test

Cerpen Kenangan Indah Hari Kamis
Cerpen Kenangan Indah Hari Kamis

Alangkah resah kala menatap sang pujaan bersama orang lain, namun tak dapat bertindak karena rasa ini hanya memendam dan sekedar kagum semata. Hanya saja emosi teraduk, tak dapat dikendalikan. Sejauh keinginan untuk mengungkapkan.
Irfan sembunyi-sembunyi menyukai gadis di kelasnya yang bernama Yunita. Irfan bahkan harus menahan rasa suka dan keinginannya, sebab tak wajar saja bagi pria seperti Irfan terpesona singkat oleh gadis yang dibilang nakal dan hiperaktip di kelas. Mungkin ia sering berpapasan saat berangkat dan pulang sekolah dan Yunita memberi salam hangat setiap hari. Justru sikapnya berbeda saat sekejap mata menatap dibandingkan di kelas.
Di hari Kamis siang itu, saat jam istirahat hampir selesai dan semua orang mulai kembali. Irfan memanggil Yunita dan meminta waktu sekejap untuk bicara.
"Ada apa ini?" Tanya Yunita kebingungan
"Mmmhhh... Aku mau minta maaf dan izin," ucap Irfan sedikit gugup
"Hah, kalau mau izin minta ke KM atau guru donk, kenapa harus ke saya?" Ucap Yunita masih dilanda heran.
"Maksudku, maaf sebab aku sembunyikan perasaan ini karena sesungguhnya aku suka kamu. So, aku mau minta izin untuk berkencan denganmu Sabtu esok," ucap Irfan sedikit tegang.
"Hah, apa aku sedang "ditembak", apa ini benar-benar terjadi atau hanya bercanda?" Tanya Yunita.
"Aku serius, aku selalu perhatikanmu setiap hari dan menyukai keunikan dirimu dan Kagumi kecantikan yang kau miliki. Aku ingin kau jadi pacarku dan memintamu untuk kencan denganku," ucap Irfan
"Thanks, sudah jujur. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Lagipula Sabtu ini aku ada janji dengan Ani dan Mia untuk pergi," ucap Yunita.
"Tapi jawab semua pertanyaan dariku, maukah kau jadi pacarku dan kencan denganku?" Tanya Irfan menegaskan.
"Mmhh... aku tidak tahu, tapi kita jalani saja ya. Mungkin besok setelah jumatan kita bisa pergi jalan-jalan," ucap Yunita memberi jawaban.
"Benarkah? Baiklah, thank you," ucap Irfan merona dan kegirangan.
Tanpa henti Irfan memandangi Yunita yang membuatnya malu-malu. Dan saat pulang sekolah Yunita meminta agar sedikit menjaga jarak, karena ia belum siap. Hingga sore hari Yunita mengirim pesan SMS pada Irfan.
"Maaf untuk siang tadi," pesan yang dikirim oleh Yunita.
"Baiklah, tak apa. Besok siang kita akan pergi bersama, aku akan menunggu untuk saat itu," balasan Irfan
"Thanks, kamu baik deh," ucap Yunita.
Irfan semakin salah tingkah dan selalu tersenyum memandang dirinya sendiri saat berkaca. Bahkan memeluk erat bantal guling hingga membuatnya terbawa serta terlena sampai ia terlelap dalam tidur.
"Kak, bangun. Ini magrib, di depan rumah ada yang cari kakak," ucap adik bungsu Irfan.
Saat Irfan membuka jendela dan menatap dari kamarnya, ia melihat Yunita menanti di bawah pohon. Sesegera mungkin Irfan membersihkan diri untuk turun dan temui Yunita.
"Kenapa kau kesini sore-sore begini?" Tanya Irfan sedikit heran.
"Aku ingin jelaskan secara langsung, kalau besok aku tidak bisa jalan-jalan denganmu. Maaf aku harus beritahu ini sekarang," ucap Yunita menjelaskan.
"Ada apa? Kenapa? Tapi bisa diundur Minggu esok, kan?" Tanya Irfan
"Aku harus pergi bersama keluarga ku, dan Minggu pun aku tidak bisa," ucap Yunita
"Baiklah tak apa, tapi masih ada kesempatan Minggu depan, kan?" Ucap Irfan mengharap
"Tidak tahu, maaf, aku harus pergi sekarang," ucap Yunita tampak sedih
"Tunggu, aku pakai jaketku dulu dan mengantar kamu, ini sudah malam," ucap Irfan.
...
Keesokan pagi, Irfan tak melihat Yunita keluar dari rumahnya menuju sekolah. Sepertinya ia sudah lebih cepat, namun saat Irfan sampai di kelas tak tampak Yunita sudah tiba lebih awal. Jarak waktu keterlambatan pun lewat, sepertinya Yunita tak sekolah dan berangkat bersama Keluarganya seperti yang ia katakan kemarin sore.
Waktu sekolah usai, namun saatnya untuk jumatan bagi siswa laki-laki dan guru di masjid sekolah kami. Seperti biasa Irfan datang saat guru memberi pengumuman-pengumuman.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun... telah berpulang salah satu siswi kesayangan kita, kelas 2 ipa 2, bernama Yunita Lestari bersama keluarga yang kesemuanya dipanggil oleh Allah SWT. Mari kita doakan mereka agar amal dan ibadahnya diterima...." Suara dari pengumuman tersebut
Irfan yang baru saja selesai mengambil air wudhu merasa sangat terkejut dan terpukul. Ia langsung membuka hp dan menelepon teman karib Yunita, yakni Ani. Dari Ani didapat kabar bahwa Yunita sudah dimakamkan bahkan kematiannya dari sehari kemarin. Tante dan polisi menerangkan bahwa keluarga Yunita mengalami kecelakaan dan waktu kematian diperkirakan pukul 15.50. Irfan semakin terguncang bahkan tidak percaya, karena kejadian semalam. Kenangan indah yang ia terima saat Yunita mengutarakan rasa sukanya pada Irfan adalah pesan yang disampaikan dari ruh Yunita untuknya.

Karya : Opant Anata
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top