minimum hanya $ 0,15
  • Dapatkan 25 poin untuk setiap refferal yang daftar melalui link Anda
  • Pembayaran bisa dengan Paypal, Payza, atau MoneyBookers
  • Menerima klik dari handphone dan komputer
  • Permintaan pembayaran diproses dalam waktu 24 jam


Bagaimana Cara Mendaftar Di wap4dollar ?
  • Pertama Anda Klik Disini untuk mendaftar
  • Setelah itu Klik Registrasion
  • Kemudian isi semua kolom
    Username              : Isi dengan Nama anda tanpa spasi
    Password                : Isi dengan kata sandi Anda
    Confirm Password : Tulis ulang kata sandi Anda
    Webiste                    : Isi dengan Url situs Anda
  • Setelah semuanya sudah diisi, klik Register
  • sekarang buka E-mail yang Anda daftarkan tadi dan buka pesan dari wap4dollar, setelah itu klik url/link dari wap4dollar.


Lalu bagaimana cara mendapatkan uang dari wap4dollar ?
  • Sekarang kita ambil kode Link di Publisher Panel, terserah mau pilih Yang mana tetapi saya pilih yang Get Direct Ad links
  • Setelah itu Ada dua kode iklan, non adult dan adult (iklan Dewasa). Saya sarankan pilih non adult saja.
  • Lalu Copy kode iklannya, lalu letakan di postingan atau di navigasi blog Anda.


Itulah artikel tentang Cara Mendaftar Dan Mendapatkan Uang Dari Blog Kita semoga bermanfaat untuk Anda

Textual description of firstImageUrl

Cara Mengubah Video Menjadi Mp3 Di Android

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cara Mengubah Video Menjadi Mp3 Di Android
Cara Mengubah Video Menjadi Mp3 Di Android


MP3 Video Converter adalah sebuah alat yang memungkinkan Anda untuk mengubah berkas video apa pun yang telah disimpan di Android Anda menjadi berkas audio. Anda bisa memainkan berkas audio ini dengan mudah menggunakan pemutar audio apa pun.

Cara Mengubah Video Menjadi Mp3 Di Android adalah
1. Download Terlebih dahulu aplikasinya Disini


Cara Mengubah Video Menjadi Mp3 Di Android


2. Install aplikasi, jika sudah buka aplikasinya lalu Klik Pilih

Cara Mengubah Video Menjadi Mp3 Di Android

3. Lalu cari video yang akan diubah menjadi Mp3 

Cara Mengubah Video Menjadi Mp3 Di Android

4. Jika sudah memilih klik Copy(AAC) lalu ubah ke Mp3

Cara Mengubah Video Menjadi Mp3 Di Android
Cara Mengubah Video Menjadi Mp3 Di Android

5. Selanjutnya Klik Konversi

Cara Mengubah Video Menjadi Mp3 Di Android

6. Tunggu loading sampai Selesai dan selamat Anda berhasil

Itulah artikel tentang Cara Mengubah Video Menjadi Mp3 Di Android semoga bermanfaat untuk Anda

Textual description of firstImageUrl

Download MP3 Video Converter v1.9.42 apk Terbaru

100 out of 100 based on 100 user ratings

Download MP3 Video Converter v1.9.42 apk Terbaru
Download MP3 Video Converter v1.9.42 apk Terbaru


MP3 Video Converter adalah sebuah alat yang memungkinkan Anda untuk mengubah berkas video apa pun yang telah disimpan di Android Anda menjadi berkas audio. Anda bisa memainkan berkas audio ini dengan mudah menggunakan pemutar audio apa pun.


MP3 Video Converter ini mendukung banyak sekali format video, termasuk 3GP, FLV dan MP4. Selain itu, Anda juga bisa mengubah video menjadi berkas/format MP3 atau AAC dan bisa memilih kualitas suaranya. Dengan begini, Anda bisa mengurangi ukuran berkas secara drastis jika Anda memilih laju bit yang rendah.

Kelebihan MP3 Video Converter lainnya yaitu Anda dapat mengganti metadata berkas audio yang Anda buat. Anda bisa mengganti nama judul lagu, penyanyi, dan juga album.

MP3 Video Converter adalah alat bermanfaat yang sangat mudah digunakan. Anda bisa menghasilkan berkas audio dari berkas video mana pun yang Anda miliki di Android, termasuk video yang telah didownload dari YouTube.



INFORMASI TAMBAHAN
Diperbarui                     : 14 September 2016
Ukuran                           : 8,0 MB
Perlu Android versi      : 3.1 dan lebih tinggi
Ditawarkan Oleh          : Springwalk

Kamis, September 22, 2016

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Hujan Karya Meli Rahmadani

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Hujan
Cerpen Hujan

Hujan
Oleh : Meli Rahmadani

“Hhh, hujan lagi” keluh seorang gadis berparas cantik dari dalam kamarnya. Gadis itu biasa dipanggil dengan Rahma. Dia sangat mencintai semua hal yang berbau hujan. Alasannya sangat sederhana. Bagi Rahma, hujan itu memiliki nada-nada yang membuatnya merasa sangat damai dan tenang. Dari sekian tumpukan buku-buku yang ia baca, baik itu novel maupun komik, dia juga menemukan banyak keistimewaan dari suatu hujan. Hujan memiliki sisi yang sangat romantis. Di kala seseorang jatuh cinta maupun dikala seseorang mengalami kesulitan, hujan dapat mengatasi hal itu. Baginya hujan adalah perantara terindah yang diberikan sang pencipta untuknya. Walaupun begitu di dalam hatinya ada juga sedikit rasa bencinya pada hujan. Hujan membuatnya tak bisa menjelajahi dunia. Entah mengapa, di saat ia ingin melakukan sesuatu yang ia suka diluar sana, hujan selalu menghalangi dirinya.
“Andai aja gue jadi seberuntung cewek-cewek di novel ini” gumamnya sambil membayangkan dirinya berada dalam novel yang ia baca saat ini. Sesaat kemudian, ia menggelengkan kepalanya berusaha keluar dari lamunannya itu. “Aish, Rahma lo enggak boleh berandai-andai kayak gitu. Mana mungkin cewek kayak lo bisa ngerasain yang gituan. Hhh, dasar over” rutuknya. Hujan deras di luar sana benar-benar membuatnya merasa bosan, hingga rasa kantuk kini menjelma dalam dirinya. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan jam sembilan malam. Dia harus tidur secepatnya. Jika tidak, ia akan terlambat berangkat ke sekolah besok. Mau tak mau buku yang sedang bersender di tangan lembutnya harus ia tutup sekarang juga. Padahal, ia baru saja membaca bukunya itu.
Bagaimanapun juga, Rahma tetap terlambat bangun, sampai-sampai ia tergesa-gesa seperti itu. Sebenarnya Mamanya sudah membangunkannyasejak tadi, tapi karena sifat Rahma yang seperti kerbau, tidur lama-lama. Sepanjang perjalanan Rahma terus saja mengomeli dirinya yang sangat teledor itu. Bahkan, makanan yang sudah terhidang di meja makan saja sudah tak sempat ia nikmati lagi. Untung saja gerbang sekolah belum tertutup sepenuhnya. Tapi jika dilihat-lihat, sekolah mulai sepi, pasti bel sudah berbunyi sejak tadi. Ia harus cepat-cepat sampai ke kelas sebelum Pak Santoso, guru matematika yang terkenal sangat killer seantero sekolah menghukumnya tanpa ampun.
“Maaf, Pak, saya telat. Tadi saya agak telat bangunnya, tapi saya sudah berusaha buat cepet kok, Pak. Maaf, pak, jangan hukum saya” racaunya setelah ia sampai di kelas. Ia benar-benar tak berani melihat wajah gurunya itu, bisa-bisa tatapan tajam gurunya bisa membuatnya serangan jantung. Eh, tapi mengapa teman-teman sekelasnya justru menertawakannya? Sepertinya ada yang tidak beres dengan suasana di kelasnya itu.

Perlahan-lahan ia mendongak melihat keberadaan Pak Santoso sang guru killer. Oh Tuhan, ada apa dengan gurunya itu. Mengapa Pak Santoso berubah menjadi semacho itu, dan lihat wajahnya itu, benar-benar seperti personil boyband di Korea sana. Apakah gurunya itu akan mengikuti casting di Korea sampai berpenampilan seperti itu? Setelah Rahma menajamkan penglihatannya matanya yang hampir ingin menangis itu, ia benar-benar sangat terkejut. Sosok yang sedang berdiri di depan bukanlah Pak Santoso melainkan Fachri, ketua kelasnya. Rahma benar-benar merasa sangat malu dengan tindakan cerobohnya itu. Bahkan ia sekarang sedang mengutuk dirinya di dalam hatinya. Dengan sigap, Rahma mengambil langkah seribu ke bangkunya. Sahabatnya Dwi benar-benar membuatnya sangat kesal. Bukannya menghibur dirinya, Dwi malah tertawa terbahak-bahak disampingnya. Hal yang baru saja terjadi pada sahabatnya itu benar-benar terlihat sangat lucu. Di saat para pelajar sedang pusing mencatat datang sebuah hiburan yang tak terlupakan.
“Ketawa aja terus, kalo bisa sampai koyak mulut itu” ucap Rahma dengan sangat kesal.
“Sorry. Tapi gue berterima kasih banget sama lo. Gue sama temen-temen bersyukur atas hiburan yang lo lakuin, semua rasa pusing gara-gara nyatet materi yang Masya Allah, bejibun itu bisa hilang”
“Argh, gue malu tahu. Ini sebenernya kenapa, sih? Kok malah Fachri yang nyatet?” tanya Rahma.
“Guru-guru lagi rapat. Sasha, sekretaris kita juga lagi sakit. Maka dari itu, sebagai ketua kelas yang bijaksana, Fachri yang nyatet materi di papan tulis buat kita” jelas Dwi.
“Tetep aja gue malu banget. Aaa, semenjak gue ngayal yang berlebihan, hidup gue jadi berubah dratis gini”
“Sabar, Ra” ucap Dwi mengelus punggung Rahma yang sedang terpuruk itu. 

Rahma yang sudah merasa agak tenang itu, mengambil buku catatannya dan meletakkannya di atas meja dengan kasar, sehingga menimbulkan suara yang keras. Tentu saja hal itu membuat semua mata tertuju padanya. Rahma yang merasa sedang dipelototi itu menoleh, “Apa lihat-lihat?” bentaknya. Semuanya pun segera melanjutkan catatan mereka. Oh, ternyata walaupun dia sudah terlihat tenang, rasa kesalnya masih tersimpan jauh di lubuk hatinya. Sebenarnya walaupun dia terlihat feminin, kalau sudah marah bisa menjadi sosok yang sangat mengerikan.
“Cepet, dong. Gue udah enggak tahan lagi, nih. Tadi pagi gue belum sarapan, laper banget, nih. Tuh, lo denger suaranya, ‘kan? Mereka udah pada demo” ucap Rahma membujuk Dwi. Bel istirahat sudah berbunyi beberapa detik yang lalu. Di kantin, Rahma memakan mie ayam pesanannya dengan sangat lahap. Sampai-sampai sahabatnya, Dwi, melongo melihatnya yang sedang makan itu. Rahma yang menyadari itu, melirik Dwi dan baksonya. “Kok enggak di makan? Lo enggak mau? Sini buat gue aja daripada mubazir” ucap Rahma mengambil bakso milik Dwi.
“Enak aja. Bagian gue masih lo sikat juga, lo tu kayak belum makan sebulan aja, lahap banget” ucap Dwi mengambil kembali baksonya yang telah direbut oleh Rahma itu.
“Lo ‘kan tahu sendiri, gue itu enggak bisa telat makan. Kalo sampai gitu, ya, kayak gini deh hasilnya”
“Iya, sih. Tapi, kalo dilihat-lihat dari postur tubuh lo enggak seimbang sama kebiasaan lo, deh. Lo itu enggak bisa lepas dari makanan apalagi sama cake, tapi badan lo tetep gitu-gitu juga. Enggak ada perkembangan, masih kurus” ucap Dwi meledek Rahma, dari lirikan matanya saja sangat terlihat bahwa dia sedang meledek sahabatnya itu.
“Gue juga heran. Gue udah lakuin segala cara, tapi enggak bisa juga. Ya udah, gue jalanin aja. Entar kalo udah waktunya pasti tubuh gue berisi juga, tunggu waktunya aja” ucap Rahma dengan santai.
“Ehem, Ra, Fachri tambah ganteng aja, ya”
“Emang iya? Gue enggak perhatiin, tuh, males. Kurang kerjaan banget, deh” ucap Rahma.
“Ih, lo itu, ya. Kalo sama yang fiktif aja over banget, eh, giliran sama yang nyata diabaiin. Lo mau kayak cewek di novel lo itu tapi perhatiin cowok aja males”
“Gue enggak ada waktu buat gituan. Gue masih punya banyak kerjaan yang berguna kali”
“Terserah lo, deh” ucap Dwi menyerah dengan sikap Rahma yang tak mau kalah.
Ah, apa ini? Sepulang sekolah hujan menapaki bumi dengan deras. Tentu saja, hal itu membuat Rahma kesal, padahal ia sudah tak sabar pulang ke rumah untuk melanjutkan bacaan novelnya. Tapi sepertinya Dewi Fortuna sedang memihak pada adiknya, Amora. Rahma tiba-tiba mendapat telefon dari adiknya itu. Amora meminta kakaknya itu untuk pergi ke perpustakaan sekolah untuk mencari bahan untuk tugasnya. Setelah Rahma memikirkan permintaan adiknya itu, akhirnya ia menerima untuk membantunya, sekalian menghilangkan rasa bosan menunggu hujan reda. Setelah bahan untuk tugas adiknya itu cukup menurut Rahma, ia menengok keluar melalui jendela untuk memastikan hujan diluar.
“What? Bukannya reda malah tambah deras. Masa gue harus menerobos hujan. Bukannya disambut baik, yang ada malah bakal dimarahi Mama kalo sampai nerobos hujan” gumamnya. Rahma pun keluar perpustakaan, menuju teras sekolah menunggu hujan reda. Setelah lumayan lama di teras sekolah, Rahma melihat sosok yang melewatinya.
“Ketua kelas” batinnya. Ia ingin memanggil Fachri, namun tak jadi karena itu akan membebaninya. Ia pun menunduk, memandangi tali sepatunya. Sekolah sudah lumayan sepi, membuatnya bimbang harus menerobos hujan atau tidak. Tak lama kemudian, Rahma melihat kaki seseorang menghadapnya.

 Ia pun mendongakkan kepalanya, “Fachri” batinnya tersentak. Padahal Fachri sudah lumayan jauh darinya, kenapa ia kembali lagi? Ternyata Fachri kembali untuk menawarkan Rahma untuk ikut dengannya. Rahma sempat berpikir, jika ia ikut Fachri maka ia akan cepat sampai ke rumah, tapi jika ia tetap menunggu di sini, belum tentu hujan akan reda malah bisa saja hujan sampai malam. Akhirnya, ia memilih untuk ikut dengan Fachri. Ketika mereka sedang asyik berjalan dengan pikiran masing-masing, Rahma menghentikan langkahnya mencoba merasakan sentuhan tetesan hujan dengan memejamkan matanya, menikmati setiap nada gemericik hujan. Fachri yang menyadari itu pun langsung menarik tangan Rahma untuk membawanya ke dalam payungnya. Namun, karena terlalu kuat menarik, Rahma tak dapat mengendalikan tubuhnya hingga terjatuh ke pelukan Fachri. Hal itu benar-benar membuat pipinya memerah bak kepiting rebus. Ia sangat malu.
“Lo baik-baik aja, ‘kan?” tanya Fachri.
“Iya, makasih. Maaf, gue jadi ngerepotin lo” jawab Rahma malu.
“Biasa aja kali. Gue enggak keberatan, kok. Apalagi kalo orangnya itu lo”
“Hah?” tanya Rahma, sepertinya ia mendengar sesuatu yang aneh keluar dari mulut Fachri.
“Eh, cepetan, nanti lo dimarahi orang rumah” ucap Fachri mengalihkan pembicaraan.
“Iya” Rahma pun tersenyum melihat Fachri yang salah tingkah. Ia pun tersenyum juga tetapi tetap melihat lurus ke depan.
“Jangan ngelamun lagi, ya. Jangan main hujan, nanti lo sakit” pesan Fachri. Fachri sebenarnya mempunyai sifat yang dingin dan jarang bicara. Rahma pun tersentak akibat perlakuan dan sikap lembut Fachri. Lama Rahma menatap setiap lekuk wajah Fachri. Dia baru sadar bahwa apa yang dikatakan Dwi memang benar. Fachri terlihat semakin tampan. Fachri yang menyadari Rahma tengah memandangnya, menggodanya. Tentu saja hal itu membuat Rahma salah tingkah dan menarik tangan Fachri untuk melanjutkan perjalanan mereka. Namun, Fachri tetap diam, Rahma menoleh ke belakang lalu matanya tertuju pada tangan mereka, hal itu membuatnya terkejut dan melepaskan pagutan tangannya. Hal itu membuat seutas senyuman terukir di wajah Fachri dan ia pun mengacak rambut Rahma dengan lembut kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Sesampai di rumah, Rahma berterima kasih kepada Fachri dan menatap kepergiannya. Lalu dengan wajah berseri-seri ia masuk ke rumah sambil bersenandung. Sepertinya ia berterima kasih sekali pada hujan, karena berkat hujan ia menemukan pangerannya di dunia nyata, bukan di dunia fiksi dalam novelnya itu.

**END**

Textual description of firstImageUrl

Puisi Rindu Karya Anarchia58

100 out of 100 based on 100 user ratings

Puisi Rindu
Puisi Rindu

Rindu
Karya : Anarchia58
Entah cuma beberapa kali kita bicara
Atau sesering apa kita berjua
Hal itu mampu mengoreskan kisah di hatiku
Dan sekarang ku jadi perindu
Rindu ini membekas
Karatan,
Dan lumut-lumut rindu
Menghiasi hati kusamku
Menghiasi otak dan fikiranku
Bergelas gelas kopi
Berbungkus bungkus rokok
Tak mampu menghilangkan rindu itu
Ku ingin kita bertemu
Wahai gadis lucu

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Selalu Teringat Masa Lalu Karya Etna Rufiati

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Selalu Teringat Masa Lalu
Cerpen Selalu Teringat Masa Lalu

Selalu Teringat Masa Lalu
Oleh : Etna Rufiati

Kemarin pagi saat saya sedang masak untuk sarapan, HP berdering. Ternyata seorang sahabat lama menelpon dan meminta saran. Sambil mendengarkan curhatnya, segera saya bereskan masakan yang memang hampir selesai.
"Bund tolonglah, aku tak kuat harus begini terus."
"Tenanglah sayang, minum air dulu sambil berdoa. Baru ceritakan apa yang terjadi. Rileks, atur nafas seperti yang ibu latihkan."
Dia masih tergolong muda, namun terkena stroke sehingga tubuhnya lumpuh sebagian. Alhamdulillah sekarang sudah bisa berjalan walau memakai tongkat. Kakinya yang satu harus diseret. Ya Allah, sembuhkanlah sahabat hamba ini. Berikan kekuatan padanya untuk dapat menjalani ujian-Mu.
"Terima kasih bund. Alhamdulillah aku sudah tenang."
"Okay, sekarang jelaskan ada apa dan apa yang dapat ibu lakukan untuk membantu mengatasi masalah yang kau hadapi itu."
"Sepeninggal suami, aku selalu sedih dan sering menangis. Aku makin terasa lemah, kepala dan dadaku sering sakit. Setiap hari aku selalu teringat padanya. Dulu memang kami sering berdebat. Namun sejak aku terkena stroke, dialah yang melayaniku setiap saat. Dia menjadi sabar dan banyak senyum. Semua dilakukan tanpa mengeluh. Dia tak pernah tampak lelah. Ketika kantuk datang pun dia tak pernah merasakannya, tetapi tahu-tahu tertidur dengan nyenyak di sofa atau di tepi tempat tidur sambil duduk. Aku tak bisa melupakannya. Namun semua itu membuatku sedih."
"Sayang, boleh saja kau mengingat masa -masa yang sudah berlalu. Masa lalu memang tidak untuk dilupakan. Namun ternyata hal itu membuatmu menjadi sedih, kepala dan dada sering sakit. Berarti tak baik bagimu terus menerus mengingat masa lalu."
Eh ... dia malah menangis.
"Mengapa bunda berkata begitu? Tak mungkinlah aku melupakan kebaikannya, segala tentang dia. Apalagi aku sekarang hidup sendiri. Putriku satu-satunya harus ikut suaminya ke luar pulau. Aku kesepian bunda. Satu-satunya hiburan adalah mengingat dia."
"Hmm ... ya ... jika mengingatnya merupakan hiburan, mengapa kau menjadi sedih dan sakit?"
"Ya jelaslah bund, aku ini amat sedih ditinggal dalam keadaan seperti ini."
"Apa kau ingin terus bersedih dan sakit?"
"Ya tidak bund. Maka dari itulah aku ingin meminta nasehat bunda. Apa yang harus kulakukan tanpa berusaha melupakannya?"
"Ibu tidak memintamu untuk melupakan masa lalumu itu."
"Berarti bagaimana caranya agar aku terhindar dari kesedihan yang terus menerus ini bund?"
"Ikhlaskan kepergiannya. Doakan agar suamimu nyaman di sisi-Nya."
"Iya bund, aku selalu berdoa untuknya dan aku ikhlas kok."
"Okay, kalau kau ikhlas tentunya jangan bersedih lagi. Jadikan masa lalu itu sebagai suatu pelajaran untuk meningkatkan diri. Hidup di dunia kan hanya sementara. Marilah kita rawat titipan-Nya sebaik mungkin. Ayo berbuat yang terbaik di setiap saat. Mulai detik ini, senyumlah, hindari keluh kesah. Bersyukurlah atas nikmat-Nya."
Tangisnya sudah reda. Terdengar dia menarik nafas panjang. Saya biarkan dia beberapa saat. Mungkin sedang menenangkan diri dan mencerna kata-kata saya. Semoga dia dapat menyadari kesalahannya.
"Ya bunda benar. Alhamdulillah aku paham maksud bunda. Mulai saat ini aku akan berjuang untuk tidak bersedih lagi."
"Alhamdulillah. Lakukanlah sayang, insya Allah kau bisa."
"Ya bund. Tetapi mungkin tak semudah itu."
"Carilah suatu kegiatan lain yang kau senangi. Misal mendengarkan musik, menonton acara TV tentang pendidikan atau sejenisnya."
"Iya bund, aku juga akan menulis seperti yang bunda ajarkan pada suamiku dulu. Catatannya ada. Aku dulu juga turut belajar."
"Bagus sekali. Berlatihlah lagi. Tulis kisahmu itu, namun segalanya harus dengan hati gembira. Kontrol dirimu dengan baik. Apapun yang terjadi pada kita, sesungguhnya tak seorang pun dapat menolong secara tuntas. Kita sendiri yang harus menolong diri sendiri."
"Iya bund. Terima kasih banyak ya. Semoga Allah SWT membalas kebaikan bunda."
"Aamiin ya Rabbal alamin. Okay sama-sama. Sekarang lakukanlah."
Demikian pembicaraan yang kami lakukan kemarin. Semoga dia sanggup bangkit dan bisa berbuat yang terbaik.

**END**

Minggu, September 18, 2016

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Cerita Lucu Melihat Hantu Karya iday

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Cerita Lucu Melihat Hantu
Cerpen Cerita Lucu Melihat Hantu

Cerita Lucu Melihat Hantu
Oleh : Iday

Satu malam suara air dalam aquarium mendadak hidup. Ikan-ikan didalamnya mulai menyadari, ekornya santai bergoyang-goyang supaya mereka tidak tengelam terbawa arus. Bersamaan dengan riak yang memiliki nuansa tersendiri, mataku memperhatikan aneh.
.
Merasa penasaran, ku dekati aquarium kecil itu meninggalkan komputer teman beberapa saat. Meningalkan naskah yang baru ku tulis setengah halaman.
.
Namun tak lama, bau amis, dan busuk bangkai sesak memenuhi hidung. Lampu aquarium sebagai sumber cahaya satu-satunya didalam kamar kelap-kelip, mati hidup. Otak yang sudah terlatih oleh tontonan bereaksi, "Sepertinya, akan ada sesuatu," pikirku melayang dengan beberapa bayangan menakutkan dalam imaji. Wajah mendadak panas.
.
Lampu benar-benar tak mau diam. Aku kemudian kembali ke meja tempat asalku. Mata mendadak tajam mengelilingi sekitar, pun telinga, dipasang baik-baik. Kalau-kalau ada aktifitas di sekeliling rumah aku hanya tinggal lari yang kebetulan di rumah sedang tidak ada orang. Bapak di rumah tetangga sebelah sedang ngobrol, sedang aku, seorang penakut.
.
Keadaan dalam kamar yang gelap aku memberanikan diri. Sementara lampu aquarium sudah benar-benar mati. Wajah hanya tersinari cahaya komputer, dengan keberanian seadanya aku melanjutkan mengetik naskah. Tapi bau busuk seperti bangkai manusia semakin kuat, seolah mengelilingi tubuh basah mandi keringat. Suasana menjadi hening, denting suara jantung jelas terdengar.
.
Aku membalikan badan, rasanya seperti ada yang menatapiku dari belakang. Namun pekatnya gelap membuat mata tak bisa melihat sekeliling. Dengan rasa takut yang teramat sangat, kemudian aku keluar rumah.
.
"Tadi, Dia ada apa kerumah?" tanya bapak tiba-tiba saat ia menerima kunci rumah dariku.
"Dia? Dia siapa? Tadi tidak ada Dia kerumah?" jawabku heran begitu sangat. Sementara waktu, aku hanya melotot dengan perasaan takut saat bapak bercerita.
"Tadi bapak lihat Dia masuk kerumah. Bapak kira mau meminta pertanggung jawaban dari kamu. Sebab, kalau mau ngajak kamu kencan pasti bajunya rapih. Tapi Dia hanya mengenakan baju tidur putih! Dia tidak masuk?!"
.
Aku tidak menjawab. Mata teralihkan ke arah rumah putih, rumahku, berdampingan dengan pohon mangga berdaun lebat, lama ku tatapi. Lalu ingatan terbawa pada waktu sebelum terjadiannya kejadian aneh itu.
.
Inspirasasi buntu membuatku tak bisa melanjutkan naskah bergendre horor yang sedang ku tulis. Pikirku, kalau suasananya gelap itu akan sedikit mempermudah mengarang cerita. Tapi salah, pada akhirnya ku dapati sumpah serapah sendiri, "gelap lembab, benci dan luka tolong beri saya inspirasi!" Saat itu raungku keras. Setelahnya aku tak menanggapi bapak, kebetulan hubungan kami sedang tidak baik.
.
Kemudian aku jadi benar-benar takut, dan mengimani kalau ternyata bicara dan mengambil keputusan sembarang itu memang tidak boleh, seperti yang dilakukan bapak dan aku. Namun dibalik itu, datang inspirasi lain yang membuatku bisa menuliskan cerita singkat ini, juga naskah hororku berlanjut kembali lebih berpariasi.
.
Aku meninggalkan bapak, bersamaan dengan 'Dia' dari celotehnya. Sampai saat ini ucapan bapak, "Tadi, ada apa Dia kerumah?" terngiang-ngiang memberi kesan tersendiri, berikut beberapa tusukan syahdu yang ku nikmati kala itu. Aku berterima kasih untuk inspirasi dan ide yang ia beri, juga untuk beberapa orang sebelum dia di bawah pohon mangga.
Bukankah bapakku terlihat lucu kala melihat hantu? Sedangkan dia orang satu-satunya yang bisa melihat hantu.


**END**

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Legenda Asal Mula Cikaputrian Karya Nurmasari

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Legenda Asal Mula Cikaputrian Karya Nurmasari
Cerpen Legenda Asal Mula Cikaputrian


Legenda Asal Mula Cikaputrian
Oleh : Nurmasari

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang putri raja yang dikaruniai paras yang sangat menawan, wajahnya cantik jelita seperti bidadari dari khayangan sehingga banyak yang mengagumi kecantikannya. Namun sifat dan prilaku sang Putri berbanding terbalik dengan keelokan tubuh dan wajahnya, ia sangat pemalas dan sombong. Selain itu, ia juga manja karena merasa dirinya seorang putri dari raja yang kaya raya. Segala keinginannya harus dituruti, jika tidak dituruti ia akan merajuk dengan segala macam cara dan marah-marah. Setiap hari sang Putri menghabiskan waktunya untuk berhias diri, lalu mengagumi kecantikannya. Ia merasa dirinya perempuan yang paling sempurna di dunia.
.
"Ayahanda, aku ingin memiliki sebuah puri yang indah dan megah dengan danau di dekatnya yang bisa kupergunakan untuk mandi, aku bosan mandi di dalam istana ini. Bisakah Ayahanda memberikannya padaku?" pinta sang Putri suatu ketika kepada sang Raja.
.
Raja menggeleng pelan, "Putriku, bukankah di dekat istana pun ada danau yang begitu indah? Untuk apa kau ingin jauh-jauh hanya untuk sekedar mandi saja?"
.
"Aku tidak mau tahu Ayahanda, aku ingin memiliki puri dan danau pribadi. Kalau tidak, aku tidak akan makan dan mandi sampai Ayahanda memberikannya," ancam Sang Putri yang kemudian pergi mengurung diri di kamar.
.
Karena tidak tega dan khawatir dengan keadaan putrinya, akhirnya raja pun memberikan sebuah puri yang sangat indah untuk putrinya. Puri dengan bangunan yang megah, dilengkapi taman bunga yang begitu indah dengan berbagai jenis bunga, serta sebuah danau yang airnya jernih hingga dapat digunakan untuk berkaca itu terletak di kaki gunung, tidak terlalu jauh dari istana. Jika sang Putri berada di puri tersebut, ia akan mandi di danau itu dan tidak memperbolehkan siapapun mandi di sana tanpa izin langsung darinya. Sang Putri akan meminta Ayahandanya untuk menjatuhkan hukuman yang berat kepada siapapun yang mandi di danau itu tanpa izin darinya.
.
Pada suatu hari sang Putri sedang berada di puri, seperti biasanya ia mandi di danau itu seorang diri tanpa di temani oleh dayang-dayangnya. Bahkan ia melarang dayang-dayangnya untuk mendekati danau tersebut karena ingin menguasai danau itu sepenuhnya, ia tidak mau berbagi dengan siapapun juga.
.
Ketika sang Putri sedang asyik mandi, tiba-tiba datanglah seorang perempuan tua dengan pakaian kumal dan compang-camping. Entah dari mana asal perempuan tua yang mukanya sedikit kotor itu, mungkin ia ingin mandi atau sekadar mencuci muka di danau itu. Sang Putri kaget saat menyadari kehadiran perempuan tua tersebut, ia pun segera beranjak dari danau dan menghampirinya.
.
"Hei perempuan tua, siapa engkau?" tanya sang Putri sambil mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya ke wajah perempuan tua. Sorot matanya tajam menatap perempuan tua itu dengan penuh kemarahan.
.
Si perempuan tua tersentak mendengar perkataan tersebut, namun ia hanya diam dan menatap heran pada sang Putri.
.
"Mau apa engkau ke danau ini? Mau mandi?" tanya sang Putri lagi.
.
Si perempuan tua masih tetap terdiam, seperti bingung mendengar bentakan sang Putri. Ia tak tahu harus berkata apa.
.
"Hai perempuan tua yang kumal, tulikah engkau hingga tidak mendengar perkataanku?!" Kedua mata sang Putri menatap tajam pada perempuan tua itu tanpa berkedip sedikitpun. "atau, jangan-jangan engkau juga buta hingga tidak tahu jika danau ini milikku pribadi. Danau ini hanya milikku, khusus untukku, Sang Putri Raja, bukan untuk perempuan tua dekil seperti engkau."
.
Si perempuan tua tetap diam, bibirnya tampak gemetar dan sedikit bergerak-gerak menahan amarah dalam dirinya.
.
Melihat perempuan tua itu hanya terdiam dan tidak beranjak pergi, sang Putri kembali menghardik dengan kasar tanpa berpikir terlebih dahulu.
.
"Perempuan tua dekil, kumal dan bau, cepat engkau pergi menjauh dari danau ini! Sana pergi! Air danau yang jernih ini akan kotor terkena tubuhmu yang dekil dan bau itu."
.
Perempuan tua itu tidak bisa menahan emosinya lagi. "Betapa sombongnya engkau ini...."
.
"Apa katamu, perempuan tua?!" Sang Putri langsung menanggapi perkataan perempuan tua itu sebelum ia melanjutkan perkataannya. "Langcang sekali engkau! Apa engkau tidak tahu saat ini engkau sedang berhadapan dengan siapa?" tanya Sang Putri, geram.
.
"Aku tahu. Aku berhadapan dengan seorang Putri Raja." Perempuan tua menjawab tanpa rasa takut dan ragu. "namun, apakah karena engkau Putri Raja lantas engkau dapat bertindak semaumu dan menghina orang lain?"
.
"Apa pedulimu? Aku Putri Raja, aku bebas berbuat apapun yang aku suka tanpa terkecuali, termasuk mengusirmu! Engkau pun memang dekil dan bau, aku tidak mau lama-lama berdekatan denganmu. Pergi engkau dari sini perempuan tua yang dekil dan buruk rupa! Cepat!" ucap sang Putri yang semakin marah dengan nada tinggi, setengah berteriak.
.
"Dengarkan aku, wahai Putri Raja yang sombong. Engkau memang seorang Putri Raja, tapi tidak berarti engkau bebas memperlakukan orang lain dan menghinanya, tidak seharuanya engkau sombong dengan kedudukan dan rupamu karena engkau tetaplah seorang manusia, sama sepertiku. Ucapan kasar dan sombongmu itu tidak layak keluar dari mulut seorang manusia. Ucapanmu sungguh berbisa seperti ular hitam. Hanya ular saja yang memiliki mulut seperti itu, kau lebih pantas menjadi seekor ular dibanding menjadi seorang manusia!" ucap perempuan tua sebelum pergi meninggalkan sang Putri.
.
Tak berapa lama kemudian tiba-tiba langit yang cerah berubah menjadi mendung, awan hitam bergulung-gulung hingga membuat sang Putri ketakutan. Sekelebat cahaya datang menyilaukan mata, disusul petir yang menggelegar dan menghantam tubuh sang Putri. Seketika tubuh sang Putri terpental dan berubah wujud menjadi seekor ular hitam yang berbisa. Sang Putri Raja terkena kutukan karena kesombongannya.
.
Ular hitam jelmaan Putri Raja terlihat sangat sedih, kedua matanya tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Mulutnya selalu mengeluarkan suara mendesis seperti meminta maaf atas prilaku buruknya pada si perempuan tua. Namun, air mata penyesalan dan permintaan maaf itu sudah amat terlambat dan tidaklah berguna karena wujudnya sekarang telah berubah menjadi seekor ular hitam.
.
Tiba-tiba terdengar suara dari langit, "Karena kesombongan dan semua perlakuan burukmu, engkau memang tidak pantas menjadi manusia. Engkau hanya pantas menjadi ular berbisa untuk selamanya!"
.
Sang Putri dirundung penyesalan yang amat dalam karena wujudnya tidak dapat kembali lagi seperti semula. Ia sangat malu dengan wujudnya saat ini, ia pun merayap memasuki danau dan bersembunyi di dasar danau yang biasa digunakannya sebagai tempat mandi saat berada di puri. Ia terus bersembunyi dan tak pernah berani menampakkan dirinya lagi di depan orang-orang. Namun karena air danau itu sangat jernih, penduduk pun akhirnya mengetahui tentang Sang Putri Raja yang terkena kutukan hinggga berubah wujud menjadi ular hitam yang berbisa. Mereka lantas menamai danau itu dengan nama Cikaputrian yang artinya danau tempat sang Putri mandi.

**END**