test

Cerpen Berjalan Tanpa Terlihat (Kisah nyata dari seseorang)
Cerpen Berjalan Tanpa Terlihat (Kisah nyata dari seseorang)


Berjalan Tanpa Terlihat (Kisah nyata dari seseorang)
Karya : Nurmasari


Suara tepukan kembali mengalun seiring
dengan langkah gontainya menuju bangku.
Dia sudah sedikit terbiasa dengan itu,
namun kali ini mata murid-murid di kelas
memandangnya dengan cara yang berbeda-
beda, ada yang terlihat merasa kalah, ada
yang terkagum-kagum, berkaca-kaca, ada
pula yang biasa saja memandangnya. Di
benak Sinta runtutan kejadian masa lalu
seakan terputar kembali.
.
"Bu, aku mau tanya tentang rumus itu,"
tanya Sinta pada Guru matematika dari
bangkunya.
.
"Baca dulu dengan seksama, baru
bertanya," jawab guru matematika.
.
Sinta menuruti perkataan guru tersebut,
namun tetap saja dia tidak mengerti.
Matematika memang sungguh
memusingkan bagi orang seperti Sinta. Dia
menghampiri meja guru untuk bertanya
lagi, tapi guru itu menyuruhnya kembali
duduk ke bangkunya dan menjelaskan apa
yang ditanyakan Sinta pada semua murid di
kelas tersebut. Padahal sebelumnya, Nia--
murid yang paling pintar di kelas--juga
menanyakan sesuatu pada guru matematika
dan guru itu menjawabnya dengan ramah.
.
"Sa, saya bingung deh. Perasaan tadi Sesil
sama Nia juga maju ke meja guru kan buat
nanya rumus, terus dijawab dengan ramah.
Kok pas saya yang nanya gurunya kayak
cuek gitu ya?" tanya Sinta pada teman
sebangkunya, Salsa.
.
"Kamu mah kayak gak tahu aja, kebanyakan
guru di sekolah kita kan cuma baik sama
murid yang pinter, mungkin karena mereka
dengan mudah mengerti penjelasan guru,
sementara murid kayak kita kan dua sampai
tiga kali dijelasin aja gak ngerti-ngerti,"
jawab Salsa yang kemudian tertawa.
.
"Iya juga sih, saya juga sadar diri. Ya udah
deh, mulai besok saya gak akan tanya-tanya
lagi ke guru matematika mengenai rumus
atau apapun." Sinta tersenyum, kemudian
memainkan handphone-nya diam-diam
tanpa sepengetahuan guru.
.
Sejak saat itu Sinta menjadi murid yang
pendiam, dia jarang bertanya lagi tentang
pelajaran pada guru, dia sering memainkan
handphone diam-diam ketika guru mata
pelajaran keluar kelas dan hampir setiap
hari tidur di kelas saat jam istirahat.
.
"Mana yang namanya Sinta?" tanya guru
fisika pada Salsa saat Salsa dipanggil untuk
membagikan hasil ulangan.
.
"Itu, Bu ... yang duduk di sana," kata Salsa
sambil menunjuk ke arah seseorang.
"emangnya kenapa Bu?"
.
"Nggak, nilai ulangan semester fisika dia
paling besar," jawab guru fisika.
.
Bukan cuma pada pelajaran fisika, pada
pelajaran matematika, Bahasa Inggris dan
pelajaran-pelajaran lain pun nilai Sinta
meningkat. Sedikit demi sedikit guru mulai
mengenalnya karena keunggulan nilainya,
seketika dia pun menjadi jajaran murid
yang masuk dalam daftar tempat
mencontek sekaligus murid intelektual di
sekolah.
.
Suatu ketika guru matematika menyita buku
Sinta saat untuk kesekian kalinya dia
menjadi orang pertama yang dapat
mengerti rumus dan menyelesaikan soal
yang diberikan guru tanpa penjelasan
terlebih dahulu, itu memang cara guru
matematika untuk mendorong rasa ingin
tahu dan kemampuan murid untuk
mengerjakan soal tanpa mencontek
jawaban teman sekelasnya yang sudah
menyelesaikan soal.
.
"Bu, percuma Ibu nyita buku matematika
saya. Coretan perhitungan saya dari soal ini
ada di sana," ucap Sinta sambil menunjuk
sekerumunan murid-murid.
.
Guru matematika menepuk dahinya.
"Sebegitu kompak dan solidnya kah kalian?"
tanyanya.
.
Sinta mengangguk, lalu memegang buku
yang diberikan guru matematika.
.
"Sa, bangunin kalau ada guru ya?" ucap
Sinta pada Salsa saat pelajaran matematika
usai dan guru mata pelajaran berikutnya
belum memasuki ruangan.
.
"Beres," kata Salsa sambil mengacungkan
jempolnya.
.
Sinta tidur dalam posisi duduk di kursi dan
kepala di atas bangku, ditutupi dengan
sebuah buku.
.
"Temen-temen, guru PKN gak bisa dateng.
Kita suruh nyatet," seru ketua kelas.
.
Sekretaris kelas pun mencatat pelajaran di
papan tulis, beberapa murid yang nakal
tidak mempedulikan apa yang dicatat oleh
sekteratis kelas dan sibuk memainkan
handphone-nya. Sesil--sekretaris kelas--
pun geram dan menegur mereka.
.
"Lita, Fani, Eka, kalian jangan maen HP
terus dong, nyatet!" ucap Sesil.
.
"Sinta aja yang pinter gak nyatet," celetuk
Eka.
.
Sinta yang duduk tak jauh dari Eka pun
terbangun saat namanya disebut, dia
mendengar dengan jelas apa yang
diucapkan Eka, namun dia diam saja.
.
"Sinta gak nyatet juga wajar, dia udah
pinter. Kalau kalian? Bagaimana mau pinter
kalau main HP terus di kelas?" ucap Sesil
dengan suara meninggi. Sinta hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
.
Tiba-tiba segelintir pertanyaan yang sedari
dulu menyeruak di benak orang-orang yang
pintar dalam kelas itu datang ke hampir
semua murid di kelas. Bagaimana bisa
Sinta yang dulu sering sekali mencontek
sekarang justru menjadi tempat
mencontek? Bagaimana Sinta dapat
mengalami progres yang signifikan dalam
pelajaran sementara hampir setiap hari dia
tidur di kelas saat istirahat atau saat guru
tidak mengajar? Bagaimana bisa dia
menyelesaikan soal matematika dengan
begitu cepat saat yang lain masih mencatat
teori dari soal tersebut? Bagaimana bisa dia
lebih unggul dari murid-murid yang
memperhatikan guru dengan saksama dan
belajar saat jam istirahat? Semua
pertanyaan itu menggantung hingga
beberapa menit yang lalu Sinta
menceritakan semuanya setelah guru
matematika memintanya memberikan pesan
dan kesan terakhir sebelum kelulusan.
.
"Matematika, aku sangat benci dengannya.
Otak bodohku ini dulu selalu merasa asing
dengan rumus-rumus. Integral, matriks,
defferensial, sinus, cosinus, tangen,
phytagoras, al jabar atau apapun itu aku
tidak peduli, yang kutahu matematika itu
sulit dan menyebalkan. Tapi matematikalah
yang mengubahku, berawal dari kecuekan
guru matematika yang membuatku kesal
sehingga aku semangat dalam belajar agar
tidak ada guru yang mengabaikanku lagi."
Sinta menatap guru mamatematika sekilas.
"hampir setiap malam aku belajar dan
memasukkan rumus-rumus ke dalam
otakku hingga lewat tengah malam, karena
itu aku sering tidur di kelas saat jam
istirahat. Tapi bersahabat dengan pelajaran
tak semudah itu. Aku meminjam beberapa
buku dari perpustakaan dan mempelajari
pelajaran yang akan diajarkan oleh guru,
karenanya aku sudah mengerti rumus dan
dapat menyelesaikan soal matematika
meskipun guru matematika belum
menjelaskannya. Tidak cuma itu, aku juga
masuk ke dalam grup matematika, fisika,
kimia dan biologi di FB, berteman dengan
orang-orang yang ahli dalam bidang
tersebut untuk tempat bertanya saat aku
tidak mengerti pelajaran karenanya aku
sering bermain handphone untuk online."
Sinta menarik napas, seakan-akan sesuatu
yang besar telah keluar dari dadanya. "aku
senang karena matematika dan guru
matematika dapat merubahku seperti
sekarang ini. Pesanku untuk guru
matematika, jika bisa ... jangan terlalu
banyak memberikan soal sebelum memberi
teori dan menjelaskannya.Sekian dan terima kasih."
**END**
Reactions:

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top