test

Cerpen BERSUA
Cerpen BERSUA


Pukul 12 teng siang tadi, mendadak makhluk paling bohahay dan paling seksi. Serta terkalem dan keterlaluan menghubungiku via jalur udara.
"Assalamualaikum, Mbak," sapaku terlebih dahulu.
Eh tu makhluk yang bernama Musiyem kaget bukan kepalang. Biasanya orang kaget kan pastinya nyebut, eh ini malah tertawa persis kunti pengen minta dinikahi. Setelahnya kami ngobrol nana nina, ngaro ngidul. Tapi tak sampai lama, karena mendadak dangdut alaram berteriak memanggil namaku. Dengan terpaksa obrolan kami akhiri.
Lalu aku bergerak, untuk nganter penumpang ojek. Setelahnya aku mampir ke sebuah SPBU yang hanya berjarak berapa ratus perak. Kebetulan tidak ramai, hanya ada tiga orang dan aku berada pada urutan antri terakhir. Posisi pompa bersebelahan dengan pompa pengisian mobil. Sebuah mobil sedan putih dengan pengendara bermata sipit, berkulit putih dan berkaca mata hitam terlihat santai duduk dibelakang kemudi. Masih dalam posisi antri aku melepas helm karena kegerahan, pandangan tertuju pada konsumen didepanku yang mengisi full tangki motornya. Sekilas pria bermata sipit itu menoleh ke arahku, memandang tajam. Aku yang merasa dipandangi akhirnya jengah juga. Kutatap pria itu dengan maksud agar dia mengalihkan pandangannya, tetapi pria itu malah memberi senyuman. Aku buru-buru membuang pandangan, lalu motor kusorong karena tiba saat antrian. Pria itu terus memandangku, sesaat sebelum mobilnya berjalan pria itu melempar senyuman sekali lagi.
Akhirnya selesai, kugunakan helm lalu menstater motor dan perlahan melaju. Aku memilih jalan pintas dengan berbelok ke arah sebuah pintu gerbang perumahan. Sebelum belok kiri kulihat mobil pria tadi menepi tepat disebuah mini market. Lalu aku berbelok melajukan motor dengan kecepatan yang biasa saja. Tapi pandanganku terusik saat mata tertuju pada spion, mobil putih tadi berada tepat dibelakangku dan membunyikan kleksonnya. Aku menepi dengan maksud memberinya jalan, karena aku pikir dia ingin mendahului. Ternyata tidak, saat kulajukan motor terlihat mobil itu melaju mendahului dan aku membiarkannya dan agak jauh mobil itu berhenti. Kulihat pengendaranya turun dan berdiri seakan menanti seseorang. Lalu saat aku mulai mendekat pria bermata sipit itu melambaikan tangannya untuk menghentikan laju motorku. Ragu aku berhenti tetapi agak jauh darinya, untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi. Helm sengaja kubuka, siapa tau aja bisa jadi senjata kalau-kalau pria ini ada niat sesuatu.
"Hai! serunya sambil tersenyum ramah.
Dengan sekedar aku membalas senyumnya.
"Maaf! ada apa ya, Ko?" tanyaku dengan rasa penasaran.
"Tidak mengenali saya?" tanyanya semakin membuat aku penasaran tingkat dewi. Aku menggeleng dengan tampang belo'on.
"Kalau saya sebut sesuatu kamu bisa mengingatnya?" Pertanyaannya semakin membuat aku berada pada puncaknya.
Nih orang apa maunya, jangan-jangan aku hendak dihipnotis. Pikiran buruk sempat melintas, tapi apa iya! Pun siapa yang mau culik aku. Yang ada rugi cantik nggak malah makannya banyak.
"Khal, ini aku!" serunya.
"Khal? aku siapa?"
"Teman SMP kamu! tidak ingat padaku sama sekali?"
Lagi-lagi aku menggeleng, beneran tidak ingat pada tampangnya. Hanya ingat bahwa jika Khal adalah panggilanku saat satu sekolah dengan orang-orang bermata sipit.
"Tomboy gila!" serunya tiba-tiba. Spontan aku kaget dan mengingat sesuatu.
Hanya ada seorang teman yang memanggiku seperti itu.
"Sulastri!" seruku menyebut nama yang kuberikan dahulu. Padahal nama Indonesianya adalah Sulasmin, sedangkan nama cinanya Ajen.
"Sudah ingat kan!"
"Kok kamu masih mengenali aku?" tanyaku penasaran.
"Mana mungkin aku lupa pada perempuan yang menyebabkan aku dihukum hormat bendera," ucapnya seakan menerawang. Aku tertawa lucu mengingat hal itu.
"Aku tak akan pernah lupa, saat kau salah memberi surat cintaku, tertukar dengan surat izin teman yang tak masuk. Itu hal terburuk sepanjang sejarah cinta. Pun aku tetap mengingat karena dari kelas TK sampai SMA hanya ada 4 orang pribumi, dan kamu salah satunya," katanya tergelak dengan mata yang menyipit. Aku ikut tergelak ingat akan hal itu.
"Salah kamu sendiri Lastri! kenapa juga surat cinta pake amplop yang sama dengan amplop buat berkirim surat biasa," ucapku membela diri. Kami pun menertawakan masa lalu.
"Anak kamu berapa?" tanyanya setelah kami duduk ditempat lesehan.
"Tujuh!" jawabku ngasal.
"Ampun! itu anak semua?" tanyanya tak percaya.
"Ya ialah, masa boneka."
"Yang tertua kelas berapa?"
"Nggak sekolah!"
"Kenapa?" tanyanya sedikit heran.
"Tak ada sekolah khusus untuk anakku," ucapku sambil memandangnya yang terlihat bingung atas jawabanku.
"Maksud kamu apa, Khal? anak kamu kenapa?"
"Tidak kenapa-napa?"
"Lalu sekolah khusus itu?"
"Iya, ketujuh anakku tak bisa sekolah. Karena mereka semua adalah anak kucing," kataku sambil tergelak melihat kebingungan diwajah Sulastri.
"Ternyata kamu masih seperti yang dulu. Tetap selalu ngerjain aku."
"Kamu juga begitu, hanya tampang aja semakin keren dan badan terlihat padat. Nah hurup R kamu masih tetap nyangkut dibatang pohon pete," kataku meledeknya.
"Bisa aja kamu, Khal."
"Trus anak kamu berapa?" tanyaku juga ingin tau. Ia mengeleng dengan mimik wajah yang sedikit berubah.
"Istriku meninggal 8 tahun lalu, bersama anak yang dilahirkannya. Aku tidak menikah lagi sampai kini." Sulastri terlihat sedih saat menceritakan hal itu.
"Maaf, aku membuat kamu bersedih kembali," ucapku dengan rasa bersalah.
"Tak mengapalah. Lalu suami kamu?"
"Aku masih seperti yang dulu," kataku sambil tertawa. Lama kamu terdiam seakan berpikir.
"Sendiri maksudnya?"
"Yap, seratus ribu untukmu! tapi aku hutang ya, pake duit kamu."
"Sama aja, Khal!" serumu tergelak.
"Beda donk! aku pinjam bukan minta," kataku mencoba membela diri.
"Tapi kalau aku lihat dari raut dan aura wajah kamu, hati kamu sudah termiliki."
"Cieeeee ... benar-benar jadi peramal sekarang ya," ledekku padanya, menginggat dulu masa SMP dia selalu memainkan kartu untu meramal aku dan teman-teman.
"Ulurkan tangan kamu, biar aku baca garis tangan." Aku mengulurkan tangan kananku untuk di amatinya. Satu persatu sahabatku itu mengurai garis-garis tangan, aku hanya mengiyakan sesuatu yang ditanyakkannya.
Setelahnya ....
"Maaf nih, aku nggak bisa lama. Masih ada keperluan," ucapku saat melihat jam yang berada di dinding tak jauh dari tempat kami duduk.
"Oke! berapa no phon kamu, nanti aku hubungi," katamu sembari mengeluarkan sesuatu dari dompet dan menyerahkan sebuah kartu nama padaku.
"Makasih!" seruku sembari bangkit dari duduk.
"Jika perlu sesuatu hubungi aku, Khal," ucapmu sesaat setelah kita diparkiran.
Aku mengangguk dan melambaikan tangan sesaat sebelum melajukkan motorku. Ada rasa haru dihati, bahwa seorang sahabat yang hanya setahun kukenal dan bersama itu pun beberapa tahun silam, masih mengingatku dengan baik. Meski pun ia telah menjadi seorang yang sukses dan kehidupannya jauh di atasku.

Karya : 
Airi Cha
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top