test

Cerpen Sosok Ayah yang Hilang
Cerpen Sosok Ayah yang Hilang 


Sosok Ayah yang Hilang
Oleh : Imey Fitria


Terkadang aku benci dengan keadaanku saat ini. Karena, aku harus lahir di tengah keluarga yang tidak pernah hidup harmonis, selalu saja ada pertengkaran setiap hari, sampai-sampai aku tidak pernah merasakan tulusnya kasih sayang kedua orang tua. Hal ini disebabkan aku memiliki ayah yang mempunyai istri lebih dari satu, tetapi tiga, dan yang kedua sudah cerai. Dan aku adalah putri pertama dari istri pertama, yang memberiku nama Diana, sekarang aku sudah berumur 17 tahun dan duduk di kelas XI SMA, dan selama itu pula kasih sayang seorang ayah tidak pernah menghiasi kehidupanku.
Suatu hari, aku bertanya pada ibuku, "Bu, mengapa ayah tega bersikap dan berperilaku seperti itu?"
Lalu ibuku menjawab dengan isakan tangis, "Ibu tak tau Nak, mengapa ayahmu seperti itu, Ibu lelah seperti ini, tapi apa yang bisa ibu lakukan."
"Terus, kenapa ibu tak pernah mencoba untuk melabrak wanita-wanita yang telah merebut ayah?"
"Sudahlah Nak, ibu tidak apa-apa, mungkin sudah takdir ibu diperlakukan seperti ini. Ya sudah, ibu mau masak dulu."
"Iya sudah Bu, Diana mau ke kamar.."
***
Keesokan harinya, di kelas aku selalu merenungi sikap ayah yang selalu menyakiti hati ibu dan sikap ibu yang selalu menerima ini semua dengan sabar. Dan tiba-tiba datang temanku yang bernama Jelita. Dia adalah gadis yang hidupnya selalu membuatku iri, karena dia diberkahi kedua orang tua yang sangat menyayangi dia dan hidup di tengah-tengah keluarga yang harmonis, berbanding terbalik denganku.
"Hey Diana, kenapa kamu diem aja?"
"Gapapa Ta."
"Ayo cerita! Kelihatannya kamu lagi resah dan bingung deh." Lalu, aku menceritakan semua keluh kesahku padanya. Diapun juga merasa ikut prihatin dengan keadaanku.
"Ya ampun, aku gak nyangka kamu punya masalah keluarga sebesar ini, Diana."
"Begitulah Jelita, terkadang aku ingin tak hidup di dunia ini dan merasakan semua penderitaan ini, aku capek Ta."
"Tapi kamu gak boleh ngomong kayak gitu, Tuhan itu menciptakan ke dunia pasti ada tujuannya masing-masing. Kamu yang sabar aja ya, aku yakin Tuhan pasti menyiapkan yang paling baik untukmu dan ibumu."
"Iya, aku akan berusaha melewati ini semua, makasih ya Ta, sudah mau dengerin curhat aku dan mau memberi aku motivasi."
"Iya, sama-sama. Ya udah aku ke kantin dulu ya, lagi laper."
"Iya." Dia pun berlalu meninggalkanku dan dalam hati aku sangat senang karena masih ada orang yang mau mendengarkanku.
***
Ini adalah dua bulan waktu ayah telah meninggalkan kami berdua di rumah tanpa memberi nafkah dan ibuku harus bekerja keras memenuhi kebutuhan kami berdua. Dan hari ini ayah datang ke rumah kami yang dia anggap sebagai waktu untuk menemani ibuku, tapi aku anggap itu sebagai persinggahan saja, karena datang juga tidak membantu, tapi hanya merepotkan, bukannya membantu ibu mencari nafkah, tetapi hanya numpang makan dan tidur.
Suatu hari, aku mendengar ponsel ayahku berbunyi, dan diam-diam aku membuka ponsel ayahku yang ternyata itu adalah suara tanda pesan masuk. Dan pesan itu dari istri mudanya yang berbunyi, "Mas, kapan mas balik? Aku dah kangen nih!" Dalam hati aku bergumam "Nih cewek gak tau diri ya, baru aja ayahku pulang beberapa jam, malah ditanya kapan balik?" Karena kesal dengan sms itu dan kebetulan ayahku sedang tidak ada di rumah, akupun membalas sms itu.
"Lo itu ya jadi cewek gak tau diri!! Bokap gue itu baru pulang, tapi lo malah nanya kapan balik? Lo itu gak mikir apa gimana perasaan keluarga di sini?" Tak lama kemudian iapun membalas sms dariku, dan terjadilah perdebatan antara aku dan cewek pengganggu rumah tangga orang itu.
"Ini siapa? Kok gak sopan banget cara ngomongnya."
"Gue anaknya!! Kenapa?? Masalah kalo gue gak sopan ama lo! Kan lo duluan yang mulai gak sopan!!"
"Eh nak, kamu itu masih bocah gak usah ikut campur!!"
"Heloww!! Nak?? Sejak kapan gue jadi anak lo?? Dan inget ya,, gue bukan bocah!! Gue udah ngerti semua yang lo lakuin!!"
"Oh! Bukan bocah? Terus apa? Anak setan?"
"Lo itu kalo punya mulut dijaga!! Jangan asal ngomong!! Ternyata omongan dan kelakuan sama aja ya,, sama-sama gak bisa dijaga! Dasar cewe busuk!!
"Apa maksudmu ngomong kayak gitu?"
" Oh!! Lo gak ngerti?? Ini gue jelasin, lo itu udah ngerebut suami nyokap gue! Apa itu gak busuk??"
"Itu semua kan karena ayahmu yang menyukai aku, apa itu salah?"
Belum sempat aku membalas, tetapi aku sempat menghapus semua pesan itu, ayahku datang dan aku langsung masuk ke kamarku. Tak lama kemudian, terdengar bentakan ayah kepada ibuku. "Kamu ngapain pake ngehina-hina dia? Kalo kamu ada masalah, ngomong langsung di depan aku!"
"Enggak mas, aku gak ada ngehina dia kok!"
"Terus kenapa dia telpon aku sambil nangis terus dia bilang ada yang ngehina dia?" Akupun berpikir, pasti cewe itu ngadu ama ayah!
"Aku enggak tau apa-apa mas, aku juga gak ada ngehina dia apa-apa, dari tadi aku di jualan di teras." Terdengar suara tamparan yang mendarat di pipi ibuku. Aku yang sudah tak tega melihat ibuku dibentak dan dipukuli, langsung keluar kamar dan balik membentak ayahku.
"Ayah!! Ngapain sih ayah sampe menampar ibu demi cewek busuk macam dia??!!"
"Kamu itu masih kecil, gak usah sok bela-belain ibu kamu, dan gak usah ngomong kasar kayak gitu!!"
"Kalo segede ini aja ayah bilang masih kecil, terus kapan Diana bisa membela ibu dari kekasaran ayah?"
"Sudahlah, kamu masuk ke dalam aja, ayah mau nyelesaikan masalah ini sama ibu kamu."
"Tidak!! Karena sebenarnya yang menghina cewek itu bukan ibu, tapi aku!" Seketika ayah langsung menamparku hingga kepalaku terbentur dinding dan ia juga membentakku dengan keras.
"Kamu itu ya ayah besarin buat ngehina-hina orang Diana!! Gak tau terima kasih banget jadi anak!!!
"Apa!!!! Sejak kapan ayah besarin aku?? Toh, selama ini yang merawat dan membesarkanku hanya ibu!! Jadi, jangan ngaku-ngaku kalo ayah yang ngebesarin aku!!"
"Oke, kalo kamu gak anggap ayah!! Ayah juga gak seneng punya anak kayak kamu!! Dan mulai hari ini, ayah akan bercerai dengan ibumu." Ibuku langsung memohon dengan ayah agar tidak menceraikan dia dengan isakan tangis.
"Yah, jangan ceraikan aku yah,, kita bisa selesaikan semua ini, Diana cuma emosi aja kok yah." Aku yang melihat ibu menangis dan memohon kepada ayah yang tidak layak itu langsung berbicara, "Bu, sudah-sudah jangan mengharapkan dia lagi yang jelas-jelas telah menyakiti ibu."
"Tapi Diana...." Belum sempat ibu menjawab, aku berbicara kembali, "Ibu,, Diana yakin kok kita akan bisa hidup lebih bahagia tanpa dia." Ibu pun menerima semua ini dan ayah berlalu pergi.
***
Setelah beberapa bulan perceraian ayah dan ibuku tersebut, kami hidup dengan bahagia, dan ibu juga sekarang telah mengembangkan usahanya dan lebih santai dalam bekerja. Mungkin, ini maksud Tuhan memberi keluargaku cobaan ini dan akhirnya mendapat sebuah kebahagiaan walaupun tanpa adanya sosok seorang ayah.
END
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top