test

Cerpen Skenario Tuhan
Cerpen Skenario Tuhan


Skenario Tuhan
Oleh : Rosita Aprilinda


Kamu tahu, ada begitu banyak hal buruk yang kamu bayangkan, padahal saat dijalani, ternyata tidaklah seburuk itu. Dan ada juga begitu banyak hal indah yang kamu bayangkan, padahal saat dijalani, ternyata tidaklah seindah itu.
Manusia kebayakan hidup dalam angan-angannya, tidak­ terkecuali saya. Banyak hal yang membuat saya khawatir dan takut, banyak juga hal yang membuat saya iri juga pesimis pada diri saya sendiri.
Dan itu semua bermula dari angan-angan saya tentang hari esok.
Bagaimana nanti kalau.. bagaimana nanti jika.. bagaimana nanti bila.. dan yang lain sebagainya.
Sebutlah saja, mungkin titik terendah dalam hidup saya datang saat ayah saya meninggal. Saat itu saya tahu beliau sakit parah, saya tahu waktunya tidak akan lama lagi.
***
Januari, 2006
“Ibu, kenapa bulan selalu mengikuti kita?” tanyaku dengan polos.
“Itu karena kamu melihat padanya. Segala yang diperhatikan dengan baik. Akan kembali memperhatikanmu.”
“Jadi begitu ya. Lalu kenapa ayah tidak mengikuti kita, bu? Padahal aku sudah memperhatikanya dengan baik.”
"Diamlah, sudah malam sayang. Gosok gigi lalu tidurlah. Ibu lelah.”
9 tahun silam, ibu mulai sering keluar rumah, sampai di rumah larut malam dan ayah pun sudah tidak pernah pulang ke rumah. Setiap saya bertanya kepada mereka yang saya dapatkan hanya, “Maaf ibu lelah.” atau menghubungi ayah via telefon dan saya harus menelan kekecewaan lagi; “Maaf ayah sedang di luar kota.”
Hanya gadis umur 8 tahun. Yang saya harapkan hanya ingin bermain di Dufan bersama ayah dan ibu serta abang saya. Namun kala itu saya dihadapkan dengan situasi keluarga di ujung perpecahan.
Sesekali tiap malam saya terbangun. Pukul 01.22, saya belum menemukan ibu atau ayah di kamar tidur. Hanya beberapa boneka yang mungkin sudah bosan melihat saya setiap malam menangis. Saya tidak mungkin terus menerus seperti ini. Saya menyayangi kedua orang tua saya. Demi mereka saya harus kuat. Pasti ada alasan baik dibalik ini semua. Pikir saya saat itu.
***
Maret, 2006
Satu hari yang saya harapkan itu datang.
Tok tok
“Assalamualaikum.” terdengar suara ayah dari seberang pintu.
“Walaikumsalam.”
Saat saya membukakan pintu. Nampak ayah datang bersama ibu. Wajah ayah terlihat pucat. Namun kala itu saya tidak menangkap apa yang sebenarnya terjadi.
Sambil menggendongku ayah bilang, “Ayah bawa oreo banyak. Kamu suka?”
“Aku lebih suka ayah dan ibu cepat pulang dan tidak pergi-pergi lagi.”
“Baiklah ayah tidak akan pergi. Lalu apalagi yang membuatmu senang sayang?”
“Dufan ayah. Adek ingin ke Dufan.” jawabku penuh semangat.
“Tentu. Besok kita berangkat. Temui abangmu dan bilang jangan tidur terlalu larut. Ayah ingin istirahat.”
“Yeeey. Terima kasih ayah, aku menyayangimu.”
***
Esoknya kami sekeluarga bermain ke Dufan.
Saya, ayah beserta abang memilih menaiki wahana Bianglala terlebih dulu. Saat Bianglala berputar ke atas, tiba-tiba ayah mengatakan suatu hal yang masih selalu saya ingat hingga sekarang.
“Hidup selalu seperti ini, Dek. Berputar. Ada masanya kita di bawah lalu ke atas kembali. Seperti wahana ini, jika mesinmu tidak kamu putar saat berada dibawah, selamanya kamu akan terjebak disana. Ayah harap kamu dan abang nanti bisa menggerakkan mesin kalian sendiri. Ayah selalu berdoa demi kalian.”
Mungkin benar kata orang, kalau menyesal itu selalu berada di belakang. Waktu itu saya terlalu asik menikmati permainan. Tanpa saya sadari hal itu adalah harapan ayah saya untuk kami yang terakhir kalinya.
***
Akhir Maret, 2006
Subuh sekali, bahkan sang fajar belum menyisingkan suryanya. Ibu saya membangunkan saya dan abang saya dengan suara terisak-isak. Iya. Ibu saya sedang menangis.
Saya hanya bisa memeluk ibu tanpa bertanya kenapa. Kemudian ibu memandikan saya dan mengajak kedua anaknya menuju suatu tempat.
“Ibu kita akan kemana?”
“Kita akan keluar kota.”
“Untuk apa bu? Abang sedang ingin main PS. Abang gak mau liburan.” Protes abang
“Kita tidak sedang liburan. Kita akan menjemput ayahmu.”
“Hore, berarti abang dapat mainan baru?"
“Tidak akan ada mainan baru lagi. Sudahlah tidurlah, perjalanan kita masih jauh. Jaga adekmu supaya tidak mabuk.”
Jawaban ibu semakin memperkuat firasat buruk saya. Ibu menangis. Menjemput ayah. Tak ada mainan baru lagi. Apakah Tuhan sedang menyiapkan kejutan untuk saya? Saya mencoba berpikir rasional kala itu.
***
Kami sampai.
Masih teringat jelas gedung beralmamaterkan Rumah Sakit Dr. Soetomo. Lalu ibu menggandeng saya dan abang memasuki ruang demi ruang. Hingga kami berdiri di sebuah pintu yang kami sebut ICU.
“Apakah ayah disini bu?” tanyaku lemah.
Ibu diam. Menarik kami ke dalam. Memakaikan baju steril, masker serta penutup kepala.
Semakin masuk ke dalam ruang itu, saya mendapati ayah saya terbaring dengan selang menancap di hidungnya. Banyak perlatan yang sangat asing di mata saya menempel di badan ayah. Membayangkannya kembali pun rasanya masih begitu menyesakkan.
“Selama ini ayahmu disini, itulah kenapa alasan ayah tidak dapat pulang setiap hari. Ayah mengidap kanker pankreas. Ibu sudah berusaha sekuat hidup ibu untuk menyelamatkannya. Tapi ibu bukan Tuhan, kemampuan ibu cukup sampai disini.”
“Apa maksud Ibu? Bukankah ayah hanya sedang tidur?” jawab abang.
Saya tahu, jawaban abang hanya untuk menghibur dirinya. Karena saya pun berharap jawaban abang saya itu adalah benar.
“Kemarin ayah menjalani operasi. Namun tidak dapat mengangkat semua sel kanker itu. Selama ini ayahmu selalu menjalani kemo-terapi dan ibu tau bahwa itu rasanya sakit luar biasa. Ayah kuat. Itu demi kalian. Demi impiannya yang masih ingin melihat kalian tumbuh dewasa dan menjadi orang besar.”
“Lalu, kenapa ibu sembunyikan semua ini dari kami? Bahkan kami tidak diberi kesempatan untuk mendoakan ayah kami.” jawabku sedikit menyentak.
“Maafkan ibu sayang. Ibu terlambat. Ibu hanya tidak ingin melihat tangisan dari kalian. Kalian masih terlalu kecil untuk menerima keadaan seperti ini.”
“Jika ibu saja sanggup untuk kuat dan bertahan. Kami pasti akan melakukan hal yang sama.” ucap abang sembari memeluk ibu.
***
April, 2006
Sejak di jemput dari rumah sakit. Ayah masih menghembuskan nafas. Meskipun ayah sudah tidak lagi dapat membuka matanya. Sebenarnya semua ingin mempertahankan ayah di rumah sakit agar masa hidupnya dapat lebih lama lagi. Tidak dengan ibu, ibu mengambil keputusan untuk melepaskan semua penderitaan ayah.
Tak ada waktu yang saya lewatkan untuk tetap berada di sisi ayah. Mengajaknya berbicara walau saya tahu tidak akan ada satu pun pertanyaan saya yang akan beliau jawab. Tetap meminta untuk dibawakan oreo meski pun saya juga tahu hal itu tidak akan terpenuhi kembali.
Namun tetap saja, saat hari itu benar-benar datang. Saat saya akhirnya menyadari bahwa tidak akan ada lagi beliau selama-lamanya, saya hancur berkeping-keping. Satu tahun saya bahkan tidak ingin melakukan apa-apa. Saya kehilangan rasa ingin tahu akan hari esok. What about tomorrow? Saya tidak peduli. Walau pun setengah mati saya berusaha terlihat baik-baik saja, saya tetap tidak tertolong. Setiap malam, saya begitu takut memejamkan mata, karena saya begitu takut akan kematian. Karena akhirnya saya tahu, bahwa kematian adalah tempat yang begitu sepi dan sendirian, Dan ayah saya berada di sana.
***
April, 2015
Waktu adalah hal yang tidak akan pernah kembali. Tidak, walau pun kita berteriak sampai suara kita ikut menghilang, walau kita menangis hingga mata kita enggan untuk terbuka.
“Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga.. Sekarang juga.. Sekarang juga.”
Semua sahabat-sahabat saya sedang bernyanyi sambil membawa kue dengan lilin angka 17. Dan angka itu juga melambangkan 9 tahun kepergian ayah saya. Setiap tahun ketika saya meniup lilin ulangtahun, saat itu juga bayangan ayah saya yang sedang terbujur kaku.
***
"Bang, adek gak suka ulangtahun.”
“Abang tahu, tapi sudah bukan lagi waktumu membawa luka dari masa lalu. Siapa pun, pasti punya waktunya untuk meninggalkanmu. Hal apa pun, pasti punya waktunya untuk berlalu. Tapi yakinlah, setiap kehilangan yang terjadi, akan membuatmu lebih menghargai mereka yang masih setia bertahan di sisimu sampai saat ini.”
“Ayah pergi tepat adek ulangtahun. Bahkan adek gak tahu harus sedih atau bahagia. Jatuhnya setiap tahun adek ngerasa hampa. Adek selalu berdoa supaya adek bisa bersahabat dengan kebaik-baik sajaan bang.”
“Kamu cuman belum bisa merelakan. Cobalah ikhlas. Hatimu hanya terlalu lembut.”
“Adek sudah ikhlas bang.”
“Coba maknai ikhlasmu seperti apa. Abang rasa Ayah akan menangis di surga melihatmu seperti sekarang.”
Angka 17 ini menampar saya. Bahwa bukan lagi pantasnya saya tidak menerima apa yang telah digariskan Tuhan. Kesedihan dan kekecewaan seperti apa pun pasti akan punya waktunya untuk selesai, asal saya tetap bertahan hidup dan mensyukuri apa yang masih tertinggal di dalamnya.
***
Agustus, 2015
Hari bahagia bagi keluarga saya.
Hari itu saya punya keluarga baru. Yang didalamnya terdapat sosok ayah, ibu dan anak-anak yang bahagia. Ibu menemukan pengganti ayah. Walau bagi saya ayah tidak pernah tergantikan. Saya juga mempunyai abang baru. Tak jauh menyenangkan dari abang kandung saya.
“Selamat menikah ibu.” Ucapku sangat tulus setelah foto pernikahan beliau
“Terima kasih, anakku. Semoga semua bahagia dengan keputusan ibu.”
“Ibu, tenanglah. Apakah ada yang lebih bahagia dari melihat orang yang kami cintai menemukan hidupnya kembali?”
***
Saat itulah, saya mencoba memahami makan ‘ikhlas’, menerima bahwa segala yang pernah terjadi dan belum sempat terjadi dalam hidup saya adalah bagian terbaik yang bisa saya miliki saat ini. Selama saya menjalani hidup dengan memilih jadi manusia terbaik yang bisa saya upayakan. Selama saya terus berusaha, berdoa, dan berharap dengan bijaksana. Tuhan tidak akan pernah menutup matanya. Dia selalu mendengar harapan saya, bahkan mungkin yang tidak mampu terucap sekali pun, karena terlalu besarnya harapan itu.
Begitu pun penantian akan hal-hal yang belum bisa kamu miliki sampai saat ini. Mimpi-mimpi yang kerap membuat hatimu sesak, karena belum juga berhasil kamu wujudkan.
Karena akhirnya saya menyadari, bahwa ada begitu banyak doa dan harapan yang bahkan saya lupa pernah menginginkannya, ternyata mampu benar terjadi. Mungkin memang bukan terjadi di waktu yang saya inginkan, tapi jelas terjadi di waktu yang paling tepat. Karena mungkin saja, bila saya memiliki atau menjalani harapan itu di waktu yang lalu, hidup saya tidaklah sebaik ini.
Tuhan Maha Bijaksana. Memberi segala yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan. Mengantar dan mengambil segala, tepat pada waktunya.
Percayalah, bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Bijaksana. Dia mengetahui hal-hal yang masih jadi rahasia. Dia menjagamu, sebaik kamu menjaga dirimu dalam doa-doa dan perbuatan baik yang kamu lakukan selama ini. Percayalah.
**END**
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top