Rabu, Agustus 31, 2016

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Sandal Jepit Cinderella Karya SUNNEW

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Sandal Jepit Cinderella
Cerpen Sandal Jepit Cinderella


SANDAL JEPIT CINDERELLA
Karya : SUNNEW


Dua hari lagi malam proom. Pesta kelulusan kakak-kakak kelasnya itu sukses bikin Poppi nyaris gila karena belum nemu sepatu yang cocok untuk gaunnya yang cantik. Gaun Poppi model kemben, biru lembut, berbahan ringan dan melambai anggun seiring kaki melangkah. Kali pertama melihatnya di Chic Butik tiga hari lalu, Poppi seperti menemukan takdirnya. Oke, emang terdengar berlebihan bawa-bawa "takdir". Tapi, gaun biru lembut itu emang seperti ditakdirkan untuk dimiliki dan dipakai Poppi. Gaunnya begitu pas di tubuhnya yang mungil. Poppi terlihat berkilau bak peri yang ditaburi bubuk peri. Masalahnya, udah keluar masuk toko sepatu berdua Kira, tapi Poppi belum juga nemu sepatu yang langsung klik di hati. Bahkan searching di online shop pun nihil hasil. Kalo bukan karena ajakan Sanu, kakak kelasnya yang kece itu, Poppi lebih milih nongkrongin Indovision sambil nyemil kerupuk yang dilelerin kecap Bango ketimbang harus beredar di acara anak-anak kelas 3 itu. Poppi udah naksir Sanu dari kelas 1 dan saat Sanu memintanya untuk nemenin di malam proom, Poppi jelas nggak mungkin nolak. Keterlaluan banget misal Poppi nolak. Kapan lagi bisa jalan berdua Sanu dengan dandanan anggun bak Ndoro Putri kalo nggak di malam proom? FYI, Poppi bertekad untuk tampil sesempurna mungkin. Dia mau habis-habisan di malam proom nanti. Poppi juga udah bikin janji di salon langganannya demi menyempurnakan penampilan. Lalu direkrutlah Kira dalam perburuan. Poppi melibatkan sahabatnya yang suka banget film India itu di setiap perburuan. Perburuan yang dimaksud meliputi berburu gaun dan seperti sekarang ini, berburu sepatu. Seringnya sih berburu diskon di mall mana aja. Namanya juga diskon. Jelas menarik hati dong. Isi dompet, terutama.
"Pop! Ngafe dulu aja, yuk! Duduk-duduk gitu. Haus niiih!" keluh Kira. Akibat keluar masuk toko sepatu tanpa jeda, betisnya ndangdutan nyeri. Belum lagi kerongkongannya yang terasa kemarau banget. Berburu sepatu emang nyenengin, tapi kalo Poppi-nya dilema gitu, capek juga lama-lama. Apalagi Poppi kalo udah milih barang teliti banget. Segala macem diribetin. Maunya yang nggak ada cacatnya. Sempurna! Jadi proses milihnya lama beeng. Kadang milih antara Chitato dan Happytos aja Poppi suka ribet. Apalagi ini milih sepatu. Udah pasti lebih ribet lagi!
Poppi ngecek arloji di tangan kirinya. "Kita udah dua jam ngider masih belom juga nemu sepatu." sungutnya kesal. "Ya udah, yuk! Ngafe." putusnya akhirnya. Nggak tega juga lihat tampang Kira yang jelata dan memelas karena nahan haus dan lapar. "Starbucks apa Dunkin nih?"
"Dunkin aja, Pop! Gue butuh donat nih buat ngisi ulang tenaga gue." jawab Kira riang. "Wifinya juga lancar. Tapi, lo yang bayarin ya, Pop?" ringisnya. 
"Yuk!" 
Bisa dibilang Kira ini Miss Wifi. Kalo ngafe nggak ada wifinya dia bakalan nolak disertai ngomel ala ibu-ibu nawar mangga sekilo goceng: "Masa hari gini kafe nggak ada wifinya?! Emangnya warteg pinggir jalan apa! Males gila." omelnya. Dasar Kira! Memalukan emang. Tapi, biarlah kafilah berlalu. Namanya juga berpendapat. Jadi sah-sah aja misal beda.
Lalu dua cewek yang udah sahabatan dari jaman seri Power Ranger tayang di tivi itu pun berjalan menuju Dunkin Donat.
***
Di Dunkin Donat...
"Sepatunya belom nemu juga nih, Raaa... Gimana dooong?!"
Masalah berburu sepatu ini emang ibarat konflik Timur Tengah. Bikin baper dan frustasi.
Kira mendadak ingat sesuatu. "Eh, Pop! Gue udah bilang belom ya kalo Tante Elin buka butik sepatu?"
"Belooom..." Poppi histeris. "Kok lo ngasih taunya baru sekarang sih?!"
Poppi keki banget. Tante Elin itu tantenya Kira. Dia disainer sepatu yang karyanya pernah dipakai para finalis Asia's The Next Top Model. Karyanya jelas nggak perlu diragukan lagi. Cari perkara namanya kalo meragukan sang ahli.
"Ke sana sekarang aja, yuk!" tukas Poppi nggak sabar. Poppi nggak percaya. Dia masih bisa leha-leha cantik sementara harta karun yang dicari ada di butiknya Tante Elin. Menunggu dijemput.
***
Butik sepatu Tante Elin tempatnya keren banget. Seperti goa (btw, ini agak random: yang bener gua apa goa ya? Kayak Si Buta Dari Goa Hantu apa Si Buta Dari Gua Hantu?) harta karun yang ditata indah tak tercela, berkilauan bagai pohon bubuk peri Pixie Hollow dan bikin betah, tentunya. Begitu sampai di sana, Poppi dan Kira disambut ramah oleh Tante Elin sendiri. Biasanya ada staf cantik bertugas. Tapi, demi bantuin dilemanya Poppi, Tante Elin turun tangan langsung. Sementara Poppi sendiri terkagum-kagum tiap kali melihat tantenya Kira itu. Penampilan Tante Elin sangat "model" dan Poppi berangan-angan kalo udah kerja nanti dia mau penampilannya sekeren Tante Elin. Untuk menghemat waktu, Poppi menjelaskan secara ringkas model sepatu apa yang diinginkan serta detail gaunnya. Tante Elin manggut-manggut serius lalu menyarankan beberapa pilihan. Pilihan Tante Elin keren-keren. Bikin Poppi dirundung dilema. Setelah melalui proses rumit yang melibatkan puluhan kali mencoba sepatu pilihan Tante Elin dalam berbagai pose dan selfie, akhirnya pilihan Poppi jatuh pada sepatu cantik warna silver. Tante Elin menyetujui pilihan Poppi dan bereslah sudah Perang Dunia.
"Diskon pelajar ya, Tante?" rayu Poppi saat membayar di kasir. Mencoba kan nggak ada salahnya?
Tante Elin tersenyum. "Pastinya dong!" jawabnya merdu.
Poppi kegirangan.
***
Satu hari berikutnya, Poppi berusaha rileks dan nggak panik agar kulitnya nggak stres. Dia ngalihin perhatiannya dengan banyak membaca tips cantik yang bertebaran di Google. Nggak semuanya Poppi coba. Masker burung Bul-bul jelas Poppi skip. Walopun khasiatnya dipercaya bagus buat kulit wajah, bahkan banyak artis kelas dunia yang melakukan treatment tersebut, tapi bagi Poppi kotoran ya tetep aja kotoran. Itu kan eek burung? Masa dilelerin di wajah sih? Yuck! Untuk rambut, Poppi pinginnya ditata seanggun mungkin seperti tatanan rambut Fleur Delacour di film Harry Potter scene dansa Natal Hogwarts. Oke, mari kita urutkan. Gebetan tampan, gaun dan sepatu yang cantik serta tatanan rambut ala Fleur Delacour. Sempurna sudah. Poppi merasa siap menggebrak dunia.
***
Poppi udah ready to go dan selfie puluhan kali demi mengabadikan momen cantiknya trus meng-uploadnya di Instagram dan sekarang lagi duduk gelisah nungguin jemputan Sanu. Nggak perlu nunggu lama, mobil Sanu pun datang di menit berikutnya. Dalam balutan tuksedonya Sanu terlihat tampan dan dewasa. Wajahnya bersih tanpa ditumbuhi kumis atau pun brewok yang sekarang ini lagi tren di kalangan para cowok. Kemungkinan efek samping dari demam drama Turki atau India di tivi lokal yang memunculkan tren kumis, brewok dan janggut. Walopun susah juga membayangkan para cowok duduk manis di depan tivi mantengin drama Turki atau pun India. Dan jujur saja. Poppi emang kurang gitu suka sama cowok berkumis, berbrewok dan berjangut. Demi Tuhan! Apa gunanya Gillette diciptakan, coba?
"Kamu cantik, Pop," Sanu memuji penampilan Poppi yang malam itu emang terlihat cantik dan sangat Ndoro Putri. Jangan lupakan kilaunya. Nggak tau aja Sanu usaha yang Poppi kerahkan demi tampil cantik. Pujian Sanu itu bikin Poppi melting serta menerbitkan senyum yang malu-malu panda. Mana ada sih ceritanya kucing tersenyum malu-malu? Itu kan fatamorgana bangke. Setelah pamitan sama Ayah-Bunda, Poppi dan Sanu pun berangkat.
***
"Duh... duh..." Poppi mengeluh panik.
"Kenapa, Pop?" Sanu bertanya heran karena melihat cara berdiri Poppi yang agak aneh.
Saat itu mereka di parkiran hendak berjalan bergandengan menuju aula sekolah saat tiba-tiba aja Poppi beraduh-aduh panik.
"Sepatu aku, Nu..." Poppi nunjuk ke bawah. Ternyata hak sepatunya nancep di sela-sela jeruji got. Area sekitar situ bawahnya emang got. "Nggak bisa dilepas, Nu! Gimana nih?!"
Sanu pun mencoba berbagai macam cara, tapi hak sepatu Poppi yang runcing itu nggak bisa dilepas. Misalpun dipaksa lepas, terpaksanya harus matahin hak sepatunya dulu baru bisa dilepas. Poppi makin panik. Udah mau nangis aja dia.
"Sepatunya lepas aja, Pop!" usul Sanu kemudian karena hanya itu satu-satunya cara tanpa harus merusak sepatu Poppi.
"Dilepas?!" Poppi histeris. "Trus aku pakai apa dooong?! Masa nyeker sih?!"
Dunia terasa nggak adil. Udah tampil cantik gini masa nyeker? Ini kan bukan di sawah panen padi!
"Habisnya mau gimana lagi? Orang sepatu kamu juga nggak bisa dilepas kok," jelas Sanu dengan tenang. "Lagian kamu nggak bakalan nyeker kok, Pop. Di mobil aku ada sandal jepit. Kita pakai itu aja ya?"
"Apa?! Sandal jepit?!" Saat itu rasanya Poppi ketiban langit runtuh. Mimpi apa dia semalem sampai harus ngalamin tragedi yang sedemikian ganjilnya? Sandal jepit?! Bayangkan! Bahkan Hermione Granger pun nggak bakalan pakai sandal jepit di atas gaun.
"Masa sandal jepit sih, Nuuu?!" protesnya nggak berdaya.
"Aku juga pakai sandal jepit kok. Nemenin kamu." ujar Sanu sabar.
Poppi tak mampu berkata-kata. Adegan ini kelewat romantis, tapi juga sedikit konyol. Kayak di novel-novel roman. Walopun faktanya ini jelas-jelas cerpen bikinan penulis amatiran. Dan jadilah. Untuk kali pertama dalam sejarah, Poppi dan Sanu bersandal jepit ke pesta proom. Itu pun sandal yang Poppi pakai kegedean untuk ukuran kakinya yang mungil. Penampilan ganjil mereka jelas menarik perhatian. Walo awalnya malunya nggak adil banget, tapi genggaman tangan Sanu yang hangat mampu meredam berbagai emosi Poppi yang berkecamuk. Sementara sebelah sepatu Poppi masih nancep aja di sela-sela jeruji parit. Kayak sepatu Cinderella yang ketinggalan. Yahhh... walopun apa yang kita pakai penting juga, terkadang siapa yang ada di samping kita jauh lebih penting. Apalagi orang tersebut lebih milih kamu yang apa adanya bukan karena kamu yang adanya apa.
**END**

Selasa, Agustus 30, 2016

Textual description of firstImageUrl

Puisi Burung Merpati Karya siamir marulafau

100 out of 100 based on 100 user ratings

Puisi Burung Merpati
Puisi Burung Merpati


Burung Merpati
Karya : siamir marulafau


Burung merpati
Burung piaraan sejati
Tak akan mau menyakiti
Karena tak disakiti
Jika majikan menyakiti
Tak akan pulang sampai pagi
Berhati-hatilah dengan janji
Karena mengikat leher sampai mati
Jika janji tak ditepati
Korupsi semakin menjadi
Hanguslah bumi pertiwi
Rokok pun harganya meninggi
Asap-asap pun tak ada di kota kami
Hanya api membakar hati
Karena selalu makan hati
Melihat prilaku pejabat kami

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Mistis Karya Erina Yunita S Bagian 4

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Mistis
Cerpen Mistis


Bel istirahat berbunyi, tak ada satupun materi pelajaran yang kuingat, semuanya hanya lewat melalui telinga kanan dan keluar dari telinga kiri, aku bergegas menuju kelas IPS untuk menemui Jovi dan memintanya untuk menemaniku masuk kedalam ruang band, meskipun sedikit heran, Jovi tetap menurutiku, membawaku masuk ke dalam ruang yang cukup besar dan sedikit kedap suara, menunjukkan beberapa set alat alat band yang letaknya berantakan. Drum dihadapanku pun letaknya tak urut, keyboard masih berada didalam kotaknya, ku tau ini pasti masih baru.
"Lo mau liat" ujar Jovi saat melihatku memperhatikan kotak Piano berwarna putih hitam itu. Jovi langsung membukanya bahkan sebelum aku memintanya, mengeluarkan sebuah keyboard berwarna hitam dengan banyak not berwarna putih.
"Kalo mau belajar, besok gue ajarin, kan latihannya bareng sama anak paski" unar Jovi tiba tiba. Namun aku tak memperdulikan ucaapannya, aku tetap memperhatikan sekelilingku sebelum akhirnya mataku terpaku pada sebuah keyboar usang diujung ruangan ini, aku mendekat dan Jovi membiarkan langkahku.
"Ini ga di pake..?" tanyaku yang langsung membuat Jovi mendekat sambil berkata "Enggak, kenapa.?" tanyanya heran. Aku hanya menggeleng sambil terus memperhatikan keyboard itu, tak ada yang aneh saat pertama kulihat namun hal aneh mulai terjadi saat aku memperhatikan not demi not diatasnya, Do Re Mi .... Fa So La berganti tulisan HAI, membuatku refleks memanggil nama Jovi yang telah menjauh dariku. Dia mendekat dan aku pun langsung mengeluarkan pertanyaan yang membuat raut wajahnya berubah bingung.
"Itu siapa yang nulis" tanyaku sambil menunjuk ke arah not Fa So La. Dia hanya menggeleng lalu menjawab "mana?" alu menunjukkannya namun dia hanya melihat tulisan Do Re Mi Fa So La...... Diasana. Lagi aku berfikir apa hanya aku yang melihatnya..?. Aku balik badan dan langsung keluar dari ruangan band itu dengan cepat, meninggalkan Jovi dengan wajah bingung dan herannya disana, saat masuk kedalam kelas, kulihat white board yang menggantung di tembok kelas, semula kosong namun saat aku duduk dibangkuku dan melihat kearahnya lagi, banyak tulisan HAI berceceran didasar white board yang langsung membuatku spontan berdiri, mengambil penghapus dan langsung membersihkan semua tulisan itu, namun salah seorang temanku menghentikanku.
"Rino, lo ngapain..?, itu papan tulis udah bersih keuleus" ujarnya yang langsung membuat badanku lemas seketika.

Baca bagian 5 >>


Karya : Erina Yunita S

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Selepas Kau Pergi Karya Shopya Rangganizer

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Selepas Kau Pergi
Cerpen Selepas Kau Pergi


Selepas Kau Pergi


Saat kita sama-sama memutuskan untuk tidak saling merindu dua dari seperbagian kepingan itu retak tak berbentuk. Sore itu tepat setelah kita berpura tak lagi mengenal langit senja berubah kelabu, apa kau ingat? Tepat pada saat ini kau ikrarkan ketiadaan rasa itu. Setelah ini, sesudah kau tak lagi di sisiku untuk sekedar lalui senja aku ingin kau benar-benar pergi membawa seperbagian kau dariku.
***
Dia menutup bukunya, senjanya kini menyakitkan, pahit, seperti kopi hitam yang dicecap sekarang. Pandangannya mengedar kesekeliling kafe, tidak ada yang berubah dari bangunan bergaya Eropa beberapa meter dari bibir pantai itu.
"Permisi, Nona." Suara itu mengintrupsinya dari lamunan.
"Boleh saya duduk disini? Meja lain penuh," ucap seseorang tadi saat mata gadis itu menatap tepat pada manik coklat terangnya.
Dia, gadis itu, memejamkan mata sepersekian detik sebelum akhirnya menjawab,
"silahkan." Ia menggeser kopinya membiarkan segelas latte yang pemuda itu pegang berada di sebelah gelasnya.
"Jika tidak keberatan, nama saya Graha." Pemuda itu menyodorkan tangannya setelah sekian menit keheningan mendominasi.
"Ah ya, tentu saja. Saya Ia." Mereka bersalaman.
"Hanya 'i' dan 'a'?" tanya si pemuda.
"Yap." Gadis itu kembali menyeruput kopinya.
"Permisi, mas. Silahkan cakenya." Pelayan wanita itu mengangkat satu piring penuh cake.
Yang perempuan menggeser gelasnya ke kanan, yang laki-laki ke arah kiri sehingga piring itu tepat berada diantara kopi dan latte mereka.
"Silahkan! Kue disini enak," ucap Graha mendorong sedikit piringnya kesamping, kehadapan gadis yang duduk di sisinya.
"Tidak terimakasih."
"Cobalah! Ini benar-benar enak. 'Kue ini merubah mood buruk menjadi lebih baik' itu kata seseorang spesial dulu tapi cobalah ini benar-benar memperbaiki mood." Dia melayangkan kuenya ke udara sebelum memakannya.
"Kau yakin? Apa kau masih ingat seseorang itu?" Mata mereka bertemu pada satu titik.
"Ya, aku masih sangat ingat bahkan wajahnya mirip sepertimu tapi aku tidak yakin."
"Benarkah? Aku rasa aku juga punya seseorang spesial yang wajahnya mirip denganmu tapi itu dulu."
"Mungkin hanya kebetulan, haha. Ayolah coba kue ini! Ini benar-benar manis akan sangat pas jika bersanding dengan kopimu yang kelihatannya pahit itu."
Setelah itu tak ada yang berbicara diantara mereka hingga akhirnya si
pemuda mengangkat gelas, meneguk lattenya. Gelasnya masih di tangan kanan, tangan kirinya menggeser piring kearah kiri menempati posisi gelasnya tadi sehingga secara otomatis piring itu sedikit jauh dari jangkauan si gadis lalu meletakan gelasnya berdampingan dengan gelas si gadis rambut gelap.
"Kurasa begini lebih pas, untuk mengulang perkenalan kita," ucapnya.
***
Setelah kau pergi megapa kau memutuskan untuk kembali menjadi yang lain dari seperbagian kepingan itu dengan cara yang nyaris serupa? Memperkenalkan lagi dirimu, memperlakukan semuanya denga sangat apik. Aku benci! Sangat membenci ini! Kebencianki karena ketakutan akan akhir cerita kita lagi meskipun aku tahu akan ada cerita kita yang baru lagi.
****
**END**

Textual description of firstImageUrl

Puisi Saat Hujan Turun Karya Syaeful Basri

100 out of 100 based on 100 user ratings

Puisi Saat Hujan Turun
Puisi Saat Hujan Turun


Saat Hujan Turun
Karya : Syaeful Basri


Ada setangkup rasa iri saat hujan turun membasahi wajah bumi..
Aku hanya bisa terdiam dan menyepi..
Menunggu pelangi datang..
Dan mengusir rasa sunyi ini..
Berkhayal akan hadirnya satu hati yang akan menghangatkan suasana..
Menjahitkan lembaran cerita indah..
Mengisi satu ruang hampa dalam jiwa..
Dan tetap setia disampingku sampai hujan perlahan pergi dan sirna..
Tapi aku hanyalah aku..
Yang hanya bisa bermimpi..
Tanpa pernah merasa layak untuk mencintai maupun dicintai..
Hanya bisa setia menunggu..
Menunggu..
Dan menunggu..
Tanpa tahu kapan sang waktu akan peka dengan segala kegelisahanku..

Textual description of firstImageUrl

Puisi Semua Sama Karya Dewi Aries

100 out of 100 based on 100 user ratings

Puisi Semua Sama
Puisi Semua Sama


Semua Sama
Karya : Dewi Aries


Sering kumelihat bahkan-pun merasa
Perlakuan orang orang di dunia nyata atau maya
Mereka mengganggap ada tapi tak bisa terima
Bahwa karya ternama kalah oleh pemula
Hujat menghujat meluncur deras
Tak peduli padahal semua kita selaras
Seolah nama besar dianggap kuasa
Padahal terbaik bukan milik yang bernama
Nama besar tapi tak berjiwa bijaksana
Kumpulkan teman mencoba bermain kata
Singkirkan pemula dengan dada membusung bangga
Tak sadar semua itu, dia yang tak punya muka
Salahkah pemula jadi utama
Jangan lihat jam terbang, tapi karyanya yang luar biasa
Semua orang pada mulanya sama
Hanya kerja keras, kemampuan lebih yang buatnya istimewa

Textual description of firstImageUrl

Puisi Mengemas Mimpi Karya Musiyem

100 out of 100 based on 100 user ratings

Puisi Mengemas Mimpi
Puisi Mengemas Mimpi


MENGEMAS MIMPI
Karya : Musiyem
Siang perlahan berlalu tergantikan senja nan semburat
Padanya ada tautan membingkai lukisan cahaya
Magrib pun tiba beranjaklah
Karena suara malam mengharap kesunyian
Duhai kau pangeran hati
Waktu tak mengajarimu tentang arti penantianku
Berbungah hati menghitung jajaran selir
Malam telah kelam hanya beri kisah semu
Hingga saatnya tiba kaupun berlalu
Dan ku tak terima itu
Karena kau genggam seikat bunga
Itu pilu untuk sebuah perpisahan

Textual description of firstImageUrl

Cerpen Berjalan Tanpa Terlihat (Kisah nyata dari seseorang) Karya Nurmasari

100 out of 100 based on 100 user ratings

Cerpen Berjalan Tanpa Terlihat (Kisah nyata dari seseorang)
Cerpen Berjalan Tanpa Terlihat (Kisah nyata dari seseorang)


Berjalan Tanpa Terlihat (Kisah nyata dari seseorang)
Karya : Nurmasari


Suara tepukan kembali mengalun seiring
dengan langkah gontainya menuju bangku.
Dia sudah sedikit terbiasa dengan itu,
namun kali ini mata murid-murid di kelas
memandangnya dengan cara yang berbeda-
beda, ada yang terlihat merasa kalah, ada
yang terkagum-kagum, berkaca-kaca, ada
pula yang biasa saja memandangnya. Di
benak Sinta runtutan kejadian masa lalu
seakan terputar kembali.
.
"Bu, aku mau tanya tentang rumus itu,"
tanya Sinta pada Guru matematika dari
bangkunya.
.
"Baca dulu dengan seksama, baru
bertanya," jawab guru matematika.
.
Sinta menuruti perkataan guru tersebut,
namun tetap saja dia tidak mengerti.
Matematika memang sungguh
memusingkan bagi orang seperti Sinta. Dia
menghampiri meja guru untuk bertanya
lagi, tapi guru itu menyuruhnya kembali
duduk ke bangkunya dan menjelaskan apa
yang ditanyakan Sinta pada semua murid di
kelas tersebut. Padahal sebelumnya, Nia--
murid yang paling pintar di kelas--juga
menanyakan sesuatu pada guru matematika
dan guru itu menjawabnya dengan ramah.
.
"Sa, saya bingung deh. Perasaan tadi Sesil
sama Nia juga maju ke meja guru kan buat
nanya rumus, terus dijawab dengan ramah.
Kok pas saya yang nanya gurunya kayak
cuek gitu ya?" tanya Sinta pada teman
sebangkunya, Salsa.
.
"Kamu mah kayak gak tahu aja, kebanyakan
guru di sekolah kita kan cuma baik sama
murid yang pinter, mungkin karena mereka
dengan mudah mengerti penjelasan guru,
sementara murid kayak kita kan dua sampai
tiga kali dijelasin aja gak ngerti-ngerti,"
jawab Salsa yang kemudian tertawa.
.
"Iya juga sih, saya juga sadar diri. Ya udah
deh, mulai besok saya gak akan tanya-tanya
lagi ke guru matematika mengenai rumus
atau apapun." Sinta tersenyum, kemudian
memainkan handphone-nya diam-diam
tanpa sepengetahuan guru.
.
Sejak saat itu Sinta menjadi murid yang
pendiam, dia jarang bertanya lagi tentang
pelajaran pada guru, dia sering memainkan
handphone diam-diam ketika guru mata
pelajaran keluar kelas dan hampir setiap
hari tidur di kelas saat jam istirahat.
.
"Mana yang namanya Sinta?" tanya guru
fisika pada Salsa saat Salsa dipanggil untuk
membagikan hasil ulangan.
.
"Itu, Bu ... yang duduk di sana," kata Salsa
sambil menunjuk ke arah seseorang.
"emangnya kenapa Bu?"
.
"Nggak, nilai ulangan semester fisika dia
paling besar," jawab guru fisika.
.
Bukan cuma pada pelajaran fisika, pada
pelajaran matematika, Bahasa Inggris dan
pelajaran-pelajaran lain pun nilai Sinta
meningkat. Sedikit demi sedikit guru mulai
mengenalnya karena keunggulan nilainya,
seketika dia pun menjadi jajaran murid
yang masuk dalam daftar tempat
mencontek sekaligus murid intelektual di
sekolah.
.
Suatu ketika guru matematika menyita buku
Sinta saat untuk kesekian kalinya dia
menjadi orang pertama yang dapat
mengerti rumus dan menyelesaikan soal
yang diberikan guru tanpa penjelasan
terlebih dahulu, itu memang cara guru
matematika untuk mendorong rasa ingin
tahu dan kemampuan murid untuk
mengerjakan soal tanpa mencontek
jawaban teman sekelasnya yang sudah
menyelesaikan soal.
.
"Bu, percuma Ibu nyita buku matematika
saya. Coretan perhitungan saya dari soal ini
ada di sana," ucap Sinta sambil menunjuk
sekerumunan murid-murid.
.
Guru matematika menepuk dahinya.
"Sebegitu kompak dan solidnya kah kalian?"
tanyanya.
.
Sinta mengangguk, lalu memegang buku
yang diberikan guru matematika.
.
"Sa, bangunin kalau ada guru ya?" ucap
Sinta pada Salsa saat pelajaran matematika
usai dan guru mata pelajaran berikutnya
belum memasuki ruangan.
.
"Beres," kata Salsa sambil mengacungkan
jempolnya.
.
Sinta tidur dalam posisi duduk di kursi dan
kepala di atas bangku, ditutupi dengan
sebuah buku.
.
"Temen-temen, guru PKN gak bisa dateng.
Kita suruh nyatet," seru ketua kelas.
.
Sekretaris kelas pun mencatat pelajaran di
papan tulis, beberapa murid yang nakal
tidak mempedulikan apa yang dicatat oleh
sekteratis kelas dan sibuk memainkan
handphone-nya. Sesil--sekretaris kelas--
pun geram dan menegur mereka.
.
"Lita, Fani, Eka, kalian jangan maen HP
terus dong, nyatet!" ucap Sesil.
.
"Sinta aja yang pinter gak nyatet," celetuk
Eka.
.
Sinta yang duduk tak jauh dari Eka pun
terbangun saat namanya disebut, dia
mendengar dengan jelas apa yang
diucapkan Eka, namun dia diam saja.
.
"Sinta gak nyatet juga wajar, dia udah
pinter. Kalau kalian? Bagaimana mau pinter
kalau main HP terus di kelas?" ucap Sesil
dengan suara meninggi. Sinta hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
.
Tiba-tiba segelintir pertanyaan yang sedari
dulu menyeruak di benak orang-orang yang
pintar dalam kelas itu datang ke hampir
semua murid di kelas. Bagaimana bisa
Sinta yang dulu sering sekali mencontek
sekarang justru menjadi tempat
mencontek? Bagaimana Sinta dapat
mengalami progres yang signifikan dalam
pelajaran sementara hampir setiap hari dia
tidur di kelas saat istirahat atau saat guru
tidak mengajar? Bagaimana bisa dia
menyelesaikan soal matematika dengan
begitu cepat saat yang lain masih mencatat
teori dari soal tersebut? Bagaimana bisa dia
lebih unggul dari murid-murid yang
memperhatikan guru dengan saksama dan
belajar saat jam istirahat? Semua
pertanyaan itu menggantung hingga
beberapa menit yang lalu Sinta
menceritakan semuanya setelah guru
matematika memintanya memberikan pesan
dan kesan terakhir sebelum kelulusan.
.
"Matematika, aku sangat benci dengannya.
Otak bodohku ini dulu selalu merasa asing
dengan rumus-rumus. Integral, matriks,
defferensial, sinus, cosinus, tangen,
phytagoras, al jabar atau apapun itu aku
tidak peduli, yang kutahu matematika itu
sulit dan menyebalkan. Tapi matematikalah
yang mengubahku, berawal dari kecuekan
guru matematika yang membuatku kesal
sehingga aku semangat dalam belajar agar
tidak ada guru yang mengabaikanku lagi."
Sinta menatap guru mamatematika sekilas.
"hampir setiap malam aku belajar dan
memasukkan rumus-rumus ke dalam
otakku hingga lewat tengah malam, karena
itu aku sering tidur di kelas saat jam
istirahat. Tapi bersahabat dengan pelajaran
tak semudah itu. Aku meminjam beberapa
buku dari perpustakaan dan mempelajari
pelajaran yang akan diajarkan oleh guru,
karenanya aku sudah mengerti rumus dan
dapat menyelesaikan soal matematika
meskipun guru matematika belum
menjelaskannya. Tidak cuma itu, aku juga
masuk ke dalam grup matematika, fisika,
kimia dan biologi di FB, berteman dengan
orang-orang yang ahli dalam bidang
tersebut untuk tempat bertanya saat aku
tidak mengerti pelajaran karenanya aku
sering bermain handphone untuk online."
Sinta menarik napas, seakan-akan sesuatu
yang besar telah keluar dari dadanya. "aku
senang karena matematika dan guru
matematika dapat merubahku seperti
sekarang ini. Pesanku untuk guru
matematika, jika bisa ... jangan terlalu
banyak memberikan soal sebelum memberi
teori dan menjelaskannya.Sekian dan terima kasih."
**END**