test

Cerpen Selepas Kau Pergi
Cerpen Selepas Kau Pergi


Selepas Kau Pergi


Saat kita sama-sama memutuskan untuk tidak saling merindu dua dari seperbagian kepingan itu retak tak berbentuk. Sore itu tepat setelah kita berpura tak lagi mengenal langit senja berubah kelabu, apa kau ingat? Tepat pada saat ini kau ikrarkan ketiadaan rasa itu. Setelah ini, sesudah kau tak lagi di sisiku untuk sekedar lalui senja aku ingin kau benar-benar pergi membawa seperbagian kau dariku.
***
Dia menutup bukunya, senjanya kini menyakitkan, pahit, seperti kopi hitam yang dicecap sekarang. Pandangannya mengedar kesekeliling kafe, tidak ada yang berubah dari bangunan bergaya Eropa beberapa meter dari bibir pantai itu.
"Permisi, Nona." Suara itu mengintrupsinya dari lamunan.
"Boleh saya duduk disini? Meja lain penuh," ucap seseorang tadi saat mata gadis itu menatap tepat pada manik coklat terangnya.
Dia, gadis itu, memejamkan mata sepersekian detik sebelum akhirnya menjawab,
"silahkan." Ia menggeser kopinya membiarkan segelas latte yang pemuda itu pegang berada di sebelah gelasnya.
"Jika tidak keberatan, nama saya Graha." Pemuda itu menyodorkan tangannya setelah sekian menit keheningan mendominasi.
"Ah ya, tentu saja. Saya Ia." Mereka bersalaman.
"Hanya 'i' dan 'a'?" tanya si pemuda.
"Yap." Gadis itu kembali menyeruput kopinya.
"Permisi, mas. Silahkan cakenya." Pelayan wanita itu mengangkat satu piring penuh cake.
Yang perempuan menggeser gelasnya ke kanan, yang laki-laki ke arah kiri sehingga piring itu tepat berada diantara kopi dan latte mereka.
"Silahkan! Kue disini enak," ucap Graha mendorong sedikit piringnya kesamping, kehadapan gadis yang duduk di sisinya.
"Tidak terimakasih."
"Cobalah! Ini benar-benar enak. 'Kue ini merubah mood buruk menjadi lebih baik' itu kata seseorang spesial dulu tapi cobalah ini benar-benar memperbaiki mood." Dia melayangkan kuenya ke udara sebelum memakannya.
"Kau yakin? Apa kau masih ingat seseorang itu?" Mata mereka bertemu pada satu titik.
"Ya, aku masih sangat ingat bahkan wajahnya mirip sepertimu tapi aku tidak yakin."
"Benarkah? Aku rasa aku juga punya seseorang spesial yang wajahnya mirip denganmu tapi itu dulu."
"Mungkin hanya kebetulan, haha. Ayolah coba kue ini! Ini benar-benar manis akan sangat pas jika bersanding dengan kopimu yang kelihatannya pahit itu."
Setelah itu tak ada yang berbicara diantara mereka hingga akhirnya si
pemuda mengangkat gelas, meneguk lattenya. Gelasnya masih di tangan kanan, tangan kirinya menggeser piring kearah kiri menempati posisi gelasnya tadi sehingga secara otomatis piring itu sedikit jauh dari jangkauan si gadis lalu meletakan gelasnya berdampingan dengan gelas si gadis rambut gelap.
"Kurasa begini lebih pas, untuk mengulang perkenalan kita," ucapnya.
***
Setelah kau pergi megapa kau memutuskan untuk kembali menjadi yang lain dari seperbagian kepingan itu dengan cara yang nyaris serupa? Memperkenalkan lagi dirimu, memperlakukan semuanya denga sangat apik. Aku benci! Sangat membenci ini! Kebencianki karena ketakutan akan akhir cerita kita lagi meskipun aku tahu akan ada cerita kita yang baru lagi.
****
**END**
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top