test

Cerpen Menjadi Diri Sendiri
Cerpen Menjadi Diri Sendiri


Hal yang paling membahagiakan yang kuingat sa'at ini adalah sa'at aku menjadi diriku sendiri tanpa meperdulikan komentar orang. Sa'at tak ada yang memintaku untuk sempurna, sa'at tak ada yang mengharamkanku berbuat salah, sa'at tak perlu lagi berpura-pura menjadi orang yang berbeda, sa'at itu aku merasa merdeka. Ketika aku butuh berteriak sekencang-kencangnya dan tak ada yang menghina atau marah karenanya, aku meresa bahagia. Kedongkolan, kebencian, kekecewaan, dan kemarahan bila tak disalurkan pasti akan jadi bencana nantinya. Seperti hujan yang turun dengan deras membasahi bumi, bila tak ada selokan atau selokan itu tersumbat, pastilah bencana banjir tak kan terelakkan. Jangan pernah memintaku menahan hujan atau menghentikan badai. Aku takkan pernah mampu melakukannya. Jangan pernah menyuruhku menahan air mata sementara hatiku terus menerus digoreskan luka. Aku tak kan sanggup menahannya.

Aku selalu meyakinkan pada banyak orang yang ku kenal bahwa aku menghargai perbedaan, karakter yang unik, dan pribadi yang mengesankan.Tiap orang memiliki ciri khas masing-masing yang tak kan pernah bisa dibandingkan dengan siapapun karena memang tak ada yang sebanding. Tuhan ciptakan kekurangan dan kelebihan yang berbeda pada hamba-hamba-Nya agar mereka saling tolong-menolong, bantu membantu dalam kebaikan dan saling melengkapi dalam kehidupan. Karena itu aku tak pernah meminta orang untuk menjadi seperti yang ku mau dan mengorbankan apa yang menjadi khasnya. Menurutku itu sama saja seperti aku merenggut jiwanya. Dan itu sangatlah menyakitkan. Aku tak ingin membuat orang lain menjadi zombi yang tak punya jiwa, yang dilakukannya tak seindah sebelumnya, yang diperbuatnya hanya kepura-puraan agar yang lain senang dan dirinya tertekan atau tidak tenang.

Bahagia itu sa'at bisa saling berbagi, saling membantu, saling mengisi, saling melengkapi. Bahagia itu sa'at marah ada ucapan yang menenangkan, sa'at sedih ada pelukan yang membahagiakan, sa'at jatuh ada uluran tangan untuk membangkitkan, sa'at gelisah ada perhatian penuh ketulusan. Sa'at berbuat salah ada yang membantu memperbaiki kesalahan tanpa hinaan, tanpa hujatan, tanpa cacian, tanpa makian, dan tanpa tekanan. Ketika aku selalu mengibaratkan diri menjadi suatu bagian tubuh manusia dan orang lain adalah bagian yang lainnya, aku tak mampu menyakiti jiwa dan raganya dengan sengaja. Karena sakitnya adalah sakitku pula. Aku berharap orang lain akan berpikir sama, namun kenyataan mengatakan bahwa pikiran setiap insan itu berbeda, dan tak ada yang mampu merubahnya kecuali pemiliknya.

Karya : Kurniawati Budiningrum
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top