test

Cerpen Leave
Cerpen Leave


LEAVE
Oleh : Siti Nurjannah

Nyiur melambai, meliukan tubuhnya dengan
gemulai penuh pesona. Sang fajar berdiri angkuh
di puncak langit negeri. Menyilaukan mata
siapapun yang lancang menatapnya.
Angin menyeret air hingga menepi dengan buas
terhadap karang yang tak berdosa, dan dengan
secara otomatis pasirpun terkikis serta pijakan
sedikit mengendur.
Aku mendaratkan bokongku di atas pasir,
membiarkan ombak yang malu-malu menggapai
kaki jenjangku. Mataku menembus lautan yang
tak pernah ku tahui luasnya berapa senti meter,
sesungguhnya tidak ada yang menarik dari
lapangan air berwarna biru itu. Hanya saja hanya
itu pemandangan yang paling baik dari
pemandangan lainnya.
Chen Giovano,
Sebenarnya ini alasan terkokohku untuk berpijak
di pasir yang panas terbakar terik ini. Awalnya
memang hanya planing teman-temanku untuk
refreshing sejenak, namun mengingat pria itu aku
langsung bersemangat dan mati-matian agar
mewujudkan rencana wisata ini. Dan seperti yang
kita lihat, usahaku berhasil bukan.
***
Sial.
Sudah hampir enam jam aku berkeliling, namun
sosoknya tak dapat ku temukan wujudnya.
Aku tidak bodoh. Aku tau daerah ini luas, sangat
luas. Gagasan logis lainnya, Chen tidak selalu
berkeliaran di tepian pantai. Ini hari sabtu maka
sudah pasti Chen sedang berada di kelas untuk
belajar atau setidaknya menghindari
keabsenannya.
Aku hanya berharap, semoga Dewi fortuna
berpihak kepadaku hingga pria jangkung itu dapat
ku lihat wujudnya.
Come on Chen, i really miss you.
Aku ini orang sibuk, aku tidak gila untuk
membuang waktu berhargaku hanya karena aku
harus berkunjung ke sini setiap waktu agar bisa
bertemu denganmu.
Terdengar berlebihan.
***
Satu tahun silam, saat aku masih duduk di
bangku Sekolah menengah pertama. Untuk
pertama kalinya aku merasakan perasaan yang
lebih dari sekedar tertarik pada pria.
Dia Chen, Chen Giovano.
Pria baik namun kaku, pintar namun pendiam,
shaleh namun populer karena tampan dan lagi
pria itu cukup digandrungi banyak kaum hawa.
Aku menyukainya, bahkan lebih dari itu. Namun
aku hanya bisa mencintainya dengan
bersembunyi dibalik dusta, aku terlalu membatasi
diriku dengan rahasia.
Marina Angely, dia sahabatku yang juga
menyukai Chen lebih dulu. Aku bukan wanita
jahat dan licik untuk merebut Chen dari
sahabatku sendiri.
Chen itu pria yang sulit ditebak, bahkan aku yang
mati-matian belajar ilmu psychology-pun tak
mampu menembus pikiran pria berkulit tan itu.
Chen, sebenarnya kau menyukai siapa?
***
Saat itu...
Tepatnya pertengahan bulan Juni. Sekolah
menggelar acara perpisahan, dan akupun resmi
menjadi Alumni.
"Kau tau Chen akan pindah! " Gimy, ia berbisik di
daun telingaku.
Aku terhenyak, Chen akan pindah
kemana?
"Kemana dia akan pindah? " Tanyaku dengan
wajah datar.
"Daerah Pelabuhan Ratu, Ayahnya pindah tugas.
Mau tidak mau keluargannya harus pindah."
Terangnya.
Aku diam, pandanganku masih setia pada sosok
tampan yang menduduki kursi yang letaknya
tepat di hadapanku.
Acara perpisahan usai. Aku pulang dengan sejuta
kekecewaan yang membelenggu diriku dalam rasa
hancur yang teramat. Aku masih memikul
bongkahan rahasia yang tak sempat ku berikan
padanya, aku terlalu malu untuk bicara jujur.
Biarkan rasaku ikut membias bersama lengkung
spektrum warna dilangit. Dengan penuh harap,
semoga insan bernama Chen itu melihat indah
kilaunya.
***
Chen benar-benar pindah.
Aku biasa saja, hanya sedikit terluka. Karena
bagaimanapun caranya aku harus terbiasa
membiasakan diri tanpa hadirnya di dekatku.
"Niky Anders?" Gumam seorang wanita yang tepat
di belakangku. Aku memutar diriku hingga 180°
melihat sosok yang menggumakan namaku.
"Marina!" Pekikku dengan langsung memeluk erat
tubuh ramping sahabatku.
"Bagaimana jika kita sedikit minum di cafe itu. "
Marina berseru penuh semangat. Aku
mengangguk dan segera mengekorinya.
Aku menarik kusi dan mendudukan bokongku
pada kursi di cafe yang bernama Sweet Blending
itu.
"kau mau pesan apa? " Suara merdu Marina
terdengar lagi.
"Taro bubble saja. " Aku menyahut. Dia
mengangguk lalu melambaikan tangannya,
mengisyaratkan agar salah seorang waiter
menghampiri meja kami.
"Jadi bagaimana kabarmu? " Tanyaku.
"Terrible! " Jawabnya ditemani hembusan nafas
beratnya.
"Why? Sepertinya kau sedang banyak pikiran? "
Tanyak. Ia mengangguk lalu ia menyeruput Sweet
Green tea yang baru saja hadir di meja kami.
"Chen menyatakan perasaannya padaku, bahkan
ia memberiku sebuah boneka." Terangnya.
Hatiku tertohok.
Jangan tanyakan aku sakit atau
tidak. Karena itu sungguh pertanyaan yang bodoh.
"Kau menerimanyakan, bukankah kau sudah
lama menyukainya? "
"Aku menolaknya, aku sudah terlanjur
bersama Rezky."
Aku tau Chen hancur, tapi aku sama hancurnya.
Kita sama mempunyai cinta tak terbalaskan.
Lantas kenapa tuhan enggan untuk
mempersatukan?
***
Hari sudah sore, aku terhempas dari lamunan
masalaluku. Aku merangkak keluar dari dinding
masa kelam yang penuh kesakitan.
"Nick, come on! Teman-teman sudah
menunggu di mobil" Seru Cathlyn dengan suara
cempreng khasnya.
Aku menangguk lalu melangkah menjauh dari
arah pantai.
Aku berbalik namun nihil Chen benar-benar tak
nampak.
Goodbye Chen Giovano

End
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top