test

Cerpen Kisah "Putri Mj Tinx" di Negeri Seribu Singkong
Cerpen Kisah "Putri Mj Tinx" di Negeri Seribu Singkong


Fajar menyingsing keluar dari peraduannya. Cahaya hangat sang mentari menyentuh lembutnya kulit Mj Tinx, gadis berparas manis dengan senyum kecilnya yang menawan. Kini, ia mulai beranjak dewasa dan menjadi seorang Putri yang bersahaja.
"Wah ... indahnya pagi ini, aku ingin keluar melihat hijaunya tumbuhan," ucap MJ Tinx sambil mengusap kedua matanya yang sayu.
Mj Tinx pun mengambil handuk, bergegas ke sungai yang tak jauh dari gubug kecilnya. Air yang jernih semakin menambah sejuk suasana pagi itu. Mj Tinx melihat keadaan sekitar sungai untuk memastikan semuanya aman.
"Srek ... Srek ... Srek ...." Suara di semak-semak membuat penasaran.
"Siapa disitu?" tanya Mj Tinx menatap tajam ke arah semak-semak.
Mj Tinx segera mengenakan pakaiannya dan kembali ke gubugnya Mj Tinx sesaat berhenti, melihat pasukan Istana yang sudah mengepung gubugnya.
"Itu dia Sang Putri!" ucap salah seorang pasukan Istana yang menyadari keberadaan Mj Tinx.
"Lari nak!" ucap Ibu paruh baya yang tinggal bersama Mj Tinx.
Mj Tinx langsung mengambil langkah seribu, menghindari kejaran pasukan Istana. Dengan susah payah, berlari dengan arah zig-zag untuk memecah konsentrasi pasukan Istana, akhirnya Mj Tinx berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di sebuah gua. Mj Tinx terus berjalan mengikuti arah gua tersebut yang terlihat tak berujung. Namun, ada secerca cahaya berhasil menembus gelapnya gua. Mj Tinx mengikuti arah sumber cahaya itu berasal. Mj Tinx tak mengalihkan pandangannya dari arah sumber cahaya itu. Akhirnya, sedikit harapan terbuka. Mj tinx berhasil keluar dari gua. Namun, permasalahan muncul kembali karena Sang Putri kehilangan arah. Dia tersesat di hutan yang jauh dari keramaian. Bahkan seperti kuburan di malam hari, dengan suasananya yang mencekam.
"Ini tempat apa?" gumamnya di dalam hati.
"Aku harus segera menemukan jalan keluar, nampaknya hutan ini asing dan berbahaya."
"Ssst ... Ssst ...." Suara mendesis terdengar tak jauh darinya.
"Aduh, aduh!" Mj Tinx terpatuk ular yang tak sengaja diinjaknya.
"Tolong! Tolong! Tolong!" teriak Mj Tinx sesaat sebelum tak sadarkan diri.
Kemudian saat Mj Tinx mulai membuka matanya.
"Aku di mana? Tempat apa ini?" tanya Mj Tinx dengan tatapan terkejut.
"Kamu siapa? Kamu sudah apakan aku?" lanjut Mj Tinx melihat sesosok laki-laki di hadapannya.
"Tenang! Tenang! Saya bukan orang jahat." Sesosok laki-laki itu dengan sabar menenangkan hati Mj Tinx yang terlanjur panik.
"Iya, lalu kamu siapa?" tanya Mj Tinx masih menaruh curiga.
"Kamu tak perlu takut, tadi kamu terkena gigitan ular. Maaf kalau lancang, aku bawa kesini. Racunnya cukup berbahaya, tapi sudah aku keluarkan."
"Oh, iya maaf!"
"Minum ini, obat penawar racun yang diracik aku sendiri!" ucap laki-laki itu menyodorkan gelasnya.
Mj Tinx menerima gelas itu dan segera meminumnya seteguk demi seteguk hingga tak tersisa sedikit pun.
"Terima kasih. Maaf, nama kamu siapa?" tanya Mj Tinx.
"Aku Dharma. Kamu siapa?" tanya Dharma mengakrabkan diri.
"Aku Mj Tinx, senang berkenalan denganmu!"
Mj Tinx terlihat penasaran dengan sosok laki-laki itu. Mj Tinx memberanikan diri untuk menanyakan hal lain tentangnya.
"Kang Dharma, tinggal sendirian di rumah ini?" tanya Mj Tinx.
"Iya, memang kenapa?"
"Tak apa. Oya, kegiatannya apa sehari-hari? Pekerjaan Kang Dharma?" tanya Mj Tinx mulai antusias mengorek informasi.
"Itu kamu lihat kebun di belakang rumah? Aku menanam singkong, sayur, dan lainnya. Semuanya aku kerjakan sendiri." Dharma tak sungkan memberi penjelasan.
Entah mengapa, timbul benih-benih perasaan yang belum pernah Mj Tinx alami sebelumnya.
"Dharma, bisa tunjukkan aku jalan pulang ke rumah?" tanya Mj Tinx berharap diantar Dharma.
"Mari saya tunjukkan!"
Di tengah perjalanan, keberadaan Mj Tinx tercium oleh pasukan Istana. Mj Tinx yang tidak menyadarinya, terus berjalan membelah lebatnya semak-semak hutan.
"Itu Putri! Cepat segera tangkap!" ucap pasukan Istana dengan berteriak.
Mj Tinx dan Dharma sontak terkejut dengan kedatangan pasukan Istana. Keberadaan yang tak jauh, membuat MJ Tinx dan Dharma tak bisa melarikan diri. Meskipun sempat memberikan perlawanan, namun jumlah pasukan Istana yang tak sepadan memaksa Mj Tinx dan Dharma menyerahkan diri.
"Masuk kamu ke penjara!" Dua pasukan Istana berhasil menyekap dan memasukkan Dharna ke dalam penjara.
Kemudian pasukan Istana meninggalkan Dharma.
"Maaf nak, kamu punya kesalahan apa?" tanya Ibu paruh baya yang tiba-tiba muncul dari gelapnya tahanan.
"Aku hanya menolong Mj Tinx."
"Kamu tahu Mj Tinx itu siapa?"
"Dia orang yang tersesat di hutan Kemudian aku tolong. Ibu ini siapa?" tanya Sharma.
"Aku orang yang merawat Putri Mj Tinx saat dia melarikan diri dari Istana," Tutur Ibu paruh baya itu.
"Mj Tinx seorang Putri?" tanya Dharma mulai mengerti alasannya dirinya ditahan.
"Ya nak Dharma."
Di sisi lain, Mj Tinx sedang adu argumen dengan Sang Raja, Ayahandanya yang memaksanya menikah dengan Putra Mahkota Kerajaan Sridewa. Namun, Mj Tinx tak sedikitpun mencintainya.
"Ayah, Mj Tinx tak mau menikah dengan Bima. Ayah memaksa pun, aku tetap menolaknya!" ujar Mj Tinx terlihat muak dengan perjodohan ini.
"Kamu jangan jadi anak durhaka wahai Adinda Mj Tinx! Lalu, siapa yang lebih pantas mendampingimu?" tanya ayahnya dengan wajah yang garang.
"Ada, dia sederhana orangnya. Dengan kesederhanaannya, Mj tinx justru mencintai dia Ayah."
"Siapa? Bawa kesini orangnya!" Ayahanda Mj tinx terlihat murka.
"Dharmasraya, orang yang Ayah masukkan ke dalam penjara."
"Baiklah, pasukan! Bawa Dharma ke hadapanku sekarang!"
Dharma pun dibawa ke hadapan Sang Raja. Tatapan Sang Raja begitu sinis dengan Dharma.
"Kau yang bernama Dharma?" tanya Raja.
"Iya Raja," jawab Dharma dengan tegas.
"Apa kau mencintai Mj Tinx?" Raja kembali menekankan.
"Hm ... Hmm ...." Dharma terlihat gugup.
"Jawab yang tegas!"
"Iya Raja, aku mencintai Mj Tinx, Putri Raja."
"Kamu merasa pantas berdampingan dengan putriku?"
Suasana mulai memanas. Sang Raja bersitegang dengan Dharma.
"Baik, aku akan mengadakan pertandingan antara kau dengan Bima. Siapa yang menang, dia yang saya izinkan bersanding dengan putriku." Raja memberi solusi.
"Sayembara apa Ayahanda?" tanya Mj Tinx sedikit khawatir.
"Dharma akan bertarung satu lawan satu dengan Bima, sampai titik darah penghabisan!"
"Ayah, jangan ada korban dalam Sayembara ini. Aku mohon!" MJ Tinx bernegosiasi dengan Ayahnya.
"Apa solusimu Putriku?"
"Karena Negeri kita melimpah dengan singkongnya, bagaimana kalau Sayembara menanam seribu singkong? Cukup adil kan?"
To be continue ....

Karya : Fandy Akhmad
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top