test

Cerpen Kepastian
Cerpen Kepastian


Kepastian
Oleh : JinAra


Udara di sekitar Bogor mulai menghangat saat memasuki minggu pertama di musim panas setelah beberapa bulan ini selalu di guyur hujan. Cewek manis berambut sebahu itu masih asyik dengan buku ditangannya sambil sesekali menyesap kopi latte pesanannya setengah jam yang lalu.
"Nunggu lama?" Ia mendongak, menggeleng pelan kemudian tersenyum kecil menanggapi pertanyaan cowok di depannya.
"Enggak juga, kebetulan gua dapet bacaan baru jadi gak terlalu bosen juga." Cowok pemilik senyum malaikat itu tersenyum kecil, tangannya terulur mengusap pelan puncak kepalanya membuat jantungnya berdegup gak karuan. Selalu aja kaya gini.
"Belum pesen makanan?" Ia lagi-lagi menggeleng pelan kemudian menunjuk kopi latte di hadapannya dengan dagunya.
"Kopi lagi? Udah gua bilang jangan sering minum kopi setiap hari. Lu bisa kena asam lambung Rara Pradipta." Cewek bernama Rara itu hanya terkekeh pelan mendengar celotehan cowok di depannya.
"Jangan ceramah dulu yaa Jojo Irwan Swangsa, gua lagi sibuk." Cowok bernama Jojo itu cuma menggeleng pelan kemudian dengan cepat tangannya terulur mengusap sudut bibir Rara membuat Rara terkesiap.
"Apaan sih Jo?" Jojo cuma mengangkat kedua bahunya kemudian bergumam pelan.
"Ada sisa kopi di mulut lu, gua cuma bersihin aja." Rara mencibir pelan kemudian kembali hanyut pada bacaan di tangannya sampai akhirnya Ia mengingat sesuatu.
"Jo?" Jojo cuma menaikkan kedua alisnya menanggapi panggilan Rara.
"Sebenernya hubungan kita tuh gimana sih?" Jojo mendongak tapi kembali sibuk sama ponselnya ngebuat Rara harus kembali menelan rasa kecewanya.
Ini udah kesekian kali Rara bertanya perihal kejelasan hubungan mereka. Jojo dan Rara memang sudah dekat sejak enam bulan yang lalu dan seminggu yang lalu Jojo mengungkapkan perasaannya ke Nara. Cuma sekedar pernyataan cinta tanpa kejelasan gimana hubungan mereka selanjutnya membuat Rara terus bertanya-tanya.
"Nanti gua jelasin semuanya Ra." Cowok itu akhirnya buka suara ngebuat Rara cuma bisa menghela nafas panjang. Rara udah terlalu cape buat nanya kejelasan hubungan mereka lagi.
"Terserah lu aja Jo. Gua gak akan nanya lagi."
-oOo-
Setiap pagi, siang, sore sampai malam Jojo memang selalu ngabarin Rara. Mulai dari nanya lagi apa sampai ngingetin buat gak lupa makan ngebuat Rara sedikit terkesan, tapi makin lama Rara makin ngerasa cape sama semuanya. Semua perhatian Jojo memang ngebuat Rara nyaman tapi cuma sebagai teman. Yaa cuma sebagai teman dan mungkin Rara yang terlalu perasa sampe berharap Jojo bakal memperjelas gimana hubungan mereka sekarang.
"Ngelamunin siapa sih?" Rara menatap seseorang di depannya dengan heran.
"Jangan bilang lu lupa sama gua." Rara mengangguk mantap mengiyakan pernyataan sosok di depannya.
"Ya ampun Ra!! Ini gua Kiki, Kiki Fahrila." Rara membulatkan kedua manik matanya sempurna melihat sosok cowok di depannya. Cowok cupu teman sekelas sekaligus sahabat karibnya zaman SMA dulu.
"Kiki Fahrila? Seriusan?" Kiki mengangguk mantap ngebuat Rara tersenyum lebar dan langsung menghambur ke pelukan Kiki, ngebuat Kiki terkesiap.
"Ra lu bikin gua gak bisa nafas." Rara segera melepas pelukannya, tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf? Gua cuma terlalu seneng ketemu sama lu. Kapan lu balik ke Bogor?"
"Kemaren Ra." Rara mengangguk paham, ia terus menatap sahabatnya itu dengan cermat. Sudah banyak perubahan semenjak perpisahan mereka 5 tahun yang lalu. Si cupu di hadapannya berubah menjadi pangeran ganteng berkuda putih. Dengan kulit kuning langsat berbeda dari cowok Bogor kebanyakan membuatnya terlihat menonjol diantara pengunjung cafe ini. Dengan kedua manik mata tajamnya serta senyum manisnya membuatnya terlihat ramah tapi tetap berwibawa.
"Terus kok lu bisa tau gua disini? Ya ampun sumpah deh, lu beda banget sih." Rara menatap kagum kearah Kiki, pandangan matanya gak bisa lepas dari cowok ganteng di hadapannya.
"Gua lagi jalan-jalan aja Ra. Nikmatin liburan eh ngeliat lu lagi ngelamun disini. Satu lagi, gua memang lebih ganteng, makasih?." Rara mencibir pelan ngebuat Kiki terkekeh pelan. Dan akhirnya mereka menghabiskan waktu sepanjang hari dengan bernostalgia bersama ngebuat Rara berhasil menghilangkan kegelisahannya karena Jojo.
-oOo-
Pernah mendengar sebuah kalimat yang berbunyi seperti ini "Karena yang spesial akan kalah dengan yang selalu ada."? kayaknya kalimat itu gak berlaku buat Rara. Kembalinya Kiki ke Bogor memang ngebuat Rara memberi ruang baru buat Kiki di hidupnya, tapi sama seperti dulu cuma sebagai sahabat, Jojo tetap ngisi tempat spesial di hatinya walaupun cowok itu belum juga memberinya kepastian.
Suara deringan ponselnya akhirnya membuatnya terjaga, tangannya menyapu seluruh sudut ranjangnya dan berhenti saat benda kotak itu berhasil di temukan. Ia menyipitkan matanya berusaha melihat nama siapa yang terpampang jelas di layar ponselnya.
"Hallo?"
Rara terdiam mendengarkan celotehan seseorang di seberang sana, selalu aja sama setiap paginya. Mengucapkan selamat pagi dan mengingatkannya untuk tetap semangat menjalani harinya.
"Iya Jo, lu juga harus semangat ya?" Rara menutup ponselnya setelah cowok itu mengakhiri rutinitas paginya. Rara menghela nafas panjang, Ia merasa heran kepada dirinya sendiri. Mungkin cuma dia yang merasa spesial sedangkan Jojo sama sekali gak menganggapnya spesial? Mungkin itu sebabnya sampai hari ini Jojo belum memberikan kepastian tentang hubungan mereka. Perasaannya seketika terasa sesak menyadari pemikirannya sendiri, Ia menghela nafas panjang, berusaha mengikutsertakan logikanya kali ini. Mungkin memang Jojo gak pernah menganggapnya spesial, mungkin pernyataan cintanya waktu itu cuma bercanda, mungkin memang Rara yang terlalu perasa sehingga menganggap Jojo akan membawa hubungan mereka lebih dari sekedar teman, mungkin bukan Jojo yang gak peka tapi Rara yang terlalu berharap sama cowok pemilik senyum malaikat itu.
"Berhenti berharap Ra!" Rara bermonolog sendiri, mensugestikan dirinya sendiri agar hatinya tak banyak berharap lagi. Kali ini Rara akan menganggap segala perhatian yang Jojo berikan hanya karena mereka berteman dekat, akan selalu menjadi teman dekat gak akan pernah lebih.
-oOo-
Akhir minggu ini Rara mutusin buat pergi jalan-jalan sama Kiki ke pusat perbelanjaan terbesar di kota Bogor. Awalnya Rara ngajak Jojo buat temenin dia jalan-jalan tapi cowok itu menolak karena ikut lomba modif motor di daerah Tanggerang.
Rara mematut dirinya di depan cermin. Dengan celana jeans, kaos oblong yang dipadu sama kemeja kotak-kotak kesukaannya dan jangan lupain sepatu kets berwarna biru muda nambah kesan casual dalam.penampilannya kali ini. Rara langsung menyambar tasnya sedetik setelah dapet pesan dari Kiki.
"Nunggu lama?" Kiki berbalik dan mendapati Rara tersenyum kecil kearahnya membuat degup jantungnya berdetak tak karuan. Penampilan sederhana Rara memang selalu membuatnya terpesona.
"Woooy!! Kok malah ngelamun sih?" Teriakan kecil Rara membuat Kiki tersentak , sedetik kemudian Ia mengeluarkan cengiran khasnya membuat Rara terkekeh pelan.
"Ayo berangkat sekarang!" Raa mengamit lengan Kiki dan menarik cowok itu memasuki mobilnya yang sudah setia terparkir di halaman rumah Rara.
-oOo-
Menyusuri setiap sudut pusat perbelanjaan sama sekali gak membuat Rara kelelahan, berulang kali Kiki menarik lengan Rara supaya bisa beristirahat sebentar di kedai kopi atau kedai es krim yang mereka lewati, tapi 4ara hanya menggeleng dan balas menarik Kiki agar mengikutinya lagi.
"Gua cape Ra." Kiki merengek kaya anak kecil membuat Rara tertawa pelan, tangannya terulur mengacak rambut hitam itu pelan.
"Ya ampun!! Apa Kiki si cupu yang dulu balik lagi?" Kiki mendelik tajam membuat Rara lagi-lagi tertawa pelan. Pandangan Kiki langsung terpaku pada tawa itu, pada senyum itu, senyum yang selama lima tahun di rindukannya, senyum yang selama lima tahun selalu mengusik tidur malamnya, senyum itu kini bisa dilihatnya, nyata di depan matanya.
"Ra?" Rara mengangkat kedua alisnya menjawab panggilan Kiki.
"Lu udah punya pacar?" Pertanyaan Kiki langsung mengingatkannya lagi sama Jojo. Rara hanya terdiam, mengalihkan pandangannya dari Kiki.
"Gua salah nanya ya?" Kiki merasa bersalah melihat perubahan raut wajah cewek di hadapannya. Rara menggeleng pelan, kemudian tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya meninggalkan Kiki, menuju kedai es krim yang berada gak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Wooooy Ki!! Katanya cape?" Rara melambaikan tangannya kearah Kiki, mengisyaratkan cowok itu untuk mengikutinya. Kiki tersenyum kecil kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Rara disana .
-oOo-
Waktu telah menunjukan pukul 10 malam, Kiki dan Rara mutusin buat pulang karena hari sudah terlalu larut. Rara sesekali mengecek ponselnya dan seperti biasa selalu ada pesan dari Jojo untuknya, mengabarinya dan tak lupa mengingatkannya agar tidak telat makan. Rara menghela nafas panjang. Sumpah!!! Berada di posisi kaya gini terasa sangat menyakitkan. Logika menyuruhnya untuk pergi sedangkan hati menyuruhnya untuk tetap tinggal.
"Apa ada masalah?" Rara tersentak, Jojo benar-benar menyita perhatiannya. Cuma karena satu pesan dan berhasil ngebuat perhatian Rara teralihkan.
"Gak ada. Cuma ngerasa sedikit lelah aja." Rara memijat pelan tengkuknya. Badannya gak merasa lelah, cuma hatinya perlu beristirahat dari cinta yang salah.
"Ya udah kita balik aja sekarang ya?" Rara mengangguk pelan, Kiki merangkul Rara mencoba memberikan rasa nyaman sama cewek di sampingnya.
-oOo-
Rara berlari kecil dan segera memasuki kedai kopi langganannya sama Jojo. Ia memutar pandangannya, menyapu setiap sudut ruang kedai kopi itu dan mendapati Jojo duduk di sudut ruangan menatap keluar jendela. Rara menghela nafas lega, langkah kakinya berjalan menghampiri Jojo.
"Nunggu lama?" Jojo mengalihkan pandangannya menatap Rara tajam ngebuat Rara mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa ngeliatin gua kaya gitu?" Jojo terdiam kemudian menunjukan sebuah foto melalui ponselnya. Rara mengerutkan keningnya melihat fotonya sama Kiki di kedai es krim kemarin siang.
"Terus? Ada yang salah sama foto itu?" Jojo mendengus kesal, ada api cemburu yang terpancar melalui kedua manik mata hitamnya.
"Kok lu gak ngabarin gua mau pergi sama cowok lain?" Rara semakin mengerutkan keningnya heran.
"Terus memang gua salah kalo gak ngabarin lu?" Jojo menggenggam ponselnya erat, menyalurkan amarahnya kesana.
"Jelas salah Ra!! Lu gak nganggep pernyataan cinta gua kemaren? Terus perhatian gua selama ini lu anggap apa?" Rara terdiam. Pengen rasanya dia membunuh cowok di hadapannya ini sekarang.
"Bukannya udah berulang kali gua coba buat negasin hubungan kita Jo? Tapi apa? Lu gak pernah kasih gua kepastian kan?" Rara masih berusaha menahan tangisnya. Sumpah! Disaat kaya gini pengen rasanya Rara berteriak sama cowok di hadapannya dan menumpahkan segala rasa sesak yang selama ini dirasakannya.
"Lu tuh kaya anak baru kemaren tau gak sih Ra! Kita tuh udah sama-sama gede. Lu harusnya bisa mastiin semuanya dari sikap gua ke elu." Rara mendecih pelan.
"Lu gak bisa egois Jo! Semua cewek butuh kepastian! Lu gal bisa biarin cewek terombang ambing dilautan lepas tanpa penjagaan. Gua harap lu ngerti maksud gua! Dan satu hal lagi Jo. Gua berhenti!! Gua berhenti ngarepin kepastian dari lu sampai sini! Udah cukup lu gantungin gua selama ini Jo!" Rara segera berdiri, gak sama sekali berniat deger penjelasan dari Jojo. Udah cukup dia dimainin sama cowok pemilik senyum malaikat itu. Kali ini Ia benar-benar berhenti ngarepin Jojo. Rara berhenti sampai disini.

END
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top