test

Cerpen Sandal Jepit Cinderella
Cerpen Sandal Jepit Cinderella


SANDAL JEPIT CINDERELLA
Karya : SUNNEW


Dua hari lagi malam proom. Pesta kelulusan kakak-kakak kelasnya itu sukses bikin Poppi nyaris gila karena belum nemu sepatu yang cocok untuk gaunnya yang cantik. Gaun Poppi model kemben, biru lembut, berbahan ringan dan melambai anggun seiring kaki melangkah. Kali pertama melihatnya di Chic Butik tiga hari lalu, Poppi seperti menemukan takdirnya. Oke, emang terdengar berlebihan bawa-bawa "takdir". Tapi, gaun biru lembut itu emang seperti ditakdirkan untuk dimiliki dan dipakai Poppi. Gaunnya begitu pas di tubuhnya yang mungil. Poppi terlihat berkilau bak peri yang ditaburi bubuk peri. Masalahnya, udah keluar masuk toko sepatu berdua Kira, tapi Poppi belum juga nemu sepatu yang langsung klik di hati. Bahkan searching di online shop pun nihil hasil. Kalo bukan karena ajakan Sanu, kakak kelasnya yang kece itu, Poppi lebih milih nongkrongin Indovision sambil nyemil kerupuk yang dilelerin kecap Bango ketimbang harus beredar di acara anak-anak kelas 3 itu. Poppi udah naksir Sanu dari kelas 1 dan saat Sanu memintanya untuk nemenin di malam proom, Poppi jelas nggak mungkin nolak. Keterlaluan banget misal Poppi nolak. Kapan lagi bisa jalan berdua Sanu dengan dandanan anggun bak Ndoro Putri kalo nggak di malam proom? FYI, Poppi bertekad untuk tampil sesempurna mungkin. Dia mau habis-habisan di malam proom nanti. Poppi juga udah bikin janji di salon langganannya demi menyempurnakan penampilan. Lalu direkrutlah Kira dalam perburuan. Poppi melibatkan sahabatnya yang suka banget film India itu di setiap perburuan. Perburuan yang dimaksud meliputi berburu gaun dan seperti sekarang ini, berburu sepatu. Seringnya sih berburu diskon di mall mana aja. Namanya juga diskon. Jelas menarik hati dong. Isi dompet, terutama.
"Pop! Ngafe dulu aja, yuk! Duduk-duduk gitu. Haus niiih!" keluh Kira. Akibat keluar masuk toko sepatu tanpa jeda, betisnya ndangdutan nyeri. Belum lagi kerongkongannya yang terasa kemarau banget. Berburu sepatu emang nyenengin, tapi kalo Poppi-nya dilema gitu, capek juga lama-lama. Apalagi Poppi kalo udah milih barang teliti banget. Segala macem diribetin. Maunya yang nggak ada cacatnya. Sempurna! Jadi proses milihnya lama beeng. Kadang milih antara Chitato dan Happytos aja Poppi suka ribet. Apalagi ini milih sepatu. Udah pasti lebih ribet lagi!
Poppi ngecek arloji di tangan kirinya. "Kita udah dua jam ngider masih belom juga nemu sepatu." sungutnya kesal. "Ya udah, yuk! Ngafe." putusnya akhirnya. Nggak tega juga lihat tampang Kira yang jelata dan memelas karena nahan haus dan lapar. "Starbucks apa Dunkin nih?"
"Dunkin aja, Pop! Gue butuh donat nih buat ngisi ulang tenaga gue." jawab Kira riang. "Wifinya juga lancar. Tapi, lo yang bayarin ya, Pop?" ringisnya. 
"Yuk!" 
Bisa dibilang Kira ini Miss Wifi. Kalo ngafe nggak ada wifinya dia bakalan nolak disertai ngomel ala ibu-ibu nawar mangga sekilo goceng: "Masa hari gini kafe nggak ada wifinya?! Emangnya warteg pinggir jalan apa! Males gila." omelnya. Dasar Kira! Memalukan emang. Tapi, biarlah kafilah berlalu. Namanya juga berpendapat. Jadi sah-sah aja misal beda.
Lalu dua cewek yang udah sahabatan dari jaman seri Power Ranger tayang di tivi itu pun berjalan menuju Dunkin Donat.
***
Di Dunkin Donat...
"Sepatunya belom nemu juga nih, Raaa... Gimana dooong?!"
Masalah berburu sepatu ini emang ibarat konflik Timur Tengah. Bikin baper dan frustasi.
Kira mendadak ingat sesuatu. "Eh, Pop! Gue udah bilang belom ya kalo Tante Elin buka butik sepatu?"
"Belooom..." Poppi histeris. "Kok lo ngasih taunya baru sekarang sih?!"
Poppi keki banget. Tante Elin itu tantenya Kira. Dia disainer sepatu yang karyanya pernah dipakai para finalis Asia's The Next Top Model. Karyanya jelas nggak perlu diragukan lagi. Cari perkara namanya kalo meragukan sang ahli.
"Ke sana sekarang aja, yuk!" tukas Poppi nggak sabar. Poppi nggak percaya. Dia masih bisa leha-leha cantik sementara harta karun yang dicari ada di butiknya Tante Elin. Menunggu dijemput.
***
Butik sepatu Tante Elin tempatnya keren banget. Seperti goa (btw, ini agak random: yang bener gua apa goa ya? Kayak Si Buta Dari Goa Hantu apa Si Buta Dari Gua Hantu?) harta karun yang ditata indah tak tercela, berkilauan bagai pohon bubuk peri Pixie Hollow dan bikin betah, tentunya. Begitu sampai di sana, Poppi dan Kira disambut ramah oleh Tante Elin sendiri. Biasanya ada staf cantik bertugas. Tapi, demi bantuin dilemanya Poppi, Tante Elin turun tangan langsung. Sementara Poppi sendiri terkagum-kagum tiap kali melihat tantenya Kira itu. Penampilan Tante Elin sangat "model" dan Poppi berangan-angan kalo udah kerja nanti dia mau penampilannya sekeren Tante Elin. Untuk menghemat waktu, Poppi menjelaskan secara ringkas model sepatu apa yang diinginkan serta detail gaunnya. Tante Elin manggut-manggut serius lalu menyarankan beberapa pilihan. Pilihan Tante Elin keren-keren. Bikin Poppi dirundung dilema. Setelah melalui proses rumit yang melibatkan puluhan kali mencoba sepatu pilihan Tante Elin dalam berbagai pose dan selfie, akhirnya pilihan Poppi jatuh pada sepatu cantik warna silver. Tante Elin menyetujui pilihan Poppi dan bereslah sudah Perang Dunia.
"Diskon pelajar ya, Tante?" rayu Poppi saat membayar di kasir. Mencoba kan nggak ada salahnya?
Tante Elin tersenyum. "Pastinya dong!" jawabnya merdu.
Poppi kegirangan.
***
Satu hari berikutnya, Poppi berusaha rileks dan nggak panik agar kulitnya nggak stres. Dia ngalihin perhatiannya dengan banyak membaca tips cantik yang bertebaran di Google. Nggak semuanya Poppi coba. Masker burung Bul-bul jelas Poppi skip. Walopun khasiatnya dipercaya bagus buat kulit wajah, bahkan banyak artis kelas dunia yang melakukan treatment tersebut, tapi bagi Poppi kotoran ya tetep aja kotoran. Itu kan eek burung? Masa dilelerin di wajah sih? Yuck! Untuk rambut, Poppi pinginnya ditata seanggun mungkin seperti tatanan rambut Fleur Delacour di film Harry Potter scene dansa Natal Hogwarts. Oke, mari kita urutkan. Gebetan tampan, gaun dan sepatu yang cantik serta tatanan rambut ala Fleur Delacour. Sempurna sudah. Poppi merasa siap menggebrak dunia.
***
Poppi udah ready to go dan selfie puluhan kali demi mengabadikan momen cantiknya trus meng-uploadnya di Instagram dan sekarang lagi duduk gelisah nungguin jemputan Sanu. Nggak perlu nunggu lama, mobil Sanu pun datang di menit berikutnya. Dalam balutan tuksedonya Sanu terlihat tampan dan dewasa. Wajahnya bersih tanpa ditumbuhi kumis atau pun brewok yang sekarang ini lagi tren di kalangan para cowok. Kemungkinan efek samping dari demam drama Turki atau India di tivi lokal yang memunculkan tren kumis, brewok dan janggut. Walopun susah juga membayangkan para cowok duduk manis di depan tivi mantengin drama Turki atau pun India. Dan jujur saja. Poppi emang kurang gitu suka sama cowok berkumis, berbrewok dan berjangut. Demi Tuhan! Apa gunanya Gillette diciptakan, coba?
"Kamu cantik, Pop," Sanu memuji penampilan Poppi yang malam itu emang terlihat cantik dan sangat Ndoro Putri. Jangan lupakan kilaunya. Nggak tau aja Sanu usaha yang Poppi kerahkan demi tampil cantik. Pujian Sanu itu bikin Poppi melting serta menerbitkan senyum yang malu-malu panda. Mana ada sih ceritanya kucing tersenyum malu-malu? Itu kan fatamorgana bangke. Setelah pamitan sama Ayah-Bunda, Poppi dan Sanu pun berangkat.
***
"Duh... duh..." Poppi mengeluh panik.
"Kenapa, Pop?" Sanu bertanya heran karena melihat cara berdiri Poppi yang agak aneh.
Saat itu mereka di parkiran hendak berjalan bergandengan menuju aula sekolah saat tiba-tiba aja Poppi beraduh-aduh panik.
"Sepatu aku, Nu..." Poppi nunjuk ke bawah. Ternyata hak sepatunya nancep di sela-sela jeruji got. Area sekitar situ bawahnya emang got. "Nggak bisa dilepas, Nu! Gimana nih?!"
Sanu pun mencoba berbagai macam cara, tapi hak sepatu Poppi yang runcing itu nggak bisa dilepas. Misalpun dipaksa lepas, terpaksanya harus matahin hak sepatunya dulu baru bisa dilepas. Poppi makin panik. Udah mau nangis aja dia.
"Sepatunya lepas aja, Pop!" usul Sanu kemudian karena hanya itu satu-satunya cara tanpa harus merusak sepatu Poppi.
"Dilepas?!" Poppi histeris. "Trus aku pakai apa dooong?! Masa nyeker sih?!"
Dunia terasa nggak adil. Udah tampil cantik gini masa nyeker? Ini kan bukan di sawah panen padi!
"Habisnya mau gimana lagi? Orang sepatu kamu juga nggak bisa dilepas kok," jelas Sanu dengan tenang. "Lagian kamu nggak bakalan nyeker kok, Pop. Di mobil aku ada sandal jepit. Kita pakai itu aja ya?"
"Apa?! Sandal jepit?!" Saat itu rasanya Poppi ketiban langit runtuh. Mimpi apa dia semalem sampai harus ngalamin tragedi yang sedemikian ganjilnya? Sandal jepit?! Bayangkan! Bahkan Hermione Granger pun nggak bakalan pakai sandal jepit di atas gaun.
"Masa sandal jepit sih, Nuuu?!" protesnya nggak berdaya.
"Aku juga pakai sandal jepit kok. Nemenin kamu." ujar Sanu sabar.
Poppi tak mampu berkata-kata. Adegan ini kelewat romantis, tapi juga sedikit konyol. Kayak di novel-novel roman. Walopun faktanya ini jelas-jelas cerpen bikinan penulis amatiran. Dan jadilah. Untuk kali pertama dalam sejarah, Poppi dan Sanu bersandal jepit ke pesta proom. Itu pun sandal yang Poppi pakai kegedean untuk ukuran kakinya yang mungil. Penampilan ganjil mereka jelas menarik perhatian. Walo awalnya malunya nggak adil banget, tapi genggaman tangan Sanu yang hangat mampu meredam berbagai emosi Poppi yang berkecamuk. Sementara sebelah sepatu Poppi masih nancep aja di sela-sela jeruji parit. Kayak sepatu Cinderella yang ketinggalan. Yahhh... walopun apa yang kita pakai penting juga, terkadang siapa yang ada di samping kita jauh lebih penting. Apalagi orang tersebut lebih milih kamu yang apa adanya bukan karena kamu yang adanya apa.
**END**
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top