test

Cerpen Mistis
Cerpen Mistis


Panselku berdering, sebuah panggilan masuk membuatku refleks menekan tombol hijau. Kugunakan headset agar hanya aku yang mendengar panggilan itu meski aku tau hanya aku yang ada di rumah ini. Setelah beberapa saat berbincang, seseorang di seberang sana menyuruhku tidur, aku pun menurutinya dan membiarkan panggilannya tetap aktif, entah sampai kapan, tapi yang jelas saat aku terbangun panggilannya telah berakhir. Aku duduk di tepi spring bed lalu berdiri Membuka pintu kamar, keluar dan melirik jam di ruang keluarga, pagi tlah tiba, sperti biasa pekerjaan seorang remaja sebelum mandi dan berangkat sekolah,tak perlu kusebutkan apa yg kulakukan. Setelah bersiap siap, aku duduk disalah satu kursi dimeja makan, menengguk habis segelas susu hangat buatan ibuku lalu berjalan ke dapur berniat pamit pada ibuku yang sibuk menyiapkan bekal adikku.
"Kamu ga sarapan dulu" kataa ibuku sambil menaruh telur dadar di dalam kotak nasi berwarna pink dengan gambar frozen milik adikku.
"Enggak, tapi susunya kuminum habis kok" ujarku sembari mengajukkan tangan, ibu langsung menyambar tanganku memberiku selembar uang 20 ribuan lalu aku berlalu pergi. Aku tau ibu tak akan memaksaku untuk sarapan karena dia tau apa alasannya. (True story, aku susah makan nasi, apalagi dingin).


Sampai disekolah, aku menyusuri koridor koridor kelas setelah turun dari angkot dan masuk melalui gerbang tinggi besar bertuliskan SMA N 01 Gunung Sugih. Melangkah masuk kedalam kelas paling pojok bertuliskan 12 IPA 1, beberapa orang ada didalamnya, aku menyapa mereka dengan ucapan "assalamualaikum" mereka menjawabnya bersamaan "waalaikumsalam". Aku langsung duduk di bangku yang letaknya paling depan karena disitulah tempat dudukku. mengeluarkan ponsel dari saku bajuku sebelum aku merasakan sakit yang melilit perutku, celaka maag ku kambuh, aku meminta salah seorang temanku untuk mengantarku ke UKS berniat meminta obat berwarna hijau yang biasa kukunyah jika merasa sakit seperti ini. Celakanya lagi pintu Uks belum dibuka bahkan aku pun tak tau siapa pemegang kuncinya. Aku duduk sesaat disebuah kursi panjang didepannya, menahan nyeri dari perutku lalu tiba tiba saja aku mendengar suara drum yang beradu dengan keyboard berasal dari ruang band yang kebetulan letaknya tepat disamping ruang Uks.


Aku berdiri dan mendekatinya setelah bertanya pada Ayu, apakah dia mendengar suara itu, namun jawaban yang kudapat adalah tidak, apa hanya aku yang mendengarnya..? Bahkan Ayu pun bingung dengan ulahku. Sampai didepan pintunya, kulihat pintu terkunci dan suara itu masih terdengar, anehh mana mungkin ada yang mengunci pintu ini, sementara ada orang didalamnya.

Baca Bagian 3 >>
<< Baca Bagian 1

Karya : Erina Yunita S

Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top