test

Cerpen Sales vs Preman
Cerpen Sales vs Preman


Siang tadi, ada kejadian unik di rumah nenek gue. Kalau dibilang lucu, sih, banget!! Tepatnya jam 14.00, ketika ritual nonton Warcraft bajakan gue terganggu karena teriakan tetangga. Jendela kamar gue sampai bergetar dahsyat diterjang suara mulutnya.
"Mak, kompor gasnya mau dibetulin, nggak? Apinya merah, kan? Ini ada temen saya mau betulin gratis supaya apinya biru lagi."
Sebut saja tetangga gue itu Bu Gedumbrang. Suaranya cempreng, comel, bawel; kampret! Sering banget ganggu tidur nyenyak gue. Nah, bersamaan dengan suara Bu Gedumbrang, gue dengar ada suara lain--1 cewek, 3 cowok.
"Mana, Nek, kompor gasnya? Apanya yang rusak saya betulin. Gratis!" ucap cowok ke satu.
"Iya, Nek. Yang penting sediain kopi aja dua gelas." Cowok ke dua bersabda (ternyata gratis bersyarat).
Nggak berapa lama Umi gue datang. Kedengarannya dia penasaran juga dengan kehadiran empat orang asing tersebut.
Acara service men-service pun dimulai. Gue masih menguping dari dalam kamar ketika suara cowok satu dan cowok dua terdengar sibuk di ruang dapur. Sedangkan sisa komplotannya mengobrol dengan umi gue di luar.
"Nek, selang kompor Nenek bahaya, nih. Rusak. Saya ganti, ya, Nek?" Cowok ke satu terdengar merayu. "Ganti yang ini selangnya kualitas bagus. Coba Nenek cari di pasar-pasar, pasti nggak ada."
Srreeet! Bunyi retsleting tas dibuka.
"Regulatornya juga bahaya, nih, Nek. Ganti, ya?" Suara cowok ke dua.
Nggak lama, gue denger komplotan yang di luar menyusul masuk juga. Nenek gue dibujuk, dipaksa, dll.. Umi gue coba menolak dan bersuara pun tetap kalah omong sama itu komplotan tukang service kompor abal-abal alias sales. (Catat! Rekor bawel umi gue terpecahkan di sini).
Gue jadi esmoni (baca: naik pitam) tingkat dewa. Berani-beraninya sales maksa nenek gue. Dengan gaya acak-acakan ala junkies gue keluar kamar menuju dapur. Komplotan sales itu menatap gue (note: yang cewek cantik juga, tapi sayang udah tua). Keributan dan pemaksaan pun berubah jadi hening seketika saat gue datang.
"Eh, Mas," ucap mereka berbarengan menatap mata gue yang melotot.
Lagi-lagi hening. Mereka keluar, lalu pamit.
Eh, setelah itu ada BBM dari Ndun. Bahagia rasanya.

Karya : Qiew
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top